Di Gelap yang Ramai

Mari berpesta malam nanti

Riuh bertabuh

Aneka warna

Menyanyikan sesandung sesuka hati

Disini dan disana

 

 

Mari melempar kembang api

Hingga elok mata memandang

Walau pekikannya tak lagi terdengar

Tuli.

 

 

Mari menulis lagi jengkal demi jengkal ceritamu

Untuk masa setahun ke depan

Di eja lalu lupakan saja

Kita masih berpesta

 

 

Ah,

Ada yang terjebak euforia disana.

Di sudut lain,

Ada yang melaju dengan cepat

Kepalanya terjerembab

 

 

Oh,

Di ruangan putih itu

Juga ramai ternyata

Ada merah di mana-mana

 

 

Fiuh,

Begitulah kawan,

Ini cerita akhir tahun

Yang jika takaranmu salah

Timbanganmu pecah

Maka sebagian dirimu telah hilang

Di gelap yang ramai.

 

 

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer diningtias
diningtias at Di Gelap yang Ramai (9 years 51 weeks ago)
90

rasanya ngalirrr bacanya,, nice to reading

Writer samalona
samalona at Di Gelap yang Ramai (10 years 1 week ago)
80

Pendekatan yang berbeda atas peristiwa yang sama memperkaya pembacanya. Saya suka. Seperti pendekatan puisi ini terhadap perayaan menyambut tahun baru.
Kalau puisi ini dibuat dengan format jumlah baris yang sama untuk setiap bait, dan bersajak akhir, pasti mood atau tone atau nada/nuansa yang dihasilkan menjadi berbeda. Justru karena puisi ini tidak mengatur ketat jumlah baris dan persajakannya gaya percakapannya jadi lebih menonjol dan terasa lebih akrab.
Untuk kata seru atau interjeksi, saya pribadi tidak begitu suka dengan "Fiuh", "hufft", atau semacamnya. Mungkin karena saya menganggap kata-kata itu sifatnya tidak formal. Tetapi kalau tulisan yang memuat interjeksi tersebut konteksnya sudah tercipta memang tidak formal, dan interjeksi informal itu memberi citarasa tambahan pada tulisan, saya kira saya masih bisa menikmati. Dalam puisi ini, "Fiuh" yang mengawali bait terakhir bisa saya perdebatkan. Kalau kata itu dihilangkan, saya merasa bait itu masih utuh. Saya bisa mengira-ngira dan mencoba memahami bahwa kata seru itu menunjukkan pesta akhir tahun telah berakhir atau mendekati akhirnya. Makanya dikatakan, "Maka sebagian dirimu telah hilang", bukan "Maka sebagian dirimu akan hilang".
Frase "Di gelap yang ramai" juga menarik. Mungkin gelap cenderung dihubungkan dengan sepi, meski tidak ada logika yang mengharuskan. Frase itu berhasil sebagai judul yang menarik perhatian.
Tentang penulisan kata depan "di" dan awalan "di-", dan pemakaian tanda baca titik dan koma, di sini kurang konsisten:
- Pada bait 1 baris 5, "disini" dan "disana", dan juga bait 4 baris 2, "disana", seharusnya ditulis "di sini" dan "di sana". Sebaliknya, di bait 3 baris 3, "Di eja" seharusnya "Dieja". Untuk itupun saya lebih cenderung awalan "di-" dihilangkan, karena baris 1 bait yang sama menggunakan bentuk ajakan, "Mari menulis". Padahal pada bait 4 baris 3, bait 5 baris 2 dan 4, dan juga pada bait 6 baris 7, penulisan "di" sebagai kata depan sudah benar.
- Bait satu tidak ada titik ataupun koma. Bait 2 baris 4 memakai titik. Bait 3 kembali tidak ada titik dan koma. Bait 4 ada koma dan titik. Bait 5 tanda koma cukup di akhir kata seru. Bait 6 koma muncul lagi di baris selain kata seru, dan baris terakhir ditutup dengan titik. Terlepas dari isi puisi yang menarik dan mengandung pesan, menurut saya tidak ada salahnya dipikirkan tanda titik dan koma itu. Entah dihilangkan semua kecuali koma setelah kata seru, misalnya. Atau suatu pengaturan lain yang menurut sefa ayu baik.
Kalau ada dari komentar saya yang tidak disetujui karena sefa ayu punya alasan tertentu, mohon pencerahannya. Saya minta maaf kalau ternyata ada penjelasan saya yang keliru, karena saya juga masih belajar.
Salam

Writer sefa ayu
sefa ayu at Di Gelap yang Ramai (10 years 1 week ago)

hatur nuhun dah singgah :)
sbnernya hnya mau bilang itu *hatur nuhun*
tpi krna diminta alasnku jg ya udah aku bhas dikit ya? :)
hanya bgian "maka sbagian dirimu tlah hilang" itu bkan tntang thun, tpi dhubngkn dngn sikap kta yg dianologikn dngn "jika takaranmu salah, timbanganmu pecah''
sperti itu bang :)
kalau yg lainnya maksih bnget msukannya, iyya bang kta sama2 masih blajar.. :) *makasih

Writer sefa ayu
sefa ayu at Di Gelap yang Ramai (10 years 1 week ago)

oh ya satu lagi, gelapnya disini bang bkan msdnya sepi tpi sesuatu kondisi yg sbnarnya tdak membwa mnfaat (hura2 brlbihan dlam prayaan thun baru) jdi qu analogikan dngn 'gelap', gtu sih :)

hers at Di Gelap yang Ramai (10 years 2 weeks ago)
90

"takaranmu salah, timbanganmu pecah"
Mantabb, salam di atas damai :)

Writer sefa ayu
sefa ayu at Di Gelap yang Ramai (10 years 2 weeks ago)

salam di atas damai :)

Writer Fee
Fee at Di Gelap yang Ramai (10 years 2 weeks ago)
60

great :)

Writer sefa ayu
sefa ayu at Di Gelap yang Ramai (10 years 2 weeks ago)

lamken :)

Writer Dedalu
Dedalu at Di Gelap yang Ramai (10 years 2 weeks ago)
90

kyaaaa ^_^ endingnya keren :)
.
idem sama velvet.morninghaze
saia bingung dengan bait ke 5 dan kata "menulis" :)
.
selebihnya keren :D
.
salam sastra - Dedalu

Writer sefa ayu
sefa ayu at Di Gelap yang Ramai (10 years 2 weeks ago)

slam sastra dedaluuu :D

Writer sefa ayu
sefa ayu at Di Gelap yang Ramai (10 years 2 weeks ago)

aamiin

Writer barashin
barashin at Di Gelap yang Ramai (10 years 2 weeks ago)
70

hmm...:-)

Writer sefa ayu
sefa ayu at Di Gelap yang Ramai (10 years 2 weeks ago)

hmm jg ;) *mksih dah mampir barashin

Writer velvet.morninghaze
velvet.morninghaze at Di Gelap yang Ramai (10 years 3 weeks ago)
70

Euforia yg selalu berlebihan setiap awal (tahun), tapi melempem di tengah(tahun).. :)
saya kurang ngerti di bait ke-5..selebihnya, mari merenung dulu.

Selamat masuk ke tahun yang baru..

Writer sefa ayu
sefa ayu at Di Gelap yang Ramai (10 years 2 weeks ago)

melempem di tengh thun *yuup.. nseht tuk diri sndiri jg sbnrnya :)

bait kelima itu dri kisah seorg tman yg sring trjdi di IGD rumkit, saat akhir thun :)

Writer syarifAnan
syarifAnan at Di Gelap yang Ramai (10 years 3 weeks ago)
70

siipp...

Writer sefa ayu
sefa ayu at Di Gelap yang Ramai (10 years 2 weeks ago)

:)