Koneksi 4 : Maut di Setiap Langkah

Perjalanan menaiki kapsul metal yang dipanggil kapal selam oleh para penghuni bumi menuju pusat peradaban mereka sama sekali tidak menyenangkan.  Mengerikan, malah.  Penyebabnya jelas, dihidrogen oksida yang entah mengapa bukannya berkurang malah bertambah banyak dari kunjungan terakhirnya di planet terpencil dan terbelakang ini.

 

Ia merutuk pelan, sementara di kanan dan kirinya duduk tim peneliti dari Amul dengan penyamaran bumi mereka.  Kebanyakan memilih tubuh pria, tentu saja.  Pria lebih kuat secara fisik dan kebanyakan dari petinggi di bumi memiliki fitur yang tidak berbeda jauh dengan ilusi dari gelang pengubah wujud ini, sehingga lebih mudah untuk berbaur.  Hanya Kapten Mir'ha yang bisa dibilang sebagai kasus khusus.  Ia sendiri tidak memahami alasan Kapten Mir'ha memilih tubuh perempuan dan demi keselamatan dirinya sepanjang misi, ia lebih memilih untuk tidak bertanya dan tidak berkomentar.

 

Sepanjang perjalanan mereka dalam kapsul selam terkutuk itu, ia mengarahkan pandangannya ke luar.  Ke hamparan dihidrogen oksida tanpa batas, biru dan hijau yang terkadang diselingi warna-warni makhluk akuatik yang jumlahnya bertambah banyak.  Tetapi warna-warni pun tidak bisa benar-benar menggambarkan apa yang ada di luar sana.  Kebanyakan berwarna keperakan, entah putih keperakan, hitam metalik, abu-abu metalik, biru metalik... apa saja kecuali warna-warni permen semacam kuning, oranye, merah dan lainnya.  Warna-warni yang dulu sempat menghias dinding kamar sewaannya, digambar berdasarkan sebuah foto yang ia dapatkan dari internet bumi.

 

"Ke mana ikan-ikan kecil dan karang-karang besar?" gumamnya pelan, tidak kepada siapa-siapa.  

 

"Tidak ada karang, tidak ada ikan kecil.  Semua hilang, pelan-pelan hilang, ketika perubahan iklim menimpa planet ini.  Planet ini tidak akan bertahan lama kalau tidak ada bantuan dari Aliansi," jawab sebuah suara serak dari sisi kirinya.  

 

Ia mendongak dan mendapati seorang pria bungkuk dengan hidung sebesar buah kastanye dan rambut sewarna logam Grie, abu-abu pudar.  Matanya menatap layar hologram biru di hadapannya, bergerak dari kiri ke kanan seiring pikirannya mencerna data dan angka yang ada di dalam layar hologram tersebut.

 

"Anda...?"

 

"Profesor Bodrhiam," jawab pria tua itu, matanya tidak sekalipun beranjak dari layar hologram.  "Dan penampilan bisa menipu," tambahnya.

 

Ia mengangkat bahunya.  Ia tak tahu siapa itu Profesor Bodhriam dan ia tak peduli.  Ia mengalihkan pandangannya ke hamparan dihidrogen oksida lagi.  Makin gelap, lama kelamaan warna biru dan hijau berbaur dengan hitam.  Pertanda kalau mereka makin dekat ke tujuan mereka, entah bulatan mana dari peta ala kadarnya yang ia dapat di tempat pendaratan.

 

"Lima belas menit lagi kita akan mendarat di area jurisdiksi pemerintahan Panasia, Tirai Pertapa Timur.  Anda diharapkan untuk tetap di tempat duduk Anda.  Tirai Pertapa Timur adalah wilayah Panasia yang paling berkembang secara ekonomi dan sosial.  Tirai Pertapa Timur dibagi dalam beberapa distrik, yaitu...."

 

Yadadi, yadadu, yadado.  Suara monoton itu lagi.  Ia bosan.  

 

Informasi mengalir masuk ke kepalanya.  Distrik di tempat dengan nama yang cukup panjang ini dibagi menjadi empat bagian sesuai dengan mitos kuno yang ada di beberapa negara pendiri distrik ini.  Masing-masing distrik dinamai sesuai dengan warna yang dulu begitu dominan di planet kecil bernama bumi ini.  Tiap distrik juga memiliki fungsinya sendiri, merah untuk pemerintahan, biru untuk perdagangan dan komersial, putih dan hitam digunakan sebagai perumahan dan kuburan. 

 

Dari luar, berkas cahaya kuning sedari tadi menolak tunduk pada gelapnya hitam dan dominan biru-hijau.  Berkas kuning itu menyala, angkuh dalam gelap, menolak untuk berbaur dengan warna-warna lain.  Itulah cahaya dari kota pertama yang ia lihat. Bukan, bukan kota, ia meralat pemikirannya.  Sebuah kubah besar dipenuhi nyala kuning sementara di dalam sana segala macam metal dan logam bergerak dan menggeliat.  Nyala kuning itu sendiri makin dominan, sementara kapsul yang ia tumpangi bergerak mendekat ke arah kubah raksasa tersebut.

 

Tirai Pertapa Timur.  

 

Sebuah bukaan berwarna abu-abu pudar menelan kapsul yang ia tumpangi.  Ia berada di dalam Tirai Pertapa Timur sekarang. Profesor Bodrhiam mengalihkan pandangannya dari layar hologram biru yang kini pudar ke dalam sebuah tablet kecil di genggaman tangannya.

 

"Baiklah, sampai jumpa lagi, apabila memungkinkan," ujar Profesor Bodrhiam, kali ini mata mereka bertemu.  Mata Profesor Bodrhiam tidak berbeda jauh dengan warna rambutnya, meskipun ada sedikit nuansa biru di sana.  Sayangnya, biru yang ada di situ tidak membuat mata itu lebih hangat ataupun bersahabat.  Mata itu dingin, angkuh, penuh dengan apa yang hanya bisa dikatakan sebagai rasa muak.  Ia paham semua itu.  Tidak ada satupun anggota rombongan ini yang merasa kehadirannya bisa membantu misi mereka.  Malah mereka mungkin lebih suka kalau ia menghilang dan dibawa kembali ke Amul sebagai kargo.

 

Sebuah kargo tambahan bernama mayat, kalau harus dijabarkan dengan istilah bumi.

 

"Kita telah mendarat di Tirai Pertapa Timur.  Atas nama petinggi Bumi, kami mengucapkan selamat datang pada rombongan delegasi kunjungan persahabatan dari Amul.  Beberapa saat lagi, pintu akan dibuka dan kami sarankan agar anda tidak keluar dari kubah tanpa proteksi yang cukup..."

 

"Tidak ada yang cukup bodoh untuk melangkah dari atmosfir buatan ini," geram Profesor Bodrhiam kepada suara monoton itu.  Aku membuang wajahku.  Tidak ada gunanya berdebat dengan pria tua yang tekanan selnya sedang naik.

 

"... Sebuah vila telah disediakan bagi Anda di distrik Merah sementara akan ada kendaraan yang menjemput Anda di bagian kedatangan.  Selamat menikmati kunjungan Anda."

 

Profesor Bodrhiam menjauh darinya, mengikuti rombongan lain ke arah pintu.  Ia sendiri memilih untuk tetap di tempat duduknya.  Peneliti dari Amul ini semuanya kurang kreativitas.  Semuanya memilih tubuh yang sama, entah pria tua bungkuk dengan rambut yang mirip helaian mi dari tepung beras favoritnya, atau pria separuh uzur dengan helaian rambut putih abu-abu  menodai hamparan coklat gelap atau hitam, baris demi baris, helai demi helai.

 

Helaan nafasnya cukup pelan untuk tidak didengar siapa-siapa, tetapi juga cukup keras untuk menyatakan kalau ia tidak menyukai misi ini, sama sekali.  Sayangnya, helaan nafas itu tidak cukup pelan untuk lolos dari pendengaran Kapten Mir'ha.

 

"Kau bukan satu-satunya."

 

Dan Kapten Mir'ha pun keluar dari pintu kapsul.  Ia sendirian.  Di dalam sebuah kapsul di planet terpencil.  Dikelilingi oleh substansi mematikan di segala arah.  Dikelilingi oleh makhluk-makhluk yang tak menginginkan keberadaannya, mungkin malah melenyapkannya dengan segala cara.  Entah takdir apa yang dipintal oleh Dewa-Dewi ketika ia lahir, untuk mendapati dirinya dengan maut menghantui setiap langkahnya.

 

Demi Dewa-Dewi, ketika ia pulang nanti, mungkin ia akan mempertimbangkan tawaran sepupunya untuk bekerja sebagai pendeta di Kuil.  Rasanya kehidupan di Kuil lebih aman ketimbang apa yang ia hadapi sekarang.

 

"Tuan?" tanya sebuah suara monoton di kejauhan.


"Ah, ya."

 

Ia pun melangkah keluar dari kapsul.

 

Read previous post:  
10
points
(752 kata) dikirim k0haku 9 years 41 weeks yg lalu
50
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | petualangan | eksperimen | k0haku | Koneksi
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.