Codex Bellator (Prologue)

Seminggu sebelum ekspedisi...

"Tunggu sebentar, apa keputusan ketua sudah dipikir matang?" sanggahku setelah mendengar keputusan ketua Persaudaraan Ilmuwan di suatu rapat.

"Ya, saya sudah memikirkannya. Anda bersama tim ekspedisi kita akan melakukan penelitian di sekitar Sungai Horim, sebelah utara benua Yasuf. Pikirkan nilai historisnya, Otto Tuntemus. Di wilayah itu pernah tejadi Perang Suci, dan saya meyakini banyak artefak atau peninggalan lain yang bisa dimasukkan ke dalam buku sejarah peradaban dunia Baanthar." tegas pria berjanggut tebal memutih itu.

"Maaf, ketua. Bukan nilai historinya yang menjadi permasalahan. Masalahnya adalah, wilayah itu sudah terisolasi setelah Perang Suci. Kita tidak bisa mengorbankan nyawa anggota tim ekspedisi hanya untuk meneliti peninggalan perang disana, ketua." sanggahku kembali.

Ia bangkit dari kursinya, dengan nada lantang ia menjawab, "Dengar, Otto Tuntemus! Kerajaan Hestia telah mempercayai kita untuk menulis sejarah kerajaan dan seluruh dunia Baanthar. Apa kamu tidak menyadari peranmu sebagai sejarawan?! Seluruh manusia di dunia ini menanti sejarah yang kita tulis, Otto!"

Aku hanya terdiam, begitu juga dengan para ilmuwan yang mewakili berbagai ilmu di dunia. Dari ilmu pasti yang rumit dan bertele-tele seperti Matematika, hingga ilmu sosial yang mungkin dianggap remeh oleh sebagian kalangan. Aku tidak dipuja, dan juga tidak dihina. Karena aku hanyalah sejarawan. Tugasku adalah berkolaborasi bersama para arkeolog untuk mencatat sejarah yang hilang. Terdengar sepele, tetapi bukan pekerjaan yang mudah.

"Jika seluruh ilmuwan yang ada dalam Persaudaraan ini memiliki sikap sepertimu, niscaya kehancuran Kerajaan Hestia tinggal menunggu waktu saja..." ucapnya sembari berbalik badan dan meninggalkan meja rapat. "Rapat selesai."

 

Sebulan kemudian.

"10 Juli, 1118 AD. Seminggu lalu, ketua Persaudaraan Ilmuwan cabang Kerajaan Hestia memerintahkan aku dan tim ekspedisi untuk menelusuri Sungai Horim. Dimana pada Perang Suci, tepatnya Pertempuran Horim, diduga banyak artefak peninggalan perang disana. Ketua tidak tahu, Kesultanan Kandahar sedang mengisolasi dirinya. Mereka sudah pasti menolak kedatangan bangsa asing seperti kami melewati batas kedaulatannya. Sebuah tugas yang bertaruh nyawa demi menulis sebuah sejarah. Konyol tapi nyata, begitulah.

Aku tak habis pikir, satu ego manusia dengan kepentingannya mampu membawaku bersama tim ekspedisi menuju penghabisan nyawa yang tidak pasti. Ya sudahlah, ini kehidupan yang harus kujalani..."

Kututup buku harianku yang kusut itu, lalu kusimpan di sebuah tas kulitku. Kulihat ke depan dan ke belekang, rombongan kereta kuda berjalan melintasi lembah hijau berbaur dengan gurun pasir. Aku juga melihat sebuah balok kayu besar bertuliskan huruf hijaiyah. Sudah kuduga, aku bersama tim ekspedisi telah melewati batas benua Yasuf, yang juga merupakan wilayah Kesultanan Kandahar.

"Otto..." terdengar suara pria tua memanggilku.

"Guru Dinsmark... aku tidak apa-apa..."

"Jika kita menjalaninya dengan sepenuh hati, semuanya akan berjalan dengan baik..." nasihatnya. Dinsmark Elgrado adalah seorang filsuf. Aku memanggilnya guru karena ia telah mengajariku banyak hal. Setiap ekspedisi, setiap perjalanan, ia selalu bersamaku.

"Baik, guru..."

Padang pasir bercampur lembah hijau, mungkin beginilah bentuk geografis wilayah Mughayat, salah satu perbatasan Kerajaan Sil dengan Kesultanan Kandahar. Sementara Kerajaan Sil adalah kerajaan boneka dari Kekaisaran Stella Rubra. Aku tidak merasakan panas disini, kecuali angin yang bertiup lembut menyisir rambutku.

"Ego manusia dapat menghancurkan banyak orang, Otto..." ujar Guru Dinsmark. "Beberapa tahun yang lalu pernah terjadi pertumpahan darah besar disini. Banyak tentara, wanita, dan anak mati sia-sia. Warga terpaksa meninggalkan kampung halamannya demi menyambung hidup."

Guru Dinsmark melantur lagi, sebuah kebiasaannya saat melakukan perjalanan panjang. Di saat bergembira, mungkin lanturannya bisa menambahkan kebahagiaan hatiku. Tapi hari ini, aku stres.

Perjalanan masih panjang, dan sore ini kami beristirahat di dekat bebatuan. Para anggota tim ekspedisi melepas lelah dengan berbagai cara. Diantara mereka ada yang berbincang dengan temannya, ada yang istirahat di terpalnya, ada juga yang tertawa terbahak-bahak setelah mendengar cerita jenaka dari sahabatnya. Semuanya terlihat akrab, hangat. Kecuali aku, seorang individualis yang dikenal senang memikirkan hari ini dan masa depan sendirian.

"Kau berpikir lagi, Otto?" tanya guruku. Tangannya menawarkan sepotong roti untukku.

"Iya, guru." aku mengambil roti itu.

"Tentang hari ini dan masa depan?" terkanya.

"Sebenarnya, guru. Aku ingin menjadi pemikir sepertimu."

"Menjadi filsuf bukan pilihan yang bijak, Otto. Usiamu masih muda, terlalu muda untuk memikirkan sesuatu. Aku bisa melihat, kau memiliki potensi cemerlang untuk mengubah kebatilan menjadi keadilan. Kau punya kekuatan untuk mengubah sesuatu, dengan cara apa pun..."

Apakah guruku membicarakan tentang menjadi ksatria? Tidak. Aku sudah membuang jauh-jauh kenangan pahit itu. Setahun yang lalu, aku direkrut menjadi sukarelawan asing bagi Kekaisaran Stella Rubra. Tugasku waktu itu, hanya menjaga daerah Mughayat. Daerah ini, dulunya berpenghuni. Namun, pasukan sukarelawan asing diperintahkan untuk membantai penduduk sipil di sekitar perbatasan. Lantas saja, aku terkejut. Kukira, menjadi sukarelawan asing tugasnya hanya menjaga ketahanan Kekaisaran. Hanya itu. Namun nyatanya, aku melihat sebuah pencabutan nyawa massal. Beberapa waktu kemudian, aku kabur dari dinas. Semua yang kukira salah besar. Lebih baik kabur menjadi bukan siapa-siapa daripada menjadi ksatria pencabut nyawa sekaligus menjadi 'mainan' Kekaisaran.

"Aku tidak membicarakan menjadi ksatria, atau prajurit, Otto..." ia bisa membaca isi pikiranku. Tak heran bagiku. "Mengubah suatu hal bisa dilakukan di luar mengangkat senjata."

"Baik, guru..."

Tiba-tiba, seruan seseorang memecah ketenangan percakapan kami berdua.

"Ada seseorang disana!" seru salah seorang anggota tim ekspedisi kepada kawan-kawannya.

Aku ikut melihat. Sesosok manusia berlari berluntai-luntai. Beberapa anak panah menancap di sekujur bahu dan punggungnya. Sosok manusia itu makin lama makin jelas.\

"Itu seorang ksatria, dan ia terluka parah." unjuk seseorang dari kami.

Beberapa rekan kami menangkap tubuhnya dan mencabut anak panah itu. Sementara rekan lainnya dengan alat medis seadanya, berusaha menutup luka-lukanya.

"Tenanglah. Bicara padaku, apa yangs edang terjadi disana." kata Guru Dinsmark kepada ksatria terluka itu.

"Kami... kami sedang... menyerang rombongang Kekaisaran... kami... kami terbantai..." jawabnya terpatah-patah.

"Ya Tuhan... baiklah. Otto, bawa dia ke tempatmu." perintah guruku.

"Tapi guru, kita tidak bisa menyebunyikan dia di tempatku. Jika kita melakukan demikian, kita pasti ikut dibantai oleh pasukan Kekaisaran."

"Tapi Otto..."

Seseorang dari kami menyela pembicaraanku dengan Guru Dinsmark.

"Pasukan Kekaisaran hendak menuju kemari. Otto, lekas sembunyikan dia ke tempatmu sekarang juga. Tempatmu bukannya sangat tersembunyi karena berada di balik bebatuan ini?"

"Tidak, kita tidak bi-"

"Ayolah Otto, kita tak punya pilihan." tegas guruku.

****

Beberapa saat kemudian, terdengarlah suara derapan kaki kuda yang mengguncang tanah. Suara ringkikan kuda itu pertanda bel kematian sedang dibunyikan. Di tempatku yang tertutup oleh dinding bebatuan yang tinggi inilah, aku bersembunyi.

"Berbicaralah! Aku tahu si pemberontak itu bersembunyi disini! Jadi bagaimana, kalian ingin bicara, atau tidak?!" hardik salah satu ksatriya Kekaisaran.

Semoga guruku tidak mendapat perlakuan buruk disana, bersama rekan-rekan ekspedisi kami, berbaris dengan kepala menunduk dan kedua tangan diletakkan di belakang kepala. Itulah yang kulihat dari sela-sela bebatuan yang bercelah.

Kudengar suara derapan langkah kuda lagi. Salah seorang ksatriya Kekaisaran mengatakan sesuatu.

"Perhatian semuanya. Jendral Kouba, kami telah menangkap para peneliti yang sedang beristirahat disini. Kami meyakini bahwa pemberontak itu sedang disembunyikan oleh mereka, tapi mereka tidak mau mengakuinya."

"Baiklah, prajurit. Tenang saja..." ujarnya dengan nada dingin.

"Apa-apaan ini? Kalian menyembunyikannya? Tentulah kalian tak jauh beda dengan berbuat suatu tindak kejahatan, dan menjadikan diri kalian itu sebagai pemberontak itu sendiri. Dimana dia?"

Suasana menjadi hening. Kulihat ksatriya yang kusembunyikan itu menghela nafas panjang. Dan segera saja, kututup mulutnya. Ketika kuperiksa, ternyata ia sudah tewas.

"Ini kesempatan terakhir kalian..." tambah jendral itu.

salah seorang rekan kami berucap, "Emm... maaf pak jendral. Kami benar-benar tidak mengetahui adanya pemberontak disini, dan kami bukan pemberontak, pak. Kami hanya arkeolog yang sedang menuju Sungai Horim, pak."

"Terserah kau saja. Prajurit, kau dengar orang itu. Ia berusaha mengancamku. Ia gila, tidak waras. Bunuh dia." perintah jendral Kekaisaran dengan nada dingin.

"Tapi jendral, apa-"

"Prajurit, biar kutunjukkan beberapa contoh pada mereka..."

Tiba-tiba, kudengar suara tebasan beserta suara ceceran darah. Seseorang telah terbunuh! Kuharap, itu bukan Guru Dinsmark.

"Ya ampun, hentikan ini. Kau tak bisa-" syukurlah, guruku tidak apa-apa.

"Tentu saja aku bisa, dasar bodoh! Prajurit, tebas kepala mereka setiap satu menit jika ia tidak memberitahu keberadaan pemberontak itu. Dan kau, pak tua, satu kata lagi maka kau akan tak bernyawa seperti temanmu..."

Dan jendral itu pergi bersama kudanya.

Batinku bergejolak. Jika aku memberitahukan keberadaan ksatriya - yang sudah tewas - ini, maka sama saja aku berkhianat pada semua orang. Tapi jika aku mengambil pedang yang tergeletak di dekat ksatriya, aku bisa keluar dari persembunyianku, membunuh semua ksatriya Kekaisaran, dan menghentikan pembantaian ini. Sebuah pilihan yang harus kupilih..."

 

Bersambung.

Read previous post:  
7
points
(369 words) posted by Tom_Hirata 8 years 29 weeks ago
35
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | petualangan | dunia fiksi | fantasy
Read next post:  
Writer dansou
dansou at Codex Bellator (Prologue) (8 years 29 weeks ago)
80

Lama enggak keliatn Tom :D. Huuum... masih prolog jadi saya belom bisa komen banyak. Tapi mengingat cerita kau kebanyakan soal perang, yang ini pasti juga enggak jauh-jauh amat.
.
Btw, elipsis yang terlalu banyak cukup mengganggu saya

Writer Tom_Hirata
Tom_Hirata at Codex Bellator (Prologue) (8 years 29 weeks ago)

hehe... lama ga bertemu juga, dansou :D

Ya masih prolog, dan aku juga lagi ngerjain lanjutannya. Ohya, aku untuk saat ini sedang berkutat pada cerita fantasi, dengan bumbu medieval (mungkin tepatnya pada jaman Dark Age sampai menjelang Reinaissance) :o Jadi mungkin perang-perangannya masih ada :D

Ohya, elipsis itu apa ya?

Thanks