Titip rindu untuk Rinjani (Part 3)

#Jani

Edisi demi edisi artikel kami terbit dan tersebar. Aku mulai bingung dengan diriku sendiri. Kemarin beberapa petugas datang ke kampus kami dan bertanya ini itu. Kelihatannya ini ada hubungannya dengan artikel yang menyudutkan pemerintah itu. Aku mulai takut ditengah membuncahnya harapanku bersama mereka, para pejuang reformasi itu. Ah..ataukah lebih pantas bahwa diri mereka ini disebut kuli-kuli reformasi? karena pengorbanan mereka sungguh tak sebanding dengan apa yang mereka dapatkan.

Tetapi lihatlah dia. Mas Arai ada disana. Lingkaran hitam kian hari Nampak kian tebal di matanya. Dia Nampak sangat kelelahan. Aku dengar dia bekerja keras demi mengumpulkan sumbangan untuk korban kerusuhan dan tak henti memperjuangkan HAM yang telah diinjak-injak bersama kawan-kawannya yang mungkin sama keras kepalanya dengan dia. Sekali dua kali, aku ikut bersamanya melakukan kerja sosial.

Sementara ketakutanku kian menjalar. Kalau sampai aku tersangkut paut masalah ini, hancur sudah rencana-rencana masa depanku. Siapa yang akan menanggung beban hidup ibu dan adikku kelak? Untuk berbaik sangka bahwa pemerintah di masa depan akan menanggung beban hidup rakyat miskin rasanya absurd, mengingat kondisi sekarang ini.  

Kadang aku menyibukkan diri di laboratorium, untuk menghindarinya. Tugas demi tugas, proyek demi proyek. Kupikir dia akan muncul tiba-tiba untuk mencariku kemudian menyuruh ini itu seperti biasanya. Tetapi ternyata tidak. Dan kupikir sudah tidak akan ada lagi keputusan bodoh yang akan muncul di otakku, tetapi ternyata salah. Sejak aku mengenalnya, aku merasa aneh dengan diriku sendiri. Aku mendapati perasaan ingin bertemu dengannya. Ingin ikut serta dalam perjuangan-perjuangannya. Meskipun absurd. Entahlah.

Aku sudah menentang habis-habisan kakiku untuk pergi ke tempat ini. Tetapi sia-sia saja. Kudapati diriku mengintip dari balik belukar yang memisahkan bangunan baru dan bangunan lama kampus. Hanya sekedar untuk melihatnya. Dan benar saja. Dia ada di depan markas kami. Berbincang dengan raut serius dengan seseorang. Kak Angelina. Dan beberapa saat kemudian kudapati mereka berdua pergi dengan motor, entah kemana.  Perasaan yang aneh segera memburu. Seperti ada serombongan kupu-kupu yang merangsek hijrah dari perut ke dada. Sesak.

Aku segera masuk ke markas dan kujumpai Kak Rani, Kak Jaya dan Kak Markus disana. Sama seperti Mas Arai. Wajah mereka Nampak lelah.

“Ada apa?” tanyaku saat menyadari semangat mereka tak nampak seperti biasa.

“Duduk Dik…bantu ngetik ya? Arai tadi pergi sebentar. Paling bentar juga balik. Mau nemuin papa-mamanya Angelina..” Kak Rani menyambut ramah. Ia mengalihkan perhatian sebentar dari mesin ketik. Membenarkan rambutnya yang acak-acakan.

“Orangtua Kak Angelina?” tanyaku bingung. Kenapa? Untuk apa?

“O iya..kamu belum tahu ya Arai sama Angelina itu pacaran..sejak SMA. Tapi memang gak kelihatan sih. Arai-nya kelewat cuek sih..untung Angel-nya pengertian. Tapi hari ini dia agak maksa Arai ikut. Perlu ketemu orangtuanya katanya masalah serius..” Kak Rani menjelaskan sambil tetap mengetik.

“Susah ya urusan sama perempuan..” gerutu Kak Markus.

“Udahlah..Arai bisa berlaku bijak kok..ayo, sini Jani. Hari ini kita dapat mesin ketik baru..Sumbangan dari Abang-nya Rani..” Kak Jaya segera menyuruhku duduk.

Aku duduk. Menghadap mesin ketik. Tetapi belum juga mulai mengetik. Tubuhku rasanya kaku. Dan rasa dingin tiba-tiba menjalar tiba-tiba dari ujung kaki hingga ujung tangan. Ribuan kupu-kupu semakin merangsek masuk. Membuat dadaku semakin sesak. Tuhan. Apa ini? Ayolah. Jangan begini…

*********************************************************************************

#Arai

Akhir tahun 1998. Aku masih merasa bahwa aku belum bisa melakukan banyak hal yang berguna untuk diriku sendiri. Untuk orang-orang di sekitarku. Dan untuk bangsa ini. Kasus trisakti, Semanggi I, Semanggi II dan berbagai kasus pelanggaran HAM lain yang mencoreng muka negeri ini masih belum tuntas diusut. Sementara masalah demi masalah terus bermunculan. Kami terus berjuang melalui berbagai jalan. Jalan demonstrasi, jalan mediasi, jalan menggunakan pers, jalan hukum. Tetapi selalu akhirnya menemui jalan buntu.  Tak ada kuasa kami untuk itu. Maka yang bisa kami lakukan Cuma kerja sosial yang dampaknya juga tak terlalu besar. Membangun kembali kerusakan-kerusakan akibat kerusuhan yang ada. Membantu keluarga korban dan membantu mereka menempuh jalur hukum untuk menuntut keadilan.

Rinjani masih turut serta membantuku. Mengetik sepanjang malam. Membantu mengajar anak-anak di perkampungan kumuh tempat kami biasa melakukan kerja sosial. Mengumpulkan obat-obatan. Menggalang bentuan dari LSM-LSM dan mengumpulkan bantuan dari mahasiswa-mahasiswa lain. Mahasiswa jadi semakin terintegrasi, tak hanya berfokus pada penyelesaian konflik secara politik, namun terjun ke bidangnya masing-masing untuk turut ambil andil berperan kepada masyarakat. Diluar perkiraanku. Dia berkembang amat pesat. Tak ada lagi Rinjani yang kikuk dan suka merenung. Sekarang seluruhnya tergantikan oleh Rinjani yang tegas, tanggap dan pandai bicara. Banyak sekali orang yang mengenalnya. Ia semakin bersinar dan aku semakin mengaguminya. Ia melakukan semua kewajibannya dengan sangat baik. Ia adalah salah satu mahasiswa terbaik di kampusku. Kandidat terkuat penerima beasiswa ke luar negeri.

“Aku bangga sama kamu…” kataku suatu sore. Menatap matanya sambil tersenyum.

“Ko. Berikan Mie kuah dengan cabe dua juga the hangat untuk Rinjani..” ujarku pada Cina pemilik warung itu tanpa bertanya lagi pada Rinjani. Aku hafal kebiasaannya.

Sore ini adalah agenda kerja sosial kami. Bukan hal yang besar. Tetapi sangat kunikmati. Melihatnya mengajar. Aku mengajaknya makan bersama seusai dia mengajar. Dan dia tak menolak. Dia puluhan kali lebih kooperatif sekarang.

“Tak ada yang patut dibanggakan..” ujarnya dingin. Menyahuti ucapanku tadi. Tetapi ia menghindari mataku. Aku tak mengerti. Kami memang lebih sering bersama-sama tetapi yang aku tak mengerti sikapnya semakin dingin padaku. Ia diam. Makan mie kuah-nya dengan tenang. Tampak tak terusik dengan ekspresi heranku.

“Aku serius dengan perkataanku…sekarang dan seterusnya…kamu adalah Rinjani yang kubanggakan..yang kukagumi…teruslah tumbuh seperti ini..” aku tersenyum dengan lembut kepadanya. Mungkin aneh. Tapi kudapati perasaan ingin selalu memberikan kekuatan padanya. Ia adalah lampion yang amat terang. Dan takkan pernah kuijinkan cahayanya redup oleh apapun.

“Aku tak mau dengar lagi…” ujarnya tiba-tiba. Dia berbalik memandang mataku. Tajam. Dan akhirnya kusadari. Tuhan. Ada kabut di matanya.

Seperti listrik. Ada suatu arus yang mengalir kedalam diriku ketika aku menatap matanya. Ada yang menular. Seperti prinsip konduksi. Menjalar dengan liar masuk kedalam dadaku. Menciptakan rasa sakit dan sesak tak terhingga.

“Kamu orang yang paling mampu membuatku hancur berkeping-keping. Jadi tolong jangan katakan apapun.” ujarnya tegas.

“Jani..tetaplah percaya padaku.” Aku balik menatapnya. Gamang.

Ia hanya diam, memakai mantelnya dan berpamitan untuk pulang.

Aku masih terdiam di tempatku. Tuhan. Apa ini?

Hatiku mengatakan aku sudah melakukan sesuatu yang salah padanya. Ya. Pada dia. Orang yang paling tidak ingin kusakiti.

***********************************************************************************

#Jani

Jangan Tanya caraku untuk bangkit. Aku bangkit dengan bersusah payah.  

Jangan kira aku hebat karena bisa bangkit. Ini Cuma karena terpaksa. Sesederhana masalah perut. Tak akan ada cara untuk hidup kalau aku tidak bisa memaksa diriku sendiri untuk melakukan apa yang memang seharusnya kulakukan.

Kudapati diriku adalah larva yang selamanya ingin membungkus diri dalam kepompong. Lalu suatu ketika ada bocah yang merangsek ke dalam pohonku. Mendesak agar aku segera berubah menjadi kupu-kupu. Dia menungguku dengan sabar. Menjagai kepompongku agar tak rusak sedikitpun. Memberikan lampion kecil sebagai penghangat sarangku. Dan saat aku berubah menjadi kupu-kupu, dia yang bersorak paling riang. Dan aku ingin menunjukkannya betapa mempesona jika aku terbang. Dan tepat ketika aku ingin melihat senyumnya lagi, dia pergi.

Kusibukkan diriku dengan aktivitas gila-gilaan. Dan hasilnya jauh diluar dugaan. Aku benar-benar bukan Rinjani yang dulu. Aku mengalami metamorfosa total yang meskipun benci kuakui, ini semua karena dia. Berawal dari dia.

Semuanya berawal dari dia. Berawal dari perasaan tak ingin membuatnya kecewa. Perasaan ingin percaya padanya.

Tuhan. Mungkin aku terlalu serakah. Ampuni aku. Kau sudah memberikan terlalu banyak untukku Tuhan. Aku tak ingin berharap lebih banyak lagi.

Kami masih sering bersama-sama. Dan dia masih sebaik biasanya. Membawakan makanan untukku. Menjadi pendengar yang baik saat aku mengeluh ini itu. Menghiburku dengan lelucon-leluconnya. Dan kadang memberikan hadiah-hadiah kecil untukku seperti membuat pesta kejutan di sekolah darurat tempatku mengajar saat usiaku genap dua puluh satu tahun.

Tak terasa tiga tahun aku bersamanya. Aku belajar banyak darinya. Dia tak berubah. Aku mengagumi semangatnya dan perhatiannya yang begitu besar pada orang-orang di sekitarnya.

Dan satu hal lagi yang tidak pernah berubah. Kak Angelina masih tetap bersamanya dan mungkin masih menjadi orang yang paling ingin dibahagiakannya.

Tuhan. Maaf jika aku terlalu banyak meminta. Kali ini saja. Kumohon. Jangan jadikan aku bulan yang tak tahu diri. yang menghalangi pertemuan antara bumi dan matahari..

************************************************************************************

 

#Arai

Aku mengerti dia lebih dari orang lain memahaminya. Entah sejak kapan, kudapati diriku selalu senang memperhatikannya. Mengetahui hal-hal kecil tentangnya.

Dan tentang apa yang dipikirkannya. Jangan kira aku tak tahu.

Aku tahu kapan dia ingin marah. Aku tahu kapan dia ingin menangis, seberapapun keras dia ingin menahannya. Aku tahu dia berjuang jauh lebih keras dari orang lain. Dan aku tahu, akulah hujan tak tahu diri yang bisa mematikan cahayanya. Lampion kecilku.

Tuhan. Jikalau aku bisa meminta. Jangan jadikan aku hujan. Aku ingin menjadi minyak, yang meskipun akan habis seiring dengan waktu, namun bisa membuat cahayanya semakin terang.

“Kenapa kamu membuat ini sulit?” Tanya Rani bersungut-sungut di suatu senja saat kami menyempatkan diri masuk ke Ciliwung, memunguti sampah. Belakangan banjir semakin menjadi. Apa boleh buat. Maka kami mahasiswa dengan gerakan anti gengsi turun tangan. Kami tak mau menjadi munafik. Berkoar-koar soal perubahan besar tetapi tak mau menangani hal-hal kecil yang menjadi masalah dalam masyarakat.

Aku diam. Tak menjawab karena aku tahu jawabanku akan dimatikan segera olehnya, dan tak juga berani aku menyangkal.

“Mau buat Jani semakin kurus? hei..jangan naïf. Tak lama lagi dia akan keluar negeri. Dia tumbuh dengan baik. Lulus dengan cepat. Tak seperti kita ini. Tapi untunglah kuliahmu molor setahun. Jadi masih ada kesempatan melihat dia..”

Rani menunggu jawabanku. Menatapku dengan pandangan prihatin.

 “Dulu dia lampion. Aku mengagumi cahayanya. Dan ingin melihat dia menjadi cahaya yang lebih terang. Sekarang dia bintang. Jauh dan tak tersentuh..Apa  salahku? karena berharap terlalu banyak?”

“Kalaupun dia bintang, kamu punya sepasang sayap untuk terbang ketempatnya. Dia menunggumu. Hanya saja kamu terlalu bodoh untuk mau mengerti itu.”

************************************************************************************

bersambung ke (part 4 : Final)

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

Jujur, terasa mengalir membacanya.

Writer zenocta
zenocta at Titip rindu untuk Rinjani (Part 3) (9 years 36 weeks ago)
70

can't wait to final..

haha. pengalaman pribadi #plak
sabar ya mbak :P

90

. hwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa... ..nyesek bacanyaa .. >.< nano.nano dech ..

amazing . sugoi . perfecto ..
aku udaa baca sebelum"nya . .
en bagus ..

akuu sukaaa ..
saya tunggu part empat .. huhuhuh .. T.T

'Jangan jadikan aku bulan yang tak tahu diri. yang menghalangi pertemuan antara bumi dan matahari'

kata"nya .. hmm .. kena bgt .. >.< ehhe .. *lebay ^^'