Realita Hidup Dibawah Si Mata Tiga

Siang yang terik dan rasa haus yang menyengat, menemani ku dalam menikmati perjalanan ku yang panjang. Sepeda motor yang aku kendarai melaju dengan kecepatan biasa-biasa saja. Teriknya sinar matahari sering membuat ku merasa tak betah lama-lama di kota ini, sampai-sampai aku mengatakan “Sudah sedemikian parahkah bumi yang ku pijaki ini ?”. Aku pikir ya… benar juga. Sudah beratus-ratus tahun atau bahkan berabad-abad bumi ini berputar, ia tak pernah merasa lelah berputar dan terus berputar. Mungkin jika ia mau, ia akan berhenti. Yaaaa… sedikit meregangkan otot – otot. Tapi apa yang terjadi dengan mahluk yang hidup numpang di atasnya? Silahkan di renungkan….

Putaran roda sepeda motor yang melaju dengan pasti tanpa halangan, putaran mesin yang saling sahut menyahut dijalan, dan semburan debu yang keluar dari belakang kendaraan. Mengantarkan aku pada pemandangan rutinitas sebuah kota yang sudah lama menua. Sederetan antrian mesin-mesin kecepatan terjebak situasi yang tidak di inginkan Saat ini yang bisa mereka lakukan hanya menunggu kepastian dari sebuah kaki bermata tiga yang tertancap di sisi perempatan jalan yang syarat kesibukan. Mau tidak mau, akhir nya sepeda motor ku ikut juga berpartisipasi di antara deretan-deretan tersebut, melaju dengan tenang di selah-selah antrian mesin-mesin tak bernyawa. Mereka semua ikut berpartisipasi dalam indahnya pesta ketertiban. Ya itulah peraturan, sebuah kata yang wajib dimiliki semua komponen yang ada di dunia ini. Semakin jauh sepeda motor ku menelusuri lorong ketertiban, sampai juga akhirnya aku di depan.

Ku tengok ke arah kiri dan kanan sambil coba melepas lelah pandangan ku. Namun, apa yang aku lihat? Aku hanya menemukan mesin – mesin yang bersuara nyaring, aspal yang mengepul, dan beberapa pasang mata yang memerah. Semua itu terasa amat sangat kabur di penglihatan ku, yang bertahan hanya lukisan garis – garis putih yang berjajar dengan rapi dan sama besar di atas aspal yang terus menerus mengepul. Mungkin bagi sebagian orang yang berada di sekitar ku hari itu, panas nya terik matahari sangat lah mengganggu kehidupan mereka, tetapi buat ku merupakan nikmat yang jarang ada. Sampai suatu ketika, meluncur lah dari arah belakang sebuah sepeda motor dan langsung hinggap di sebelah kanan ku. Mungkin aku tidak terlalu memperhatikan, tapi setelah ku tengok ke sebelah kanan ku. Ternyata pengendara nya seorang gadis cantik. Kaget juga aku di buatnya. Dengan postur badan yang mungil, jari-jari yang lentik, dan rambutnya yang panjang tergerai itu pun lantas membuka kaca helm nya yang bercorak sedikit feminim. Saat itu, aku hanya dapat menghela nafas ku dalam – dalam. Benar – benar sejuk rasa nya di dekat dia, seakan – akan ada semilir angin yang menerpa wajah dan tubuh ku. Sampai – sampai tubuh ku jadi masuk angin.

Dibawah jembatan layang yang belum jadi terpapar sebuah kisah kehidupan yang bisa membuat sebagian orang tertantang akan jiwa sosial mereka. Karena di bawah bangunan itu, telah terjadi perjuangan yang sangat berat bagi sebagian manusia yang tinggal di sekitar nya. Si mata tiga itu yang menjadi saksi bisu perlakuan yang tidak adil, khususnya bagi seorang anak kecil yang seharusnya harus sekolah dan bermain tetapi karena keadaan ekonomi, dia diharuskan berjuang untuk menyambung hidup nya. Pekerjaan yang dilakukan nya hanya menghinggapi satu-satu pengguna jalan yang berada tepat diperempatan tempat si mata tiga itu berdiri. Tangan nya yang masih kecil coba memberi isyarat kepada para pengguna jalan semuanya bahwa dia butuh pertolongan dan sedikit rezeki. Namun sayang nya hanya beberapa saja yang bisa menjawab pertanyaan sang anak kecil tadi. Pergelangan kakinya yang kotor itu terus melangkah di antara kerumunan pengguna jalan yang rata – rata pekerja semua. Dengan wajah nya yang hitam kelam, dia terus berjuang menantang kerasnya hidup.

Kemudian langkah nya pun berhenti di sampingku, dengan mata nya yang memerah karena kepanasan dia coba berkata “Mas… beri saya sedikit uang, saya belum makan” katanya dengan nada yang lemah dan tak berdaya itu. Karena aku merasa iba dengan nasib yang dia alami, maka aku berikan sedikit rezeki yang aku punya. “Terima Kasih… Mas. “ jawab nya dengan nada yang sedikit terbatuk-batuk. Sebenarnya aku tidak tahu apakah uang yang aku berikan merupakan tanda ketulusan ku karena rasa iba, atau hanya penghargaan atas usaha nya dalam mencoba bertarung dengan ekonomi.

Kemudian dia melangkah menuju pengendara gadis cantik tadi, hanya senyum dan kata terima kasih yang aku lihat dan aku dengar dari mulut kecil nya yang pecah-pecah karena kepanasan. Kemudian dia pun berlalu dan melangkah ke tempat peraduan selanjutnya, hanya saja yang aku herankan “Mengapa dari sekian banyak pengguna jalan saat itu hanya sedikit dari mereka yang terketuk hatinya untuk memberikan sedikit rezeki? atau apakah mereka benar-benar tidak punya uang ? dimana rasa sosial mereka?” tanya ku dalam hati. “Masa iya… mereka tak punya itu?” tanya ku dalam hati lagi.

Tak terasa anak kecil tadi tiba-tiba menghilang. “Kemana dia?” ucapku yang sambil menengokkan leher ku ke kiri dan ke kanan.“Oh… itu dia, eh kenapa dia menangis? Bukan kah dia harus nya senang, karena kerja keras nya mengais rezeki mendapatkan hasil walaupun sedikit?” ucapku penuh keheranan. Diatas sebongkah tiang beton di bawah proyek jembatan layang yang belum jadi itu dia menangis. Kemudian tak jauh dari situ di balik tembok beton proyek, muncul seorang ibu berbadan gemuk dan terlihat segar bugar menghampiri anak kecil tadi. Jari-jari nya yang kekar dan besar itu sedang menengadah ke arah anak kecil tadi. Ucapan ibu gemuk sungguh sangat membuat langit hampir runtuh, dengan nada membentak ia memarahi anak kecil tadi. Walaupun ucapan nya tak ku mengerti karena memang jarak nya agak jauh dari ku, tapi aku yakin si anak kecil ini memang sedang dimarahi. Karena sikap ibu gemuk tadi, aku jadi penasaran untuk mengetahui sebenarnya siapa dia? Apa hubungan nya dengan anak kecil itu? kenapa dia memarahi anak itu? atau jangan - jangan anak itu bekerja untuk ibu gemuk tadi? Benar-benar rasa penasaran yang tak terbendung, maka akhirnya aku putuskan untuk menepikan sepeda motor ku ke tepi jalan. Aku lihat Si Mata Tiga itu berubah hijau, pengendara lain terlihat sibuk mempersiapkan diri dan kendaraan mereka untuk melanjutkan perjalanan mereka kembali.

Tak terasa si pengendara cantik itu pun ikut berlalu. “Si Mata Tiga telah hijau” ucapku dalam hati sambil menatap kearah sepeda motor milik pengendara manis tadi. Kemudian mataku ku arahkan lagi ketempat anak kecil dan ibu gemuk tadi berada, seperti pernah berbuat kesalahan besar saja anak itu. Sampai-sampai membuat ibu gemuk tadi marah luar biasa. Tak terasa lampu yang berwarna hijau tadi berubah jadi merah, kemudian berkumpulah pengendara dari arah belakang ku. “ Eh… kenapa kali ini anak kecil tadi ditemani sang ibu gemuk”? ucap ku lagi. Seperti biasa mereka berdua melintasi dan menghinggapi setiap pengendara. Akhirnya dia melintasi ku juga, dan anak kecil tadi mencoba menghindari ku karena mungkin dia masih mengenali ku. Mata ku terus mengamati kemana anak kecil tadi itu pergi. Kemudian tak sengaja aku melihat tempat uang yang anak itu bawa ketika mencoba mengadu nasib di perempatan jalan, hasil yang di dapat pun lebih banyak ketimbang sebelum ibu gemuk tadi ikut terjun langsung.

“Berarti memang benar kan kalo anak ini bekerja untuk ibu gemuk tadi?” bisik ku dalam hati. “Anak sekecil itu diharuskan bekerja, kemana orang tua nya? Kemana ibu dan bapaknya? Dimana tanggung jawab mereka?” keluh kesal ku dalam hati. “Apakah sudah sedimikian parah kah kehidupan ekonomi keluarganya, sehingga anak yang tidak tahu apa-apa seperti anak kecil tadi harus menjadi korban?” kesalku dalam hati lagi. Tapi mau di bawa kemana lagi, memang keadaan yang membawa mereka seperti ini. Mungkin kalau tidak mereka terhimpit kehidupan ekonomi yang sulit. mereka tidak akan berbuat demikian. Tak terasa hari sudah mulai sore. Sudah saatnya aku melanjutkan perjalanan pulang ku ke rumah. Akhir nya lampu itu berubah lagi menjadi hijau.Kunyalakan kembali mesin sepeda motor ku dan berjalan melanjutkan perjalanan.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Littleayas
Littleayas at Realita Hidup Dibawah Si Mata Tiga (15 years 13 weeks ago)
80

...deskripsi kamu bagus tapi kalau diselipin percapakan pasti lbh menarik lagi deh..
terus nulis ya..ditunggu karya selanjutnya^^

Writer FrenZy
FrenZy at Realita Hidup Dibawah Si Mata Tiga (15 years 13 weeks ago)
70

selamat datang! menurutku kamu punya kelebihan mendeskripsikan setting yang bagus. tapi di awal deskripsi tentang hal yang serupa sedikit terlalu banyak, jadinya agak membosankan membaca tentang sekeliling. dari paragraf pertama saja, aku rasa sudah cukup menjelaskan keadaan dengan baik kok :)

tulisannya bagus. sedikit menggantung di akhir, tapi bagus.

moga2 bs membaca karya yang lain :D

Writer bluer
bluer at Realita Hidup Dibawah Si Mata Tiga (15 years 13 weeks ago)
70

hi, selamat datang vic.

Writer erwin yahya
erwin yahya at Realita Hidup Dibawah Si Mata Tiga (15 years 13 weeks ago)
90

bagus koq...
ditunggu ceritanya yang lain yah

Writer redshox
redshox at Realita Hidup Dibawah Si Mata Tiga (15 years 13 weeks ago)
100

met kenal Vic..

Writer on3th1ng
on3th1ng at Realita Hidup Dibawah Si Mata Tiga (15 years 13 weeks ago)
70

yan sama karya sendiri harus pede dong..
btw, nyala lampu ijonya cepet amat..
ditunggu yang lainnya yooo..