Riri's Boyfriend: "Aku Jadi Lebih dan Lebih Berani" [Chap 3]

Sudah seminggu akhirnya aku dan Rivan berkenalan dengan status "pacar" di sekolah.

Well, setelah seminggu kenal dengannya walaupun akrabnya baru 4 hari ini -karena tiga hari sebelumnya aku masih kagok, canggung, bingung, dan belum bisa mengontrol detak jantungku- akhirnya aku memang bisa lebih mengenalnya. Dan itu membuatku nyaman.

Ternyata Rivan memang tak hanya tampan, memang tak hanya pintar. Tapi dia itu memang ramah, memang sopan, dan itu sama sekali bukan kebohongan. Aku nggak keberatan dia akrab dengan cewek -siapapun itu-, karena dia juga akrab denganku jadi aku tak perlu iri lagi seperti dulu. Bahkan karena statusku di sekolah yang sebagai pacarnya -walaupun sampai sekarang aku masih tak berani berfikir Rivan memang menganggapku sebagai pacar, secara kami juga kan baru kenal-, aku bisa sedikit lebih dekat dengannya. Tapi aku bisa lebih pede untuk ngedeketin Rivan, tersenyum padanya -karena ia juga pasti melihatku-, atau sekedar menyapanya. Seperti hari ini..

Aku dengan riangnya berjalan ke arah perpustakaan yang setahun ini hampir tak pernah kusinggahi kalau bukan karena aku ada tugas nyari referensi disini. Tapi karena terkadang Rivan memang tak makan di kantin dan lebih milih di perpustakaan, aku jadi ikutan sering deh mampir kesana. Taunya dia suka ke perpus? Karena sejak aku berani dekat dengannya, aku juga berani minta nope-nya. Ah, entahlah, karena aku tahu dia ramah, aku juga jadi lebih pede dan berani saja.

"Kok kamu suka sih, Van, baca-baca buku perpustakaan?" tanyaku ketika sedang menemaninya mencari buku berjudul "Jejak Langkahku" atau "Jejak Matimu", apalah itu..

Ia tersenyum sambil menimbang dua buku -yang bukan target bukunya sih sebenernya- , dan menatapku "Kenapa emang? aneh?"

Aku mengangguk mantap. "Iya aneh.. " Dan Rivan mengernyitkan dahinya, tetap sambil tersenyum "Habis anak-anak cowok yang populer kayak kamu tuh harusnya yaa.. jam segini itu ke kantin, ngobrolin bola, main basket.. apalah itu..." lanjutku sambil meraba judul-judul buku di rak.

"Kalo kamu?"

"Hah?" aku bingung. Kenapa malah balik tanya?

"Kenapa kamu kesini? Nggak ke kantin?"

Dan aku tersenyum mendengarnya "Pertama karena... yaah.. soalnya aku liat kamu sendirian disini, jadi iseng nemenin deh. Kedua karena semua orangkan punya mood masing-masing. Nah, sekarang mood-ku lagi nggak pingin ke kantin."

Ia menghela nafas "Yaudah sama.."

"Lho?" protesku cepat. Sial, itu bukan jawaban Rivaaaan..

"Mood ku sekarang juga lagi nggak pingin ke kantin, lagi nggak laper.." jawabnya ringan.

Aku mengangguk-angguk "Ohh.. tetep aja aneh.."

Rivan tertawa kecil "Kok kamu yang protes sih? Yang suka baca buku kan aku?"

Aku merengut "Curang! Aku juga suka baca kali, Van.."

Lagi-lagi aku mendengar tawanya yang ringan tapi menyenangkan "Oh ya? Buktinya daritadi bingung nyari buku yang aku cari..?"

Aku jadi merasa terganggu dengan caranya bicara seakan-akan aku tak tau apa-apa soal buku "Halaah.. apasih tadi juga ketemu cuma kelewatan aja..."

"Masa?"

"Iyaaa..  judulnya 'Langkah Kematian' kan?"

Dan aku tak tahu mengapa, tapi ia seperti tak dapat menahan tawanya dan tertawalah RIvan.. "Kamu itu pikun ya, Ri?"

"Hahhh?? Pikun??..."

"Sssssstttt..." potong hampir semua penghuni perpustakaan lainnya yang mungkin merasa terganggu karena sejak tadi aku dan Rivan lupa ngecilin volume. Aku tersenyum salting sambil berusaha minta maaf, sedangkan Rivan sudah tak terlihat batang hidungnya. Sial, kabur dia.

Selain nemenin ke perpustakaan, aku juga sering menunggu Rivan  pulang di pinggir lapangan basket. Melihatnya berkeringat dari dekat dan membawakan handuk juga minuman untuknya, membuatku merasa tersanjung dan dihargai. Dia benar-benar mengenalku, dan aku sama sekali tak bermimpi. Selain itu, aku juga suka nemenin dia ke kantin, kalo dia nggak lagi sama temen-temen cowoknya, ataupun nungguin dia rapat OSIS. Kegiatan-kegiatan Rivan yang padat itu tetep aja nggak bikin aku bosen lihat wajahnya tiap hari. Malah jadi kangen terus, apalagi kalo udah ngobrol sama dia

Aku emang nggak pernah disuruh nemenin dia, nungguin dia basket, nungguin dia OSIS. Dia nggak pernah minta ke aku. Aku aja yang dengan pedenya selalu berada di depannya tiap dia pulang. Aku juga yang selalu sms dia. Mungkin aku memang lebih agresif kali ya, tapi Rivan nggak pernah nolak sih, di sms juga bales, jadi aku makin gencar aja. Dia kan juga salah, harusnya kalo nggak suka bilang. Dia kira aku bakal ngerti kalo dia nggak bilang? Makannya, karena dia selalu terima-terima saja aku berada di sampingnya, aku juga nggak bakal ngira dia keberatan. Lagian, sejak smp aku sudah menyukainya. Aku hanya ingin ia terbiasa melihat wajahku, walau memang yang sering menemani dan menungguinya nggak cuma aku. Dia pasti nggak tau, sainganku ada banyaak sekali di sekolah ini.. Tapi entah kenapa aku nggak merasa terganggu dengan sikap dan tatapan mereka. Rasa sukaku ke Rivan bikin aku jadi berani lebih dari yang mereka kira. Mereka pikir aku bakal nyerah ngedeketin Rivan cuma karena tatapan-tatapan iblis mereka? Aku suka sama Rivan lama banget, nggak mungkin kalah secepat itu dong. Mereka pikir siapa RIri gitu?

Read previous post:  
33
points
(1263 words) posted by adlinaraput 10 years 22 weeks ago
82.5
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | harapan | riri's boyfriend
Read next post:  

lagi put :))

80

bagus**
lanjutin ya,,,:)