THE CHOSEN ONE - DOPPLERGANGER YANG MALANG

Mereka bertiga berlari menghampiri para penghuni warteg yang dikumpulkan di lapangan parkir. Wajah orang-orang itu terlihat pucat. Tubuh mereka yang hanya mengenakan pakaian dalam menggigil ketakutan, dan saling berpelukan satu sama lain. Pea ada di antara mereka, menggunakan celana dalam bertuliskan “My Top Secret”.

“Apa yang terjadi, Pea?” Unnorman bertanya. Dia tampak sangat khawatir melihat keadaan Pea.

Namun, mereka malah semakin takut saat Unnorman mendekat.

“Pea, ada apa?” Unnorman membuat Pea ngompol sangking takutnya.

“Jangan robek celana dalamku! Kumohon!” cicit Pea, membuat Unnorman bertambah heran.

“Pea, Ini aku. Sahabatmu!” Unnorman meyakinkan. “Tak mungkin saya merobek celana dalammu!” Unnorman mengguncang-guncang tubuh Pea. Pea pun menangis ketakutan.

Unnorman jadi bingung. Apa yang salah pada dirinya. Badannya tidak busuk-busuk amat, tahun lalu kan dia mandi. Bajunya baru saja dicuci dua bulan yang lalu. Mulutnya juga tidak bau, hanya dua ekor lalat yang mati ketika dia bernafas lewat mulut.

“Sudahlah!” Bingkam menenangkan Unnorman. “Sepertinya dia takut padamu. Sebaiknya kita kenalan dengan cewek itu, dia terlihat seksi.” Lanjutnya, sambil memotret seorang wanita, kemudian meng-uploadnya di Facebook.”

Unnorman jengkel. Bisa-bisanya Bingkam bercanda di situasi seperti ini, “Ayolah! Seriuslah sedikit! Jangan lupa tag saya , ya!”

“Oke! Sebaiknya kita bertanya pada pria itu!” Bingkam menunjuk pria bertopeng yang sedang mengutak-atik topengnya. Hero sendiri telah menuju dapur warteg, mencari Serabi Patty.

Unnorman merasa usulan Bingkam ada benarnya juga. Bukankah memang dari awal mereka mau mengetahui identitas pria itu, “Hei, kau!” Unnorman memanggilnya. “Apa yang kau lakukan kepada mereka?”

Namun, pria itu tidak menjawab. Dia sibuk sekali mengutak-atik topengnnya.  “Pertebal alis di sini... tambahkan kerutan di sini... tambahkan panu di sini...” Gumannya tidak jelas, kemudian memakai topeng tersebut.

Unnorman mulai marah. Baru kali ini ada pria yang mengacuhkannya. Memangnya dia tidak tahu sedang berbicara dengan siapa? Dengan kasar dia menarik lengan pria itu, memaksanya berbalik.

Namun betapa terkejutnya dia saat mengetahui kalau wajah pria itu sama persis dengannya. “ D-dopplerganger!” Unnorman tampak ketakutan. Dia pernah mendengar cerita Dopplerganger adalah mahkluk misterius yang wujudnya menyerupai seseorang. Dan jika orang itu bertemu dengan Dopplerganger yang menyerupainya, maka keberadaannya akan digantikan oleh Dopplerganger tersebut. Hal itu pernah terjadi pada Somat, penjual tukang bakso keliling. Dia berkata pada istrinya bahwa dia betemu dengan Doplergangger yang mirip dirinya. Bahwa mungkin keberadaanya akan digantikan oleh Doplerganger tersebut.  Dan benar. Seminggu kemudian, sifat Somat berubah, mungkin karena dia bukan lagi Somat melainkan seorang Dopplerganger. Dia tidak lagi berjualan bakso, mulai lupa pada istrinya, dan tak lama kemudian menghilang entah kemana. Belakangan diketahui, setelah dihipnotis Uya Kuya, ternyata dia cuma pura-pura, karena berniat kawin lari dengan janda kampung sebelah.

“Hahahaha...”  Sang Dopplerganger itu tertawa, menyadarkan Unnorman dari lamunannya. “Benar. Akulah Dopplerganger dari Timur Tengah!”
 
Bingkam mengerti sekarang. Ternyata pria yang Unnorman sebut Dopplerganger itu mengancam pengunjung warteg memakai nama Unnorman. Pantas saja mereka ketakutan ketika Unnorman mendekat. Bingkam juga menebak kalau pria itu juga yang mengirim surat ancaman itu. Dia harus memberitahukan hal itu kepada Pea dan yang lainnya agar mereka tidak takut.

“Sodara-sodara sekalian!” Bingkam mulai lagi dengan pidato khas Pak Lurahnya. “Kalian tidak perlu takut! Pria yang di sana itu hanyalah peniru murahan. Inilah Hansip Unnorman yang asli, dan dia siap melindungi kalian.”

Namun, tak ada jawaban dari mereka. Sepertinya mereka telah menerima teror yang sangat berat.

“Ayolah. Mengapa kalian begitu picik? Bukalah mata kalian! Pria ini penipu murahan, dia bahkan menggunakan topeng yang dia gambar sendiri!” Bingkam coba menyakinkan. Namun, tetap tak ada yang percaya. “Ayolah, Unnorman! Katakan sesuatu!” tambahnya, menepuk bahu Unnorman.

“Maaf! Saya saya Doplerganger, Unnorman yang itu.” kata  Sang Dopplerganger yang Bingkam kira Unnorman.

“Oh, maaf!” BIngkam menahan malu. “Kadang penglihatanku buruk. Kadang, saat bercermin, ku kira diriku seekor anjing.”

Sang Dopplergangger memutar bola matanya, bahkan di Di Dunia Gendheng, tempatnya meraih profesi Dopplerganger, tidak ada orang sebodoh mereka. “Hentikan omong kosong ini! Akan ku robek celana dalan mereka semua!” katanya, mempersiakan jari-jari tangannya. Hari ini dia akan membuat rekor merobek celana dalam tercepat.

Namun, Unnorman menghadangnya. “Tunggu! Setidaknya beri aku alasan mengapa kau mau merebut keberadaanku.”

Sang Dopplergangger meliriknya sinis, “Ihhh, Pede banget kamu ya. Siapa juga yang mau jadi kamu yang sudah bau tanah gitu. Paling-paling juga namamu sudah terdaftar di panti jompo neraka!”

Unnorman kembali bingung. Di tempat lain, Bingkam sudah berfoto-foto dengan gadis berbikini. Lumayan untuk kenang-kenangan. Sedangkan Hero sudah menyeret Pea ke dapur, memaksanya membuat lebih banyak Serabi Patty.

“Lalu mengapa kau menyamar menjadi aku?”

Sang Dopplerganger menggambar simbol marah—seperti yang bisa di pakai di anime-enime—pada topengnya, kemudian berkata, “Aku hanya mau menjelek-jelekkan namamu!”

“Tapi, kenapa?”

Sang Doppleranger memandangnya marah. Unnorman kagum dengan kemiripannya dengan Sang Dopplerganger ini, bahkan sampai ke bentuk ekspresi wajah. Sayang meraka harus bermusuhan. Seandainya tidak, mungkin mereka bisa membuat tim lawak atau mungkin boy band bersama.

“Apa kau tidak menyadarinya?” Sang Dopplerganger bertanya.

“Aku mencium aromanya, tapi tidak menyangka kalau kau yang kentut.”

“Bukan itu!” Sang Doplperganger bertambah murka.

“Lalu apa?” Unnorman tidak mengerti. “Jangan bilang kalau kau terlambat ke WC!”

“Bukan! Bukan Itu!” Sang Dopplerganger tampak sangat menderita. “Kenapa saya tidak jadi kepiting saja!” Lanjutnya frustasi.

“Makanya bicara yang jelas!” kali ini Unnorman yan jengkel. “Bicara perlahan-lahan. Tarik nafas, hembuskan. Tarik nafas, henbuskan. Dorong trus! Kepalanya sudah kelihatan...”

“Sialan! Kau kira saya mau melahirkan?” sang Dopplerganger benar-benar marah.

“Maaf! Jadi keasikan.”

“Baiklah! Akan kuceritakan! Tapi setelah itu, akan kurobek celana dalam kalian semua!” Para pengunjung warteg semakin takut, mereka berpelukan semakin erat, berharap masih bisa pulang dengan celana dalam.

Unnorman tidak mengerti, mengapa Dopplegangger ini begitu ingin merobek celana dalam? Mengapa dia tidak merobek hal lain saja? Mungkin dia bekerja sambilan sebagai penjual celana dalam atau semacamnya.

“Kau pasti sudah lupa. Tapi, aku sangat mengingatnya.” Sang Dopplerganger memulai ceritanya. “Dua puluh tahun yang lalu, saat saya masih kanak-kanak, saya bertemu kamu. Saat itu pendidikan saya belum sampai ke tingkat Dopplerganger, baru sampai ketingkat tuyul. Dan saat itu kita sedang ujian praktek mata pelajaran kewirausahaan. Ujiannya mudah, cukup mencuri gopek dari seorang manusia. Hampir saja saya lulus. Tapi, kau... kau...Oh, kenapa aku tidak terlahir sebagai kutu kasur saja!” Sang Dopplergangger tampak sangat frustasi. Dia bersujud sambil memukul-mukul tanah.


Unnorman mengingat-ingat kejadian itu dua puluh tahun lalu, “Oh, aku ingat! Kau tuyul yang kutangkap dulu itu?” senang dia bisa mengingat kenangan itu, “Yang ku robek celananya, lalu ku masukkan ke botol bir, kupaksa ngebor, dan ku upload di youtube itu?”

Beberapa pengunjung warteg tampak menahan tawa. Mereka masih mengingat video tuyul bugil yang dipaksa goyang ngebor itu.

Ekspresi sebal Sang Dopplerganger, membuat Unnorman yakin kalau dia benar, “Karenamu, aku mabuk selama seminggu, dan mendapat julukan Si Ngebor di duniaku. Sekarang kalian harus merasakan apa yang kurasa!”

Di akhir kalimatnya, Sang Dopplergangger merobek satu per satu celana dalam siapa pun yang ada di situ. Unnorman berusaha menghadangnya. Namun, tanpa pentungannya, dia bukan apa-apa. Dengan mudah Sang Dopplergangger berkelit dari pukulannya, kemudian merobek celana dalamnya.

Sang Dopplergangger tertawa terbahak-bahak melihat celana dalam robek bertebaran di tanah. Mereka yang lain tampak sangat sedih dan malu, kecuali Bingkam yang merobek celana dalamnya sendiri. Dia tampak bahagia. Melompat kesana-kemari, berjoget, dan menari, sebelum akhirnya mimisan dan pingsan karena nyaris kehabisan darah.

“Sekarang, warteg kurang ajar ini yang mau kuhancurkan!” kata Sang Dopplerganger. Dia membakar lima bom molotof, kemudian melemparkannya kedalam warteg Pea. Naas baginya. Dia tidak mengetahui kalau di dalam sana ada Hero yang sedang menodong Pea dengan tabung gas LPG 3kg agar membuat Serabi Patty lebih cepat. Ledakan Bom molotof itu membuat Hero kaget, sehingga tidak sengaja menelalan tabung gas.

Tabung itu meledak di Dalam perut Hero, membuat giginya rontok semua.

Dengan murka, Hero berjalan keluar, nenendang apapun yang menghalangi jalannya. Bingkam dan Unnorman yang sudah memprediksikan bahwa Hero akan mengamuk segera mengungsi. Jika Hero sedang marah begini, kawan pun akan dia jadikan sate.

“Siapa yang melempar bom molotof tadi?” tanya Hero sesampai di luar.

Semua telunjuk mengarah ke Sang Dopplegangger.

“Memangnya kenapa jika itu saya, huh?” Sang Dopplergangger menantang Hero. Di matanya, Hero hanya seorang bocah jelek yang belagu.

Hero tidak menjawab. Dia hanya mengeluarkan D1L DO-nya, kemudian mengancungkannya ke udara. Perlahan-lahan tubuhnya tumbuh beberapa kali lipat.

“Oh, Mama!” guman Sang Dopplerganger, sebelum diinjak Hero.

Sang Dopplerganger itu pun mengantri untuk berenkarnasi jadi cicak atau landak laut. Jika beruntung, mungkin impiannya untuk jadi kutu air bisa menjadi kenyataan.

                                                                                                      ***************


Di istana Nggakjaujauamat Kingdom, Lord Santetmord sedang frustasi berat. Bagaimana tidak, anak haram kesangannya telah tewas, chip pokernya habis, kandas di level tiga pada permainan Angry Bird, dan sekarang Cangcuto pun telah di kalahkan. Siapa lagi yang akan menemaninya main Pro Evolution Soccer nanti? Di tengah-tengah frustasinya itu dia mengambil laptopnya, membuka facebook, kemudianmeng-update status, “SeDih bUanGet hicks T .T”. Hanya berselang beberapa detik statusnya sudah di-like lima orang.

“Dasar para manusia rendahan! Mereka senang jika saya sedih!” katanya marah. “Harusnya mereka tidak suka!”

“Tapi tidak ada pilihan tidak suka di situ, Tuanku!” sembah salah satu pengawal. Dia dikutuk jadi Kiranti karena mengatakannya.

“Benar juga!” seru Santetmord. “Cari pembuat facebook, suru dia menambahkan pilihan tidak suka di facebook.”

Beberapa pengawal bersenjatakan tombak membungkuk kemudian berjalan keluar ruang tahta. Lord Santermord lalu membanting dirinya di kasur bergambar Winnie the Pooh. Kasurnya itu serasi dengan ruang tahta yang di hiasi gambar-gambar tokoh kartun Disney. Memang sejak kecil dia sudah jatuh cinta dengan tokoh-tokoh disney tersebut. Berbagai benda koleksi dia kumpukan. Mulai dari jam tangan bergambar Mikey Mouse, gelas bergambar Winnie the Pooh, sampai majalah PlayBoy yang memuat gambar Donal bebek bugil pun dia punya.

“Seandainya saja, kesehatan saya sudah membaik.” Lord Santetmord mendesah, “Aku benci jadi orang tua. Rematik ini benar-benar menyiksa, perlu dua bulan purnama lagi untuk menyembuhkannya.” Lanjutnya, menyuruh beberapa pelayan memijit kakinya.

Tak lama setelahnya, seseorang masuk ke ruang tahta. orang itu memakai jubah bertudung sehingga menyembunyikan wajahnya dalam bayang-bayang. Namun, para pengawal yang berada di ruangan itu tahu siapa pria itu. Hanya dia yang memiliki aura menyeramkan yang hampir setara dengan Lord Santermord.

Santermord tersenyum melihat kedatangannya, “Ahh, kau sudah pulang rupanya. Apa kau sudah mendapatkan informasinya?”

Pria itu menggeleng, “Dia masih berada di Kutang Bottom. Namun, sayang sekali saya tidak bisa memastikan kemana tujuan berikutnya.”

Lord santetmord mendesah kecewa, “Rupanya mantra si tua bangka Mak Kampret kuat juga. Bahkan mantra pelacak terkuat kita tidak bisa melacak anak bodoh itu!”

Pria bertudung mengiyakan. Mantra yang dirapalkan Mak Kampret waktu itu bukan mantra sembarangan. Itu adalah salah satu mantra pelindung terkuat yang akan mengorbankan nyawa perapalnya. Namun, sekuat apapun mantra pelindung itu, tak ada yang bisa menangkal kutukan Avada Kedavra. Hanya saja, kutukan Avada Kedavra memiliki efek samping. Setiap kali merapalkannya, maka hidung perapal kan bertambah pesek. Itulah mengapa Lord Santetmord memiliki hidung yang sangat pesek.

“Lalu apakah kau sudah mengetahui posisi warisan yang lain?” Lord santetmord kembali bertanya.

Pria bertudung menggeleng, “Sayang sekali, belum!”

Lord santermord mendengus marah, kemudian mengutuk salah satu pengawal menjadi tisu toilet. “Jadi kita benar-benar tidak bisa mengeroyok bocah itu.” Lord Santetmord kecewa. Andai saja mereka tahu kemana tujuan bocah itu selanjutnya, mungkin dia bisa mengutus seluruh pasukannya ke tempat itu. “Lalu mengenani bocah yang satunya lagi, apa dia sudah mau membantu?”

Pria bertudung kembali menggeleng, “Dia belum mau membantu, bahkan memberi kita masalah baru, Tuanku. Kudengar dia sudah meng-impotenkan lima penjaga penjara kita. Dia mengancam akan melakukan hal yang sama pada seluruh penghuni kastil, jika tidak dibelikan Marijuana!”

Lord Santetmord bergidk. Kekuatan bocah itu memang mengerikan. Dia tidak mau impoten, apalagi gunanya hidup jika sudah terkena penyakit itu, “Turuti saja kemauannya! Bocah itu akan berguna untuk kita, aku tidak mau membunuhnya sekarang.”

“Baik, Tuanku!” Pria itu masih bergeleng-geleng.

“Baiklah kalu begitu—kenapa kau terus menggeleng?”

“Oh, Maaf, Tuanku! Aku sedang mendengaran lagu terbaru Saikoji. Keren! Tuan mau mendengarnya?” Pria itu menawarkan salah satu headset yang dia kenakan.

Lord Santetmord menolak, “Sebenarnya aku lebih senang lagi dangdut. Sudah dengar lagu ‘Salah? Alamak!’ yang dinyanyikan  Ayu Sing Thing?”

Pria bertudung menggeleng, entah karena belum dengar atau kerena lagunya.

“Baiklah kalu begitu. Siapakan saja beberapa mata-mata untuk memantau jejak mereka!” suruh Lord Santetmord.

Pria itu mengiyakan kemudian beranjak pergi meninggalkan Lord Santetmord yang mulai bersenandung.

Dimanaaaa... dimanaaaa... dimanaaaa...

Ku haruuuuus mangkalnya di manaaaa....


Bersambung...
 

Read previous post:  
39
points
(2360 words) posted by Shikamaru 10 years 1 week ago
65
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | komedi | 17+ | aneh | HERO | parodi | petualangan
Read next post:  
90

ngakak baca bagian donal bebek bugil hahahahaaa

100

Ahahahaha....!!

hahahahahaha juga ^^

Hahahaha... makasih dah mampir...

60

Mampir cuma bwt komen judulnya.
Bukan Doplerganger tapi Doppelganger
Tapi kalo emang maksudnya mengarah pada orang ganda.

Waaa... segera diedit...

70

lanjutkan ...
*Ngakak abis*

Oke...

Makasih dah mampir...

same-same