Aku tersihir


Setiap kehidupan mempunyai soundtrack, begitu kata Jodi piccoult.* Akupun selalu merasa setiap kepingan hidupku diwakili oleh sebuah lagu. Aku suka lagu ballad, akustik, dan klassik. Musik yang kaya melodi dan manis dalam berkata-kata. Lagu dengan melodi berulang-ulang dan kata-kata klise monoton bukan jenis lagu yang ada dalam playlistku. Setiap kali mendengarkan musik dan menikmatinya, aku selalu melebur ke dalam nya, seakan-akan bait—bait lagu tersebut berenang di otakku mencoba menggali memori yang sesuai dengan maksud lagu tersebut.
Sekeping  pecahan hidupku yang satu ini bersenandung dalam lagu “enchanted” dari taylor Swift.
Aku tidak tau maksud dari pertemuanku dengan laki-laki ini. Bagaimanapun, dia mempunyai arti tersendiri dalam hatiku meskipun kesannya sangat sepele, tapi dia membuatku merasakan berbunga-bunga layaknya gadis belia yang jatuh cinta pada pandangan pertama mesti usiaku tak lagi remaja.
    Hampir pukul 03.pm, 18 desember 2011
Belakangan ini hari-hariku terasa berat. Aku baru saja menyelesaikan skripsi dan telah meraih gelar S1. bagi orang-orang kebanyakan mungkin sesuatu yang membanggakan tapi bagiku merupakan salah satu step untuk melangkah ke level yang lebih sulit lagi  dalam hidupku, hidup ini seperti game bagiku.
Renunganku terpecah oleh taylor swift yang menyanyikan “enchanted” lewat player musik yang kudengar melalui headphone di kamarku yang sunyi ini. Sama seperti lagu enchanted ini, aku kembali mengingat pengalamanku lebih setahun yang lalu, pada malam terakhir  kukerta, saat aku tersihir bertemu seseorang.
23 agustus 2010.
Hari terakhir kukerta. Bulan puasa telah habis separuh. Akhirnya, kami selesai kukerta, sebuah kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang harus dipenuhi mahasiswa tingkat 3 di universitaku. Aku telah menghabiskan waktu 2 bulan di sebuah desa yang jauh terpelosok di sebuah kabupaten di provinsi tempatku berdomisili, melakukan kegiatan yang apa saja untuk menggali potensi desa ini. Mengingat kesan pertamaku pada desa ini sampai akhirnya harus meninggalkannya sangat berbeda jauh. Aku ingat pertama kali datang di desa ini, “shock” merupakan ekspresiku dan enam teman lain dalam kelompokku. Tapi ketika tiba saatnya pergi, kami begitu sedih, karena telah merasa berbaur disini. Susah, senang, bahkan sampai berantempun menjadi pengalaman berharga disini. Tapi semuanya akan berakhir setelah malam ini.
Malam 23 agustus setelah tarawih, kami mengadakan pesta perpisahan ala kadarnya dengan bakar ayam bersama pemuda-pemuda desa. Ketika ayam sedang dipersiapkan oleh beberapa cewek, aku bergabung dengan pemuda-pemuda desa yang ngumpul dihalaman posko. Beberapa ada yang main gitar, ada yang ngobrol-ngobrol. Aku merasa tidak nyaman, seakan-akan ada sesuatu hal yang belum kuselesaikan, yah benar memang ada. Perasaanku sendiri.
Memori kembali pada beberapa bulan lalu ketika pembekalan kkn. Aku berkenalan dengan seseorang bernama Gilang, mahasiswa satu angkatan tapi berbeda fakultas denganku. Kesan pertama, dia sangat ramah, cool, dan low profil, cakep juga, *hehehe*. Perkenalan pertama begitu berkesan bagiku, pertama kalinya seseorang langsung membuatku tertarik pada pertemuan pertama. Gilang ditempatkan berbeda desa denganku. Dia beberapa kali datang ke posko-ku tapi kami tidak pernah mengobrol hanya saling melempar senyum. Aku merasa hal itu tak cukup, aku terkesan padanya, senyuman saja tak cukup. Beberapa pertanyaan menggantung di otakku, dan kesempatannya hanya malam ini.
Tiba-tiba saja seorang anak SMA yang sering main ke posko dan cukup dekat dengan kami, para mahasiswa kukerta, memanggilku, dia mengajakku keliling dengan sepeda motornya. Tentu saja aku menerima ajakannya. Jalanan malam sepi, kuminta dia menambah kecepatan motor menelusuri jalan lintas, mari kita gila-gilaan, kataku padanya. Niat terselubung, aku tau ini akan membawaku ke desa poskonya Gilang.
Kami sampai dalam setengah jam. Aku melihatnya, melihat Gilang. Dia dan teman-teman seposkonya sedang berfoto-foto di depan posko mereka, tidak terlihat pesta perpisahan seperti di poskoku.
“Bang Gilang”, Surya yang memboncengku berteriak dan segera menghentikan motornya di depan posko.
“Hei” Gilang menjawab dan menghampiri kami,
Dia menyalami Surya dan kemudian berpaling padaku dan menyalamiku, lalu berkata” Akhirnya ya”
Aku tak tau maksud akhirnya ya yang dikatakannya tapi aku juga menjawab “iya, akhirnya” dengan maksud akhirnya kita bertemu juga dalam suasana seperti ini dan kemudian kami tertawa tanpa sebab. Gilang menggengam tanganku sangat lama, aku seperti tersentrum dan meleleh dalam genggamannya. Aku tak tau entah apa artinya,tapi kami hanya saling menggenggam dan tertawa.
Dia masih menggenggam tanganku.
Bagaimana ini? Pikirku, sebentar lagi aku pasti akan meleleh jika dia tidak melepaskan tangannya, perutku berrgolak.
“Ga ada pesta perpisahan?” tanyaku lalu membuang pandangan kea rah poskonya
Kemudian tiba-tiba pemuda desa sana datang dan menyapa Gilang.
Barulah kemudian dia melepas tanganku, lembut ketika tangannya terlepas.
“Kirain ga bakalan datang” katanya menyapa pemuda-pemuda tersebut, “ Ayo, teman-teman ada di dalam”
“ Kamu juga, masuk yuk, Surya udah didalam kayaknya”
Aku dari tapi disini tapi baru ingat mengundangku masuk, ya Tuhan…..
Waktu itu juga Surya keluar, “ Kak ayamnya udah siap katanya, balik yuk”
“Hmmmm, ok” kemudian memandang Gilang ”Kayaknya gak deh Lang, kami ngadain pesta perpisahan di posko, kamu aja yang ke posko kami, gimana?”
 Aku benar-benar berharap dia setuju.
“ Waduh, ga tau nih bisa tw gak, temen-temen pada belum berkemas” jawabnya sambil memasang tampang menyesal
Perutku kram. Ekspresinya itu membuatku tak tahan
“Usahain datang kalo bisa ya” aku berusaha tidak meninggalkan kesan terlalu berharap.
“ok” dia tersenyum sangat manis padaku
Kemudian aku dan Surya pamit sambil melambai padanya.
Ketika aku membalikkan pandangan ke depan” Surya, ayo Tancap gas ”
“ Sip Kak” Surya langsung menggas motornya.
aku tak  tau berapa keccepatan motor saat itu, sampe 100 kayaknya. Sepanjang jalan kembali pulang Surya cerita hal-hal yang tidak kutanggapi. Pikiranku terlalu didominasi oleh Gilang. Aku tersihir malam itu. Aku makin terkesan. Menjelang tidur berbagai imajinasi berseliweran di benakku, apa maksud pertemuan kami malam ini, apakah dia memang seperti yang ada di imajinasiku.
Masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan apakah aku jatuh cinta padanya atau tidak saat itu, tapi kalau aku terpesona iya. Malam itu aku berharap banyak, jangan sampai dia mempunyai seseorang di kota, atau dia jatuh cinta pada orang lain setelah ini.  Aku melihatnya terakhir kali di kantor camat ketika akan meninggalkan desa itu.
Lagu taylor swift berakhir, aku menghentikan musik di laptopku.
Jika mengingat Gilang aku kembali ingat bagaimana rasanya tersihir  itu. Saat ini aku yakin aku sama sekali tidak jatuh cinta padanya. Aku hanya terpesona. Gilang hanyalah sepenggal kisah yang hanya aku dan Tuhan yang tahu bagaimana aku terhadapnya, tapi memberi sedikit hiburan di kehidupanku yang rumit. Yang membuatku tersenyum sendiri, aku pernah dibonceng motor sampe kecepatan seratus malam-malam hanya demi menemuinya.
Setahun lebih telah berlalu, aku tidak tau bagaimana kabarnya, menguntit facebooknya telah kuhentikan setelah beberapa bulan. Gilang orang yang baik, kuharap dimanapun berada, dia akan selalu berbahagia. Dan aku kembali ke kehidupanku, mencoba memainkan level yang lebih tinggi, dan berharap dapat bonus seseorang seperti Gilang, yang membuatku tersihir.
*pengarang  novel “sing you Home” yang terkenal dengan novel My sister’s Keeper
 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Putri_Pratama
Putri_Pratama at Aku tersihir (9 years 24 weeks ago)
70

Pengalaman pribadi? Pasti lebih menarik, kalau alurnya tidak terkesan terburu-buru.

Writer selene2online
selene2online at Aku tersihir (9 years 24 weeks ago)

iya...kuambil dari salah satu catatan harian.....

akupun ngerasa begitu, trus setelah dibaca ulang banyak hal rasanya yang kurang,,,,salahku juga sih ga ngediemin dulu tulisan ini beberapa hari trus baru diedit lagi....

,,,thanks ya udah comment

Writer dansou
dansou at Aku tersihir (9 years 25 weeks ago)
100

Tulisannya masih belum begitu rapi ;(. Transisi dari flashback ke dunia sekarang juga belum begitu mulus (Eh, ini pake flashback, kan> Maaf kalo saya salah nangka). Tulisan ini juga masih berkesan curhat. Ayolah, saya yakin kau pasti mampu mengemas pengalaman hidup ini menjadi lebih menarik untuk dibaca.
.
Semangat! :)

Writer selene2online
selene2online at Aku tersihir (9 years 24 weeks ago)

Thanks ya.....
emang pake flashback.....
awalnya emang kuambil dari coretan diary makanya masih mentah....nekat posting biar dapat masukan......:D

Writer selene2online
selene2online at Aku tersihir (9 years 25 weeks ago)
70

tersihir