SSK- Melihat Komputer

 

Langkah kecil kelima anak itu beradu mengimbangi langkah gurunya yang terlihat seperti mengejar sesuatu, kemudian mereka berhenti di depan sebuah ruangan dan bertemu dengan seseorang berpakaian rapi di sana.

“Ada yang bisa saya bantu pak” Tanya orang itu kepada sang guru, sambil melirik keheranan melihat penampilan mereka yang terlihat sangat memprihatinkan.

“kami ingin melihat bukti kepastian kemerdekaan” kata sang guru tersebut.

Orang itu tertawa kecil, sementara kelima anak itu saling memandang dan kemudian si Sando berkata, “kami ingin melihat komputer pak”.

….

Orang itu menggarut kepalanya, “Aduh dek, kunci ruangannya sudah dibawah kepala sekolah, bagaimana ini?”

Sang guru kemudian terduduk lesu di pinggiran kaki lima sekolah, matanya menatap jauh ke arah gunung Sitimur yang terlihat kecil dari sana. Air mukanya terlihat berjatuhan hingga air mata dan keringat sudah tak bisa terbedakan. Kakinya gemetar kelelahan.

“Jadi kapan kami bisa melihatnya?” Tanya Anju

“Hari ini sudah tidak bisa, rumah kepala sekolah sangat jauh. Sebaiknya adek-adek pulang saja, ajak kakek kalian juga. ” kata orang itu sambil menunjuk ke arah sang guru yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.

“Dia bukan kakek kami, dia guru kami” jawab Arif.

Kelima anak itu berpaling kepada gurunya, kemudian mereka berenam meningalkan orang yang masih keheranan itu. Mereka melangkah tergopo-gopo, sesekali mereka saling melirik dan kemudian tertunduk.

Sekolahan sudah sangat sepi, apalagi setelah orang tadi telah pergi melewati mereka, orang itu terlihat masih keheranan, dia mengayuh sepedanya dengan cepat dan kemudian hilang di makan semak belukar. Matahari masih terlihat malu-malu, embun-embun yang tadi kini sudah mulai menipis, suasana mendung masih sedikit terasa, udara dingin mengibaskan baju-baju lusuh mereka, hinga terlihat seperti beriak air.

Ketika mereka hendak melangkah dan meninggalkan pagar sekolah, sang pahlawan tiba-tiba berkata “tunggu,,,kita tidak bisa pulang tanpa hasil”. Kelima serdadu itu saling menatap keheranan, mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja gurunya katakan, “Terus apa yang harus kita lakukan guru?” Tanya Sando kebingungan, “iya kita tidak mungkin membongkar paksa gedung itu” tambah arif.

“Kalian ikut denganku” kata gurunya sambil melangkah kembali ke arah sekolah, langkah pahlawan itu begitu cepat hingga ke enam serdadu harus mengimbanginya dengan sedikit berlari. Mereka berjalan mengintari sekolah, mengintip ke dalam setiap ruangan.

Ruangan – Ruangan itu begitu menakutkan, mayat-mayat pemuda yang bersimbah darah tergeletak di mana-mana, tidak terdengar tangisan yang mengadu kesakitan. Bambu-bambu runcing dengan darah yang masih segar menetes dan suara tetesan itu terdengar begitu pelan namun sanggup membangitkan amarah yang begitu kuat. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap, awan di langit menjadi sangat hitam dan awan-awan itu bergerak begitu cepat, seketika matahari tidak terlihat lagi, suara-suara terdengar dari langit,

“Di mana sang maha Raja, dimana beliau?” kata seseorang dengan nada yang sangat memaksa.

“Dia ada, dia ada di ruangan senjata bersama putrinya” seseorang terdengar menjawab

Suara itu kini berganti, yang terdengar adalah suara langkah kaki yang begitu memburu,

“Maha Raja, jangan sentuh darahnya,, Kami masih membutuhkan Raja” kembali suara terdengar dengan napas yang tersengal-sengal.

“Semua sudah terlambat bagiku kapten, putriku telah mengorbankan semuanya, ijinkalah aku pergi bersamanya”

“Tidak Maha Raja, kemerdekaan akan segera sampai, biarlah Maha Raja ikut bersama kami”

“Kapten, engkau masih begitu muda, sampaikan kepada generasiku, Kejarlah setiap kemerdekaan, dan berbagilah di dalamnya, harumkan setiap nama yang menjadi benang-benang bendara, selamat merdeka”

Seketika yang terdengar adalah teriakan, “Raja….Raja…” isakan tangis yang menandakan berjuta orang telah kehilangan sesuatu, sesuatu yang selama ini telah menyumbangkan semua darahnya, ketika setetes darah mampu menyatukan dua kepala yang berbeda dan kini setelah semua kepala bersatu, tetesan darah itupun berhenti, sang raja telah pergi dan dia pergi memeluk putrinya yang mati bersimbah darah.

“Lihatlah masih ada harapan untuk kita, besok kika pasti akan merdeka” kata sang pahlawan sambil menunjuk ke arah sebuah ruangan yang pintunya terbuka.

“kenapakah guru selalu berucap seperti itu, kami tidak mengerti” balas sando.

“kelak kamu pasti akan mengerti setelah kamu menikmatinya” balas sang pahlawan sambil tetap berjalan dan memasuki ruangan tersebut.”kita akan bermalam di sini dan besok pagi kita bisa melihat tanda kemerdekaan kita”. Erik mengarut kepalanya, dia terduduk di atas sebuah meja sambil memandangi gurunya, “bukankah kita sudah merdeka guru?, kenapa guru tidak pernah mempercayainya?” Tanya Erik sambil terus menatap gurunya yang bergerak kesana-kemari seperti orang yang kebingungan. “kelak kamu akan mengerti” balas gurunya dengan singkat kemudian dia tiba-tiba berhenti dan memandangi serdadu-serdadu kecil itu, matanya mengecil dan kulit wajahnya mengeriput, “ kita butuh bekal untuk bisa bertahan hidup di sini, aku akan mencari dan kalian harus tetap berjaga di sini,” kata sang guru dan pergi melangkah meningalkan ruangan tersebut, sando mengejar sampai ke pintu dan berteriak “ guru mau kemana?”, sang guru tidak menoleh, dia hanya membalas teriakan itu sambil tetap melangkah dengan cepat “kalian harus tetap waspada, Kejarlah setiap kemerdekaan, dan berbagilah di dalamnya, harumkan setiap nama yang menjadi benang-benang bendara, selamat merdeka”.

Kelima serdadu itu terlihat semakin binggung, mereka terduduk di masing-masing meja yang berbeda dan menghadap kesebuah papan tulis yang terlihat begitu hitam namun penuh dengan coretan.

“Kenapa pak guru begitu aneh hari ini?”  Tanya junet, matanya tetap melihat ke arah papan tulis. Dia seolah mencari sesuatu di sana, sesuatu berupa sebuah rahasia besar.

“Dia memang sudah aneh dari dulu, kamu kan melihat kalau di depan rumahnya bendera berkibar 24 jam” jawab Erik.

“Iya, terus kata bapak, pak guru itu dulu sempat stres, dia selalu berteriak-teriak kalo ada petir, selamatkan sang maha raja,,selamatkan sang maha raja, begitu dia berteriak”. Para serdadu itu kini merapat ke arah Arif, kecuali Sando yang berjalan dan keluar dari dalam ruangan.

“Terus..terus..” Tanya Junet penasaran.

“Yah,,,gitulah,,pokoknya pak guru itu masih merasa seperti dijajah” tamba Arif.

“Apa guru kita itu sudah sembuh dari gilanya?” Tanya junet kembali

“gila apaan?, guru kita tidak gila, bahkan walau sudah sangat tua, dia bahkan masih sangat pintar” jawab Anju.

Malampun pelan-pelan telah menandakan kedatanganya, udara dingin telah meraja di setiap tempat. Desingan-desingan semak belukar yang berkejaran bersama angin terdengar bagai misteri. Empat serdadu itu telah tergeletak di atas meja di dalam kegelapan ruangan, pikiran-pikiran berkecamuk di dalam sana, keingintahuan akan seperti apa kecangihan komputer terasa memompa jantung sedikit lebih cepat, hingga rasa dingin kini mengimbanginya dan pelan-pelan menyentuhnya.

Di luar ruangan, seratus meter dari tempat itu, seorang anak kecil terduduk dan memandangi langit, cahaya bulan yang remang hanya mampu melukis sedikit bentuk raut wajahnya, seseorang yang terlampau sering di panggil kapten oleh gurunya, Sando terduduk dan sepertinya dia sedikit ketakutan, atau tepatnya dia menghawatirkan sesuatu, sesekali matanya bergerak dari bintang-bintang dan memandangi ke arah semak belukar, ke arah jalan-jalan, dia berharap gurunya segera datang.

“Sando…sando…kamu ke sini, guru sudah datang” junet berteriak memangil sahabatnya itu.

Sando langsung bangkit dan berlari ke arah junet, di depan ruangan sahabatnya yang lain sedang asik membuat perapian sementara gurunya terlihat sibuk membersihkan beberapa potong singkong.

“Guru, darimanakah guru mendapatkan ini, apakah guru telah mencurinya?” Tanya Sando sambil menghampiri gurunya.

Sontak serdadu kecil lainya melihat tajam ke arah Sando, sementara sang pahlawan hanya terdiam dan tetap sibuk membersihkan singkong tersebut. “saya tidak akan memakanya guru, kalau itu hasil curian saya tidak akan memakanya” tambah Sando. Sang guru tetap terdiam, dia membantu anak-anak untuk membuat api, setelah api menyala, sang guru membakar satu-satu singkong tersebut sementara serdadu-serdadu kecil duduk memandanginya dari kaki lima sekolah. Cahaya api itu terlihat begitu mempesona, asapnya terlihat mengepul dari kayu bakar, bayangan-bayangan cahaya memantul kesetiap mata di dalam kegelapan malam. Sesekali serdadu-serdadu itu memukul kaki mereka yang dikerumuni nyamuk-nyamuk kecil.

Cukup begitu lama, hingga aroma singkong itu meraja dalam kegelapan malam. Singkong itu telah matang dan diletakkan di atas sebuah kertas, warnanya hitam dan kecoklat-coklatan. Air liur telah menjadi musuh perut bagi para serdadu tapi tak satupun dari mereka yang memakanya, sementara sang guru telah terdiam, dia memandangi serdadu-serdadu kecil tersebut. Udara begitu keras dan letupan senjata masih saja berdesing di dalam kepala, bekas percikan darah masih menempel pada darah, lima serdadu terduduk mengelilingi perapian, sementara sang maha raja terlihat sibuk membersihkan satu-satunnya senjata api yang mereka miliki, “maha raja, makanlah dulu biar besok kita masih punya tenaga untuk melanjutkan peperangan” kata sang kapten. “darimanakah kamu mendapatkan makanan itu, apakah kamu mencurinya?” Tanya sang maha raja, “sunguh lebih menyiksa rasa kenyang jika isinya adalah keharaman, ini diberikan warga kepada kami” jawab sang kapten dengan tegas, kalau begitu marilah kita makan”.

Kelima serdadu itupun melahapnya singkong itu, mereka begitu senang setelah tahu kalau singkong itu di minta dari penduduk. “maafkah saya guru, saya sudah berpikiran buruk tentang guru” kata Sando sambil mengambil posisi duduk di dekat gurunya.

“Kamu tahu berapa umur guru?” Tanya gurunya sambil menatap mata sanda. Serdadu lainya kini focus kepada perkataan gurunya.

“Kami tidak guru” kata Junet.

“75 Tahun guru” kata Sando.

“Ketika guru di umur yang ke-17 belas, guru sudah dipangil kapten oleh seseorang, seseorang yang menyumbangkan semua hidupnya untuk kemerdekaan. Aku dan beliau dan ke empat serdadu lainya selalu bersama, dan inilah malam terakhir kami bersama, ketika aroma makanan ini menyebar diantara hutan yang sunyi, besok paginya kami sudah harus berpisah dan mengharapkan kemerdekaan diraih oleh pejuang lainya.” Kata guru sambil sesekali mengunyah singkong.

“Maaf guru kami tidak mengerti, guru berbicaranya aneh” balas Erik.

“Tapi sedikit mengerti guru” tambah Anju

“Apakah guru itu pahlawan” junet bertanya.

Sang guru tidak lagi menjawab, serdadu-serdadu jadi ikut terdiam, di tengah sunyinya malam itu mereka berlima telah mengelilingi perapian, dan kemudian mereka memasuki ruangan mengambil sebuah meja untuk masing-masing kepala. Mereka menunggu sebuah pagi.

Pagi haripun datang dengan begitu cepat, matahari masih belum tampil sempurna, mereka berenam telah terduduk di depan ruangan di mana mereka semalam telah bertemu dengan seseorang. Dan tidak begitu lama, seseorang dengan datang mengendarai sepeda motor dan berhenti di depan mereka. Serdadu-serdadu kecil itupun langsung bangkit dan berdiri mengelilingi sepeda motor yang masih ditungngangi pengendaranya, orang itu terlihat keheranan, dia turun dan berdiri tepat di dekat sang pahlawan.

“Ada apa ya pak, apa ada yang bisa saya bantu?” kata orang yang adalah kepala sekolah smp tersebut.

“Kami ingin melihat computer” jawab junet tiba-tiba yang berdiri di samping sang kepala sekolah.

“Kalian dari mana?” Tanya orang itu sambil memberikan tanganya untuk membimbing sang pahlawan berdiri.

“Kami pejuang dari desa sitimur” kata sang guru.

“Oh orang bapak dari desa si timur, ke sini mau melihat computer”. Mata sang kepala sekolah terlihat bersinar, cahaya matahari terasa sangat sejuk di tambah semilir angin yang terasa sedikit dingin namun menyejukan. Begitulah perasaanya menerima ke enam tamunya.

Sang guru membuka sebuah ruangan, dan dia menoleh ke arah ke enam orang yang dari tadi telah membuat bulu-bulunya berdiri tegang. “ayo masuk, kata sang guru”.

“Ayo…serbu…serbu…”teriak para pejuang yang jumlahnya semakin banyak, tentara-tentara penjajah itupun di kepung sebagian dari mereka berlarian kea rah hutan dan sebagian lagi mengangkat tangan dan menyerah. Sementara di depan markas tubuh-tubuh bersimpah darah tergelatak dengan senjata apinya, para pejuang datang dan mengambil senjata-senjata tersebut. Diantara tentara berseragam coreng terdapat Jonut sahabat serdadu kapten satu-satunya yang masih bertahan, “bertahanlah jonut…bertahanlah kawan, kita sudah merdeka…kita sudah merdeka,,,” jonut memuntahkan segumpal darah tanganya mengengam kuat tangan sang kapten sahabatnya yang mencoba menopang tubuhnya. “Berjanjilah padaku kapten, kamu harus melihat sesuatu yang sangat cangih bukti dari kemerdekaan ini, sebelum kamu datang menemui kami”.

“Mari pak, ini dia yang di sebut komputer” kata kepala sekolah sambil menghidupkan power computer tersebut

Serdadu-serdadu kecil itu langsung mengelilinginya, mereka memegang mosnya dan keheranan dengan reaksi si komputer. Sementara sang guru terdiam di belakang mereka, dia mengamati apa yang kepala sekolah itu lakukan dengan computer tersebut.

Setelah cukup lama mereka di dalam sana, merekapun keluar, sekolah itu kini telah menjadi sangat ramai, anak-anak remaja terlihat berpakaian rapi dengan seragam berwarna putih dan merah. Anak-anak itu menatap mereka, semua terlihat heran dan memandangi kelima serdadu itu berjalan keluar dari sekolah. Dan seketika anak-anak berseragam itu berlari mengerumuni mereka, mereka terlihat sagat terkejut ketika sando dan serdadu lainya berteriak,,,”guru…bangun guru…guruuuuu” teriak sando begitu keras. 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer hendra bizet
hendra bizet at SSK- Melihat Komputer (10 years 4 weeks ago)
80

akhirnya ngerti juga.... bagus ^^

Writer Shikamaru
Shikamaru at SSK- Melihat Komputer (10 years 5 weeks ago)
70

Awal - awal tidak terlalu mengerti, tapi lama - lama enak juga...

Writer pecundang jalanan
pecundang jalanan at SSK- Melihat Komputer (10 years 5 weeks ago)

terimasih sudah singgah, memang agak rumit ceritanya, salam