Marrying a Stranger--Husband and Wife

 

3. Husband and Wife
 
“Ayolah, Rion, senyum sedikit!”
 
Rion mengangkat sedikit ujung-ujung bibirnya sebelum kemudian kembali menekuknya. Siapa juga yang bisa tersenyum pada saat seperti ini?
 
Dia benar-benar kelelahan. Baik psikis maupun fisiknya.
 
Sudah hampir tiga minggu terakhir ini dia kurang tidur. Tugas-tugas kuliah, ujian semester dan persiapan pernikahan jelas merupakan hal-hal yang menguras habis tenaganya. Dan sekarang ibunya memintanya untuk tersenyum?! Di hari pernikahan yang bahkan tidak diinginkannya?! Ibunya pasti sedang bercanda.
 
Sekilas ia melontarkan padangannya ke pojok ruangan.
 
Meliora yang duduk di sana tampak memainkan salah satu pita gaun hitamnya dengan gemas. Gadis itu jelas tidak begitu senang memakai pakaian formal, tapi kenyataan bahwa gadis itu tetap memilih untuk mengenakan pakaian itu dan menjadi bridesmaid-nya benar-benar membuat Rion tersentuh. Dia benar-benar membutuhkan keberadaan gadis itu di sini untuk memberinya sedikit ketenangan. Bagaimanapun juga dia membutuhkan sebanyak mungkin ketenangan untuk meredam perasaannya yang kini meledak-ledak.
 
Sebuah ketukan kecil di pintu langsung membuat Rion menegang di tempatnya. Ketukan itu adalah tanda bahwa prosesi semua acara ini akan segera dimulai. Ketukan itu juga adalah tanda bahwa beberapa saat lagi, ia akan resmi menjadi isteri orang. Sesuatu yang belum apa-apa sudah membuatnya ingin melarikan diri.
 
Wedding March, in C major, ciptaan Felix Mendelssohn. Rion dapat mengenali dengan tepat judul dari lagu yang menyelinap masuk melalui celah pintunya. Sambil mengambil nafas panjang dari mulutnya, Rion berdoa. Berdoa semoga semua ini tidak perlu terjadi, dan begitu membuka matanya ia hanya akan menemukan bahwa semua ini hanya mimpi.
 
Tapi semua ini memang bukan mimpi. Ayahnya kini sudah berada di ruangan itu, dan bersama dengan ibunya, mereka kemudian menurunkan cadarnya hingga kini menutupi seluruh wajahnya. Saatnya memang sudah tiba.
 
Aba-aba lain diberikan bersamaan dengan terbukanya pintu menuju ruang utama gereja. Suara organ yang melantunkan lagu pernikahan pun semakin keras di mainkan. Seluruh undangan yang hadir di tempat itu berdiri di tempatnya masing-masing dan melontarkan pandangan mereka ke arahnya.
 
Mel menarik nafas panjang sebentar sebelum kemudian mengambil tempatnya dan mulai berjalan perlahan menyusuri lorong gereja. Sebuah buket bunga besar tergenggam di antara kedua tangannya. Buket pengantin yang sesuai tradisi akan diberikan oleh pengantin pria kepada pengantin wanita.
 
Rion dapat merasakan tangan kedua orang tuanya terselip di antara tangannya. Gilirannya semakin dekat. Pemain organ tampak mulai mengakhiri permainanya dengan memperpanjang setiap nada yang dimainkannya sebelum kemudian dengan tiba-tiba mempercepat temponya dan memainkan satu piece lagu lain.
 
Treulich geführt atau yang lebih dikenal sebagai Bridal Chorus, ciptaan Richard Wagner. Lagu yang jelas dikenal oleh hampir seluruh anak perempuan di dunia. Lagu yang dinantikan hampir seluruh wanita untuk dilantunkan khusus untuk mengiring mereka. Lagu pemberkatan yang mereka harapkan akan terdengar pada hari paling istimewa dalam hidup mereka.
 
Siapa yang akan menyangka lagu itu justru akan mengiringi setiap langkah Rion dalam acara yang sangat tidak diinginkannya. Mengiringi setiap langkahnya menuju sebuah ikatan yang dipaksakan oleh kedua orang tuanya.
 
Rion menarik nafas panjang bersamaan dengan terbukanya mulut para penyanyi paduan suara gereja. Sambil  memejamkan matanya, Rion menapakkan langkah pertamanya.
 
 
 
“Faithfully guided, draw near
 
to where the blessing of love shall preserve you!
 
Triumphant courage, the reward of love,
 
joins you in faith as the happiest of couples!
 
Champion of virtue, proceed!
 
Jewel of youth, proceed!”
 
 
 
Perlahan namun pasti Rion menyusuri lorong gereja itu. Kakinya yang gemetar melangkah perlahan diimbangi dengan kehadiran kedua orang tua yang mendampingi di sisi kanan dan kirinya. Kedua orang tua yang telah menjadi tempatnya berpegang selama lebih dari delapan belas tahun masa hidupnya.
 
 
 
“Flee now the splendour of the wedding feast,
 
may the delights of the heart be yours!
 
This sweet-smelling room, decked for love,
 
now takes you in, away from the splendour.”
 
 
 
Rion mulai tidak menyukai paduan suara yang mengiringi setiap langkahnya itu. Entah mengapa setiap bait yang dinyanyikan terasa seolah menambah beban berat di kakinya. Orang mungkin tidak menyadarinya, tapi Rion jelas memperlambat langkahnya dan membiarkan kedua orang tuanya memimpin.
 
 
 
“Faithfully guided, draw now near
 
to where the blessing of love shall preserve you!
 
Triumphant courage, love so pure,
 
joins you in faith as the happiest of couples!”
 
 
 
Hanya tinggal beberapa langkah lagi, dan untuk pertama kalinya sejak kejadian makan malam terakhir itu, Rion akan kembali berhadap-hadapan dengan calon suaminya. Jesse. Entah apa yang akan dilakukan pemuda itu sekarang? Apa dia akan berulah seperti yang terjadi pada malam itu?
 
 
 
"Led here in faith, draw near with joy,
 
Love's guardian angel will watch over you!
 
Joined in a bond none can destroy,
 
Now you are one in your love ever true!"
 
 
 
Langkah Rion berhenti tepat ketika musik berhenti dimainkan. Dia tahu kalau dia sudah berdiri berhadap-hadapan dengan Jesse sekarang, tapi dia masih tidak berani mengangkat kepalanya. Pengalaman buruk di pertemuan mereka yang terakhir benar-benar membuatnya takut menghadapi kenyataan yang berada di depannya.
 
Sebuah sikutan lembut di rusuknya langsung membuat gadis itu menoleh ke arah ayahnya. Pria itu tampak tersenyum padanya sebelum kemudian menelengkan kepalanya ke arah pemuda berjas putih yang berdiri di hadapan mereka sambil menyodorkan sebuket bunga kearahnya. Buket bunga yang sama dengan yang tadi di bawa Mel untuk dirinya.
 
Sekilas matanya melirik ke arah tempat duduk yang dipenuhi para kerabatnya. Wajah semua orang di bangku itu tampak menatapnya dengan penuh harap.
 
Perlahan ia mengarahkan pandangannya ke barisan terdepan dari tempat duduk itu. Seorang pria tua duduk di atas kursi rodanya sambil melontarkan senyuman penuh semangat ke arahnya. Pria itu adalah kakeknya. Pria kurus tua yang tampak ringkih di balik balutan busana formalnya yang terlalu longgar. Pria yang menahan rasa sakit hanya untuk menghadiri pernikahan cucu terakhirnya.
 
Rion memejamkan matanya sejenak dengan penuh kepedihan. Dia harus melakukan semua ini. Dia tidak ingin membuat pria tua itu kecewa dan menambah penderitaannya dengan kesedihan. Dia tidak boleh melarikan diri. Dia harus menyelesaikan semua ini dan memberikan paling tidak satu kenangan indah terakhir dari dirinya untuk pria tua itu.
 
Sekali lagi ia meraskan sebuah sikutan lembut di rusuknya. Kali ini ibunyalah yang melakukan hal itu, sekalipun sebenarnya Rion tak membutuhkannya lagi. Dia sudah menetapkan hatinya, dan kini, sambil kembali memejamkan mata, ia meraih tangan yang terulur di depannya. Tangan dari pemuda yang beberapa saat lagi akan resmi menjadi pendamping hidupnya.
 
Rasa hangat yang menjalar dari tempat pertemuan jarinya dengan pemuda itu membuat Rion mengangkat kepalanya dengan tak percaya. Dia sama sekali tidak menduga kalau tangan pemuda seperti Jesse dapat memancarkan kehangatan yang dapat menenangkan dirinya.
 
Sambil menerima buket bunga dari tangan pemuda itu, Rion mengintip sedikit dari balik cadarnya yang transparan. Pemuda itu tidak memakai kacamatanya, dan dari apa yang dirasakannya saat pemuda itu beralih menggandengnya, Rion yakin kalau tidak ada satu gadget pun yang tersimpan di balik jas putihnya. Sesuatu yang membuat dirinya lega, namun tetap tidak membuatnya benar-benar tenang.
 
Rion ingat dengan apa yang terjadi pada makan malam mereka saat pemuda itu kehilangan kedua gadget mahalnya, dan itu artinya kejadian itu bisa terjadi lagi kali ini. Pemuda itu tidak memiliki masalah dalam mempermalukan keluarganya di restoran mahal. Dia jelas tidak punya masalah dalam melakukan hal yang sama di depan altar ini.
 
“Hoi, sampai kapan kau mau menggandengku?” bisikan pelan Jesse seketika menyentakkan Rion dari lamunannya.
 
Baik pendeta, Mel, dan pemuda yang menjadi bestman Jesse tampak menatapnya dengan bingung. Mereka seperti sedang menantikan sesuatu darinya, namun dia tidak tahu apa yang sebenarnya mereka nantikan.
 
“Kau tidak menyimak upacara ini sama sekali ya? Kita seharusnya mengucapkan sumpah pernikahan kita sekarang. Apa kau mau membuat semua orang ini menunggu lebih lama lagi?” tanya Jesse gusar sambil memberikan sedikit guncangan pada lengan yang sedari tadi digandengnya.
 
Dengan cepat, dan jelas tergesa-gesa, Rion langsung melepaskan gandengannya dari tangan pemuda itu. Benar-benar memalukan. Dia begitu khawatir kalau Jesse akan membuat kekacauan, sampai dia sama sekali tidak menyadari kalau upacara sudah berlangsung sejauh ini.
 
Mel langsung melepaskan salah satu sarung tangannya dan mengambil buketnya untuk dipegang sementara. Gadis itu jelas sedang berusaha sekuat mungkin untuk menahan tawanya, tapi Rion sama sekali tidak boleh terpancing. Dia harus tetap menahan dirinya sampai seluruh upacara ini berakhir.
 
“Apa kau siap?” bisikan pelan Jesse lagi-lagi membuatnya tersentak. Pemuda itu sudah mengambil cincinnya dan kini menyodorkan tangannnya untuk memulai pengucapan janji pernikahan mereka. Janji yang akan mengikat mereka sebagai suami-isteri yang sah di hadapan Tuhan.
 
Rion menarik nafas lagi sebelum kemudian mengangguk dan menyambut tangan pemuda itu dengan penuh keteguhan hati. Tangan yang setelah upacara ini berakhir akan menjadi tangan suaminya. Pria yang sama sekali tidak dikenalnya, namun akan menjadi pendampingnya mulai saat ini.
 
“Aku, Jesse Alexander Renata, menerima engkau, Rion Clarrissa Widjaja, sebagai istriku yang dinikahi secara sah, untuk menjadi milikku sekarang dan seterusnya, dalam kebaikan dan keburukan, dalam senang dan susah, dalam sakit dan sehat, untuk dicintai, dihormati dan dijaga, hingga kematian memisahkan kita, sesuai dengan kehendak suci Bapa; dan dengan cincin ini aku bersumpah setia.”
 
Dengan artikulasi yang jelas, tanpa terbata, dan dengan penuh kesempurnaan, Jesse mengucapkan sumpahnya sambil memasangkan cincin pernikahan mereka ke jari Rion. Sesuatu yang membuat gadis itu termangu selama beberapa saat sebelum kemudian dengan canggung mengambil cincinnya dan menyambut tangan kiri Jesse yang memang sudah terjulur ke arahnya. Ini jelas benar-benar bodoh dan menyebalkan.
 
“Aku, Rion Clarrissa Widjaja, menerima engkau, Jesse Alexander Renata, sebagai suamiku yang dinikahi secara sah, untuk menjadi milikku sekarang dan seterusnya, dalam kebaikan dan keburukan, dalam senang dan susah, dalam sakit dan sehat, untuk dicintai, dihormati dan dijaga, hingga kematian memisahkan kita, sesuai dengan kehendak suci Bapa; dan dengan cincin ini aku bersumpah setia.”
 
Rion menghela nafas panjang setelah ia menyelesaikan sumpahnya dan memasangkan cincin pernikahan mereka ke jari Jesse. Dengan ini maka bagian yang paling menakukan dari upacara ini pun berakhir. Tentu saja dia tidak yakin apa dia bisa memegang sumpah itu seumur hidupnya, tapi paling tidak dia tahu bahwa dia akan berusaha memegang teguh sumpah itu selama kakeknya hidup. Pria itu jelas terlalu lemah untuk menjadi saksi kehancuran pernikahan cucunya.
 

Read previous post:  
45
points
(2213 words) posted by IreneFaye 9 years 41 weeks ago
90
Tags: Cerita | Novel | cinta | Marrying a Stranger | nikah muda | romance
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer cat
cat at Marrying a Stranger--Husband and Wife (9 years 38 weeks ago)
70

Ada beberapa typo.

Aku suka bagian percakapan Rion n Jesse, membuat cerita ini lebih hidup.

typo typo typo

dimana mak?!

Writer dansou
dansou at Marrying a Stranger--Husband and Wife (9 years 38 weeks ago)
100

Wooooo.... Wkwkwkwk :v :v :v Akhirnya nikaaaaah

90

wkwkwkwk...
harta anak jaman sekarang memang 'itu' ya
terutama HDD ber-tera-tera yang terisi penuh XDDD
Ditunggu lanjutannya ~<3

80

<3
komentar udah ya mih~~

100

Makasih buat Kurenai86, Tsukiya_arai, Dansou, dan mak Cat yang udah mau ngeluangin waktu buat ngebaca dan ngomentarin cerita ini :3

yah, tante.... bilang makasih aja pake poin... @@