Temptation of Arcturus

 

Arcturus kejam. Arcturus jahat. Lihat dia, mendominasi semua nyawa hanya untuk dirinya sendiri. Memang dia tuhan?

Tapi bagaimanapun aku menghinanya, toh aku termasuk satu yang terjepit dalam cengkramannya, dikurung di jeruji kekuasaannya, dan tak dapat melepaskan diri.

Menyedihkan, bukan?

“Izar, tahukah kau apa yang paling kuinginkan di alam semesta?”

“Tidak, tuan. Apa yang paling kau inginkan di alam semesta?”

Arcturus berdehem dramatis sebelum menjawab. Berusaha membuat seolah-olah kata yang akan ia keluarkan adalah pernyataan paling sakral di jagad raya.

“Menghancurkan semua isinya dan membangunnya kembali, agar semua dapat berjalan di bawah kuasaku.”

Oh, lihat dia. Betapa memuakkan saat mengetahui ternyata ia berusaha menyaingi tuhan. Bahkan menatap hidungnya saja sudah membuatku jijik. Tapi anehnya, aku tetap berdiri di sini dengan setia, menunggunya berpikir sambil memilin-milin janggut.

“Izar, maukah kau mengabulkan perintahku?”

“Apa pun, tuan…”

“Tolong bantu aku menghancurkan alam semesta.”

“Baik, tuan…”

“Dan, Muphrid?”

“Ya, tuan.”

“Tolong bantu aku membangun kembali alam semesta.”

“Aku mengerti, tuan…”

“Pastikan tugas kalian berhasil atau kalian akan tahu akibatnya…”

 

-o0o-

 

Hari itu hari terakhir yang aku inginkan di dunia ini. Aku berdoa pada Tuhan pemilik Alam Semesta agar dia dihentikan. Tapi anehnya, di saat bersamaan aku begitu bergairah melihatnya melangkah masuk ke dalam ruang singgasana.

Cepatlah, cepat mulai…

“Hari yang bersejarah, di mana Arcturus akan selalu diingat sebagai penguasa terbesar alam semesta.”

Wajahnya berseri-seri dengan seringai kejam.

“Kekuatanku terlalu besar untuk menghancurkan dan membangun semuanya, tapi tak perlu khawatir, akan kusisakan bagian untuk kalian karena aku harus membereskan para dewa kacangan itu…”

 

-o0o-

 

“Sedikit lagi, Izar!”

Ia menangis sambil menggeleng kuat.

“Tidak, aku tidak sanggup. Terlalu banyak kehidupan di sana, bagaimana mungkin aku tega…”

“Kau harus menghancurkannya atau dia yang akan menghancurkanmu!”

Izar menangis semakin keras. Tubuhnya terguncang dan membuat rasi bintang terdekatnya bergetar.

“Lebih baik aku mati… Lebih baik aku mati…”

“Tapi kau tak akan mati. Kau hanya akan hancur namun terus hidup. Itu lebih menyakitkan dan kau tahu itu!”

Tanpa bisa berkata-kata Izar hanya bisa menggeleng sambil menangis. Aku menghela napas.

Perlindungan tuhan untukmu, Izar…

 

-o0o-

 

“Bagus sekali, Izar…”

Bibir Izar bergetar, berusaha menahan rentetan kata dari dalam tenggorokannya, tapi aku menatapnya tajam. Bibir yang terlalu jujur kadang dapat menghancurkan semuanya.

“Dan bagaimana denganmu, Muphrid?”

Arcturus berpaling dengan wajah tenang. Tunggu saja sampai ia lihat nanti…

“Oh…”

Hanya itu? ‘Oh’ dengan wajah yang tak berubah setelah melihatnya? Padahal aku mengharapkan kemarahannya…

“Mengapa?”

“Daripada membangun, aku lebih suka menghancurkan, tuan…”

Wajahnya tenang, namun aku tahu pasti desis lahar kemarahan mulai merayap di dalam tubuhnya. Kami berdua bisa merasakan itu.

Mata Izar menyorotkan perasaan bersalah dan ketakutan. Sayangnya itu tidak diperlukan. Aku sudah melakukan apa yang kuinginkan, dan sebentar lagi aku akan mendapat hadiah istimewa dari tangan-tangan menjijikan Arcturus.

“Kau tahu aku tak suka memberi kesempatan kedua…”

“Aku memang tak memintanya, tuan…”

Ia turun dari singgasananya. Baju kebesarannya yang terpintal dari benang-benang emas berdesir sementara dia bergerak. Wajahnya yang agung dan bercahaya, seperti dewa-dewa pada umumnya, masih terlihat tenang. Tapi ia tak bisa menyembunyikan kilatan petir di matanya yang menyorot tajam.

 

-o0o-

 

Terlalu gelap untuk melihat, tapi telingaku dapat menangkapnya. Ia mengendap-endap dengan langkah yang—tololnya—terlalu keras sehingga dapat di dengar. Aroma tubuhnya menguar ketika kurasakan sentuhan di bongkahan batu berduri yang memenjarakanku.

“Percuma…”

Gerakannya terhenti sebentar.

“Tidak, kau tak pantas. Ini semua salahku.”

“Bodoh, ini semua keinginanku. Tak ada hubungannya denganmu.”

Aku mencium wangi keterkejutan dari asal suara itu, keadaan terlalu gelap gulita, tapi dapat kuketahui ia tengah menatapku.

“Pergilah. Jika ia melihatmu juga, nasibmu akan sama.”

“Tidak, Muphrid! Aku akan mengeluarkanmu!

“Tidakkah kau mengerti?! Aku yang menginginkannya! Aku ingin menghancurkan kehidupan itu! Aku ingin pecutan tongkat Arcturus? Jelas?!”

Ia terperangah.

“Tapi… mengapa?”

Keheningan menjeda dalam pembicaraan yang tak diinginkan itu. Arcturus dapat meremukkan kami berdua jika mengetahuinya.

“Bintang-bintang penerang itu sudah hancur hingga kita tak bisa lagi membedakan siang dan malam, tapi waktu hukuman sepertinya akan segera tiba. Sebaiknya kau bersiap di bangku penonton.”

“Muphrid…”

Aku membalikkan posisiku membelakanginya dan memejamkan mata. Ia terus memanggil-manggil, namun tak akan berhasil.

 

-o0o-

 

Suara rantai ini sangat mengganggu. Bergemerincing berat, seakan bahagia dengan tiap langkah yang kuambil menuju ke bangsal eksekusi.

Arcturus telah ada di sana, menanggalkan pakaian kebesarannya untuk memamerkan otot-otot kekarnya sementara Izar meringkuk di sisi undakan. Api dewa yang melayang di tiap sudut ruangan tak dapat mengusir kegelapan. Malah sebaliknya, membuat kesan kelam semakin kuat.

Aku menyeret kakiku dan berdiri di tengah area eksekusi. Arcturus melangkah mantap menghampiriku. Didorongnya aku hingga jatuh berlutut sementara satu tangannya menarik tongkat metal dari lingkaran kegelapan.

Betapa lama aku menunggu untuk saat ini…

Tanpa basa-basi, desingan tongkat itu memenuhi kepalaku dan untuk sesaat, membuat kesadaranku hilang. Seluruh tubuhku dipenuhi rasa aneh. Seperti ditusuk-tusuk tapi ada secercah kenyamanan di dalamnya.

Ayunan tongkat itu menghantamku lagi. Kali ini meninggalkan bekas yang lebih pekat terasa. Kepalaku diisi rasa candu tak masuk akal.

Jadi seperti inilah pecutan tongkat legendaris Arcturus. Sakit, tak usah ditanya. Tapi begitu memikat, begitu mempesona. Aku menginginkannya lagi...

Tanpa perlu kuminta, suara pecutan itu terdengar lagi. Membuatku tenggelam dalam lautan es yang dalam. Begitu bahaya, tak tertebak, namun penuh pesona.

Lagi.

Lagi.

Lagi.

Lagi.

“Kau menikmatinya…”

Arcturus tiba-tiba menghentikan gerakannya. Ia menyadarinya. Ia dapat membaca diriku dengan mudah.

“Iya, tuan…”

Memang aku harus berkata apa lagi?

“Haruskah aku memberimu hukuman lain?”

“Jika kau menginginkannya…”

“Tapi kau menikmati semua rasa sakit. Ah, ini membuang waktuku…”

Ia melempar tongkatnya dan melangkah ke luar dari arena eksekusi.

Izar segera bangkit dan menolongku berdiri saat arcturus telah tak terlihat.

“Tuhan menyelamatkanmu, Muphrid…”

Tak tahu apa yang harus kukatakan.

“Dia mungkin bisa mengalahkan dewa lainnya. Dia mungkin bisa meremas jagad raya dalam genggamannya, tapi Tuhan akan membalasnya, lihat saja…”

Tapi mengapa rasanya aku tak begitu senang diselamatkan?

“Tidakkah kau berpikir tuhan akan membalas kita juga?”

Izar terdiam.

 

-o0o-

 

“Sebaiknya kau tidak melangkahi otoritas-Nya, tuan.”

“OMONG KOSONG!!”

Tak peduli lagi, ia memukulku berkali-kali dengan semua yang tergapai tangannya. Telingaku berdengung di tiap sabetan dan konsentrasiku buyar selama beberapa detik setelahnya.

Dasar, makhluk dangkal yang menjijikan. Betapa tak inginnya ia membuka mata pada kenyataan. Tapi yang lebih menjijikan adalah, aku yang terhanyut dalam rasa sakit ini.

“Akulah yang akan menjadi penguasa alam semesta ini!!”

“Kau diciptakan oleh-Nya dan kau tak bisa mengelak pada kenyataan itu.”

“Aku penguasa tunggal! Aku agung! Aku mulia! Aku tidak dapat ditumbangkan! Aku tak dapat digantikan!!”

Ia kembali melampiaskan amarahnya pada cambuk di tangannya. Tak terhitung berapa banyak sabetan yang kudapatkan. Bodohnya, makin lama aku kian menikmati rasa sakit yang kudapatkan dari jemari memuakkannya. Izar kembali menangis di pojok ruang singgasana. Tak sanggup lagi melihatku.

“Aku akan melakukannya, lihat saja. Akan kukalahkan Dia!!”

“Tidak. Dia pasti akan meremukkan anda lebih dulu, tuan…”

Arcturus meraung keras-keras, seperti orang gila. Meretakkan langit gelap tanpa bintang yang menjadi latarnya dan dataran tempat kami berpijak bergetar begitu hebat.

“Aku akan menghancurkan-Nya!! Aku akan menghancurkan-Nya!!!”

Raungan liarnya membahana. Begitu dahsyat. Untunglah semua makhluk hidup di alam semesta sudah dimatikan. Jika tidak, mereka akan tersiksa lebih dulu dengan raungan Arcturus sebelum akhirnya mati mengenaskan.

Ia lalu menggerakkan tangannya untuk memberikan siksaan terkerasnya padaku. Cambuk itu terangkat begitu tinggi, menghantamku telak, membelahku menjadi dua. Tak ada darah. Kami para titisan dewa adalah makhluk abadi yang dapat tetap hidup walau tubuh kami terpisah-pisah.

Ya, tak ada darah, tak ada rasa. Tubuhku kebas dan aku tak dapat berpikir.

Kurasa sudah cukup dengan rasa sakit ini…

Tiba-tiba secercah cahaya terang menyambar Arcturus yang berdiri berang di hadapan kami. Tak yakin dengan apa yang kulihat dan kukatakan, aku hanya dapat memejam karena silau. Ketika kubuka mata, sebuah bola api raksasa telah melayang di depan kami. Ia melambung kasar ke langit di atas sana, seakan diseret secara paksa.

Terus, terus, jauh sekali. Hingga ia berhenti.

Kemudian kusadari apa itu.

Arcturus berubah menjadi bintang.

Ya, hanya ialah satu-satunya bintang yang menodai langit hitam yang diretakkannya. Berpijar panas, garang dan penuh kehancuran.

Perlahan aku mengerti, Tuhan murka dan menghukumnya. Ia digantung di langit untuk selama-lamanya.

Kemudian terdengar Izar memekik campur tangis. Menyerukan puji-pujian. Ribut bersyukur karena kami ditinggalkan hidup tanpa hukuman.

Tidak. Aku tidak ingin hidup seperti ini. Dia memang memuakkan, tapi apalah gunanya aku hidup tanpa tuan yang dapat kupenuhi perintahnya. Aku tak akan ada gunanya.

Kemudian cahaya itu muncul lagi. Kecepatannya menakjubkan. Ia menyambarku, membuatku semakin kehilangan rasa. Aku diseret terus ke atas, meninggalkan Izar yang terlihat semakin mengecil dan mendapati diriku digantung tak jauh dari Arcturus.

Ia menoleh dengan garang pada tubuhku yang terbelah dua sehingga menjadi bintang ganda. Tapi semarah apa pun, kini tak ada lagi yang bisa dia lakukan.

Tepatnya, tak ada yang lagi yang bisa kami lakukan.

Entah apa yang terjadi, tiba-tiba sebuah bintang diseret lagi ke atas, lebih jauh dari kami berdua. Izar memutuskan untuk menerima balasannya juga. Mungkin karena ia tak bisa hidup sendirian.

Ia memunculkan beberapa bintang di dekat kami untuk menyempurnakan garis-garis khayal dan memberi kami label nama, Bootes.

Awalnya aku bertanya mengapa tuhan menjadikan kami bintang alih-alih langsung menghancurkan kami hingga ke bubuk. Namun kini aku tahu alasannya.

Begitu ramai di sini setelah enam bintang lainnya bermunculan dan berbincang-bincang, sementara kami bertiga hanya bisa terdiam. Melihat Tuhan membangun kembali alam semesta dengan sangat mudah setelah kami menghancurkannya dengan susah payah...

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer redtailqueen
redtailqueen at Temptation of Arcturus (10 years 32 weeks ago)
90

awalnya sih bingung kak, tapi ternyata keren xD

Writer Erick
Erick at Temptation of Arcturus (10 years 33 weeks ago)
100

Uhuk... 0_o

surealis, atau akunya yg gak konek?

membuatku semakin penasaran, tapi kondisi lagi gak memungkinkan. Aku akan coba baca ini lagi di lain kesempatan. semoga lebih jelas...

Writer Gitta-chan
Gitta-chan at Temptation of Arcturus (10 years 33 weeks ago)
100

Keren, lah. Ngelihat sifat si Arcturus ini rasanya jadi inget Firaun. Hohoho.
.
Ngomong-ngomong, gimana sih, cara make perataan justify itu? saya dari dulu nggak bisa-bisa.

Writer tsukiya_arai
tsukiya_arai at Temptation of Arcturus (10 years 33 weeks ago)
100

ini adalah master piece paling membinungkan yang pernah saya baca..

good job!! ^_^)b

Writer Naer
Naer at Temptation of Arcturus (10 years 33 weeks ago)
80

Ehe :)
.
Iya ceritanya kayak Masokis seneng disiksa :)) tapi saya seneng bacanya sampai selesai. Cuman pas di awal-awal saya ngira si 'Aku' itu Izar, tapi ternyata Morphus.

.
Buat karakterisasi mah udah pas kali ya. Ah saya bingung mau komen apa lagi. Pokoknya bagus deh ''d

Writer Rendi
Rendi at Temptation of Arcturus (10 years 33 weeks ago)
80

hohoho cerita Maso yang berbalut isu ilmiah. kinda like it~ :D
.
paragraf pertama... ada kesan kek anak kecil lagi ngambek... *hehe mungkin perasaan gw doang ya* padahal kesan seterusnya si Murphid ini benci yang mendalam. saran gw sih kalimat ke dua dipanjangin lagi untuk nambah unusr kebencian karakter aku (Murphid) ini.
.
di bagian dialog gw sempet ga bisa bedain kepada siapa Arcturus berbicara. pas pertengahan baru bisa gw tebak mana yang diajak bicara. hehe mungkin gw yang lagi ga bisa nyelem ke karakter aja :D

Writer kyuukou okami
kyuukou okami at Temptation of Arcturus (10 years 33 weeks ago)

maksudnya pas dia ngatain kalo arcturus jahat? itu kayak anak kecil ya?0.0

saya emang sengaja engga ngasih tau dengan jelas siapa yang ngomong sama siapa. pengen coba buat cerita yang penuh teka-teki (walau kayaknya gagal besar...orz)

makasih kak ren udah mampir^^

Writer Rendi
Rendi at Temptation of Arcturus (10 years 33 weeks ago)

iya, berasanya gitu ^^; padahal kalo kalimat kedua dikembangkan gw rasa emosinya bisa berubah ^^
.
teka-tekinya bagus, tapi corak dialognya masih kurang. orang harus bisa liat uniqueness dari dialog tersebut. kalo maw yang terlihat bisa: dialog dibold, underline ato dikasih tanda baca khas. kalo maw yang rada saru harus selalu ngasih pesan emosional (ini dah keliatan tapi rada halus). dan IMO ga gagal besar kok, cuma agak bingung aja di awal-awal terutama untuk mengenali, siapa si aku ini sebenarnya.
.
sama2 ya Kyuu~ hehe ganbatte ya Serigala Mungil~ XD

Writer Rendi
Rendi at Temptation of Arcturus (10 years 33 weeks ago)

eh iya, kalo maw liat contoh yang bisa dicek karakterisasinya. coba cari postnya Sam_riilme yang ini:
http://www.kemudian.com/node/262114
ada ciri khas dari dialog tiga karakternya di awal2 ^^b