[Tantangan Romance Fantasy] Our Wonderland

 

Bagaimana dia bisa berada di tempat ini?
 
Itulah yang ada dipikiran Daniel saat dia menemukan dirinya berada di tempat ajaib itu. Sebuah kota dengan bangunan-bangunan bernuansa medieval, namun dipenuhi oleh mahluk-mahluk teraneh yang tak pernah dilihatnya.
 
Selama beberapa saat pemuda itu terduduk di tempatnya. Berusaha mengingat bagaimana ia bisa sampai di tempat itu, tapi yang diingatnya hanyalah bahwa ia sedang mengikuti seekor burung.
 
Benar, tadinya dia hanya ingin mengejar seekor burung aneh yang menarik perhatiannya. Bagaimana tidak, sebagai ganti memakan cabe, burung itu justru memuntahkan cabe ke setiap pohon yang dihinggapinya. Setiap orang yang melihat burung seperti itu jelas akan mengikutinya. Tapi dia sama sekali tidak menduga kalau dia akan sampai di tempat ajaib ini. tempat yang bahkan dalam mimpi pun tak pernah terbayang di benaknya.
 
“Hei! Apa kau bisa menyingkir dari sana? Aku bersumpah kalau aku akan menggambari tembok itu hari ini, dan kau menghalangi tembok itu!”
 
Seruan itu langsung membuat Daniel mengangkat kepalanya. Seorang gadis berambut hitam panjang kini berdiri di hadapannya. Salah satu tangannya menggenggam kuas yang tampak masih basah dan tangan lainnya memegang sebuah palet, tapi yang menarik perhatian Daniel justru adalah penggorengan raksasa yang tergantung di pungungnya. Untuk apa seorang gadis membutuhkan penggorengan sebesar itu? Apa dia berniat menumis seekor sapi utuh-utuh di atasnya?
 
“Hei! Aku bilang, apa kau bisa menyingkir?! Aku tidak bisa menggambar jika kau terus menghalangi tembok itu!” seruan kembali terlontar dari bibir gadis itu, tapi kali ini Daniel langsung menyingkir dari tempat duduknya. Dia jelas tidak ingin membuat gadis itu marah.
 
Dengan cepat gadis itu menggambari tembok yang tadi dibelakanginya. Selama beberapa saat tidak ada apa-apa di sana, tapi begitu gadis itu kembali membasahi kuasnya di palet, warna-warna pelangi seketika bermunculan mengikuti setiap gerakan yang tadi ditorehkannya, membuat Daniel terperangah di tempatnya.
 
Dia tak pernah melihat sesuatu yang seperti itu. Gabungan antara keindahan teknik lukisan dan sihir yang bergabung menjadi satu. Menciptakan sebuah maha karya yang tak pernah bisa di temukannya di dunia nyata.
 
“Hei, tempat apa ini sebenarnya?”
 
Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibirnya. Menghentikan gerakan tangan gadis tadi tepat pada bagian yang tampaknya cukup penting. Daniel langsung menyesali keputusannya untuk bersuara.
 
“Kau baru di tempat ini?” tanya gadis itu sambil membersihkan kuasnya dan kemudian menatap Daniel dengan tatapan penuh semangat. Tatapan yang membuat pemuda itu salah tingkah dan hanya bisa mengangguk.
 
“Wah! Selamat datang! Kolonel Riesling siap melayani anda!” seru gadis itu ceria membuat Daniel tercengang di tempatnya. Kolonel? Apa maksud gadis itu dengan Kolonel?
 
“Ini adalah kerajaan Le Château de Phantasm, tempat para pengejar mimpi menyalurkan harapan, mencari sahabat, dan menemukan mimpi mereka. Apa kau salah satu dari mereka?” tanya gadis itu masih dengan semangat yang menggebu.
 
Daniel mengerjapkan matanya dengan tak percaya mendengar pernyataan itu. Bagaimanapun dia sampai di tempat itu hanya karena mengikuti seekor burung. Rasanya mustahil kalau dia terlontar sampai terlontar ke dunia lain gara-gara hal itu.
 
“Kau tidak apa-apa?”
 
Pertanyaan cemas Riesling seketika membuat Daniel tersentak dan kembali mengarahkan pandangannya pada gadis manis berwajah oriental di depannya itu. Entah bagaimana tiba-tiba dia dapat meraskan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Apa semua ini gara-gara panik? Panik karena dia sekarang benar-benar berada di dunia yang jelas bukanlah dunia tempat dia berasal sebelumnya?
 
“Kau ini tersesat ya?” pertanyaan gadis itu lagi-lagi membuat Daniel salah tingkah. Dia benar-benar harus mengatakan sesuatu sekarang kalau dia tidak ingin tampak bodoh dihadapan gadis itu.
 
“Burung!” serunya tiba-tiba yang langsung membuat Riesling mengerutkan dahinya.
 
“Burung?”
 
“Ya! Burung! Aku sampai di tempat ini gara-gara mengikuti burung pemuntah cabe!” seru pemuda itu mantap.
 
Keheningan yang menyusul selanjutnya langsung membuat pemuda itu sadar bahwa pernyataan yang baru saja dilontarkannya adalah pernyataan terbodoh yang pernah keluar dari mulutnya.
 
“Maksudmu, Rea?”
 
Pertanyaan yang tiba-tiba keluar dari bibir gadis itu langsung membuat Daniel menatapnya dengan bingung.
 
“Rea?”
 
“Ya, Rea! Kurasa orang yang kau maksud adalah Rea!” ujar gadis itu mantap membuat Daniel semakin mengerutkan dahinya.
 
“Err ... tapi yang kulihat itu bu—“
 
“Aku tahu! Karena itulah aku yakin dia Rea!” seru gadis itu cepat memotong kata-katanya. Membuat Daniel merasa yakin kalau dia sudah gila sekarang, dan dia akan terus menganggap dirinya gila kalau saja gadis itu tidak tertawa terbahak-bahak akibat melihat ekspresi wajahnya.
 
“Maaf, aku pasti membuatmu bingung, ya?” tanya gadis itu sambil menyeka air mata yang keluar dari salah satu matanya. Tindakan yang membuat jantung Daniel terasa berdetak semakin cepat dan membuat pemuda itu yakin bahwa dirinya tidak hanya gila, tapi jelas mengalami masalah jantung sekarang.
 
“Hei, kau tidak apa-apa? Wajahmu merah lho!” pernyataan jujur gadis itu langsung membuat Daniel meraba wajahnya. Benar saja permukaan kulit wajahnya terasa panas seperti saat sedang demam.
 
“Tenang saja! Aku akan membawamu pada Rea! Dia tinggal di klinik kerajaan, jadi kau pasti bisa mendapatkan pertolongan juga di sana. Ayo ikut aku!” seru gadis itu tiba-tiba sebelum kemudian menarik salah satu tangannya dan tak memberi pilihan lain pada pemuda itu selain berjalan mengikutinya.
 
Rasa panas yang membara terasa merambat dari tempat jari-jari mereka bertemu, tapi Daniel tidak merasa kesakitan atau tidak nyaman. Dia justru merasa senang. Kesenangan yang jelas tidak ia ketahui darimana datangnya. Kesenangan yang terasa ganjil namun manis di saat yang bersamaan. Apa sih yang sebenarnya terjadi pada dirinya?
 
Tepat saat ia memikirkan semua itu, rasa dingin tiba-tiba menjalari dadanya. Daniel secara refleks menoleh ke arah sebuah menara tinggi yang berada di ujung jauh kota. Ia tidak bisa melihat orang yang berada di puncak menara pengawas itu, tapi dia jelas memiliki firasat kalau orang yang berada di tempat itu tidak menyukai dirinya.
 
 
“Kita sampai!”
 
Seruan penuh semangat Riesling langsung membuat Daniel berhenti di dekat gadis itu. Mereka kini telah berdiri di depan sebuah bangunan berwarna putih dengan sebuah palang merah besar menggantung di atas pintu utamanya.
 
Klinik LCDP
 
Itulah bunyi tulisan yang berada di samping pintunya. Bagaimana seekor burung bisa berakhir di dalam sebuah klinik? Itu jelas adalah misteri lain yang tidak ia ketahui jawabannya.
 
“Belahlah dada ini kasssiiihhhh ...” kicauan suara pria seketika menggema di seluruh ruangan begitu Riesling dan Daniel memasuki klinik itu. Tidak ada pasien yang terlihat di tempat tidur, dan jelas tidak ada satupun ramuan normal yang dapat dilihatnya di tempat itu.
 
“Ling! Tumben sekali kamu mau mampir, ada apa? Apa kamu sakit?” pertanyaan bernada ceria dari seorang gadis yang berdiri di pojok ruangan langsung menarik perhatian pemuda itu.
 
Gadis itu berwajah kekanakan, dan tingginya tidak lebih tinggi dari Riesling, tapi toga raksasanya jelas memberi kesan mengintimidasi yang tak terbantahkan. Entah mengapa Daniel merasa yakin kalau gadis itu dapat membunuhnya hanya dengan menggunakan tatapan matanya.
 
“Mamih! Mana tabib utama? Kok gak keliatan?” tanya Ling semangat. Daniel langsung melontarkan tatapan tak percaya ke arah gadis itu. Mamih? Gadis kekanak-kanakan bertoga raksasa di depan mereka ini, mamihnya Riesling? Apa di tempat ini memang tidak ada satu hal pun yang normal ya?
 
“Tabib sedang tidak ada di tempat. Hanya saya, Sam dan Rea yang ada di sini. Ada apa? Apa kau sakit?” tanya gadis itu lagi. Ling langsung menggeleng cepat.
 
“Tidak, bukan gitu kok, mih. Aku hanya ketemu sama anak baru di depan tembok kastil, dan kayaknya dia sakit. Dia bilang dia bisa sampai di tempat ini gara-gara ngikutin Rea!” ujar gadis itu cepat. Gadis bertoga raksasa itu langsung menoleh ke belakangnya dan kembali menatap Ling dengan bingung.
 
“Rea? Rea Sekar?” tanya gadis bertoga itu dengan tak percaya sambil menunjuk ke belakangnya.
 
Ling melirik sekilas ke belakang Mamihnya sebelum kemudian mengangguk. “Iya, dia bilang dia mengikuti seekor burung pemuntah cabe ke tempat ini. Jadi kurasa itu pasti Rea!”
 
Gadis bertoga itu tampak mengerutkan dahinya selama beberapa saat sebelum kemudian mengangguk. “Kurasa, itu memang Rea. Dia habis kebanyakan makan cabe, jadi sekarang bentuknya jadi seperti itu!”
 
Gadis itu menyingkir sedikit dari tempatnya berdiri dan menampakkan seekor burung kecil yang berguling-guling dengan gilanya di atas meja peracik obat. Burung itu jelas adalah burung yang sama dengan yang dilihatnya sebelumnya. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya cabe yang berserakan di sekitar burung itu.
 
“Malam ini kasih, teringat aku padamu ...” kicauan bersuara pria lagi-lagi berkumandang di ruangan itu, tapi kali ini Daniel sudah tahu darimana kicauan itu berasal. Siapa sangka suara seekor burung kecil bisa sebesar itu.
 
Ling terkikik geli di tempatnya. Tampaknya pemandangan burung kecil bersuara pria yang bergelindingan gila di hadapan mereka ini bukanlah hal baru untuknya. Daniel jadi penasaran bagaimana gadis itu bisa sampai berada di tempat ini, namun dia juga tidak terlalu berminat mencari tahu.
 
Suara tawa Ling benar-benar mengalihkan perhatiannya.
 
Suara tawa gadis itu benar-benar indah. Berdentang-dentang bagaikan lonceng dan mengisi setiap relung tubuhnya. Daniel sadar dia benar-benar sudah gila sekarang, tapi dia tidak peduli. Suara tawa gadis itu telah mengangkat semua rasa takut dan khawatirnya.
 
 
“Ngomong-ngomong, aku belum tahu namamu! Kau sudah tahu siapa aku, tapi aku bahkan tidak mengetahui namamu. Itu tidak adil! Jadi beri tahu aku namamu!” tuntut Riesling setengah memaksa.
 
Mereka berada di taman kota sekarang. Mamih Riesling sudah memeriksanya beberapa saat yang lalu dan menyatakan bahwa dia masih normal, tapi dia tidak bisa mempercayainya. Bagaimanapun juga dia yakin ada yang salah dengan tubuhnya, dan tidak mungkin keadaannya saat ini dapat dinyatakan normal, jika ia sendiri merasa sebaliknya.
 
“Namaku ...”
 
Daniel terdiam sejenak memikirkan namanya. Semua orang di tempat ini memiliki nama yang tidak normal. Akan terdengar bodoh jika ia memberi tahukan namanya yang sebenarnya pada gadis itu. Dia harus memikirkan satu nama yang aneh tapi tetap merupakan bagian dari nama aslinya.
 
“Dansou! Namaku Dansou!” seru pemuda itu cepat sebelum Riesling sempat mengulangi pertanyaanya.
 
“Dansou?” Ries mengulangi nama itu sambil mengerutkan dahinya. Daniel menuggu reaksi gadis itu dengan sabar dan saat gadis itu akhirnya tersenyum, pemuda itu ikut tersenyum. Dia tidak salah memilih nama.
 
“Namamu aneh, tapi rasanya nama semua orang yang kau temu hari ini pasti juga terdengar aneh di telingamu!” ujar Riesling sambil tertawa. Daniel ikut tertawa. Dia senang tertawa bersama gadis itu.
 
“Hei, menurutmu, bagaimana caranya kita bisa keluar dari tempat ini?” tanya pemuda itu penasaran.
 
“Kau ingin pergi dari sini?” tanya gadis itu dengan tak percaya. Daniel langsung tahu kalau dia baru saja melontarkan pertanyaan yang salah.
 
“Bu, bukan berarti aku ingin pergi sih! Aku hanya mau tahu saja. Tidak ada salahnya berjaga-jaga, kan?” jelas pemuda itu cepat dengan terbata.
 
Riesling tampak memikirkan penjelasan itu selama beberapa saat sebelum kemudian menganggukan kepala dan menghela nafas panjang.
 
“Kurasa kita memang selalu memikirkan masalah masa depan, bukan begitu?” tanya gadis itu sambil kembali melontarkan senyuman termanisnya ke arah Daniel. Membuat pemuda itu ikut tersenyum bersamanya.
 
“Pekerjaan! Setiap orang yang sudah memiliki pekerjaan berarti memiliki tanda warga negara yang tepat di dunia ini. Jadi mereka bisa pergi dan kembali ke tempat ini sesuka hati,” jelas gadis itu sambil memainkan kelopak-kelopak bunga yang memang sedang berguguran dari dahan-dahan pohon di atas mereka.
 
“Seperti dokter hewan?” tanya Daniel penuh semangat. Riesling sampai tertawa dibuatnya.
 
“Ya! Seperti dokter hewan!” ujar gadis itu di sela tawanya. Daniel mau tak mau keki juga mendengar dirinya terus menerus ditertawakan.
 
“Kalau begitu aku akan menjadi dokter hewan! Bagaimana cara mengesahkan pernyataan i—“
 
Belum sempat Daniel menyelesaikan kalimatnya. Seorang pria muncul di sampingnya dan mengecapkan sebuah cap merah di tangannya. Tulisan di cap itu hanya berisi satu kata,
 
“Valid”
 
Daniel berusaha mencari orang itu sekali lagi, tapi dia tidak bisa menemukannya. Orang itu lenyap begitu saja dibalik guguran kelopak bunga yang jatuh dari dahan-dahan pohon di atas mereka.
 
“Selamat! Kau mendapat pekerjaan! Sekarang yang perlu kau lakukan hanyalah berharap dengan amat sangat kalau kau berada di duniamu. Maka biasanya kau akan kembali ke duniamu!” seru Riesling dengan semangat yang menggebu. Membuat Daniel mau tak mau tertawa mendengarnya.
 
“Semudah itu?” tanya pemuda itu setengah tak percaya.
 
“Memang semudah itu! Coba saja kalau kau tak percaya!” tantang Riesling sambil menghempaskan dirinya untuk duduk ke salah satu bangku batu yang ada di dekat mereka.
 
Daniel langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Aku punya banyak waktu untuk mencobanya nanti, tapi aku belum melihat seluruh isi kerajaan ini, jadi bagaimana mungkin aku ingin pulang sekarang!” serunya lantang sambil tertawa.
 
“Hei! Apa tempat favoritmu?” tanya pemuda itu penasaran. Riesling langsung tertawa dan menunjuk lurus ke belakang pemuda itu.
 
Daniel langsung menoleh dan menemukan tembok panjang yang penuh terisi lukisan. Tembok yang sama dengan tembok yang sempat dibelakanginya saat mereka bertemu untuk pertama kalinya beberapa jam yang lalu.
 
“Kau membuat semua itu?” tanya pemuda itu tak percaya.
 
Riesling hanya tertawa sebelum kemudian mengeluarkan kuas dan paletnya.
 
Dengan cepat gadis itu menorehkan kuasnya di udara. Membentuk suatu gambaran abstrak yang tak dapat dilihat oleh Daniel saat itu, tapi begitu Ling kembali membersihkan kuasnya, warna-warna indah seketika bermunculan di udara dan membentuk sepasang sayap di udara.
 
“Pakailah sayap itu dan lihatlah lukisan-lukisan itu dari angkasa!” seru gadis itu sambil mendorong Daniel hingga ia menabrak sayap berwarna-warni yang digambarnya. Secara ajaib sayap-sayap itu langsung terpasang di punggungnya dan melesatkannya tinggi ke angkasa.
 
Selama beberapa saat pemuda itu panik melihat tanah yang menjauh darinya dengan kecepatan tinggi, tapi saat ia memandang ke arah tembok yang dilukisi Ling, dia langsung menyadari tujuan gadis itu menerbangkannya setinggi itu.
 
Dia bisa melihat seluruh isi kerajaan dari atas sini. Istana yang seolah bertabur permata dan memancarkan cahayanya sendiri, mahluk-mahluk kastil yang tampak sibuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan mereka yang sangat tidak lazim, dan lukisan Ling yang bersinar mengelilingi tembok istana. Lukisan yang bagaikan hidup dan bergerak memantulkan ceritanya sendiri.
 
Benar-benar pemandangan terindah yang pernah dilihatnya.
 
Tepat saat itu juga sebuah panah melesat dengan cepat dan menghancurkan sayap pelangi yang menempel di punggungnya. Sayap yang membuatnya tetap berada di angkasa.
 
Daniel tidak memiliki waktu untuk panik karena panah itu bukanlah satu-satunya panah yang melesat ke arahnya. Berpuluh-puluh panah lain melesat ke arahnya dari menara penjaga yang berada di ujung jauh istana. Menara yang sama dengan menara yang memberinya firasat buruk.
 
Tak satupun dari panah itu yang mengenainya memang, tapi dia yakin kalau bagaimanapun juga nasibnya akan tamat saat itu. Bagaimana tidak? Tanpa sayap pemberian Ling, tak ada lagi yang dapat menerbangkannya ke angkasa dan dia kini sedang terjun bebas ke arah susunan bata yang menutupi jalan utama kerajaan itu.
 
Daniel menutup matanya dengan cepat. Membiarkan pikirannya membawanya ke kenangan-kenangan terdahulunya. Ke kehidupan normalnya di dunianya yang juga normal. Siapa yang benar-benar menyangka saat akhirnya dia menemukan dunia ajaib yang tak pernah ia bayangkan, saat itu jugalah hidupnya akan berakhir.
 
Nasibnya jelas sangat buruk.
 
†††
 
Daniel memandangi sekitarnya dengan bosan. Entah sudah berapa lama dia berdiri di tempat itu menunggu gilirannya untuk mendaftar. Bodoh sekali dia mengira kalau dia bisa menyelesaikan seluruh urusan daftar ulang ini hanya dengan datang lebih pagi. Lihat saja hasilnya, dia justru menghabiskan sepanjang paginya hanya untuk menunggu.
 
Selembar kertas yang tertiup angin jatuh ke dekat kakinya.
 
Daniel memandangi kertas itu sejenak sebelum kemudian mengerutkan dahinya. Kertas itu jelas bukan sampah, karena gambar yang ada di atas kertas itu jelas-jelas adalah gambar yang dibuat dengan teknik yang jelas tidak asal-asalan.
 
“Hei, Karin! Mapmu terbuka tuh! Kertas-kertasnya ada yang terbang!” seruan seseorang dan antrian jalur SNMPTN langsung menarik perhatiannya.
 
Daniel langsung mengarahkan pandangannya ke arah asal suara itu dan menemukan dirinya terperangah. Riesling. Gadis itu ada di sana. Sibuk mengumpulkan kertasnya yang berjatuhan sambil menunggu antrian untuk mendaftar masuk ke universitas yang sama dengannya.
 
Sekali lagi ia melirik kertas yang ada di tangannya. Gambar seorang gadis berbaju zirah yang memegang penggorengan raksasa tergores dengan indah di atasnya. Jelas merupakan gambaran yang dibuat oleh gadis itu.
 
“Hei, kau menjatuhkan ini?” tanya pemuda itu dengan mengerahkan seluruh keberanian dalam dirinya.
 
Gadis itu mengangkat kepalanya dengan bingung. Ling. Gadis itu jelas-jelas Ling. Sekalipun sekarang ia berkacamata, dan tidak ada penggorengan raksasa yang tergantung di punggungnya, tapi Daniel yakin kalau gadis itu adalah Riesling. Gadis yang memberinya salah satu mimpi terindah dalam hidupnya.
 
“Thanks, Dansou!” ujar gadis itu singkat sambil mengambil kertas yang disodorkan olehnya itu dan kemudian berjalan pergi mengikuti para pendaftar jalur SNMPTN lainnya.
 
Daniel menatap kepergian gadis itu sambil mengulum senyumnya. Entah bagaimana tapi sekarang dia tidak lagi merasa bosan menunggu gilirannya. Dia tidak akan sempat merasa bosan, karena dia tahu bahwa sekalipun dia dan Ling ada di dunia nyata, tapi mereka pasti bisa menciptakan dunia ajaib mereka. Dan kali ini, dia tidak akan menyia-nyiakan waktunya hanya untuk memandangi dunia ajaib mereka itu.

Read previous post:  
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.

Dah lama ga baca tulisan senpai dan narasinya tetap bagus, ngalir dan enak dibaca.. ^^. Tapi dicerita ini konfliknya kurang tereksplor, klimaksnya jg kurang greget..
Bagian awal n pertengahan seolah menggambarkan dunia kekom.. :D

It's been awhile nana
ahahaha
itu dunia lcdp, bukan k.com

Hoo.. Beda ya ._. --a

beda soalnya lcdp udah mulai jadi kastil bebas

80

endingnya keren banget :)

90

Adegan daftar ulangnya itu manis XD
Ahahaha, tapi kayaknya dansou kurang narsis :P

OOC is tolerated :3

90

hiyaaaaa ini keren XD
mau nanya nih, lcdp itu apa sih? :O terus istilah keju di kemudian.com itu maksudnya apa ya? ._. saya masih anak baru nih .______.

Le Chateu de Phantasm itu komuniti penulis fantasi

keju itu artinya cerita super mellow bin romantis yang kadang bikin orang-orang merinding ahahaha

80

Pe-pengen ngasih 9 *_* karena Zinah matanya keren. tapi err... ini masih gantung bin greget huhu. masih sebatas perkenalan dan love at first sight. masih bisa dieksplore lagi sih.
.
demo, ini romance... ya ini romance dalam bentuk soft. dan IMO, keknya emang ngegambarin persona di LCDP :3
.
Bagian paling epic: Rea Sekar wkkwkwkwkkwk sumpah gw nyaris Mbbuh nahan ketawa gara2 itu adegan guling2 gila XD XD
.
Rea jadi burung karena dia Scarion ya? :P
.
second part yang gw suka: ada cameo gw XD XD
.
dan terakhir, as usual, narasinya mbak Irene ngalir :3
.
dah itu aja. no cabe, hanya keripik :D

makasih ehehehe

80

Jangan lupa royaltinya ya mih.

nyampe 100 aja blom poinnya :P

80

Weks.... -,- ini komen pertamaku di kekom
Faye, untuk fantasy part nya oke lah, tapi romance nya masih kerasa maksa. Kalau ditilik kayanya romance mu masuk ke 'cinta pandangan pertama' yak? Kalau iya di sini pemicunya nggak jelas, kurang punya greget, 'aha' momen-nya nggak ada.

#semoganggakdigamparngasihkomenkayakgini

nggak kamu bener kok.

Gimanapun juga walopun aku nulis teenlit tapi tetep aja yan gnamnaya romance itu sulit untuk ditulis.. bukan keahlian saya banget ahahaha

80

Bagus, bagus~
Walo bikin saya cemburu karena Nona Ries dipasangin sama dandindeso XDD
.
Mungkin masih bisa dibikin lebi maniiiiis lagi dari ini, Irene.

tenang aja, Gie~~ Saya tetep setia sama gie kok <3<3<3

90

:v :v :v no komen dah

70

nice nice, eh itu zoel yang manah dansou yak? awk awk awk

-

btw ada 'Daniel menuggu reaksi'

90

ngakak di bagian rea
burung pemakan cabe yang hobi ngegombal ya XDDD
endingnya manissss ><

80

wa... Adegan terakhirnya manis bangeeeet...

70

Absurdity level: medium
.
Saia beneran ngakak waktu tahu Rea = burung pemakan cabe yg sedang sakit gara2 kebanyakan makan cabe. Trus ada juga tukang stempel yg cuma muncul sekilas nempelin stempel Valid....dan beberapa cameo lainnya.
.
Romance-nya emang agak kurang kerasa, tapi endingnya emang manis (o____<)b
.
Good one~!

wahahahaha ... saya emang harus cuci otak lagi nih ...
gimana pun juga di otak saya pikirannya teriak: "GAK BOLEH ADA KEJU!!!"

jadi yah ... begitulah :P

80

Bagus. Saya perlu belajar membuat cerita fantasi seperti ini. Santai, dan tidak terburu-buru.
Tapi kalau menurut saya, cerita fantasi itu perlu penggambaran suasana, atau deskripsi yang lebih mendetail. Kalau menurut saya sih begitu.

Ada satu yang mengganjal, kata "lerung" di atas itu bukankah seharusnya "relung" ? Saya tidak tahu mana yang benar. Hahahaha....

typo gara2 nulis terlalu cepet
yang bener emang relung =.=a

santai aja lah nulisnya.
hahaha....
pasti keburu idenya hilang ya? ^_^

Sial disini gak ada tombol like >=(

90

Endingnya ituloh. Manis!