Codex Bellator (Page 2: Baanthar Rebel Movement)

"NYAAAAAAAAAAANNN!!" teriakku setelah sambaran kilat muncul dari tangan-tangan kedua sosok berjubah hitam itu.

Rasa panas yang luar biasa bercampur nyeri yang menusuk tulang masih menggerogoti tubuhku. Sementara itu, sang jendral hanya tertawa terbahak-bahak. Bagai melihat seorang badut yang bertingkah konyol di depannya.

"Ayo... tunggu apa lagi... bernyanyilah. Bernyanyilah lebih keras..." ujar sang jendral bengis itu.

"apa yang kau maksudkan? Aku benar-benar tidak tahu dimana mereka... aku hanya seorang sejarawan..." ucapku sambil menahan rasa sakit.

"Aku sudah memberitahumu... berkali-kali, aku tidak mengetahui keberadaan mereka." tambahku.

"Kukira... kukira hari ini menjadi hari terakhir bagimu..." desis sang jendral.

Ia memanggil salah satu kacungnya di balik pintu ruangan ini. Setelah ia datang, sang jendral membisikkan sesuatu kepadanya. Setelah itu, sosok kacung itu langsung pergi.

"Oh, benar... hari ini adalah hari terakhirmu, Otto Tuntemus..."

Sang jendral kemudian keluar dari ruangan ini, bersama dua orang berjubah hitam tadi. Entah apa yang dipikirkan pria berambut kelabu dengan panjang rambut sebahu itu. Ia tetap menuduhku sebagai antek pemberontak yang ia maksud. Yah, hadapi sajalah, Otto. Kupikir, inilah akhirnya. Seharusnya aku tahu, aku tidak meninggalkan tim ekspedisi. Seharusnya aku tahu, aku tidak membunuh dua prajurit Kekaisaran dan melukai satu prajurit tersebut. Seharusnya aku tahu, aku tidak menyembunyikan seorang pemberontak di tempatku. Yah, mungkin inilah akibat dari tindakanku kemarin.

Kurang dari 30 menit aku terikat di ruangan gelap, hampa, dan pengap ini. Entah apa fondasi ruangan ini yang buruk atau hanya perasaanku saja, aku merasakan getaran di belakangku. Tepatnya, dinding belakang.

DDUUUAAAARR!!

Sebuah ledakan menggelegar seantero ruangan. Batu-batuan dan beberapa batu bata terhempas dari belakangku. Tiba-tiba, ada yang menyentuh borgolku, dan seketika tanganku bebas dari ikatan besi itu.

"Kamu baik-baik saja, kawan?" terdengar suara wanita yang menanyakan diriku. Aku tidak menjawab.

Sesosok wanita membopong tubuhku yang masih lemah setelah tersengat kilat tadi. Dia memerintahkan beberapa orang untuk membebaskan tahanan lainnya di ruangan lain.

"Kau masih bisa bertarung? Jika ya, kami membutuhkan tenagamu..." lambat laun, kabut yang menutupi sosok wanita itu terhapus. Sosok cantik dengan baju zirah yang sudah berkarat nampak di pandanganku.

"Siapa kalian...?" tanyaku lirih.

"Tak ada waktu untuk menjelaskannya." jawab wanita itu yang usianya kutaksir setara denganku, 27.

Ia langsung menyodorkan sebuah pedang kecil miliknya kepadaku. "Gunakanlah jika ingin bebas."

"Lucu, nanti kau bertarung dengan apa?"

"Kau tak perlu tahu. Sekarang, majulah dan selamatkan rekan-rekanmu!"

Aku teringat sesuatu! Guru Dinsmark, aku harus menyelamatkan beliau!

"Hey tunggu, aku harus menyelamatkan guruku!" seruku kepada wanita tadi yang hendak keluar dari ruangan.

"Ohya? Memangnya dimana dia ditahan?"

"Aku tidak tahu..." jawabku. "Tapi, mari kita cari bersama-sama."

Ia hanya mengangguk. Lantas, aku lari mengikuti dirinya.

Keadaan di luar ruangan ini makin kacau. Semakin banyak segerombolan orang dengan pedang dan perisai, dengan atau tanpa baju zirah, menyeruak masuk ke lorong tahanan melalui lubang besar dari dinding belakang tadi. Mungkinkah, gerombolan pemberontak ini yang sang jendral cari-cari? sebanyak ini? Dengan kekuatan yang membabi-buta ini?

Mereka nampaknya memiliki satu tujuan: Membebaskan rekan, keluarga, dan orang tercintanya dari kurungan Kekaisaran.

"Pejuang semuanya! Mari kita ucapkan aturan main Gerakan Pemberontakan Baanthar!" teriak wanita itu.

"Satu?!" wanita itu mulai membebaskan satu per satu pintu jeruji besi bersama teman-temannya.

"BEBASKAN TANAH BAANTHAR DARI REZIM STELLA RUBRA!!" semua orang menjawab dengan semangat ajakan wanita itu.

"Dua?!" sang wanita dan teman-temannya mulai menghadapi sekelompok penjaga penjara.

"LEPASKAN DENDAM DAN AMARAH UNTUK MEMBUNUH PADUKA MAHARAJA!!" segerombolan manusia yang disebut Gerakan Pemberontakan Baanthar mulai menyerang penjaga tahanan tanpa ampun.

Aku terus mengikut arah wanita itu berlari. Akhirnya, aku dan dia sampai pada suatu ruangan.

"Tiga?!" sang wanita mencoba menggebrak-gebrak pintu besi itu.

"BUNUH SEMUA PRAJURIT DAN WARGA KEKAISARAN TANPA AMPUN!!" kembali gerombolan Pemberontak itu membantai semua penjaga tahanan yang mencoba menghalangi langkah para Pemberontak.

Seseorang menarik bahuku kebelakang untuk membiarkan dirinya berjalan kedepan pintu itu. Sesosok pria berbadan cukup tambun dan tinggi dengan otot-otot tangannya yang besar muncul dihadapanku.

"Dia bernama Darius, si Monster dari Albaria. Dia adalah senjata rahasia kami." jelas wanita itu dengan semangat.

"Senang ternyata kita bisa berteman, Darius..." ujarku.

Tanpa basa-basi, tangan berotot Darius berhasil menghancurkan pintu besi yang ada di depannya. Langsung saja, beberapa pasukan Pemberontak masuk dan membunuh beberapa penjaga yang ada di ruangan ini.

"Mungkin gurumu ada di dalam. Silahkan di periksa..." kata wanita itu mempersilahkan.

Aku ikut memasuki ruangan itu. Ternyata benar, guruku ada disitu!

"Otto!" sahut Guru Dinsmark kepadaku.

"Bertahanlah, guru. Aku akan melepaskanmu." dengan hati-hati, aku melepaskan rantai besi yang mengikat tangan Guru Dinsmark dengan pedang yang diberikan oleh wanita tadi. Pedang ini cukup kuat untuk memutuskan rantai besi, rupanya.

"Terima kasih, Otto. Kukira kau sudah..."

"Tidak, guru. Aku baik-baik saja. Justru aku yang takut guru akan meninggalkanku selamanya."

"Aku akan terus dibelakangmu, Otto. menuntunmu menuju jalan yang lebih baik."

"Terima kasih guru, tapi kita harus pergi dari ini."

Aku membawa guru keluar ruangan, diikuti oleh beberapa prajurit yang berhasil menumpas beberapa penjaga di dalamnya. Aku kembali mengikuti arah wanita itu berlari, hingga akhirnya berhenti di sebuah pintu kayu yang besar. Beberapa ujung anak panah menancap di pintu bagian luar. Ujungnya bisa dilihat dari dalam sini.

"Bicara soal mereka, siapakah mereka, Otto?" tanya Guru Dinsmark.

"Mereka Gerakan Pemberontakan Baanthar, guru. Entahlah..." jawabku. Guruku hanya terdiam.

Kulihat sebagian pasukan Pemberontak mencoba mendorong pintu besar ini. Sementara diluar sana, terdengar suara tembakan busur panah yang anak panahnya mengarah ke pintu ini.

"Kita tidak bisa melakukannya. Ini bunuh diri namanya." kataku pada wanita itu.

"Pembebasan harus dimulai dari pengorbanan, bung." jawabnya dengan penuh yakin. "Pengorbanan mereka akan terbalas, cepat atau lambat..."

"Apa? Tapi kau tak bisa-"

"Jika kau ingin bebas, maka persiapkan ragamu untuk dikorbankan! itulah inti aturan main kami!" sela wanita itu dengan nada tajam. "Lagipula, inilah aturan keempat kami."

Pintu besar itu terbuka lebar. Semua pasukan Pemberontak memaksa keluar menyerang pasukan Kekaisaran yang sudah menanti di luar sana. Begitu juga dengan para tahanan yang masih kuat ikut maju ke garis depan dengan senjata pungutan dari penjaga tahanan. Namun, seperti dugaanku, ini sama saja dengan bunuh diri. Mereka mati, tercabik-cabik duluan oleh anak panah yang ditembakkan ke arah mereka.

"Legiun! Bersiaplah!" beberapa pasukan Pemberontak yang tersisa dibelakangku menyiapkan perisai kayunya yang berbentuk persegi panjang. Mereka memasang barikade perisai untuk menahan arus tembakan panah.

"Guru, kita berlindung dibalik mereka." aku menarik tangan guru untuk menuju barisan belakang dari barikade itu.

Wanita itu memimpin di barisan paling depan. Dengan teriakan yang penuh semangat, dendam yang sudah tertanam lama di batin mereka, maju menahan arus tembakan anak panah dari para pemanah Kekaisaran. Serangan para pemanah bukanlah apa-apa kecuali kegagalan, tembakan busur mereka tidak dapat merobohkan satu pun para pasukan Pemberontak yang telah membebaskan semua tahanan yang ada di benteng penjara ini. Berkali-kali, pemanah-pemanah itu tak dapat merobohkan satu pun seseorang dari kita.

Di pandanganku, ada dua menara pengawas yang lumayan tinggi. Tebakanku, benar, ada pemanah di dalamnya. Tapi, dengan segera barisan kedua dari barikade ini membentuk 'atap' perisai. Diikuti oleh barisan ketiga dan seterusnya dengan melakukan hal yang sama.

"Aturan ke empat dan yang terakhir?!" terdengar suara teriakan wanita itu memimpin barisan barikade ini.

Arus tembakan panah sudah berakhir. Mereka kehabisan anak panah. Mungkin, inilah kesempatan mereka untuk menerobos pasukan tombak Kekaisaran yang sudah menanti kehadiran mereka.

"MEREKA SUDAH KEHABISAN ANAK PANAH!! SERBU!!" teriakan dari seseorang telah mendorong barisan tiap barisan untuk maju semakin kedepan.

"KEBEBASAN!!" teriakan para serdadu Pemberontak yang membawa perisai turut memacu mereka untuk maju kedepan menghadapi pasukan tombak Kekaisaran.

Mereka sudah semakin dekat dengan pasukan tombak itu. Langkah kami tertahan oleh hunusan tombak dari pasukan Kekaisaran. Tapi langkah kami semakin hebat dan kuat. Barisan di depan kulihat mengangkat pedangnya masing-masing dan mencoba mengayunkannya ke depan. Gerak kami lambat laun mulai maju. Beberapa barisan penombak mulai jatuh. Nampaknya pertahanan benteng tahanan ini mulai melemah. Beberapa penjaga tak kuasa menahan serbuan legiun perisai ini. Kembali, satu per satu para penombak Kekaisaran mulai rubuh. Meski mereka mendapat bala bantuan dari beberapa elemen seperti pasukan pedang, namun mereka tetap terkalahkan oleh sekumpulan manusia berperisai ini.

Hambatan di depan mulai menipis, tinggal mendorong pintu besar itu, dan aku bisa merasakan angin kebebasan. Pemimpin barisan terdepan - si wanita itu - memerintahkan kami semua untuk mendorong dan terus mendorong. Semuanya bekerja, mendorong orang dibelakangnya untuk menambah kekuatan dorongan. Dari barisan kedua hingga yang paling akhir (barisan ke sepuluh), mereka saling mendorong demi memupuk kekuatan. Pintu gerbang yang terbuat dari kayu itu mulai retak. Semakin lama, retakannya melebar. Beberapa bagian pintu mulai rusak, bahkan terpelas dari tempat. Dan tak lama kemudian, semua barisan akhirnya menghirup udara bebas dari luar sana.

****

Jauh dari benteng tahanan itu, aku bersama pasukan Pemberontak  leri ke sebuah padang rumput. Kami berjalan lelah, tetapi kami senang tiada tara. Kami berhasil membebaskan beberapa tahanan yang masih selamat, termasuk aku dan Guru Dinsmark. Aku yang kebetulan berjalan disamping si wanita itu mencoba menanyakan sesuatu kepadanya.

"Maaf jika pertanyaanku sedikit mengusik, nona. Tetapi... apa kalian benar-benar pemberontak?"

"Ya, memang benar."

"Dan kalian juga yang dicari-cari oleh Kekaisaran selama ini?"

Ia mengangguk.

"Kekaisaran pasti mencurigaimu sebagai antek Pemberontak." terkanya. Kurasa tebakan dia ada benarnya juga.

"Pasukan Kekaisaran setiap hari selalu menjarah dan membakar desa-desa di luar daerahnya, termasuk desaku di Kerajaan Sil..." tambahnya. "Mereka menjarah harta kami, membakar desa, dan membunuh wanita dan anak-anak. Semua itu demi dahaga kekuasaan sang Paduka Maharaja III."

Aku mengerti sekarang. Semuanya sudah jelas. Itulah mengapa aku ditangkap dan dituduh sebagai bagian dari Pemberontak.

"Siapa namamu?" tanya wanita itu.

"Aku Otto Tuntemus. Dulunya aku ini sejarawan dari Persaudaraan Ilmuwan cabang Hestia."
 jawabku. "Dan ini guruku, Dinsmark Elgrado, seorang filsuf."

"Menarik sekali..." komentarnya. "Oh, dan namaku Shilka Gaudeamus... apa namaku jelek ya?"

"Tidak, tidak jelek. Nama yang bagus menurutku." jawabku.

Shilka hanya tersenyum kecil.

"Kita sebentar lagi akan menuju ke kamp. Kalian berdua bisa istirahat disana..."

"Terima kasih, nona Shilka. Kami memang lelah..." ujar Guru Dinsmark.

Aku senang akhirnya ada tempat yang layak untuk istirahat. Satu hal yang aku ingin tahu dari Shilka: Apa motivasi dirinya untuk mengangkat pedang?

 

 

Bersambung.

Read previous post:  
21
points
(1192 words) posted by Tom_Hirata 8 years 28 weeks ago
52.5
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | petualangan | dunia fiksi | fantasy
Read next post:  
Be the first person to continue this post