Codex Bellator (Page 1: Sword of Memoirs)

 

"Hei!! Aku melihatnya! Dia disini!" seruku memanggil ksatria Kekaisaran itu.

"Bagus, nak! Bawa dia kesini segera." salah satu ksatria Kekaisaran menyuruhku untuk membawa jasad yang mereka cari.

"Jika kau mau melihatnya, kau harus kemari!"

Sederet orang yang sedang ditawan pun menyuruhku untuk tidak memberitahukannya, termasuk Guru Dinsmark. Meski berkali-kali disuruh diam oleh salah seorang teman ksatria itu dengan ancaman sebilah pedang.

Disaat seorang ksatria Kekaisaran mulai menampakkan batang hidungnya, langsung kulancarkan tinjuku di hidungnya. Ia mengerang sakit, dan disaat yang sama aku menghunuskan pedang di tubuhnya. Kedua temannya yang melihat penyerangan itu menghampiriku dengan muka marah. Mereka hendak menyerangku. Satu tebasan pedang berhasil kutangkis, dan disaat itu temannya mengayunkan pedangnya. Untung saja, serangan itu hampir kuhindari. Sebagai balasnya, aku menebas perutnya dengan pedang yang kugenggam ini.

Satu ksatria itu terbujur kaku tak bernyawa, sementara yang tadi kutebas perutnya itu berlari terpogoh-pogoh meninggalkanku.

"Otto, kau apakan orang yang kau sembunyikan itu?"

Sebuah pertanyaan ditujukan kepadaku. Belum sempat aku menjawab, salah seorang rekan menuduhku.

"Apa kau telah membunuhnya?"

"Tunggu dulu..." sela guruku. "Biarkan muridku yang menjelaskan."

"Terima kasih, guru. Jadi sebenarnya, orang yang ku sembunyikan itu..." aku menarik nafasku dalam-dalam untuk mengusir kelelahanku setelah bertarung tadi. "Dia meninggal dengan sendirinya."

"Itu tak mungkin!"

"Penipu! Kau pasti telah membunuhnya!"

Suara tuduhan-tuduhan itu...

"Mana mungkin aku membunuhnya? Aku hanya berusaha menyembunyikannya. Tapi, kalian lihat sendiri tadi, dia terluka parah. Sangat besar kemungkinan ia bisa mati dengan sendirinya." sangkalku.

"Hanya karena aku memakai pedang ini..." aku membuang pedang itu ke samping. "Kalian pikir aku pembunuh?"

Semuanya terdiam. Diam seribu kata. Dari awal, kalian menuduhku yang tidak-tidak. Sekarang? Mematung seperti itu. Bodohnya.

"Tapi..." terlontar satu kata dari rekan ekspedisi kepadaku. "Jika begitu... kenapa kau membawa pedang itu?"

"Pedang itu? Kalian tidak melihat adanya sarung pedang?"

"Mari kutunjukkan..." ajakku.

Aku berlari menuju tempatku dan membawa jasad yang mulai dihinggapi lalat. Lalu, aku mengambil sebuah sarung pedang yang masih terikat di pinggangnya.

"Ini sarung pedangnya." aku menunjukkan sarung pedang berwarna coklat itu dihadapan mereka. Terlihat ekspresi wajah mereka, hanya diam tanpa berani mengeluarkan sepatah kata apa pun. Semuanya sudah jelas

"Baiklah, muridku. Kau sudah melakukannya dengan baik..." Guru Dinsmark berusaha menenangkanku.

"Guru, aku hanya ingin membuat mereka percaya bahwa aku tidak membunuhnya."

"Semuanya sudah jelas..."

****

Tengah malamnya...

"Guru... guru..." aku menggoyangkan tubuh guruku yang tertidur pulas. Beberapa saat kemudian, matanya terbuka.

"Otto?"

"Shh... kita harus pergi dari sini, guru..."

"Apa...?"

"Aku tak kuasa lagi..."

"Apa maksudmu...?"

"Nanti saja aku jelaskan di perjalanan... aku sudah mempersiapkan barang-barangmu, guru..."

"Otto..." ia meraih tanganku. "Jelaskan padaku sekarang saja..."

Aku membisu. Aku belum siap menceritakan semuanya panjang lebar kepada guruku.

"Baiklah, aku mengerti... kau bisa jelaskan padaku nanti."

Setelah membawa dan menaruh dua tas kulit yang masing-masing milikku dan guruku ke atas punggung kuda, aku teringat akan pedang yang kulempar tadi. Aku cabut pedang itu dari pasir, dan menyimpannya di punggungku. Untuk jaga-jaga. Aku kembali ke kudaku dan membawanya diam-diam bersama guruku. Aku berusaha menenangkan si kuda akan tidak meringkik saat kubawa nanti.

Kuharap kalian mengerti, batinku.

Setalh berhasil membawa kudaku menjauhi mereka yang sedang terlelap, aku menungganginya. Diikuti oleh guruku.

"Kau bisa jelaskan padaku..." Guru Dinsmark membuka pembicaraan.

"Aku telah belajar sesuatu, guru..."

"Hmm?"

"Jika kita diam saja tanpa melakukan gerakan apa pun, kita hanya menunggu waktu sang ajal menjemput kita."

"Aku senang kau belajar sesuatu, Otto. Perlawananmu tadi terhadap serdadu Kekaisaran sungguh menakjubkan."

"Tapi tetap, guru, aku tidak mau angkat senjata lagi..."

"Oh."

"Aku hanya ingin pergi jauh dari Kerajaan Hestia. Aku ingin belajar banyak hal mengenai Dunia Baanthar. Aku bosan menjadi alat Persaudaarn Ilmuwan itu..."

"Kau betul-betul belajar, Otto."

"Lagipula, Kerajaan Hestia tidak seperti Hestia yang dulu. Dia lebih condong ke Kekaisaran."

"Raja Guilarmus II kudengar sedang menjalin persekutuan dengan Paduka Maharaja III. Itulah yang membuatnya berubah."

"Maka itulah, aku memutuskan untuk menentukan nasibku sendiri. Bukan orang lain yang menetukan arah hidupku..."

"Hmm hmm..."

Pandanganku masih berkutat pada hamparan padang pasir di depanku. Beberapa oasis nampak di sekelilingku. Meski oasis itu letaknya berjauhan, gurun pasir di benua Yasuf terbilang unik. Disini banyak oasisnya, dan dataran tinggi dengan rumput hijau segarnya pun juga tampak di beberapa daerah. Namun, keadaan geografis seperti itu hanya berlaku di sekitar Mughayat. Aku belum pernah ke "Jantung Neraka", tapi kata orang-orang gurun disana panas sekali. Salah satu benteng alam andalan Kesultanan Kandahar.

"Guru?"

"Hmm?"

"Kukira sebelumnya guru akan menolak tawaranku untuk meninggalkan tim ekspedisi."

"Selama kau memberi alasan yang tepat, aku selalu dibelakangmu, Otto..." jawabnya dengan bejaksana. "Menuntunmu dari belakang, agar belajar banyak hal mengenai dunia ini."

Aku tersenyum, tiap bait kata Guru Dinsmark begitu berarti bagiku. Sang Penyejuk Kalbu, begitulah kalangan filsafat memanggil guruku.

Guru tertidur di punggungku. Dia nampaknya masih mengantuk. Ini akan menjadi perjalanan yang panjang.

****

Aneh, seingatku tadi aku tidur di rerumputan sejuk di sebuah oasis, tapi kenapa aku berada di hamparan bata kelabu yang keras nan kotor ini? Tempat ini juga cukup gelap, hanya cahaya matahari yang menyusup dari lubang-lubang dinding sebagai sumber cahayanya. Dan apa ini? Tanganku terikat kebelakang, mana yang mengikatku ini adalah borgol besi pula. Ada apa ini?

"Dimana aku...? Mana guruku?" lirihku.

"Otto, Otto Tuntemus... orang Hestia, eh...?" terdengar suara bernada licik itu menyahutku.

"Jangan berbicara seperti itu! Mana guruku?! Dan siapa kau?!" tanyaku.

"Lucu juga kau..." kekehnya. "Tidak sadar apa, kemarin kau telah menghabisi dua anak buahku? Plus, melukai satu orang lainnya?"

Ah, kemarin sore itu...

"Jangan bilang padaku... kau..."

Pas setelah perkataanku selesai, dua orang berjubah hitam dengan topi yang mirip kerucut itu datang. Menghampiri orang bernada licik itu.

"Tawanannya sudah siap, jendral?" tanya salah seorang berjubah hitam itu.

"Kapan saja. Si cecunguk itu sudah siap disetrum..."

Keparat! Celakalah aku! Dimana Guru Dinsmark? Selamatkah kau? Tolonglah aku...

Dua orang itu menghampiriku. Mereka berdiri disamping kedua sisi tiang kayu yang mengikatku.

Dari balik bayangan, tampillah seorang pria dengan rambut kelabu dengan panjangnya sampai sebahu dan satu janggut kecil. Ia juga nampak memiliki penutup mata di mata kirinya, yang menambah aura seram pria itu.

"Kau terlalu kuat untuk  prajuritku, Otto. Tapi kau terlalu lemah untuk sihir..."

Sekejap aku merasakan sekujur tubuhku merasakan getaran yang hebat. Getaran kuat itu sampai menusuk tulang dan organ dalamku. Aku teriak kesakitan. Bersamaan dengan dua orang berjubah hitam itu mengeluarkan seberkas petir dari kedua tangannya.

"NYAAAAAAAAAAAANNNN!!!!"

Sang jendral hanya terkekeh kecil, melihat diriku tersengat kekuatan itu.

"Katakan padaku..." ia melangkah ke hadapanku. "Dimana letak para pemberontak itu?"

"Katakan padaku... dimana guruku?" pertanyaan itu memang pantas dibalas dengan membeo.

"Lihat... sihir..."

"NYAAAAAAAAAAAAAAAAAANNN!!!" kembali tubuhku tersengat kekuatan itu.

"Cukup jawab pertanyaanku, Otto. Dimana letak para pemberontak itu...?"

"Apa yang kau tanyakan, aku tidak tahu dimana mereka!"

"Sihir..."

Ketiga kalinya, aku merasakan sengatan yang lebih hebat dari yang tadi. Tubuhku langsung lemas.

"Kerajaan Hestia adalah salah satu tempat rahasia bagi para pemberontak. Kita sudah mengacak-acak tempatmu demi menangkap para pemberontak itu." ujarnya.

"Huh... kukira Kerajaan Hestia dengan Kekaisaran Stella Rubra sudah terikat dengan perjanjian persekutuan?"

"Ya, persekutuan demi mencari pemberontak." jawabnya. "Jika kau jawab dimana keberadaan para pemberontak, maka keselamatan kau dan gurumu akan kami jamin."

Orang ini batu juga. Jelas-jelas aku tidak tahu menahu soal keberadaan pemberontak itu. Dia pikir aku ini antek dari para pemberontak.

 

Bersambung...

Read previous post:  
8
points
(1352 words) posted by Tom_Hirata 8 years 29 weeks ago
40
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | petualangan | dunia fiksi | fantasy
Read next post:  
80

sudah bagus,
mulai terlihat kronologis serta alurnya

@Yafeth
Fixed
.
@Tamikid
Fixed. Makasih perhatiannya :)

70

ada beberapa kalimat yang membuatku bingung, salah satunya ini: Seorang kedua temannya yang melihat penyerangan itu menghampiriku dengan muka marah.

60

Adegan pertarungan di awal susah saya bayangkan. Tapi penggambaran dunianya sudah pas.