Debat Sabar 2

Arif balas menatap Budi dengan tajam. Arif balas menatap Budi dengan tajam. “Kenapa? Nggak terima? Emang gitu kan kenyataannya?”
Budi termenung sebentar. Kemudian menjawab, “Ya. Emang betul. Tapi, tak ada alasan bagi lu bwt ngejelekin ibu gua.”
Arif tersenyum sinis.“Lu marah? Katanya hidup itu harus sabar?” Aku ikut tersulut setelah mendengar pertanyaan Arif. Meskipun itu tidak ditujukan kepadaku. Anak mana yang rela orangtuanya dijelek-jelekkan begitu?
“Dari awal lu ngomong, gua udah tau kalo lu tu bukan penyabar.” Budi sudah bisa menguasai diri. Tapi tatapan elangnya masih tetap berburu. “Gua salut ama bapak lu. Bisa sesabar ini ngadepin anak kaya lu,” tambahnya.
Arif terlihat kesal. “Ngajak berantem lu?” Dia mencengkeram kerah polo shirt Budi.
Budi tak mau kalah. Dia pun mencengkeram kerah hem milik Arif. Kurasa adu argumen ini telah berubah menjadi area gladiator.
“Woi, udahlah!” Kucoba melepaskan tangan mereka agar tak saling cengkeram. “Kok malah kayak gini? Sabar! Sabar!”
Mereka masih meneruskan adu matanya. “Kalo lu berani? Ayo! Gua ladenin,” tantang Budi.
Aku semakin bingung harus berbuat apa. “Bud, tadi lu bilang harus sabar kan? Kenapa lu malah gini? Nggak ada sabarnya ini,” kataku mencoba melerai.
Mereka malah menangkis tanganku. “Apa?” Sekarang mereka malah berbalik memandangku marah. Seharusnya aku pergi saja tadi. Tak perlu mengurusi mereka.
“Lu bicara kayak lu paling bener aja,” kata Arif dengan nada tinggi. “Kayak cuma lu orang paling sabar di dunia ini,” tambahnya.
Aku semakin bingung dengan keadaan ini. Kenapa sekarang malah menyerangku?
“Betul,” kata Budi membenarkan. “Diantara kita bertiga, lu orang paling nggak sabar disini. Jadi, jangan sok ngajarin kita!”
Kenapa aku? Pertanyaan itu terus muncul setelah mendengar perkataan mereka.
Arif yang mengetahui ketidakmengertianku menambahkan, “Lu nggak tau kenapa kita bicara gitu? Lihat tu bungkus rokok lu!”
Hanya tinggal satu puntung rokok di dalam kotak putih itu. Tapi apa hubungannya dengan rokok?
“Lu tu nggak pernah bisa nahan nafsu rokok lu. Baru berapa jam kita disini?” Arif memberikan penekanan pada kalimat terakhir. “Rokok satu kotak, tinggal satu puntung aja,” tambahnya.
Memang benar.
“Nafsu rokok lu tu udah kelewat batas. Kita nggak tahan tiap hari harus ngirup asap rokok lu mulu,” kata Budi. “Kita peduli ma lu. Jadi kurangin rokok lu!”
Perseteruan telah berakhir. Ternyata sabar itu menahan nafsu. Termasuk rokok. Terima kasih sabar.

Read previous post:  
11
points
(244 words) posted by yuu_sara 9 years 2 weeks ago
36.6667
Tags: Cerita | Cerita Pendek | kehidupan
Read next post:  
Be the first person to continue this post