Cermin_3

Aku, Kiki, dan Julia berlarian menuju ruang Sekretariat Kemahasiswaan. Menerjang mahasiswa-mahasiswa lain yang sedang berdiri di koridor kampus, yang menanti dosen ataupun hanya ngobrol omong kosong. Menuruni tangga menuju lantai satu dengan langkah yang panjang. Bahkan nyaris saja Julia terpeleset dan terjatuh jika Kiki tidak memegangi tangan gadis itu.

Saat melalui sebuah kamar mandi wanita di lantai satu, Julia berhenti.

“Ini tempat terjadinya pemukulan itu. Sebelumnya, kita tahu kan kalau Nia adalah terduga penyelewengan uang BEM. Jangan-jangan Phantom Of Trigle ada di kampus ini yah?”

“Jangan menduga hal-hal yang akan membuat merusak logikamu tentang kasus ini. Aku ingin bertemu dulu dengan Virny sebelum menyelidikinya.”

“Eh, tunggu dulu, sejak kapan kamu jadi tertarik dengan kasus? Biasanya cuma kasus tentang masalah perekonomian negara kan?” tanya Kiki.

Aku tertawa. “Kan aku memang sudah tertarik dengan masalah itu sejak aku masih kecil. Tahu sendiri kan koleksi film dan novel-novel detektif milikku?”

“Iya deh. Ayo ke sekre!” sahut Kiki.

Kami berjalan menuju Kantor Sekretariat Mahasiswa yang sudah dikerumuni banyak mahasiswa dari berbagai fakultas. Hal yang biasa saat ada mahasiswa yang terjebak masalah dan tertangkap tangan oleh dosen atau ada mahasiswa yang melaporkan ke kantor Sekreariat. Kami menerobos masuk ke dalam ruang Sekre. Terlihat dari balik kaca, Virny sedang dikelilingi oleh Dewan Disiplin Kampus. Wanita yang telah kukenal sejak kecil itu hanya menunduk. Wajahnya kemerahan. Kuketuk pintu dan seorang dosen wanita berjalan membukakan pintu.

“Permisi, boleh kami masuk?” ujarku sesaat pintu terbuka. Dosen itu menatapku, Kiki, dan Julia.

“Siapa kalian?” tanya dosen itu.

“Saya Arif Sudirman. Ini teman-teman saya dan Virnita, Ahmad Marzuki dan Julia Anastasia. Bolehkah kami ikut dalam penyelidikan kasus Virnita?”

Beliau menatap kami dengan lekat. Kemudian, seorang dosen pria yang nampak familiar di otakku, mendatangi kami.

“Biarkan mereka masuk, Bu Ratna. Arif ini adalah seorang mahasiswa saya yang paling cemerlang. Mari silakan masuk, Arif!” ujar dosen pria itu.

“Anda yakin, Pak Bondan? Soalnya ini adalah masalah indisipliner kampus,” kata wanita paruh baya yang dipanggil Ratna itu.

Pria berkumis tipis dan berjanggut tebal itu mengangguk. “Ayo masuk, kalian bertiga!”

“Terima kasih atas kebaikannya, pak,” kataku pada Pak Bondan saat masuk ke dalam ruangan berpendingin namun berasa panas karena kasus pemukulan.

“Santai saja, Ar, kamu adalah mahasiswa bapak yang paling cemerlang menurut bapak. Jadi mungkin saja kamu bisa membantu pacar kamu dari masalah ini,” kata Pak Bondan sambil tersenyum. Aku membalas dengan senyum gugup.

“Terima kasih, pak. Tapi, Virny bukan pacar saya. Dia hanya teman sepermainan saya sejak kecil jadi kami nampak begitu dekat.”

“Benarkah?” tanya Pak Bondan sambil tersenyum lagi.

“Iya.”

 

Kami telah ada di hadapan para Dewan Disiplin Kampus. Virny tersenyum menatapku. Namun, para dosen anggota Dewan Disiplin menatap kami bertiga yang tiba-tiba menghadiri rapat “tertutup” mereka dengan sinis. Seakan kami mengganggu otoritas mereka. Namun, Pak Bondan memperkenalkan kami.

“Maaf, bapak-bapak, dan ibu-ibu, ini mahasiswa saya yang paling cerah, Arif Sudirman. Dia telah memecahkan masalah manajemen yang tak terpecahkan. Saya yakin dia juga bisa membantu kita menyelesaikan masalah ini.”

“Benarkah?” para dewan itu saling bergumam dengan berbagai gumaman yang tidak begitu jelas.

“Menurut saya, ini ulah Phantom of Trigle,” kataku dengan suara yang agak keras. Mereka terdiam. Aku menatap dengan tajam ke arah mata mereka masing-masing.

“Apa maksud anda pelaku pembunuhan berantai yang telah membunuh dengan kejam itu?” tanya seorang dosen pria yang memakai baju hijau dan sedikit botak.

Aku mengangguk. “Iya. Selama ini dia selalu mengincar orang-orang yang korup. Dia akan menyelesaikan orang-orang itu. Jujur aku suka keadaan ini tapi aku tidak suka caranya.”

“Lalu, apa hubungannya dengan Nia?” tanya seorang dosen wanita lain.

“Bukankah dia juga sedang ada masalah penyelewengan dana BEM juga kan? Saya yakin itu dia pelakunya!”

“Pak Bondan, mengapa anda menyebut orang seperti ini sebagai mahasiswa anda yang paling cemerlang? Dia sepertinya mengalami gangguan pada pemikirannya,” kata seorang dosen berkaca mata bulat dan berambut tipis.

“Mengapa anda mengatakan hal itu, Pak Mur? Saya tahu bahwa anda dosen Psikologi, jadi tolong ceritakan mengapa anda mengatakan bahwa Arif ini bermasalah,” sahut Pak Bondan.

Pak Mur membenarkan kaca matanya dan berkata, “Caranya berbicara dan memandang kita menyebutkan semuanya. Mungkin tidak bisa terbaca oleh mata biasa. Tapi aku melihat dia paranoid.”

Aku terdiam.

“Bagaimana kalau itu memang pekerjaan Phantom of Trigle?” gumamku.

“Apa yang anda katakan, Arif?" kata Ketua Dewan Disiplin Kampus, Pak Sudiharjo.

“Saya berkata bagaimana kalau seandainya memang Phantom of Trigle yang melakukannya? Bolehkah saya membuktikan bahwa Virny bukanlah Phantom of Trigle?” sahutku. Para anggota dewan terdiam.

“Baiklah. Kami beri waktu 2 x 24 jam untuk membuktikan bahwa Virny bukan pelaku percobaan pembunuhan Nia. Jika dalam waktu itu, anda tidak dapat membuktikannya, terpaksa kami akan menyerahkan Virny pada polisi dan mengeluarkan anda berdua dari kampus ini secara tidak hormat. Bagaimana? Anda setuju?” kata Pak Sudiharjo.

Aku terdiam. Kiki menyentuh bahuku. Kulihat sahabatku, Kiki dan Virny. Mereka tersenyum seakan memberiku semangat. Aku tertunduk. Menutup mata sebentar. Memikirkan segala resiko yang mungkin akan terjadi jika aku gagal membuktikannya.

“Bagaimana? Anda menyetujuinya? Jika anda menyetujuinya biar Nona Riska, sekretaris dewan disiplin, mengetikan surat perjanjian,” kata Pak Sudiharjo.

“Baiklah,” ujarku lirih.

“Bagaimana?” tanya Pak Sudiharjo lagi.

“Saya menyetujuinya, tetapi saya ingin bertanya terlebih dahulu pada Virny sebagai awalan penyelidikan saya.”

“Baiklah, silakan,” kata Pak Sudiharjo mempersilakan.

“Begini,” aku berdiri dan mendekati Virny, “Virny, bolehkah aku mendengar apa yang kamu lakukan saat itu?”

Virny terdiam. “Begini, saat itu, aku sedang berjalan menuju ke kantin. Kemudian, aku kebelet dan mampir dulu ke kamar mandi ini. Pas aku masuk, gadis BEM itu sudah tertelungkup dengan sebuah tongkat kayu yang sedikit berdarah di dekatnya. Saat aku menyentuhnya, ternyata denyut nadinya sudah sangat lemah. Kemudian, seorang gadis berkaca mata datang bersama Ibu Ratna dan beberapa petugas rumah sakit. Lalu, aku digiring ke ruang Dewan Disiplin dan gadis BEM itu dibawa ke rumah sakit.”

“Gadis berkaca mata?” tanyaku dengan dahi terkerut.

“Iya, namanya Juwita Setyorini. Waktu itu, gadis itu berlarian mendekati Ibu dan melaporkan bahwa ada seseorang yang dipukul di toilet wanita. Dia begitu terlihat kelelahan,” kata Bu Ratna.

“Padahal waktu itu, Ibu di mana?” tanyaku lagi.

“Waktu itu, Ibu ada di depan ruang C-103.”

“C-103? Gedung depan itu kan?” tanyaku tak percaya.

Bu Ratna mengangguk. “Iya. Waktu itu, ibu baru selesai mengajar materi Statistika. Saat keluar, Juwita muncul dan memberitahu tentang hal itu. Selanjutnya, ibu langsung menindaklanjuti laporan itu, dan menemukan pacarmu ini membawa sepotong kayu serta Nia tergeletak di lantai dengan darah yang mengalir deras dari belakang kepalanya. Lalu, ibu menelepon rumah sakit dan orang tua Nia, serta memberitahu Dewan. Saat kami akan menginterogasi pacarmu ini, Anda datang.”

Aku memandangi Virny. Dia sepertinya merasa jika aku menatapnya. Dia menggeleng pelan. Sangat halus. Bagaikan menarik rambut dari atas buliran tepung. Hanya mata yang benar-benar mengenalnya yang mungkin mengetahui gerakan itu. Aku tertegun. Kuamati mata coklatnya. Ada guratan sedih, kekecewaan, dendam, dan emosi lain yang tidak terungkapkan. Namun aku melihatnya. Ada sesuatu yang terkubur dari tatapan sayu gadis manis yang ramah ini.

“Kemudian, di mana Juwita sekarang?” tanyaku.

“Dia sedang kembali ke kelas Biologinya Pak Sumaryoto. Tadi dia pamit ke Ibu,” balas Bu Ratna.

“Saya heran mengapa Ibu tidak menahannya. Padahal kan dia saksi kunci?!” kataku geram.

“Tadi dia sudah kami panggil dan interogasi. Namun kemudian dia pamit sebentar untuk melanjutkan kuliahnya. Kasihan dia, dia anak yang kami banggakan,” sahut seorang dosen pria berambut kemerahan dan berbadan gemuk. Kutatap mata dosen gemuk itu dengan tajam. Wajahku mungkin memerah karena aku menahan emosi setelah mendengar hal itu. Mungkin juga, menjadi semerah darah karena kurasa seluruh tubuhku dipenuhi emosi. Aku berusaha menahan dan meredamnya.

“Mohon maaf, Bapak tidak bisa membuat suatu pengecualian dengan seenaknya sendiri. Nia, Virny, saya, Kiki, dan Julia berada di sini karena kasus ini dan tidak mengikuti kuliah kami. Padahal hal itu juga akan berpengaruh pada akademis kami. Dan juga mungkin teman-teman Nia yang meninggalkan kuliahnya. Kami semua, ~erhm~, kata bapak dan ibu sekalian adalah orang-orang terpilih di Indonesia, bukan? Jika kami, anda perlakukan seperti ini, tidak semestinya Juwita diperlakukan istimewa,” kataku dengan tegas.

“Tapi, dia sudah membawa nama kampus kita hingga ke dunia Internasional!” kata dosen pria gemuk itu lagi dengan nada meninggi.

“Mohon maaf, pak. Bukankah saya, Virny, Kiki, Didit, dan Clarissa pernah membawa sembilan trofi kejuaraan karya ilmiah, sepuluh sertifikat penghargaan internasional, dan banyak medali karya tulis untuk kampus ini?” tanyaku dengan ringan dan sedikit senyum. Mungkin kupaksakan. Lalu, kusapu pandanganku pada para dosen anggota Dewan Disiplin.

Beliau terdiam. Para anggota dewan yang lain juga terdiam.

“Lalu, apa mau saudara?” tanya seorang dosen wanita berblus merah.

“Sebenarnya, saya ingin bertanya pada Juwita. Tapi, saya tak ingin membuatnya bermasalah dengan Pak Mar. Beliau kan orang yang strict. Karena semua terlanjur terjadi, hmm,” kulihat jam tangan yang melingkar setia di pergelangan tangan kiriku, “Juga sepertinya jam mengajar Pak Mar masih sejam lagi, bolehkah kita melihat tempat kejadian perkara?”

Semua saling berpandangan. Kemudian, kulihat mereka saling mengangguk. Aku tersenyum. Kulirik Kiki dan Julia masih terpaku dengan tindakanku barusan. Senyumku makin mengembang sembari kutatap Virny. Dia turut tersenyum. Pak Sudiharjo mengangguk padaku dan bangkit dari kursinya. Namun sebelumnya, aku terpaksa menandatangani sebuah surat perjanjian bermaterai 6000 rupiah.

Kami bergegas menuju toilet tempat terjadinya pemukulan. Aku berimprovisasi seakan aku adalah Sherlock Holmes atau Shinichi Kudo atau Kindaichi yang sering aku baca novel maupun komiknya. Para dewan hanya terdiam mendengar celotehanku selama perjalanan.

Di dalam kamar mandi itu, aku berputar-putar. Di dalam toilet, kloset, wastafel, tempat sampah, balik kotak obat. Tiada kutemukan petunjuk lain selain tongkat kayu yang tersandar rapi di dinding dan lantai kamar mandi yang sudah bersih. Hilang. Aku menggeram.

“Tadi waktu kami lewat, aku sudah memastikan bahwa tempat ini masih seperti yang tadi Virny dan Bu Ratna ceritakan. Namun sekarang sudah bersih. Apakah bapak-bapak ada yang memerintahkan untuk membersihkannya?”

Para dewan saling berpandangan. Kemudian, menatapku sambil menggeleng. Kupukulkan kepalan tangan kananku ke telapak tangan kiriku. Fuck! Ternyata kasus ini tidak seperti yang aku bayangkan!? Aku merasa gusar. Emosiku serasa benar-benar ingin meledak. Aku berjalan menuju wastafel dan mencuci muka. Kutatap cermin yang menempel di hadapanku. Kulihat sosok kusut dan rambut yang sudah berantakan.  Dahi sosok itu mengerut dan mulutnya menyempit. Kupandangi dia dengan tajam. Dia membalasnya dengan lebih tajam. Seakan menantangku. Namun, di matanya kulihat ada serpihan cerita yang ingin dia katakan. Aku mendekatkan telingaku. Mungkin dia ingin berbisik di telingaku. Aneh, kudengar dia berbisik. Sangat lembut. Hanya seperti desiran angin. Ya, aku tahu. Saat kejadian, dia memang ada di sini. Dia saksi tunggal yang aku miliki. Namun, dia tidak nyata. Cuma aku yang bisa berbicara dengannya, pria muda yang kusut yang kini dengan mata coklatnya menatapku.

“Baiklah, mohon maaf jika saya terlalu kasar pada Dewan Disiplin yang terhormat. Saya mohon permisi dahulu. Bukankah kami bisa pulang? Saya akan mengawasi Virny sekuat tenaga saya,” ujarku sambil menarik tangan Virny.

Pak Sudiharjo mengangguk. “Ingat, saudara memiliki waktu 2 x 24 jam untuk membuktikan bahwa Virny tidak bersalah.”

“Baik, pak. Saya akan berusaha.”

Aku menarik Virny pergi. Nampaknya Kiki dan Julia mengikuti kami. Aku hanya terdiam selama kami berjalan pergi ke kantin. Mereka juga tidak terdengar suaranya. Dalam pikiranku terus berputar masalah pelik ini.

“Kita pergi ke rumah sakit, sekarang! Aku ingin menemui Nia,” kataku sambil mengajak mereka ke arah tempat parkir. “Ada sesuatu yang ingin kupastikan.”

“Tunggu dulu,” sahut Virny dengan sedikit ragu.

“Apa?” Kutatap mata Virny dengan tajam. Kulihat badannya sedikit bergetar

“A-aku ingin mengambil tasku dulu di kelas.”

“Biar si Muna yang akan membawakannya. Bukankah dia ada di kelas yang sama denganmu?”

“Tapi, dia sedang tidak masuk,” Virny merajuk.

“Kutunggu kamu di tempat biasa. Di ruang D-102, kan? Lima menit!”

Kulepaskan cengkeramanku. Dia mengangguk dan berlari. Aku berpaling pada Julia. Aku mengangguk dan Julia balas mengangguk perlahan.

“Sebaiknya aku mengikuti Virny. Sampai jumpa! Terima kasih atas bantuannya.” Gadis berambut kemerahan yang terikat itu tersenyum dan berbalik serta terburu mengejar Virny.

 

“Jadi, apa rencanamu, kawan?” tanya Kiki.

Aku menggeleng. “Entahlah. Aku bahkan tidak tahu apa yang akan aku lakukan.” Kulihat aura kaget tersirat di wajah Kiki.

“Lalu? Mengapa kamu menyetujui perjanjian konyol itu?”

“Entah kenapa aku ingin menyelamatkan Virny dari segala tuduhan itu. Mungkin karena dulu keluarganya menyelamatkanku.”

"Jadi, kamu ingin membalas budi pada keluarganya, atau, DIA?" tanya Kiki.

Aku terdiam. Kupermainkan kunci motor yang ada di jari telunjuk tangan kananku. Otakku berputar. Berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk bercerita pada salah satu sahabatku ini.

"Sepertinya, hidup bersama selama dua belas tahun ini, membuatku -"

Aku memotong perkataanku, menatap mata sahabatku. Terpancar kata-kata yang sedari dulu mereka selalu tanyakan kepadaku.

"Apa?" tanya Kiki.

"Membuatku, ingin berkorban apapun untuk Virny."

Read previous post:  
22
points
(1637 words) posted by AwankoLosta 8 years 45 weeks ago
55
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fanfic | apa ajalah | Le Château de Phantasm | romansa
Read next post:  
Writer yuu_sara
yuu_sara at Cermin_3 (8 years 38 weeks ago)

halo..
salam kenal..
aku suka ma ceritanya, tapi aku masih kurang ngerti. deskripsi tempatnya jg kurang. palagi ni cerita detektif n kriminal, tentunya jarak setiap ruang jg sangat penting. jarak toilet ma ruangan bu ratna jg. maaf byk ngomong.
ditunggu lho. lanjutannya koq lama sih??

Writer AwankoLosta
AwankoLosta at Cermin_3 (8 years 38 weeks ago)

siaap.... XD

ini sedang membuat bagan utuhnya... ^^

ditunggu yaa... ^^

Writer yuu_sara
yuu_sara at Cermin_3 (8 years 38 weeks ago)
80

Poinnya kelupaan

Writer Aletheia_agatha
Aletheia_agatha at Cermin_3 (8 years 40 weeks ago)
80

aduh, Kak Wank! sebenernya ceritanya keren lho, saia salut. tapi saia ngerasa aneh ama dialog2nya itu. hambar. kurang natural n luwes.
Mm.. juga kalimat:
Kulepaskan cengkeramanku.
cengkeraman bukannya kasar ya?
tapi lanjutin

Writer AwankoLosta
AwankoLosta at Cermin_3 (8 years 40 weeks ago)

eh? oh.. iya ya? mungkin masih terlalu eyd... makasih diingetin... ^^

Writer zenocta
zenocta at Cermin_3 (8 years 41 weeks ago)
70

lumayan, tapi sedikit terasa membosankan, atau mungkin ini hanya masalah selera ya. hehehe tapi kasusnya menarik. ceritanya masih menyimpan rahasia, terutama tentang masa lalu di tokoh utama.

Writer AwankoLosta
AwankoLosta at Cermin_3 (8 years 41 weeks ago)

terima kasih.. mungkin karena narasinya agak aneh mungkin yah.. saya perbaiki lagi.. ^^

Writer Stevani Shan
Stevani Shan at Cermin_3 (8 years 41 weeks ago)

lanjut^^

Writer Putra Mahkota
Putra Mahkota at Cermin_3 (8 years 41 weeks ago)
70

Bahkan nyaris saja Julia saja terpeleset :kelebihan kata
mahasiswa yang yang: ini juga
Kan saya memang sudah tertarik dengan masalah itu sejak aku masih kecil: kurang konsisten antara penggunaan saya atau aku
Beliau menatap kami dengan erat: kalo menatap mungkin lekat ya hehehe

Terlepas dari itu semua, saya penasaran ama lanjutannya. Ditunggu ya...

Writer AwankoLosta
AwankoLosta at Cermin_3 (8 years 41 weeks ago)

eh, iya... maaf saya ceroboh... ::editing in progress:: done: