Titip rindu untuk Rinjani

#Rinjani

“Ya?”

“Namamu..aku bilang sebutkan namamu..” dia masih tetap menatapku tanpa ragu. Mukanya sedikit sebal karena sedari tadi aku tak kunjung menjawab pertanyaannya.

“Jani..” jawabku akhirnya tanpa mau menyambut tangannya yang hendak mengajak salaman.

Dia tersenyum dan menarik kembali tangannya. Tangannya menyisir rambut yang panjangnya menyentuh leher.

“Jani…senang bertemu denganmu..namaku Arai..” katanya sambil mengangguk untuk sapa sekilas dan berbalik pergi.

Aku menatapnya menjauh. Kemeja kotak-kotak yang tidak rapi yang tidak dikancingkan dan memakai kaus putih tipis di dalamnya. Rambut hitam lurus menyentuh leher. Celana jins yang ada robekan di lututnya. Dan juga sandal meskipun ini wilayah kampus. Mau apa orang seperti ini bertanya padaku?

Aku mengalihkan perhatian kembali ke eksperimenku yang masih separuh selesai. Harus selesai malam ini juga. Dan anehnya. Orang itu masih tetap disana. Menatapku dari balik jendela. Dan tersenyum tanpa aku mengerti maksudnya.

********************************************************************************

#Arai

Gadis itu cerdas. Ya. Aku sangat yakin bahkan ketika pertama kali menatap matanya. Teman-temannya juga membicarakannya. Dia Nampak sangat sederhana dan kuper. Kerjaannya hanya diam dan merenung. Tetapi aku yakin dia menyimpan potensi besar. Pasti akan berguna bagi kami nantinya. Aku sangat yakin akan firasatku. Dan sore itu aku menyapanya. Aku nyaris tertawa melihat betapa kikuknya dia. Hanya ditanya nama saja ekspresinya kaget begitu.

Entah apa yang menarikku begitu tertarik mengamatinya yang berjuang dengan keras itu. Mungkin karena aku mendapati diriku sendiri tidak pernah serius untuk mengejar sesuatu. Semuanya datang dengan sendirinya padaku. Tanpa perlu usaha yang keras.

Tetapi kali ini. Aku ingin sedikit mencoba. Bagaimana rasanya mengotak-atik orang. Apakah dia bisa? dijadikan sepertiku?

“Rai!”

Aku menoleh menuju pintu masuk ruangan sempit tempatku tidur siang ini. Aku tidur karena tak enak badan. Jaya, rekanku buru-buru masuk

“Temen2 di kampus tetangga udah siap-siap berangkat. Kita juga harus cepet-cepet rapikan barisan. Ntar sore pres senat ngajakin rapat. Bagi tugas. Ini masalah serius.”

Aku buru-buru duduk tegak. Emosi yang sama merasukiku lagi. Dan Jaya cukup mengerti. Kasus hampir tiap hari terjadi di rezim Presiden Soeharto ini. Hampir setiap kasus membuat emosi bercampur aduk. Tetapi aku lebih memiliki memori dibandingkan dengan orang lain.

“Jangan lakukan ini demi dendam. Lakukan ini demi perjuangan…” ujar Jaya.

Kepalaku menunduk. Terpekur menatap lantai. Ya. Akan kulakukan.

**********************************************************************************

 

#Rinjani

Aku sedang makan sambil membaca surat kabar sore itu ketika tiba-tiba saja senior bernama Arai itu mengambil tempat duduk berhadapan denganku di kantin.

“Tahu berita pagi ini?” Tanyanya tanpa pembukaan yang wajar terlebih dahulu dalam pembicaraan kami.

Aku mengangguk tanpa berpikir panjang lebar dan menatap jalanan diluar melalui jendela lebar di kantin. Diluar sedang lengang. Situasi tegang. Hari ini 11 November 1998. Terjadi bentrok di Salemba. Terjadi bentrok mahasiswa dengan pamswakarsa di tugu proklamasi. Aku dengar beberapa terluka. Kudengar Mas Arai dan teman-temannya sering ikut serta dalam berbagai aksi. Orang-orang yang tak puas dengan pemerintahan. Orang-orang yang ingin berontak terhadap waktu. Aku mulai bisa membaca arah pembicaraannya.

“Aku dengar Jani pandai menulis..” Dia bicara lagi sambil menatapku lekat.

“Tahu darimana?”

“Dari CV mu…aku sudah menyelidiki semuanya..Aku sangat ingin tahu tentangmu…” Dia bicara terang-terangan. Aku balas menatap matanya. Ada semangat yang besar disana. Ada pemberontakan yang gila disana. Tetapi entah kenapa, mungkin aku sok tahu. Aku juga mendapati ada kesedihan disana. Mata yang banyak berbicara.

“Aku hanya menulis jurnal-jurnal ilmiah atau yang berbau formal…” jawabku sekenanya. Jujur. Berhadapan dengan orang ini memberikan sensasi aneh pada diriku. Takut. Atau mungkin semacamnya. Khawatir. Dan tak ingin terlibat. Tetapi ada bagian lain dari diriku yang anehnya tidak berkata demikian.

“Kamu mungkin tidak mengenal dirimu sendiri. Perlukah kubantu?” Tanyanya tiba-tiba. Aku sedikit emosi dan memasang raut galak padanya. Memang sudah watakku. Mudah marah. Apalagi untuk orang yang tak tahu apa maunya seperti ini.

“Maaf Mas. Jani nggak mengerti apa mau Mas Arai. Tetapi kalau ini soal menjadi aktifis, maaf..Jani punya hal-hal yang ingin Jani perjuangkan sendiri..”

“Apa kamu egois?” tanyanya tanpa ragu. Matanya kembali mencari mataku yang ingin menghindar. Aku hanya diam. Hingga dia berhenti menatapku dan beralih pada kopi tubruknya.

“Kamu mungkin nggak mengerti rasanya memperjuangkan hidup orang-orang yang kamu cintai dalam kondisi serba susah…” Aku menjawab tiba-tiba. Dia kembali menatapku dengan senyuman yang tidak kumengerti maksudnya.

“Aku dengar IP-mu bagus ya?” Entah kenapa. Tiba-tiba laki-laki ini mengalihkan pembicaraan.

“Kenapa?”

“Memang seharusnya begitu. Jangan tiru senior-seniormu yang malas-malasan. Belajarlah sekeras-kerasnya untuk menolong orang..”

“Sebenarnya maunya Mas Arai apa?”

“Cuma suka bicara denganmu. Tak bolehkah?” Dia tersenyum lagi. Kali ini misterius. Dan segera dia berpamitan. Melangkah pergi entah kemana.

Diluar sana hujan deras. Tetapi aku lihat dari balik jendela ia memacu motornya dengan kencang setelah mengenakan jaket almamater. Hendak kemana dia? orang itu…

bersambung~

 

 

 

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer zenocta
zenocta at Titip rindu untuk Rinjani (9 years 26 weeks ago)
70

bagus,, tapi bener pergantian sudut pandangnya agak bikin keder...

Writer jejakhujan
jejakhujan at Titip rindu untuk Rinjani (9 years 26 weeks ago)

dhesiptr : iya..segera kulanjutin. makasih udah baca. salam kenal :)

Rana : iya..makasih masukannya. segera kuedit ya :) ini ambil setting tragedi semanggi

Nina : Huum. Cerbung ini agak panjang. kaitan sama judul itu nanti ditengah-tengah dan dijadiin 'centre' ceritanya..makasih udah nyempetin baca..salam kenal :)

Writer NiNa
NiNa at Titip rindu untuk Rinjani (9 years 26 weeks ago)
70

Eh, belum nemu ni alur cerita yang ngait sama judulnya, semangat nulisss^^

Writer Rana
Rana at Titip rindu untuk Rinjani (9 years 26 weeks ago)
70

Menurutku, masih agak membingungkan buat pergantian sudut pandangnya. Maksudku, nggak ada keterangan ini diambil dari sudut pandangnya siapa. Coba deh, awal cerita di kasih nama, misalnya ...

 

Jani

Aku sedang makan sambil membaca surat kabar sore itu ketika tiba-tiba saja senior bernama Arai itu mengambil tempat duduk berhadapan denganku di kantin.

“Tahu berita pagi ini?” Tanyanya tanpa pembukaan yang wajar terlebih dahulu dalam pembicaraan kami ...

 

Soalnya di situ kan ada tokoh Jaya, jadi bingung nempatin ini sudut pandangnya siapa. Kalo dibikin kaya yang di atas kan jadi jelas, ini diambil dari sudut pandangnya Jani, Kaka. Oh ia, satu lagi, diawal scene kurang deskripsinya, Kaka. Jadi 'menurutku' masih sedikit membingungkan ..

 

Hehe. Tapi ini bagus, Kaka. Ada nilai sejarahnya. Siip dagh ah . . .

Writer dhesiptr
dhesiptr at Titip rindu untuk Rinjani (9 years 26 weeks ago)
70

bener-bener bikin penasaran ini-__-