Marrying a Stranger--The Proposal

 intispersonal

 

 

Rion menatap pemuda yang duduk di depannya dengan risih. Sejak kedatangannya, pemuda itu sama sekali tidak mengucapkan salam atau bahkan mengangkat kepalanya dari layar tablet yang berada di tangannya. Rion bahkan dapat melihat jelas pantulan burung merah yang terlontar dari satu sisi layar ke sisi layar lain di kacamatanya. Pemuda itu jelas adalah mimpi terburuknya.
 
Untunglah Rion bukan satu-satunya orang yang merasa terganggu dengan tingkah laku pemuda itu karena beberapa saat kemudian pria yang duduk tepat di sebelah  pemuda itu langsung menarik benda tipis terkutuk itu dari tangannya dan melontarkannya langsung ke dalam aquarium yang berada tepat di belakang mereka. Satu tablet seharga $800 itu kini tinggal sejarah.
 
“Kau tahu, aku baru akan mencetak rekor tertinggiku tadi, dan kau kini membuatku terpaksa mengulang permainan itu dari awal,” gerutu pemuda itu kesal sambil mengeluarkan smartphonenya dari dalam saku dan mulai mengutak-atik benda itu.  Kali ini Rion tidak perlu menunggu lama sampai benda itu ikut berakhir di tempat yang sama. $400 lain tenggelam begitu saja di antara ikan-ikan hias yang tampaknya tidak terlalu senang dengan kedua hiasan baru tempat tinggal mereka.
 
$1200, hampir setara dengan dua belas juta rupiah, dan semua itu belum termasuk biaya reservasi dan makan malam mereka yang entah akan menambah berapa digit nol lagi dalam perhitungan singkatnya. Uang jelas bukanlah masalah bagi keluarga Renata, keluarga yang juga akan menjadi calon keluarganya jika acara makan malam ini berakhir sesuai rencana.
 
“Maafkan aku, Michael, Jesse memang kadang bisa sangat menyebalkan—“
 
“Aku bisa benar-benar menjadi sangat mengganggu!” koreksi pemuda yang duduk di depan Rion itu sambil melipat kedua tangannya di atas dada dan menyandarkan tubuhnya di sandaran bangku. Pria yang duduk di sebelahnya tampak melontarkan tatapan membunuh ke arah pemuda itu namun jelas sekali pemuda itu sama sekali tidak menghiraukannya dan Rion juga sudah kehilangan minatnya terhadap pemuda itu karena kini ayahnya mulai tertawa. Sesuatu yang buruk selalu terjadi setiap kali ayahnya tertawa.
 
“Ayolah, Niel ... kita tau bagaimana anak-anak kita bersikap. Maksudku, lihat saja Rion kami disini!” pada bagian ini ayahnya sengaja melontarkan tatapan penuh arti ke arahnya. “Kami terpaksa mangancam akan membakar seluruh koleksi buku-bukunya jika ia tidak turun dan bersiap menghadiri acara makan malam istimewa kita ini! Mereka kesal dengan kita dan kita sudah tahu itu!” ujar pria setengah baya itu dengan suara menggelegar yang langsung disambut oleh gelak tawa pria yang duduk di hadapannya. Niel Geraldi Renata, penguasa perusahaan perangkat lunak terbesar di Indonesia.
 
Baik Rion dan juga pemuda yang duduk di hadapannya langsung melontarkan tatapan jijik mereka ke arah kedua pria setengah baya yang duduk berhadap-hadapan itu. Keduanya jelas tidak ingin berada di tempat itu saat ini dan keduanya juga tidak menyukai arah pembicaraan kedua pria itu. Untunglah kedua wanita yang duduk di samping mereka bergerak cukup cepat untuk menenangkan kedua suami mereka sebelum anak-anak mereka menyadari bahwa pisau roti yang ada di atas meja makan mereka itu bisa digunakan sebagai senjata pembunuh yang cukup bagus.
 
“Ah, baiklah, bagaimanapun mereka berdua belum saling kenal. Ini Jesse, putra ketigaku. Dia baru menyelesaikan S1nya di bidang teknik informatika dan sekarang sedang mengambil masternya di bidang managemen,” ujar paman Niel sambil menepuk-nepuk bahu putranya dengan keras. Jesse yang jelas tampak tidak senang dengan perlakuan itu langsung menjauhkan bahunya dari jangkauan sang ayah. 
 
“Ini Rion, putri kesayangan kami. Dia baru lulus dari bangku SMA beberapa bulan lalu dan saat ini sedang menjalani pendidikannya di bidang kedokteran,” ujar ayahnya sambil meremas bahunya untuk menahan agar dia tidak dapat melarikan diri dari tempat itu. Semua ini jelas adalah mimpi buruk.
 
Paman Niel tersenyum padanya selama beberapa saat sebelum kemudian kembali memandang ayahnya, “Cantik dan pintar, aku jadi merasa bersalah dengan semua ini.”
 
Ayahnya tersenyum sejenak sebelum kemudian mengangkat bahu. “Delapan belas tahun, dan aku tidak pernah melihat dia bersosialisasi dengan teman-temannya. Kau pikir aku akan membiarkan semua ini terjadi kalau kondisinya tidak sangat parah?”
 
Rion melirik sekilas ke arah pria yang duduk di sebelahnya. Ayahnya jelas melebih-lebihkan. Dia punya teman, dan dia punya kehidupan sosial. Dia hanya tidak pernah punya pacar, tidak pernah berbicara dengan seseorang berjenis kelamin laki-laki di luar grup belajar, tidak pernah ikut nonton bareng, dan tidak pernah menghadiri acara ulang tahun teman-temannya lagi sejak ibunya berhenti memaksanya. Semua itu kan tidak berarti dia tidak bersosialisasi.
 
“Aku harus mengatakan hal yang sama padamu tentang Jesse. Aku mulai khawatir dengan tingkah lakunya karena kurasa dia tidak memiliki teman lain selain komputernya!” ujar paman Niel sambil melirik putranya yang tampaknya siap meledak kapan saja.
 
Untunglah sebelum kekacauan apapun muncul, para pelayan datang dan menghidangkan makanan-makanan yang telah mereka pesan sebelumnya. Ayahnya dan paman Niel tetap melanjutkan perbincangan mereka, tentu saja, tapi untunglah mereka hanya membicarakan tentang kisah-kisah nostalgia mereka di zaman SMA sehingga Rion tidak harus menghentikan makan malamnya dan segera angkat kaki dari tempat itu.
 
Berbeda dengan Rion yang tampaknya cukup menikmati makan malamnya, Jesse sama sekali tidak terlihat berselera, dia bahkan tidak terlihat sehat. Berkali-kali ia mengganti posisi duduknya tapi tampaknya dia tetap tidak dapat menemukan posisi yang paling nyaman. Tidak hanya itu pemuda itu tampak gelisah. Rion dapat melihat mata pemuda itu yang menatap sekelilingnya dengan gusar seolah setiap suara dan gerakan yang berlangsung di ruangan itu membuatnya kesal. Bahkan posisi kacamatanya pun tampaknya membuatnya kesal.
 
Semua orang di meja makan itu jelas menyadari hal ini. Ayah Rion dan paman Niel bahkan menghentikan pembicaraan mereka saat Jesse menjatuhkan garpunya dengan kasar ke atas piring. Membuat seluruh kepala yang berada di restoran itu menoleh ke arahnya.
 
“Kau punya masalah, Jesse?” tanya paman Niel dengan suara yang sangat dalam. Jesse hanya menatapnya sejenak sebelum kemudian sibuk memperhatikan makanannya yang entah bagaimana tiba-tiba terlihat menarik di matanya. Paman Niel tampaknya masih ingin mengatakan hal lain namun kata-katanya dihentikan oleh sentuhan lembut istrinya. Wanita yang sedari tadi lebih banyak memantau keberlangsungan acara makan malam ini dalam diam.
 
“Bagaimana makanannya, Rion, apa sesuai seleramu?” tanya wanita itu sambil tersenyum ramah, membuat Rion yang memandang senyumnya juga ikut tersenyum dan mengangguk.
 
“Jesse memang kadang bertingkah menyebalkan, tapi dia sebenarnya anak yang baik. Kau akan menyukainya jika kau mengenalnya lebih lama,” ujar wanita itu sambil melontarkan senyum penuh arti ke arah putranya. Pada bagian ini Rion benar-benar harus memastikan makanannya benar-benar terkunyah dengan baik sebelum kemudian menelannya. Wanita itu pasti bercanda dengan pernyataanya, kan? Dia mengatakan kalau Rion akan menyukai pemuda aneh yang duduk di depannya? Bukankah itu lebih parah daripada sekedar memaksakan kehendak?
 
“Arrgh, ini mulai menyebalkan! Kita semua tahu apa tujuan acara ini sebenarnya, jadi kenapa harus berbasa-basi dan menghabiskan lebih banyak waktu lagi?! Ini acara lamaran kan?! Jadi kenapa susah-susah?! Minta gadis itu jadi istriku dan acara ini akan berakhir!” seru Jesse tiba-tiba yang langsung membuat seluruh kepala yang ada di restoran itu kembali menoleh ke arahnya. Paman Niel sampai tersedak mendengar seruannya itu.
 
“Jesse! Jaga mulut dan sikapmu!” bentak pria itu lantang namun Jesse jelas tidak menghiraukan ayahnya. Pemuda itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam sakunya.
 
“Ini cincinnya! Aku tidak akan mengatakan pertanyaanya karena kita semua jelas sudah tahu jawabannya. Sampai jumpa di hari pernikahan!” ujar pemuda itu sambil menyodorkan kotak kecil tadi ke hadapan Rion dan melangkah pergi dari ruangan itu. Membuat seluruh orang yang ada di ruangan itu menatap kepergiannya dengan ekspresi tercengang.
 
Kesunyian dan ketegangan total meliputi ruangan itu sampai akhirnya Rion mengambil kotak kecil di depannya, memasukkannya ke dalam tas tangan sebelum kemudian menghabiskan beberapa suapan terakhir makan malamnya.
 
“Yah, kita semua memang tahu jawabannya. Aku akan menerima lamaran dari Jesse, dan kita semua akan bertemu lagi di hari pernikahan! Terima kasih atas makan malamnya, tapi saya harus undur diri sekarang!” ujar gadis itu dingin sebelum kemudian menegak habis air minum yang berada di sebelah tangannya dan berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Tahu bahwa, suka atau tidak, pernikahan ini akan tetap berjalan.

Read previous post:  
Read next post:  
Writer Rendi
Rendi at Marrying a Stranger--The Proposal (9 years 37 weeks ago)
80

perasaan waktu itu dah komen deh >.> apa ga masuk ya?
.
sekarang nebar poin aja dulu ya Mbak :)

100

ohoho..........maafkan hamba baru membaca bagian ini sekarang. saya benar-benar ikutan sebel sama cowok itu (namanya Jesse, yak? atau saya yang slah tangkep?)

Writer IreneFaye
IreneFaye at Marrying a Stranger--The Proposal (9 years 40 weeks ago)

Iya, rai namanya Jesse ahahaha

saya kira Jesse nama yang cewk

Writer IreneFaye
IreneFaye at Marrying a Stranger--The Proposal (9 years 40 weeks ago)

LOL
mang jesse kedengerannya kayak nama cewek banget ya ahahahaha (tiba-tiba teringat Rea :P)

Writer cat
cat at Marrying a Stranger--The Proposal (9 years 41 weeks ago)
80

Pada bagian2 awal agak sulit membedakan yg sedang berbicara itu siapa.

Lalu soal isi ceritanya memang terasa teenlit yang biasa diangkat.

Tp eksekusinya cukup menarik.

Menunggu lanjutannya.

Writer IreneFaye
IreneFaye at Marrying a Stranger--The Proposal (9 years 41 weeks ago)

makasih mak ... walopun sebenernya aku gak niat nulis teenlit sih TAT

yah ternyata saya ujungnya balik lagi ke teenlit

Writer Riesling
Riesling at Marrying a Stranger--The Proposal (9 years 41 weeks ago)
80

cabenya sudah kan?

Writer IreneFaye
IreneFaye at Marrying a Stranger--The Proposal (9 years 41 weeks ago)

Udah ahahaha
saya taro disini karena rasanya gak adil aja klo cerita ini hanya saya pajang di wattpad.

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Marrying a Stranger--The Proposal (9 years 41 weeks ago)
90

Di awal2, saya agak bingung sama posisi orang2-nya di meja makan itu XD
ini cerita pendek? tapi kok terasa baru awal2 cerita
bikin bersambung dong

Writer IreneFaye
IreneFaye at Marrying a Stranger--The Proposal (9 years 41 weeks ago)

Ini cerita bersambung (heh?! mang katagorinya cerpen ya?! bukannya novel?!)

Dan iya ini emang baru awal cerita ahahaha

Writer dansou
dansou at Marrying a Stranger--The Proposal (9 years 41 weeks ago)
2550

Laik dis, kak Irene

Writer IreneFaye
IreneFaye at Marrying a Stranger--The Proposal (9 years 41 weeks ago)

makasih dansou!

Writer IreneFaye
IreneFaye at Marrying a Stranger--The Proposal (9 years 41 weeks ago)
100

Saya harus akui saya sudah lama tidak pernah nulis cerita romance yang bener-bener serius lagi. Jadi klo konten ceritanya kurang enak, yah dimaafin aja ya hehe