AKSI

Siang itu panas; Tapi tak sepanas hati Arun melihat apa yang telah sedang dan akan terjadi di negaranya. Tentu saja, itu semua bukan karena ia cinta pada tanah airnya itu. Ia tidak sebodoh itu.

Siang itu terik; Tapi tak cukup terik untuk mengusungkan niat Arun untuk bersama-sama dengan sekitar seratusan rekannya menggelar aksi mereka di depan istana tuan presiden. Walau kenyataannya sampai saat ini, selain dirinya sendiri, hanya ada belasan mahasiswa lain yang berkumpul di taman depan kampus K; Beberapa tampak gugup dan gelisah, beberapa tampak tenang dalam diam, sementara yang lain muram menahan amarah.

Sementara itu, sang koordinator aksi tampak sibuk berdebat dengan salah satu kawannya. Jadi atau tidak? Itu pertanyaannya.

Cobalah berpikir logis, kata sang kawan, apa yang kita lakukan sama sekali tak ada artinya. Mungkin jika, seperti dulu, kita bisa mengumpulkan ratusan, ribuan, mahasiswa, dari seluruh negeri, tumpah ruah di jalan, bercucuran peluh dan darah, suara kita akan terdengar. Tapi saat ini, orang-orang hanya akan mencemooh kita.

Harus ada yang melakukan. Harus ada yang memulai, ujar sang koordinator. Jika semua berpikiran sama sepertimu, kita tak akan pernah bergerak.

Bergerak, bergerak, bergerak, cemooh sang kawan, kita selalu bergerak, tapi faktanya dimana kita sekarang? Apa bedanya dengan sepuluh tahun yang lalu? Dua puluh tahun yang lalu? Tiga puluh lima puluh tahun yang lalu?

Itulah, balas sang koordinator, kalau dengan bergerak saja kita tak mengalami kemajuan, apa jadinya jika kita hanya diam?

Mengapa harus kita?

Karena kita tahu.

Baiklah. Cukup. Mereka sudah menertawakan jumlah kita. Akan lebih konyol lagi jika kita sampai terpecah belah.

Jadi, kau ikut atau tidak?

Aku dibelakangmu.

Dasar pengecut.

Lalu tawa.

Arun menarik napas panjang. Lega. Dan perlahan-lahan kerumunan itu bergerak. Dalam nyanyian sumbang. Dalam derap langkah tak teratur. Pasukan yang tak mengharapkan kemenangan tapi tak sudi mati dalam kepasrahan.

Di depan istana tuan presiden, bendera-bendera dikibarkan, tuntutan-tuntutan dipekikkan, kutukan-kutukan diteriakkan, sebelum akhirnya menghilang dalam kebisingan mesin.

Sementara itu, para penjaga istana, sama menguap lebar menahan kantuk, duduk di bawah bayang-bayang, setengah tak peduli dengan apa yang telah sedang dan akan terjadi.

Sampai Arun dengan nekat memanjat naik pagar istana, berdiri canggung seperti siswa SD di depan kelas, lalu berdeklamasi:

Pancasial

1. Kemanusian yang dipertuhankan.

2. Kesetanan yang angkuh dan biadab.

3. Pengkultusan Indonesia.

4. Kesesatan yang dipimpin oleh nafsu kebinatangan dalam ilusi demokrasi

5. Ketidak adilan sok sial bagi seluruh rakyat Indonesia.

...

Siang itu panas; Tapi tak sepanas timah panas yang menembus tubuh Arun.

Siang itu terik; Tapi tak cukup terik untuk mengeringkan darah yang tumpah.
 

***

 

Post Script:

145 di sini. Terima kasih sudah menyempatkan membaca. Sebelumnya perlu ditegaskan bahwa cerita ini (mungkin) hanya fiksi belaka (dan mudah-mudahan akan tetap menjadi fiksi), namun kesamaan nama, tempat, dan kejadian, memang disengaja sebagai sindiran untuk pihak-pihak yang (mudah-mudahan) merasa tersindir.

 

Post PS:

Untuk mahasiswa Kampus K, tetap semangat >_<

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer YuzhraAn
YuzhraAn at AKSI (8 years 50 weeks ago)

ceritanya.....patriotikkk!
dikit tapi kenal

Writer panah hujan
panah hujan at AKSI (8 years 50 weeks ago)
60

...

Writer H.Lind
H.Lind at AKSI (8 years 50 weeks ago)
80

Kesannya agak datar karena ga ada deskripsi ekspresi. Tapi maknanya dapet.
Dan apakah menghina ideologi negara akan langsung tembak ditempat? Saya rasa agak terlalu didramatisir. Mungkin. Ehehehe, maaf. :)

Writer cloekz
cloekz at AKSI (8 years 50 weeks ago)
80

wawww...

Writer Shikamaru
Shikamaru at AKSI (8 years 50 weeks ago)
80

#Plak...
Menampar banget...

Writer Afren
Afren at AKSI (8 years 50 weeks ago)
80

Wow! Cerita n ending yang menggugah. Seharusnya dikirim ke koran nasional ini :D

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at AKSI (8 years 50 weeks ago)
80

Dulu saya pernah bikin Pancasila versi saya... tapi punyamu ini beneran lebih menyindir, hehehehe

Writer 145
145 at AKSI (8 years 50 weeks ago)

Lo Sam >_< gimana kemajuan VN-mu?
Hmm aku jadi penasaran dengan Pancasila versimu

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at AKSI (8 years 50 weeks ago)

Script sih jadi sampe masuk rute masing-masing heroine, tapi yah, selain itu 0. Itupun belom manjang-manjangin dialog dan deskripsi biar pas sama jalannya satu scene
(beneran ga ngerti cara bikin musik, dan hopeless buat masalah photoshop dll)
.
Setidaknya proyek ini proyek 'siap di-resume sewaktu-waktu' deh :3