Selamat Datang di Alam baka

Pernahkah kau tersesat di antara kegelapan pekat dan cahaya terang benderang, begitu putus asa, buta arah, dan kesepian sehingga berharap itu hanya mimpi buruk dan akan cepat bangun, sepertiku saat ini?

Tempat ini begitu kosong, tanpa suara, dan kehidupan. Ke mana pun aku melangkah, hanya warna kelabu sehingga aku merasa tetap berjalan di tempat yang sama. Aku tak mengingat siapa diriku, asalku, dan mengapa aku ada di sini. Memoriku seakan tertelan dunia monokrom ini.

Putus asa, aku menjatuhkan diri dan membenamkan kepala di kedua lutut. Apa aku sudah mati? Seperti inikah dunia setelah kehidupan?

Di tengah kegalauan, telingaku menangkap bunyi lain. Kuhentikan tangisku untuk mendengarkan. Suaranya… seperti langkah kaki, kedengarannya mendekat.

Perlahan kuangkat kepala dan mendapati seseorang berjalan ke arahku dengan jubah kelabu panjang melapisi seluruh tubuhnya serta tudung kepala lebar menutupi wajah. Ia berhenti tepat beberapa langkah di depanku. Kami terdiam, berusaha mengidentifikasi satu sama lain. Usahaku tak berhasil, selain karena tudung lebarnya, aku bahkan tak dapat mengingat diriku, bagaimana mungkin aku mengenali orang lain?

Beberapa saat kemudian, ia berbicara dengan suara yang terdengar dalam, lembut, tapi menyimpan kekuatan.

“Selamat datang di dunia antara kehidupan dan kematian…”

Tubuhku menegang. Kematian?

“Belum, kau belum mati.” Ia seakan dapat membaca pikiranku. “Ini adalah tempat di mana seseorang dengan keraguan singgah untuk memutuskan jalan yang akan ia ambil.”

Aku menatapnya dengan pandangan tak pasti. Apa ia berkata bahwa aku berada di sini karena terombang-ambing antara kematian dan kehidupan?

Namun ia menyodorkan telapak tangannya di hadapanku seakan menunggu untuk kusambut. “Aku akan menjelaskan semuanya.”

Entah apa yang kupikirkan saat melihat tangan pucatnya yang separuh ditutupi lengan jubah hingga meraihnya tanpa pikir panjang. Telapak tangan itu dingin, namun—entah bagaimana—ada rasa aman di baliknya.

“Tutup matamu dan jangan membukanya sebelum kuperintahkan.” Katanya.

Dengan patuh aku menutup mata dan berdiri diam. Entah berapa lama waktu yang sudah kulewatkan dalam kebisuan ketika ia berkata, “Bukalah.”

Kusapukan pandanganku dan menyadari kami berada di depan sebuah gerbang baja hitam yang berdiri kokoh. Ada dua makhluk dengan jubah hitam menutupi seluruh tubuh mereka sedang menjaga di kedua sisi gerbang sambil memegang sebuah schyte yang melengkung mengerikan. Aku terdiam ragu saat mereka membuka gerbang itu, tapi dengan lembut Si Jubah Abu-Abu menuntunku masuk.

Di dalamnya, hawa panas langsung menyelimutiku. Baru kusadari kami sedang berjalan di sebuah jembatan batu kecil yang melintang di atas aliran sungai lahar dengan jilatan lidah api dari permukaannya. Di depan kami terlihat sebuah dataran yang sangat besar dengan semburan-semburan panas mendobrak tanah dan mengeluarkan banyak uap kelabu tebal dan menyesakkan. Kuangkat wajahku ke atas dan mendapati langit oranye kemerahan alih-alih berwarna biru.

Saat itulah Si Jubah Abu-Abu menghentikan langkahnya dengan dramatis. “Selamat datang di neraka. Tempat di mana para pendosa disambut dalam kehinaan dan dikutuk selamanya untuk berada dalam kesakitan…”

Aku menoleh dengan sedikit ekspresi tegang.

“Kenapa kau membawaku kemari? Apa aku adalah seorang pendosa?”

“Belum bisa dipastikan, kau masih berada antara kehidupan dan kematian.”

Setelah mengatakan itu, ia menjentikkan jarinya dan semburan erupsi panas dari bawah tanah itu berhenti serempak. Kuyakinkan diriku sendiri bahwa erupsi itu tak akan tiba-tiba menyembur dan memanggangku ketika melangkah di atasnya, lalu berjalan bersama Si Jubah Abu-Abu.

Ia membimbingku melewati tiap semburan lahar panas dan bola-bola api yang tiba-tiba menjatuhi kami. Tidak tahu ke mana ia akan membawaku, tapi aku tak ingin bertanya dan berharap semua akan jelas nanti.

Kami kemudian berhenti di mulut beberapa gerbang besar yang kokoh dan misterius. Gerbang itu tinggi sampai ke langit, disusun dari besi hitam berduri, dan masing-masing dijaga makhluk yang sama seperti di gerbang utama.

 “Gerbang apa itu?” Tanyaku.

“Di sinilah, para pendosa disiksa.” Jawab Si Jubah Abu-Abu. “Tiap gerbang untuk tiap dosa dengan tujuh siksaan berbeda.

“Siksaan pertama untuk para prostitutor, dipimpin Asmodeus. Siksaan kedua untuk orang-orang yang berlebihan dalam memakan makanannya, dipimpin Beelzebub. Siksaan ketiga untuk orang-orang tamak, dipimpin Mammon. Siksaan keempat untuk para pemalas, dipimpin Belphegor. Siksaan kelima untuk orang-orang yang senantiasa iri hati, dipimpin Leviathan. Siksaan keenam untuk orang-orang yang tak dapat menahan emosinya, dipimpin Satan, dan siksaan yang ketujuh bagi para orang-orang yang menganggap dirinya tinggi dan hebat, dipimpin Lucifer.”

Aku tertegun mendengarnya. “Seburuk apakah siksaan-siksaan itu?”

“Lebih buruk dari yang bisa kau bayangkan…” Jawabnya mantap. “Manusia yang memiliki lebih dari satu dosa, akan disiksa di dalam gerbang berlainan secara bergantian, sesuai dengan dosa yang ditanggungnya. Selalu berputar, dalam keabadian menyakitkan.”

Ia mengalihkan kembali pandangannya ke arahku. “Tenang, kau tidak masuk ke sana. Itu bukan tempatmu,” tegasnya, “belum…”

Dalam diam aku memandangnya waswas. Perkataan ‘Itu bukan tempatmu, belum.’ Dapat  berarti, ‘suatu saat nanti kau pasti akan masuk ke dalam sana.’

 “Kita harus pergi.”

 

-o0o-

 

Pemberhentian selanjutnya sangat berbeda. Alih-alih dunia panas seperti perut gunung berapi tadi, kini kudapati kami berdiri di sebuah pijakan empuk seperti bantal yang sangat lebar, berwarna putih bersih, dengan langit kuning lembut yang bersinar bersahabat.

Sebuah gerbang tinggi dan terbuat dari emas membentuk liukan dan ornamen indah berdiri tegak di depan kami. Berbeda dengan neraka, makhluk-makhluk yang berjaga di depan gerbang tidak memakai jubah hitam, melainkan jubah putih bersih. Mereka memegang tongkat panjang dengan bulan sabit dan gelang-gelang besi di ujungnya yang mengeluarkan bunyi gemerincing riang ketika digerakkan.

Si Jubah Abu-Abu kembali membimbingku mendekati gerbang, dan seperti sebelumnya, kedua makhluk berjubah putih itu membukanya begitu kami mendekat.

Sambil berjalan, kubiarkan mataku merengguk pemandangan yang terhampar. Padang pasir, kau mungkin pernah mendatanginya dan padang rumput mungkin bukan tempat asing bagimu. Tapi padang awan dengan kabut tipis beraroma mint yang naik hingga mata kakimu?

 “Inilah Surga…” Gumam Si Jubah Abu-Abu, lebih kepada dirinya sendiri, bukan kepadaku.

Ah, seharusnya aku segera mengetahuinya! Tempat ini begitu tenang, indah, dan damai. Bahkan bunga-bunga dan rerumputan warna-warni yang menyembul dari bawah awan itu terlihat menari gembira. Begitu berbeda dengan tempat sebelumnya yang dipenuhi aroma kebencian, kepedihan, dan penderitaan.

“Jika berjalan lebih jauh, akan ada tujuh gerbang emas yang berdiri. Sama seperti di neraka, gerbang ini pun merupakan tingkatan-tingkatan bagi tujuh kebaikan berbeda dengan bahan penyusun yang berbeda pula. Surga dari emas untuk orang yang taat beribadah, intan putih bagi yang  membalas kejahatan dengan kebaikan, perak putih bagi yang bertakwa kepada-Nya, jamrud hijau bagi yang mampu menahan hawa nafsu, yakut merah bagi yang memperhatikan ayat-ayat kitab-Nya, permata putih bagi orang yang bersyukur atas berkah yang diberikan padanya, dan marjan kuning bagi orang yang taat menjauhi larangan dan mengerjakan perintah-Nya.

“Setiap makhluk yang masuk ke dalamnya akan dijamu dengan kenikmatan abadi.”

“Apakah aku akan masuk ke dalam salah satunya?”

“Hanya Sang Pengatur Semesta-lah yang dapat menjawabnya. Ia akan menimbang perbuatanmu dengan adil dan memasukkanmu ke tempat yang tepat.”

Aku terdiam, sibuk dengan pikiranku sementara kami berjalan pelan di tengah padang awan luas dan seakan tanpa ujung itu.

“Aku bahkan tidak tahu apakah aku mati atau hidup, tapi kau sudah membawaku ke neraka dan surga. Apa kau, atau Sang Pengatur Semesta akan membiarkanku terombang-ambing dalam dunia tanpa kepastian?”

“Sesungguhnya, yang dapat menentukan di dunia mana ia akan berada, hanya orang itu sendiri. Hanya dirimu sendiri.”

“Bagaimana caranya?”

“Hanya tinggal memilih antara hidup dan mati.”

“Aku bahkan tidak ingat diriku sendiri, bagaimana aku tahu mana yang harus kupilih?”

Si Jubah Abu-Abu membelokkan pandangannya ke arahku. Bahkan walau tak bisa melihat matanya, aku tahu ia sedang menatapku dalam.

“Kalau begitu, untuk yang terakhir kali, tutup matamu.”

 

-o0o-

 

“Bukalah.”

Yang kulihat pertama kali ini adalah bayangan seorang gadis muda berambut ikal, berkulit pucat, dan memakai gaun putih polos sepanjang betis. Di sebelah gadis itu berdiri seseorang dengan jubah abu-abu. Butuh beberapa lama bagiku untuk menyadari bahwa gadis yang pertama kupandang itu adalah diriku sendiri, dan bayangan Si Jubah Abu-Abu itu adalah orang yang sama dengan yang berdiri di sampingku. Kuulurkan tanganku ke depan dan menyadari kami sedang menghadap sebuah cermin besar.

“Ini adalah cermin kehidupan…” Gumam Si Jubah Abu-Abu.

Kupicingkan mata untuk meneliti cermin itu. Tak ada yang istimewa kecuali bingkainya yang penuh liukan-liukan benda angkasa dan manusia bersayap.

“Kau dapat melihat hidupmu—masa kecil, masa kini, dan masamu yang akan datang—dalam cermin ini.”

“Dengan ini, apakah aku dapat mengetahui siapa diriku dan bagaimana hidupku?”

Si Jubah Abu-Abu mengangguk. “Hanya, kau tidak bisa melihat masa depan. Masa depan adalah milik Sang Pengatur Semesta. Jika kau melihat tanpa izin-Nya, keseimbangan dunia akan terganggu.”

Selesai mengatakan itu, ia mengulurkan telapak tangan pada cermin itu. Dengan kibasan pelan, cermin yang tadinya bening mulai mengeruh seakan diisi asap berwarna di baliknya. Bayangan kami mengabur, digantikan bayangan lain yang semakin menjelas.

Aku tersentak ketika menyadari gambar apa itu. Seorang gadis kecil berambut pendek dalam gaun kotor, sedang menangis di pojok ruangan gelap sendirian. Masa kecilku...

Bayangan-bayangan itu mulai berganti membentuk sebuah cerita berurutan. Cermin itu seolah telah beralih fungsi menjadi televisi layar datar, di mana aku dapat melihat rekaman kehidupanku. Memori yang semula tersapu bersih itu kembali terisi lagi.

Kini aku ingat, aku adalah Ailene. Gadis tunggal milik Abigail dan Pierre Harris. Kedua orangtuaku selalu bertengkar hebat dan ibuku meninggal ketika umurku lima belas tahun. Ayahku membunuhnya ketika pulang dalam keadaan mabuk dari pesta minum-minum. Ayahku dipenjara, aku kemudian dibawa ke tempat penampungan anak. Keluarga yang mengadopsiku ternyata hanya menjadikanku budak. Menganiayaku, menyiksaku, hingga akhirnya aku tak tahan dan kabur untuk hidup di jalanan.

Seorang pria melihatku kemudian mempekerjakanku di barnya sebagai pelayan yang mengantarkan bir bagi para pemabuk. Namun saat mereka mulai menyentuhku, aku ketakutan. Kulempar baki berisi botol minuman keras itu kepada mereka dan berlari dari sana. Mereka mengejarku. Tapi langkahku terlalu lambat sehingga mereka mendapatkanku dan menarikku masuk kembali lalu mendorongku ke dalam sebuah ruang dan menguncinya. Hanya ada kami berempat di keremangan ruang itu dan mereka mendorongku begitu kasar ke sofa sambil tertawa puas.

“Hentikan!!” Seruku gemetar. Aku membuang muka dari cermin.

Keringat dingin keluar dari seluruh tubuhku dan kepalaku kembali dijalari depresi. Aku ingat semuanya. Aku ingat saat mereka bertiga mencekokiku dengan banyak tablet berwarna-warni di atas sofa empuk dalam keremangan kamar itu. Yang terakhir kuingat hanyalah sakit kepala hebat, tubuh yang gemetar kuat dan pandangan yang semakin mengabur.

            “Aku sekarat karena overdosis…” gumamku pilu.

            Si Jubah Abu-Abu terdiam sementara aku menangisi nasibku. Kemudian di tengah aliran air mataku, sebuah pikiran menyeruak dan membuatku menghentikan senggukan. “Aku tidak mau kembali…” Gumamku sambil melirik cermin itu yang menunjukkan gambar diam, seperti acara TV yang di-pause. “Biarkan aku tetap berada di sini, di mana pun Sang Pengatur Semesta memasukkanku…”

            Si Jubah Abu-Abu sedikit menelengkan kepala mendengar pernyataanku. “Kau lebih memilih hidup di dunia ini ketimbang kembali ke dunia nyatamu?”

            Aku mengangguk mantap. Tanpa ada keraguan atau sedikit pun keinginan untuk kembali. “Aku memilih kematian.”

            Si Jubah Abu-Abu membalas, “Ada beberapa yang harus kau tahu sebelum memutuskan. Dunia ini tidaklah semudah yang kau bayangkan. Bahkan walau di surga, kau akan sendirian, dan tanpa bekal yang cukup, kau hanya akan mendapatkan keabadian kosong, bahkan keabadian yang penuh kesakitan—jika kau berada dalam neraka. Sedangkan di dunia nyata, kau bisa mendapatkan harapan di mana pun. Selalu ada kemungkinan dan kesempatan.”

            Aku menggeleng mantap tanpa keinginan untuk berpikir kembali. Ya, mungkin pikiranku sudah dibutakan keputusasaan.

            Si Jubah Abu-Abu terdiam sebentar dan mengangguk. “Jika sudah memutuskan, aku akan mengambil separuh jiwa di tubuhmu yang tergeletak di dunia nyata agar kau dapat menghadap Sang Pengatur Semesta dan Dia akan memutuskan neraka atau surga yang akan kau masuki.”

            Aku mengangguk pasrah.

            “Tapi sebelum itu, apakah permintaan terakhirmu?”

            Aku tertegun. “Permintaan terakhir?”

            “Ya, untuk memudahkanku mencabut sisa jiwamu di dunia sana. Jika urusan seseorang di dunia nyata belum terselesaikan, sebagian jiwanya akan terus melekat di sana, terjebak dalam raga yang telah mati.”

            “Seperti… arwah penasaran?”

            Dia mengangguk.

            Sekali lagi aku terdiam. Hanya satu yang kuinginkan, cepat-cepat mengakhiri hidup ini… Namun sekonyong-konyong aku tersentak.

            “Aku tahu …”

            “Katakan,” balasnya singkat.

            “Ada dua hal,” Aku bergumam. “Pertama, di balik tudung abu-abu itu, sebenarnya siapa dirimu?”

            Terdiam sebentar, Si Jubah Abu-Abu kemudian terkekeh dan membuka tudung yang menutupi wajahnya secara dramatis. Aku terenyak. Wajah itu… wajahku.

            Kubalikkan tubuh menghadap cermin yang memantulkan bayangan dua orang gadis kembar dengan pakaian berbeda. Satu dengan gaun polos dan lainnya dengan jubah abu-abu. Ia ikut menghadap cermin dan memandang pantulan di sana.

“Aku adalah dirimu…” Ia berkata sebelum aku dapat membuka mulutku. “Di saat seorang bayi dilahirkan di dunia nyata, pada detik itu juga dirinya di alam baka tercipta. Mereka tumbuh bersama-sama lalu saat Dirinya yang Nyata mati dan mereka bertemu, Dirinya di Alam Baka bertugas menjadi pembimbingnya,”

Ditatapnya pantulan diriku, “dan aku adalah pembimbingmu.”

Aku balas memandang lewat pantulan di cermin. “Jadi kau bukan malaikat pencabut nyawa?”

Ia menggeleng pelan. “Mereka yang tak mengetahuinya menganggap kami makhluk semacam itu, padahal yang ia bicarakan adalah Dirinya di Alam Baka.”

            Satu pertanyaanku terjawab.

            “Sekarang, apa permintaan keduamu?” Sambar Diriku yang berjubah abu-abu.

            Aku kembali menatap pantulan di cermin. Ada kebencian yang terbalut gairah membara di mataku. Senyumku mengembang membentuk sudut-sudut runcing yang kejam.

            “Aku ingin kau melakukan sesuatu…”

 

-o0o-

 

            Di kegelapan gang kecil yang diapit restoran cepat saji dan toko mebel, tiga orang pria duduk sambil berbicara parau. Mata sayu mereka menatap tidak terfokus. Bau alkohol kuat menguar ketika sesekali salah satu dari mereka tertawa keras atas candaan kotor yang terlontarkan.

            “Gadis itu benar-benar lemah, eh? Baru beberapa berhasil melewati kerongkongannya dan dia tergeletak penuh busa…” Ucap salah satu pria sambil tertawa. Kedua pria lainnya mengangguk dan menimpali dengan semangat sambil meneguk minuman dari botol hijau kotor yang mereka genggam.

            Kemabukan membuat mereka tak menyadari bahwa kegelapan itu mulai terusir oleh sebuah portal bersinar merah gelap yang muncul tak jauh di belakang. Seseorang keluar dari dalam sana, menginjak ketenangan dengan aura kegelapan yang dibawanya.

            Si Jubah Abu-Abu melangkah—melayang, tepatnya—pelan dari dalam portal. Berhenti sebentar untuk meneliti keadaan dan menghentikan matanya pada ketiga pria yang setengah berbaring sambil mabuk-mabukan. Seringai terbentuk di bibirnya dan ditariknya tudung jubahnya hingga menutupi wajah, lalu, sambil mengayun-ayunkan scythe besar di tangan kirinya, ia melayang perlahan mendekati mereka.

            Ekor mata salah satu pria mabuk itu tak sengaja menangkap Si Jubah Abu-Abu. “Man… Rupanya aku mabuk terlalu banyak malam ini…” Ia tertawa keras dengan suara parau. “Aku sampai berhalusinasi tentang makhluk yang melayang dengan sabit besar…”

            Satu pria mabuk lainnya menoleh dan memicingkan pandangannya pada Si Jubah Abu-Abu. “Hei, aku bisa melihat halusinasimu!” Ia berseru dengan ekspresi tertarik. “Tapi seperti bayangan wanita cantik yang biasa menghampiri kita saat mabuk, bayangan makhluk ini pun pasti akan menghilang…” Gumamnya kecewa. Dilemparkannya botol alkohol ke arah Si Jubah Abu-Abu. Berpikir dengan begitu halusinasinya akan buyar dan makhluk yang ia lihat akan menghilang.

            Namun dengan cepat Si Jubah Abu-Abu menebas botol itu dengan sabit besarnya sehingga alkohol di dalamnya memancar ke mana-mana, sebagian membasahi ketiga pria mabuk yang langsung terlonjak kaget itu.

            “Aku ditugaskan untuk membunuh kalian…”

            Mata ketiga pria itu membelalak lebar, syok.

            Sebelum ada yang dapat membuka mulut, sabit besar itu melintang di leher ketiganya. Begitu cepat, hingga kepala terputus dari leher sebelum mereka sempat bernapas untuk terakhir kali. Darah segar memancar dari pembuluh besar di leher mereka. Semburan merah pekatnya membasahi potongan tubuh, tanah tempat mereka tadinya berpijak, tong sampah-tong sampah dengan isi yang hampir melimpah ke luar dan merusak grafiti yang terlukis di tembok sekitar sementara aroma amis menguar  membuyarkan bau busuk dari kontainer sampah milik restoran di sebelahnya.

            Si Jubah Abu-Abu memandang dingin hasil tebasan sabitnya dan melayang menjauh dari sana, kali ini dengan kecepatan maksimun sehingga manusia yang berpapasan dengannya berpikir melihat rambatan petir di tengah malam.

            Tugasnya belum selesai.

 

-o0o-

 

            Seseorang meringkuk di atas balok semen tinggi yang melekat di lantai. Bantal dan selimut kumal dengan banyak robekan yang tergeletak di atasnya menjelaskan bahwa balok semen itu berfungsi sebagai tempat tidur. Janggut dan kumis pria itu tumbuh tak terurus. Matanya yang nyalang penuh kebencian terarah ke luar selnya.

            Sudah berapa lama ia ada di sana? Beberapa tahun, mungkin. Tak ada yang bisa dinikmatinya di tempat itu kecuali kekerasan yang dilakukan para sipir, berita tentang tahanan yang melarikan diri atau program rehabilitasi, yang tak menghasilkan apa-apa. Rasanya begitu hampa dan aroma depresi yang menguar pekat di tempat itu nyaris membuatnya gila.

            Oleh karena itu ia lantas melompat kaget saat melihat Si Jubah Abu-Abu menembus dalam selnya. Bertanya-tanya, nyatakah ini? Atau apakah pada akhirnya tempat ini berhasil membuatnya gila?

            “Aku ditugaskan untuk membunuhmu…” Gumam Si Jubah Abu-Abu.

            Pria itu melotot, mengucek matanya untuk meyakinkan ini bukanlah khayalan semata. Namun belum sempat membuka mata, seperti sebelumnya, Si Jubah Abu-Abu mengayunkankan sabitnya mantap dan memisahkan kepala pria itu dari badannya.

            Sel kecil itu diciprati darah segar dari sang tahanan. Bau amis kini bercampur dengan bau apak pertanda ruang itu tak pernah terkena matahari. Si Jubah Abu-Abu mengangguk dan menghilang kembali ke portalnya, meninggalkan potongan tubuh dan kepala yang tergeletak mengenaskan.

 

-o0o-

 

            Aku memonitor dengan puas dari dalam cermin kehidupan. Dendam telah terbalaskan. Ketiga pria—yang telah membuatku sekarat dengan tablet-tablet terkutuk mereka—dan ayahku—yang telah membunuh ibu, telah mati dengan indah. Aku tak kuasa menahan tawa senang yang meledak dari dalam perutku. Tergelak dengan penuh kepuasan hingga air mata menggenangi pelupuk mataku dan perutku merasa terpilin.

            Portal tempat Si Jubah Abu-Abu tadi berpindah alam, muncul di sampingku. Ia keluar sambil mendorong kembali tudungnya ke belakang dan menatapku dengan datar.

            “Permintaanmu telah terlaksana…” Katanya. “Sementara aku mengambil separuh jiwa di ragamu, sebaiknya kau bersiap untuk menghadap Sang Pengatur Semesta. Taruhan, neraka Satan untuk Sang Pembunuh…”

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer luna.love
luna.love at Selamat Datang di Alam baka (8 years 45 weeks ago)

Ceritanya keren banget. Pembunuh bertangan dingin. Gak ada jeda untuk kematian.

Waw..

Writer kyuukou okami
kyuukou okami at Selamat Datang di Alam baka (8 years 43 weeks ago)

makasih ^^

Writer luna.love
luna.love at Selamat Datang di Alam baka (8 years 43 weeks ago)

Mampir2 ke tempatku ya

Writer deathly_hymn
deathly_hymn at Selamat Datang di Alam baka (8 years 45 weeks ago)
80

dan siksaan yang ketujuh bagi para orang-orang yang menganggap dirinya tinggi dan hebat, dipimpin Lucifer.” << aku tambahkan .... "...Lucifer si Baphomet."

Writer kyuukou okami
kyuukou okami at Selamat Datang di Alam baka (8 years 43 weeks ago)

Baphomet??
0.0

Writer Mr_ebro.arif
Mr_ebro.arif at Selamat Datang di Alam baka (8 years 47 weeks ago)
80

sadiissssss....

Writer chalida2
chalida2 at Selamat Datang di Alam baka (9 years 9 weeks ago)

judul nyaa seremmm :D

Writer Karra_Giovanny
Karra_Giovanny at Selamat Datang di Alam baka (9 years 9 weeks ago)
80

woaaaaahhh..... keren.....
saya suka yang temanya kematian gini...
apa yang kita perbuat di dunia akan kita tuai saat pengadilan terakhir kelak....
say suka moral yang terkandung di sini.
like this. hohoho....
salam kenal semuanya.....

Writer kyuukou okami
kyuukou okami at Selamat Datang di Alam baka (8 years 43 weeks ago)

Arigatou mau mampir.
salam kenal juga ^^

red_rackham at Selamat Datang di Alam baka (9 years 19 weeks ago)
80

(O____O)
.
(o__<)b
.
Saia suka baca (dan bikin) cerpen yang di akhirnya si MC terkena sesuatu yang buruk.

Writer kyuukou okami
kyuukou okami at Selamat Datang di Alam baka (9 years 19 weeks ago)

*tos kak RR*

dan saya lebih suka lagi kalo si MC berperan jadi protagonis xD

Writer kyuukou okami
kyuukou okami at Selamat Datang di Alam baka (9 years 19 weeks ago)

aish, typo.. Maksudnya antagonis=.=

Writer Erick
Erick at Selamat Datang di Alam baka (9 years 20 weeks ago)
100

hmm, sepertinya aku punya saingan nih...
hehe bercanda... ^^v

cerita mati suri, ya? di tengah2 aku ngerasa kasian sama si gadis karena kehidupannya di masa lalu. namun akhirnya, ia malah kena batunya sendiri...
meski adegan mati si ayah begitu cepat, kesemuanya benar2 menark...
.
begitulah, sekian! ^^

Writer kyuukou okami
kyuukou okami at Selamat Datang di Alam baka (9 years 19 weeks ago)

Iya, antara hidup-mati gitu deh.

Iya ya, bagian pas ngebunuh ayahnya kurang dapet feelnya ya? Kayaknya saya lemah banget di bagian penutupan karena selalu ketauan pengen buru2 selesainya.. orz

Writer shin_nirmala
shin_nirmala at Selamat Datang di Alam baka (9 years 20 weeks ago)
80

keren...

Writer Dedalu
Dedalu at Selamat Datang di Alam baka (9 years 20 weeks ago)
90

'Bagian 1', yang ditunjukkan surga dan neraka, seperti peristiwa isra' miraj :D wkwkwk :D

kalau menurut saia sih, bagian sadisnya 'mengganggu' pesan moral yang terdapat ditengah. hohohoho, *sotoy banget saia*
wkwkwkwk :D
dan kenapa dengan mudahnya si Gandalf eh, si Jubah Abu-Abu mematuhi keingingan si perempuan untuk mengakhiri hidup 4 orang itu?
iya sih, si Gandalf harus mematuhi keinginan si perempuan?
'Gandalf' itu kan 'alter ego'nya si perempuan, bukan tuhan atau malaikat maut, ?
hohohoho :D

Writer kyuukou okami
kyuukou okami at Selamat Datang di Alam baka (9 years 19 weeks ago)

Jadi gini lho, sebenernya tugas si jubah abu2 itu lebih ke 'menunjukkan' semua yang berhubungan dengan alam baka sana. Semua yang berhubungan dengan keinginan si cewek itu diluar kuasanya.

Sengaja saya buat kayak gitu
biar dia ada batasan jelas
antara apa yang bisa dia lakukan dan yang tidak. Intinya sih, semua yang ada di sana bergantung sama individu hidupnya sendiri. Dia yang memutuskan akan kayak apa hidupnya dan orang lain enggak bisa ikut campur saat dia mesti nentuin pilihan, bahkan pendampingnya di alam baka skali pun. Dia cuma bisa ngelaksanain hasil pemikiran 'majikannya'

Dan dari pada Gandalf,sebetulnya yang saya bayangin pas ngetik tentang Si Jubah Abu-abu ini adalah imej anggota Organization XIII. Yang main game Kingdom hearts pasti tau kayak gimana.

By the way, makasih laz mau mampir!^^

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Selamat Datang di Alam baka (9 years 20 weeks ago)
70

Sadis... dan kau mengeksekusi ceritanya dengan sangat bagus. Salut :)

Writer jiwa sompral
jiwa sompral at Selamat Datang di Alam baka (9 years 20 weeks ago)
80

mantab aja laaaah!!!!! gw kebetulan suka cerita kayk gini jg, jd imajinasiku semakin tampak dgn ngebaca tulisan ini. thank anyway....

Writer wiedya_sweed
wiedya_sweed at Selamat Datang di Alam baka (9 years 20 weeks ago)
90

wew.. sadis.. (.__.V)

Writer cloekz
cloekz at Selamat Datang di Alam baka (9 years 20 weeks ago)
80

akhir2 ini banyak yang posting cerita2 sadis ya?

Writer kyuukou okami
kyuukou okami at Selamat Datang di Alam baka (9 years 20 weeks ago)

ahaha, ini emang genre kesukaan saya kok ^^

makasih mau mampirXD