Untuk Langit #part 1

Seorang cowok duduk memejamkan matanya di bangku taman belakang sekolah sambil mengenakan headphone berwarna hitam nya. Kakinya dihentakan ke bumi seirama dengan lagu Jet Lag nya Simple Plan, sesekali kepalanya mengangguk-angguk. Wajahnya putih, berpenampilan rapi, dengan gigi yang tertata rapi di balik kawat giginya serta mata yang tajam dibalik kacamatanya yang tersangkut di hidung mancungnya. Langit Dewangga, sudah biasa melakukan hal ini saat bel istirahat berbunyi. Mencari ketenangan di balik riuhnya suasana kantin.

“Lang!” panggil Adis Ginaya, sahabat karib Langit semenjak duduk di bangku sekolah dasar, berambut hitam, ikal, dan panjang dengan tubuhnya yang agak gendut sambil berlari kecil menghampiri Langit.

“Langit!” panggilnya sekali lagi, namun Langit tak kunjung sadar. Diinjaknya kaki Langit dengan sangat keras, lalu lari bersembunyi di balik pohon dekat bangku sambil berusaha menahan tawa.

“Aww!!Aduuuh!!” sahut Langit sambil menahan rasa sakit di kakinya, ulah siapa ini pikirnya dalam hati. Samar-samar terdengar suara cekikikan tak jauh dari posisinya. Ia mencari-cari sumber suara itu, dan terlihat sekilas tas pink yang menempel di punggung seorang cewek.

“Adis!!! Sini lo! Udah jangan ngumpet!” Langit menghampiri Adis sambil terpincang-pincang. Merasa persembunyiannya terbongkar, keluarnya Adis dari balik pohon dengan cengirannya yang memamerkan gigi rapi nya.

“Ada apa sahabat?” tanya Adis santai sambil tersenyum seolah ia tak melakukan kesalahan.

“Adis!! Ngapain nginjek kaki gue?Lo pikir lo enteng, main asal injek aja! Sakit!!!!” bentak Langit gemas sambil mencubit kedua pipi Adis yang tembam.

“Maaf sahabat, tadi aku panggil-panggil kamu sahabat, tapi kamunya gak nyahut-nyahut sahabat. Maaf ya sahabat.” jawab Adis masih dengan senyumnya yang tak bersalah. Langit hanya diam menatap Adis dengan matanya yang tajam.

“Hahahaha, lagian gue panggil-panggil dari tadi gak nyaut, ya udah gue injek aja, nyaut kan? Bangun malah. Jadi keliatan lebih segar gimana gitu ya kan?” jelas Adis sambil cengengesan.

“Iya iya iya!!” jawab Langit cepat sebelum kalimat satu paragraf yang biasa Adis lontarkan keluar. Lagi-lagi Adis tertawa.

“Kenapa Dis nyamperin?tumben banget. Biasanya bel istirahat langsung nongkrongin abang baso, mesen dua mangkok, kok sekarang nyamperin gue? Kangen ya?” tanya Langit asal-asalan, sudah melupakan rasa sakit di kakinya.

“Yeh, pengen banget gue kangenin ya?” tanya Adis balik.

“Hahahaha, kenapa sih ndut?” kadang-kadang Langit memanggil Adis dengan sebutan gendut.

“Nanti gue nebeng sama lo ya Lang, boleh ya, please.” raut muka Adis yang tadinya cengengesan seketika berubah menjadi kelihatan seperti takut dan gelisah.

“Kenapa ndut?” tanya Langit curiga dengan mimik muka Adis yang berubah. Adis hanya terdiam, satu menit, dua menit...

“Dis, lo kenapa? Ada masalah? Cerita sama gue..” tanya Langit pelan penuh kasih sayang.

“Eh, enggak apa-apa kok Lang, cuma mau nebeng aja hehe gak apa-apa kan, sekali aja ya, ya , please..sekalian temenin gue juga ya di rumah..” pinta Adis yang kedua kalinya.

“Adis kenapa ya?tumben-tumbenan banget dia nebeng sama minta temenin. Ah perasaan gue doang kali ini.” Tanya Langit dalam hati.

“Heh! Malah diem aja ya, boleh gak gue minta tolong, sekaliiiiii aja..” Adis mengagetkan Langit yang sedari tadi memikirkan nya.

“Iya gendut, yok masuk ah, udah bel.” mereka pun bergegas ke kelas, untuk segara mengikuti pelajaran terakhir hari ini.

Langit menggandeng tangan Adis sepanjang perjalanan dari taman belakang sekolah, melewati kantin, dan koridor sekolah. Banyak pasang mata yang melihat, kebanyakan dari mereka adalah para cewek-cewek yang iri dengan Adis, mengapa dia bisa begitu dekat dengan Langit yang notabenenya termasuk cowok paling berpengaruh dalam hati cewek-cewek seantero sekolah. Langit tidak bisa cepat dekat dengan cewek, kecuali hanya dengan Adis. Kharisma Langit yang terkesan pintar dan dingin, menjadi daya tarik tersendiri bagi para cewek. Berbanding terbalik dengan pribadi Adis yang ceria, begitu kontras jika dilihat secara kasat mata. Namun, apabila diperhatikan secara terus-menerus, mereka mempunyai satu kesamaan, yaitu sama-sama saling menyayangi. Banyak yang bertanya-tanya kenapa mereka tidak berpacaran saja, toh mereka sudah lama saling kenal. Mungkin bagi para cewek pengidola Langit, mereka beruntung karena Langit tidak berpacaran dengan Adis, dan Langit sendiri juga belum pernah dekat dengan cewek siapapun kecuali hanya dengan Adis. Namun, di satu sisi Adis merasa tertekan dengan keadaan ini, keadaan yang mengharuskan dia untuk menyimpan perasaannya terhadap Langit semenjak mereka memasuki dunia SMA, di mana saat itu terjadi gejolak di hati para remaja yang sedang menuju masa kedewasaan untuk melepaskan diri dari masa ABGnya. Ya, Adis mulai menyadari benih-benih perasaan sayang kepada Langit saat mereka kembali dipersatukan di bangku SMA, setelah SD dan SMP yang sama, dan sekarang pun mereka di tempatkan di kelas yang sama , XII IPA 2, serta di meja yang sama pula, dalam arti lain mereka sebangku. Sungguh suatu kondisi yang amat menekan seorang Adis, di mana dirinya harus memilih antara mengikuti kata hatinya yang menyayangi Langit, atau kah menghancurkan persahabatan mereka yang sudah sekitar dua belas tahun mereka jalani hanya karena masalah perasaan sayang yang melebihi sayang kepada seorang sahabat.

 

Di dalam kelas, Langit mengikuti pelajaran Biologi dengan serius. Namun, seketika terusik oleh Adis yang sedari tadi hanya diam memperhatikan Bu Mariana, namun ia tahu pikiran Adis tidak di sini. Langit terus berpikir mengenai apa yang sedang terjadi dengan sahabatnya itu. Akhir-akhir ini Adis lebih sering tertutup. Adis sendiri pun tidak mengerti kenapa semua ini harus menimpanya semenjak kedatangan Ayah tirinya minggu lalu.

Bel pulang berbunyi, Adis dan Langit bergegas menuju tempat parkir dan segera menuju rumah Adis.

Sesampainya di sana, terlihat seorang pria sedang berdiri di depan pagar rumah. Menatap Adis dan Langit yang baru tiba.

“Sore, yah.” sapa Adis kepada pria paruh baya itu. Pria itu hanya melihat sekilas, lalu masuk ke dalam rumah.

“Siapa, Dis?” tanya Langit tak mengerti.

“Bokap.” jawab Adis singkat. Langit masih tak mengerti, Ayah Adis sudah meninggal ketika Adis lulus SMP, mamahnya sempat menikah dengan pria lain, tapi hubungan kurang baik, sering bertengkar menurut cerita dari Adis. Langit tersadar dari lamunannya, ia melihat Adis memanggilnya dari depan pintu rumah, lalu Langit menghampirinya dan duduk di sofa ruang tamu sambil menonton tv.

“Dis, yang tadi bokap..tiri..lo?” kebetulan Langit belum sempat melihat muka Ayah tiri Adis seperti apa.

“Iya.” jawab Adis singkat.

“Oh gitu, ngapain dia sini?” Adis terdiam begitu Langit menanyakan hal yang paling tidak mau Adis jawab.

“Dia ngejagain gue aja di sini, nyokap yang minta. Nyokap masih di Bandung buat ngurusin sekolah Farah, kan tanggung kalo Farah ikut juga ke sini, satu tahun lagi dia lulus SD, jadi kemungkinan satu atau dua tahun lagi nyokap baru ke sini.” jelas Adis panjang lebar. Langit mengerutkan dahinya meragukan penjelasan panjang Adis, tidak masuk akal sekali seorang ibu minta tolong kepada pria yang walaupun itu suaminya, namun hubungan mereka tidak akur untuk menjaga anaknya. Ibu mana yang mau membiarkan anaknya dijaga oleh orang yang intinya tidak disukai.

“Oh gitu, ya udah. Kalo ada apa-apa bilang sama gue ya, Dis. Gue selalu ada buat lo kok.” Langit sengaja tidak menanyai keraguannya, ia ingin melihat sendiri nanti apakah yang sebenarnya terjadi dengan Adis, biar waktu yang nanti menjawab. Langit mengusap-usap rambut halus sahabatnya itu lalu tersenyum kepada Adis, Adis pun membalasnya.

“Gue gak mau Langit pergi, gue gak mau waktu terus berjalan. Gue butuh tenang, damai, kayak sekarang ini. Langit di samping gue, ngejagain gue.” Adis berucap dalam hatinya.

 

Lalu mereka menghabiskan waktu hingga magrib sambil menonton tv. Adis sadar sedari tadi Ayah tirinya itu memperhatikan mereka berdua. Begitu Langit pulang, suasana dan keadaan rumah kembali seperti seminggu yang lalu. Adis pun segera masuk kamar, dan menguncinya. Menyendiri hingga fajar kembali memperlihatkan senyumannya di tengah ketakutkan seorang Adis.

Read previous post:  
Read next post:  
Writer destikhoirunnisa
destikhoirunnisa at Untuk Langit #part 1 (9 years 49 weeks ago)

makasih ^^

Writer zenocta
zenocta at Untuk Langit #part 1 (9 years 49 weeks ago)
90

bagus..