Titip rindu untuk Rinjani (part2)

#Arai

Sudah lima hari aku di rumah sakit. Dan bosan datang bertubi-tubi. Aku tahu konflik diluar masih berlanjut. Untuk keseribu kalinya aku mencoba menenangkan ibu. Tangisnya tak juga reda. Tangis khawatir. Tangis takut kehilangan. Sementara ayah hanya banyak merenung sambil menatap keluar jendela. Mungkin rindu dengan anak lelakinya yang sudah terlebih dahulu berpulang,kakakku yang gugur karena kerusuhan di bulan Mei.

Untuk kesekian kalinya, ibu memaksaku makan.

“Arai..makanlah..ibu mohon..”

“Tak apa..ini akan segera sembuh..Cuma luka kecil..” Ujarku sambil tertawa. Air mata ibu jatuh lagi. Ibuku memang melankolis luar biasa. Tetapi sungguh, wanita ini sebenarnya kuat. Dia hanya sudah berusaha berdiri kembali setelah terpuruk karena kehilangan satu anak lelakinya, dan dia hanya bertahan agar tak kehilangan satu lagi anak lelakinya yang lain, yaitu aku.

Aku memeluk ibu dengan erat dan menenangkannya. Dan segera memakan bubur yang sedari tadi disuruhnya aku untuk makan. Entah salah siapa. Semua jadi begini sulit. Aku mengamati perutku yang dililit perban. Juga tangan dan kaki. Untunglah hanya luka saja yang kudapati saat itu dan Tuhan masih memberiku kesempatan kembali pada kedua orangtuaku.

Terdengar ketukan di pintu. Dan lima hingga enam orang pemuda masuk. Wajahku seketika cerah ketika mendapati mereka yang berhamburan memelukku. Dan tangis segera pecah diantara perempuan-perempuan yang ada, melihat keadaanku. Dan mataku sejak awal tidak beranjak darinya. Anak perempuan yang dengan canggung berdiri di ambang pintu.

“Jani..segeralah masuk. Arai ingin bertemu..” Jaya memanggilnya.

Dia menatapku takut-takut dan perlahan mulai melangkah masuk. Ayah dan ibuku juga jadi memperhatikannya yang kelihatan sangat kikuk.

Aku tersenyum untuk menenangkannya.

“Jani. Kemarilah. Duduk disampingku..” Ujarku. Ia menurut dan duduk dengan takut-takut.

Sementara kawan-kawanku rebut bercerita. Menceritakan kejadian pasca aku tak sadarkan diri di kerusuhan hari itu. Kerusuhan 12 November 1998.

“Bagaimana Iwan?” tanyaku pada Jaya. Iwan adalah kawanku yang pertama kali terluka kena bambu runcing oleh pamswakarsa, pasukan khusus yang ditugaskan menghadapi mahasiswa. Ketika melihat Iwan tergeletak berdarah-darah, aku langsung berlari kearahnya. Berpikir untuk membebat lukanya ketika tiba-tiba saja aku dihajar dari belakang oleh seseorang.

“Dia baik. Setelah dioperasi untuk dikeluarkan peluru dari dadanya. Sekarang ada di ICU” jawab Rani yang juga kawan dekatku.

“Ada yang meninggal?” tanyaku harap cemas.

Seketika suasana jadi murung. Mereka semua terdiam. Jaya mengangsurkan Koran. Kubaca dengan seksama. Tragedi 12 November 1998. Seorang mahasiswa terbunuh. Dan ya. Aku mengenalnya. Dia salah seorang kawan terbaik kami.

************************************************************************************

#Jani

Jantungku berdetak dengan kencang pagi itu.13 November 1998. Saat suasana kampus berubah menjadi riuh. Kucari kabar kesana kemari. Katanya beberapa senior terluka akibat tragedi yang terjadi kemarin malam. Banyak mahasiswi yang menangis. Banyak orang yang berkumpul di masjid kampus untuk berdoa untuk mereka yang terluka parah di rumah sakit. Sementara aku sendiri mondar-mandir tak karuan. Mengkhawatirkan sesuatu yang tidak kutahu pasti. Dan kudapati akhirnya bahwa aku mengkhawatirkannya. Mas Arai. Mungkin ini konyol. Baru dua minggu aku mengenalnya. Terganggu dengan kehadirannya. Marah padanya. Dan sekarang aku mengkhawatirkannya. Wahai Tuhan yang maha menciptakan keanehan. Apa yang sedang terjadi? Kudapati aku yang berjalan lunglai ke masjid. Mengambil wudhlu dan sholat. Kemudian berdoa dengan khusyu’ untuknya. Untuk mereka semua. Sungguh aku tidak mengerti. Apa yang sedang terjadi.

Hingga siang. Masih kucari-cari kabar tentang mereka. Bagaimana mereka di rumah sakit sana. Kutanyai orang-orang yang kuanggap bisa dipercaya. Dosen-dosen berwajah cemas dan takut. Mahasiswa-mahasiswa berwajah emosi yang tampak ingin membalas dendam. Dan jawaban mereka selalu sama. Keadaan mereka yang luka di rumah sakit masih tetap sama. Parah dan tak sadarkan diri. Sepanjang hari kuliah ditiadakan. Tak ada yang bersemangat meneruskan percobaan di laboratorium. Semuanya terpekur di masjid kampus atau memilih pergi ke gereja untuk berdoa.

Lima hari berlalu sejak tragedi itu dan aku mendapati diriku menangis karena berbagai macam hal.

“Apakah kamu egois?”

Aku masih ingat benar kata-kata Mas Arai waktu itu. Dan sekarang kupertanyakan kepada diri sendiri. Apa yang sudah kulakukan? Apa yang sudah kupilih? benarkah ini?

Tuhan..katakan padaku. Aku terduduk di bangku kayu halaman belakang kampus saat seseorang tiba-tiba menyentuh pundakku. Aku menoleh karena kaget dan kudapati perempuan cantik dengan rambut kuncir kuda. Itu Kak Rani. Seketika timbul semangat dalam hatiku. Dia teman akrab Mas Arai. Mungkinkah bisa kutanyakan sesuatu.

“Ikut denganku…” ujarnya pendek.

Aku masih tak mengerti. Apa ini?

“Ada apa Kak?” tanyaku sambil berusaha tersenyum padanya.

“Kami akan menjenguk Arai. Jaya menyuruhku membawamu..”

Mereka terburu-buru sekali. Membawa banyak bunga dan makanan untuk Mas Arai. Tampaknya kawan-kawannya amat menyayanginya. Dan akhirnya aku melihatnya.

Dia terbaring di ranjang. kaki dan tangannya terbalut perban. Wajahnya pucat saat menyambut kami. Tetapi ia tersenyum dan menatapku. Aku merasakan kakiku lunglai. Ingin menangis. Dan tak kuat untuk masuk. Tetapi dia menyuruhku duduk disamping ranjangnya dan aku menurut. Terus memandanginya. Juga luka-lukanya. Apa yang dilakukan orang-orang ini?

Sementara mereka bersedih hati ketika membicarakan seniorku yang meninggal di rumah sakit yang sama. Mereka menamakan ini perjuangan. Lalu apakah orientasinya? salahku persepsiku selama ini tentang pola perjuangan yang seharusnya kuanut?

“Jani..” dia mendadak memanggilku.

Aku mengangkat wajahku yang sedari tadi menunduk.

“Jangan menangis..semuanya akan baik-baik saja..Akan segera membaik nantinya..” ia tersenyum lagi. Ya. Dia menyadari kabut di mataku.

***********************************************************************************

#Arai

Seperti yang sudah kuduga sebelumnya. Aku membaik dengan cepat dan segera kembali ke kampus. Kawan-kawan menyambutku dengan penuh sukacita. Ucapan selamat datang kembali banyak kuterima. Sekarang saatnya serius memikirkan apa langkah selanjutnya.

Siang itu, Rani bilang padaku bahwa surat kabar rahasia kami sudah layak terbit. Aku gembira mendengarnya. Ya. Itu salah satu dari rencana gila kami. Siapa yang berani bicara sekarang ini? pers pun bungkam saat mahasiswa-mahasiswa mempertaruhkan apapun termasuk nyawa.

Aku segera mencari gadis itu. Seperti dugaanku. Jika tak ada di laboratorium atau kelas berarti dia di perpustakaan. Dia sedang kesulitan meraih buku di rak yang tinggi. Aku segera berdiri dibelakangnya. Tanpa banyak bicara mengambilkan buku itu untuknya. Dan seperti biasa, dia Nampak kaget dan takut-takut saat melihatku meskipun aku selalu tersenyum padanya lebih banyak dari senyum yang kuberikan untuk orang lain.

“Ikut aku sebentar..” kataku sambil meraih tangannya dan mengajaknya keluar sebentar dari perpustakaan.

“Ada apa? kenapa?” tanyanya bingung. Tetapi dia tidak berontak. Hanya heran.

Kuajak dia masuk ke ruangan sederhana di belakang gedung kampus yang tak terawat. Ya. Itu markas kami. Disana sudah ada Jaya, Rani, Angelina, dan Markus.

“Arai..” Angelina menatapku dengan bingung.

“Dia bisa..” ujarku sambil tersenyum dan menoleh pada Rinjani.

Rinjani tampah rikuh. Mukanya khawatir mendongak menatap wajahku dengan tatapan tak mengerti. Aku memegang pundaknya untuk meyakinkan.

“Kami butuh kamu..tulislah tentang kebenaran. Biar orang-orang tahu. Tentang betapa porak-porandanya negeri ini..” aku memberi penekanan pada kata porak-poranda.

Rinjani mundur beberapa langkah. Takut. Tentu ia mengerti konsekuensi orang yang suka menulis sembarangan.

“Jangan takut…kamu akan menulisnya bersamaku…Aku yang akan menyebarkannya. Mempengaruhi orang-orang. Kalaupun ada apa-apa, aku yang akan kena imbasnya…” ujarku lagi dengan tatapan separuh memohon.

Aku menangkap raut wajahnya yang menegang. Dan tak seorangpun kawanku berani bicara. Ini memang bukan masalah main-main. Taruhannya adalah nyawa. Dan tak seorangpun yang bisa dipaksa.

**********************************************************************************

#Jani

Aku menyanggupinya. Entah. Kemana otakku sehingga aku bisa berkata “iya” padanya. Astaga. Apa yang sudah kulakukan? Tetapi beberapa jam kemudian kudapati diriku lembur dengannya, di depan mesin ketik tua yang mungkin dibelinya dari tukang loak, menulis artikel.

“Lusa artikel ini harus terbit, Jani…Cuma ketikan sekalipun itu tak masalah…Kita punya tiga mesin ketik untuk menyalin semuanya bergantian dan menyebarkannya kemana-mana…”ujar Kak Rani penuh semangat.

Konyol.

Sementara keempat rekan-rekannya juga hilir mudik membantu.

Esok. Apa yang akan terjadi denganku?

Seseorang menepuk pundakku dan aku langsung terhenti dari pekerjaanku untuk mengetik. Aku menoleh ke belakang dan Mas Arai menyodorkan sepiring pisang goreng. Dia memakai kacamata, terlihat konyol karena tidak sinkron dengan tampang urakannya.

Aku menggeleng. Sedikitpun tak ingin makan. Tetapi dia mengambil satu dan memaksaku makan. Dia juga mengeluarkan sebotol susu dan memaksaku meminumnya.

“Nanti kuantar pulang..ibumu tak akan marah kan?”tanyanya.

Aku mengangkat bahu dan melanjutkan mengetik.

Dan lusanya. Artikel itu benar-benar terbit. Tersebar diantara orang-orang di ibu kota. Beredar dari tangan-tangan mahasiswa. Aku mengagumi ikatan antar mereka yang begitu kuat. Meski berbeda almamater tetapi saling rekat dan saling melindungi. Akan jadi apa negeri ini di masa depan jika anak-anak mudanya terus seperti ini? Mungkin perubahan itu jadi takkan lama seperti kata Mas Arai. Mungkinkah?

Bangsa Indonesia harus mengucurkan air matanya kembali

Anggota-anggota dewan yang bersidang istimewa dan tokoh-tokoh politik saat itu tidak peduli dan tidak mengangap penting suara dan pengorbanan masyarakat ataupun mahasiswa, jika tidak mau dikatakan meninggalkan masyarakat dan mahasiswa berjuang sendirian saat itu. Peristiwa itu dianggap sebagai hal lumrah dan biasa untuk biaya demokrasi. "Itulah yang harus dibayar mahasiswa kalau berani melawan tentara".

Betapa menyakitkan perlakuan mereka kepada masyarakat dan mahasiswa korban peristiwa ini. Kami tidak akan melupakannya, bukan karena kami tak bisa memaafkan, tapi karena kami akhirnya sadar bahwa kami memiliki tujuan yang berbeda dengan mereka. Kami bertujuan memajukan Indonesia sedangkan mereka bertujuan memajukan diri sendiri dan keluarga masing-masing. Sangat jelas!

#Arai

Darah dan nyawa kami mungkin belum cukup untuk membayar harga reformasi yang sesungguhnya. Kawan-kawan kami terus berguguran sejak bulan Mei. Lagu gugur bunga telah ribuan kali kami kumandangkan. Dan setelah sang penguasa itu mundur, tercetak harapan-harapan besar di dada kami. Namun nyatanya semua itu belum cukup. Kuku-kuku kekuasaan itu masih tertancap secara tidak langsung. Kerusuhan terus terjadi hingga kini, pertengahan November 1998. Tak ada lelah di jiwa kami. Kalaupun ada, kami akan segera mengusirnya karena malu terhadap rekan-rekan yang telah membayarkan nyawanya demi reformasi.

Bersambung~

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer jejakhujan
jejakhujan at Titip rindu untuk Rinjani (part2) (9 years 32 weeks ago)

makasih buat semuanya yang udah nyempatin baca. kutunggu terus saran dan kritik kalian. oke. semoga segera bisa diselesaikan :D

Writer zenocta
zenocta at Titip rindu untuk Rinjani (part2) (9 years 32 weeks ago)
80

mantab..

Writer NiNa
NiNa at Titip rindu untuk Rinjani (part2) (9 years 32 weeks ago)
60

Ayo lanjutkan lagi :D

Writer pandupella
pandupella at Titip rindu untuk Rinjani (part2) (9 years 32 weeks ago)
80

waw

Writer dhesiptr
dhesiptr at Titip rindu untuk Rinjani (part2) (9 years 32 weeks ago)
80

lanjutkan :D