TKP (Tempat Kakakku Pura-Pura Mati)

TKP (Tempat Kakakku Pura-Pura mati)

Aku selalu benci saat ibuku menyuruhku membangunkan kakakku. Kamarnya di lorong lantai dua rumah, di seberang kamarku. Alasan pertama aku benci adalah, aku harus naik lagi di saat aku sudah turun. Ibuku tak pernah menyuruhku saat aku baru bangun dan hendak turun mandi. Beliau selalu menyuruh saat aku sudah selesai mencuci piring bekas sarapan dan sedang bersantai menonton kartun--yang di ulang melulu tapi aku tak pernah bosan--menunggu jam berangkat sekolah. Masuk ke alasan ke-dua... Akan aku ceritakan saat kita sampai di kamar kakakku saja.

Hari ini hari minggu dan aku dengan santai sedang ngupil sambil menonton Ultraman yang sudah mulai kedap-kedip. Ibuku memarahiku yang tidak bertingkah seperti anak gadis. Oh, ya, maaf juga mengecewakan kalian, tapi aku sebenarnya anak gadis. Tapi akibat kurangnya wanita di keluargaku, saat kecil aku teracuni tingkah kakak laki-laki ku dan terpaksa, dengan polosnya menjadikan tingkah bocah laki-laki sebagai standar kebaikan. Oke, lepas dari kegadisanku dan kegagalan masa orientasi hidupku, kita kembali ke kamar kakakku dan kebencianku terhadapa ritual pembangunan.

"Trisna, mas Angga di bangunin dong. Tadi malem katanya dia mau ngerjain proyek di kampus hari ini."

Aku menghela nafas, tak sanggup kesal pada Ibuku. Toh kalaupun aku mengganti helaan dengan teriakan sebal, hanya akan menambah penderitaanku dengan ceramahan Ibuku yang akan langsung menyebutku pemalas dan yang pasti frase "Cuman kayak gitu aja nggak mau..." yang diucapkan Ibuku dengan tone yang akan membuat anak sepertiku merasa bersalah bukan main akan muncul. Hanya tambahan itu yang akan ku dapat. Tak akan mengganti kenyataan bahwa aku harus meninggalkan Ultraman kedip-kedip, mengalahkan monster, terbang ke angkasa, dan jadi manusia lagi.

Aku naik dengan enggan dan sampai di depan kamar kakakku. Ku ketuk kamarnya, dan tak ada jawaban. Tak ada cara lain. Kalian, bersiaplah, kalian akan masuk TKP. Ini adalah alasan kedua kenapa aku benci harus membangunkan kakakku. Saat memasuki kamar kakakku, aku serasa masuk ke tempat kejadian pembunuhan. Bukan karena meja belajar berantakan yang seperti bekas peralawan korban terhadap pembunuh yang akan membunuhnya, tapi karena di kasur, pasti mayar korban sudah tergeletak.

Ya. Kakakku selalu tertidur seperti orang mati... eh, tidak, lebih parah lagi, seperti korban pembunuhan. Pagi ini, dia terlihat seperti korban pembunuhan berencana dengan luka pukulan benda tumpul di tengkuk. Di ruang remang-remang kakakku yang lampunya tidak di nyalakan, dia tergeletak di kasur. Setengah wajahnya terbenam di bantal, setengahnya lagi terlihat--matanya setengah terbuka, orang yang tidurnya begini katanya berarti dia memikirkan saudara--. Mulutnya ternganga dan cairan tak asing mengalir diserap bantal. Kalau busa keluar dari mulutnya saat itu, aku akan turun dan bilang pada ibuku, "Ma, mas Angga overdosis."

Aku mendekati jasad tak bergerak di kasur. Susah memastikan dia masih bangun atau tidak. Kemudian, ini bagian terburuknya. Aku mengguncang bahunya pelan. Dan, matanya terbelalak dengan lebar tiba-tiba. Tangannya yang tadi dengan lemas tergeletak di atas bantal, menegang bahkan hingga dia meremas kasurnya. Seperti menahan sakit yang amat sangat. Dia langsung menarik nafas sangat dalam, masih terbaring dengan posisi yang sama. Entah berapa kali aku melihatnya tapi aku tidak bisa tidak kaget dengan reaksinya tiap kali dibangunkan. Dia akan selalu seperti orang mati yang hidup lagi.

Setelah beberapa detik tetap terbaring sambil tersengal menghirup udara sebanyak mungkin, dia akan bangun dan bertanya, "Jam berapa Na?"

"Jam 9." jawab ku sambil berjalan ke pintu keluar. Tapi kali ini aku benar-benar sudah penasaran. Aku berbalik, menatap kakakku yang mulai turun dari kasur sambil mengusap tengkuknya yang tadi kulihat agak lebam. "Mas..."

"Hm?" jawabnya sambil berjalan pelan ke arahku. Mungkin dia akan turun juga.

"Kenapa sih tiap ku bangunin, kayak gitu?"

Kakakku bingung. "Kayak gitu gimana?"

"Biar gimanapun, di panggil sekeras apapun nggak bangun-bangun tapi di pegang dikit udah bangun dan langsung kayak orang mati yang bangun lagi itu aneh banget! Di antara orang yang pernah ku bangunin, cuman mas Angga yang kayak gitu."

Kakakku menghela nafas, kemudian tersenyum sambil mengusap ubun-ubun kepalaku. "Anggap aja, mas Angga nganggap orang yang bilang 'Tidur itu kayak mati.' dengan serius. Jiwa kita itu nggak berada di tubuh kita waktu tidur."

"Kalo gitu aku juga dong mas. Tapi kenapa aku nggak se-'mati' mas Angga waktu tidur? Waktu bangun juga nggak heboh kayak mas Angga."

Kakakku malah diam sambil memegangi dagunya, berpikir sebentar, "Anggap aja jiwa mas Angga main-nya kejauhan jadi mbaliknya heboh." kemudian dia melewatiku yang sama sekali tidak terpuaskan dengan jawaban itu. "Oh ya." dia berbalik di ambang pintu, "mas Angga kalo tidur kayak orang mati ya? Hehe. Kalo gitu makasih buat kamu yang selalu ngebangkitin mas dari kematian." ujarnya sambil mengerling, kemudian berlalu pergi.

Dasar kakak gila. Ah, maaf, aku masih remaja jadi di kerling cowok bikin aku deg-degan artinya aku masih cukup gadis. Jangan berpikiran nggak-nggak.

-Sampun Rampung-

A/ N: Satu kata... incest... *tampang ero* Ah! Maaf maaf :3 Well, bagaimana menurut anda sekalian? Habis nulis ini, malah saia jadi kepikiran konsep aneh nih... :3 Saran dan kritik, saia terima dengan serakah *glutton mode*

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer popon
popon at TKP (Tempat Kakakku Pura-Pura Mati) (10 years 29 weeks ago)
40

seruuuuuuuuuuuuuu

Ohohoho... Tenkiiyuu Popooon~ :3 Tunggu saia membangun plot yah~ X3

70

Ore sanjou!!

Sepertinya dikau memang bermasalah dgn judul,, qta sama,, wkwkwk

Btw, saya nikmatin ini,, mungkin yang bikin kurang nyaman adalah topik cerita yang suka membelok *dikit*

Aaa... iya Tsu... naming sense zero =_=... Ah iya. Bagian tengahan ya, hoo... brarti kurang focus... yosh... arigato~ >:3 Ganbarimasu~ XD

60

..saya suka bagian "menonton Ultraman"..(teringat diri sendiri)..

Wah~ banyak penggemar Ultraman juga XD Yeahahahaha XD

70

ceritanya udah bagus tapi masih banyak typonya..hehee

Nyeheheh ^^; baik, saia akan berusaha lebih teliti lagi >:3 Thanks support nya XD

70

typo banyak tapi ceritanyanya oke. Hmmm enak kalian. Punya kakak. Huuft

Nyehehehe ^^; *garuk2 kpala* Gomen~ Saia akan berusaha memperbaiki typonya~ *determined look*
Thanks support nya wahai putramahkota *ngga tau kerajaan mana* X3

Writer imoutochan
imoutochan at TKP (Tempat Kakakku Pura-Pura Mati) (10 years 32 weeks ago)
80

Waaaah gadis penggila Ultraman, mirip aku banget hehehehe
sayang gak punya kakak jadi gak tau rasanya punya kakak
tapi nih cerita bagus loh

Nyehehehe XD Habis momen yang keinget dulu pas masih belum merantau itu, nonton Ultraman sama Power Ranger hari Minggu XD Thanks imoutochan~ E? Ngga punya kakak kok username nya imouto? Kalo gitu kamu imoutonya siapa?! O_o XD

70

Typonya dibaikin ya, judulnya aja udah salah tuh
.
soal cerita saya suka xD I hate my brother!
keep nulis y0w

Oh! *liat lagi* Wuaaaahhh~ >.< Banyak kali typoes~ Siap kak Ale (^_^)7 *pergi nge-edit*

Hunyahahaha. Saia juga lumayan hate my bros >.< Mana banyak, yang satu beneran kalo tidur mangap kayak kuda nil... O ya, thanks for liking ^///^ Saia akan coba nggodhog konsep buat ngelanjutin ^^