The Reunion (Part 2)

 

Hanya sekitar 20 menit dari rumah Eyang ke tempat acara reuni akbar dilaksanakan. Keramaian sudah terlihat dari kejauhan. Beberapa mobil diparkirkan di sekitar gedung acara. Terdapat juga stand-stand yang bertuliskan berbagai nama ekstrakurikuler. Dhira tahu beberapa diantaranya sudah berdiri sejak sekolah didirikan dan sebagian lain merupakan ekskul baru, seperti futsal dan softball.

Sejenak terlintas kenangan-kenangan Dhira saat bersekolah dulu. Dhira sempat mengikuti beberapa ekskul. Softball merupakan salah satu kegiatan favorit Dhira setelah pulang sekolah.

Setelah turun dari mobil, Tante Laras langsung menghubungi salah seorang temannya melalui ponsel sambil matanya sibuk menyisir kerumunan orang. Ternyata, tidak jauh dari tempat mereka berdiri, ada beberapa orang dengan pakaian senada dengan Tante Laras sedang berkumpul. Satu di antaranya segera mengenali dan melambaikan tangan ke arah Tante Laras.

“Lho, itu kan Tante Ovie,” Dhira terpekik keheranan mengenali orang yang tadi melambaikan tangannya.

“Hehe…memangnya kamu ngga tau kalau Tante Ovie itu temen SMA Tante?”.

Mereka berjalan mendekati sekumpulan orang dengan atasan putih dan bawahan berbahan jins. Tante Ovie yang dikenali Dhira adalah teman dekat Tante Laras. Dulu, ketika Dhira masih duduk di bangku SMP, ia sering diajak oleh Tante Laras berkunjung ke rumah Tante Ovie. Kadang, mereka bertiga pergi belanja bersama atau memanjakan diri di salon. Saat ini Tante Ovie sudah berkeluarga. Dari kabar terakhir yang Dhira dengar dari Tante Laras, sekarang Tante Ovie sudah memiliki seorang anak perempuan.

“Kira-kira umurnya sekitar 2 tahun,” Dhira berusaha mengingat-ingat perkataan Tante Laras belum lama ini.

“Tante Ovie…!!” setengah berlari Dhira menghampiri dan memeluk seorang wanita bertubuh ramping berisi dengan balutan jilbab putih di kepalanya.

“Hai, Dhira. Apa kabar, Sayang?”

“Kabar baik, Tante. Di mana anaknya, Tan? Kok ngga diajak?”

“Si kecil lagi sama papanya. Kasihan kalau diajak.”

“Ehm…kasihan sama anaknya atau kasihan sama mamanya? Takut mamanya ngga bisa jalan bareng temen-temennya,” canda Dhira sambil memutar matanya, jahil.

“Ah, kamu ngledekin Tante aja,” tangan Tante Ovie mencubit pipi Dhira gemas.

“Hehe…ya udah deh, have fun ya, Tan. Dhira mau nyari temen-temen Dhira nih.”

Setelah berpamitan dengan Tante Ovie dan Tante Laras, Dhira segera meninggalkan tempat itu dan mulai celingak-celinguk mencari Lani. Merasa usahanya tidak berhasil, Dhira memutuskan menghampiri stand softball, berharap menemukan seseorang yang ia kenal di sana.

Sebelum sampai ke tempat yang ia tuju, Dhira merasa ada seseorang yang memanggil namanya.

“Dhira…Dhira…di sini, Dhir,” ternyata yang memanggilnya adalah Lani.

Di dekat tempat Lani berdiri, tampak wajah-wajah yang sudah tidak asing lagi bagi Dhira. Ada Fadhil yang sekarang kacamatanya, menurut Dhira, makin tebal. Mela dan Meli, si kembar yang terkenal sering bertengkar gara-gara beda pendapat. Ada pula Deva, Andhita, Sisil, Ratih dan beberapa teman lain yang sedang sibuk mengobrol dengan yang lain. Mereka asyik berbagi cerita setelah lama tidak bertemu sampai-sampai tidak menyadari kehadiran Dhira di situ.

“Udah lama, Dhir?” tanya Lani.

“Belum sih. Baru sampai, kok. Cuma segini angkatan kita yang dateng, Lan?” tanya Dhira dengan sedikit nada kecewa.

“Ngga ko, Dhir. Di dalam banyak tuuh. Langsung masuk aja, yuk. Lagi ada performance dari tiap angkatan, lho,” tukas Lani sambil menarik tangan Dhira memasuki gedung acara, diikuti oleh Mela dan Meli.

“Tika mana, Dhir?” tanya Mela yang berjalan di belakangnya.

“Tika lagi nemenin nyokapnya”. ”Emm…tumben lo berdua kompak…” selidik Dhira ke arah Mela dan Meli.

“Ya iya lah…kan kita satu atap,” sahut Mela sambil melirik saudara kembarnya, sinis.

“Iya terpaksa, Dhir. Daripada kayak kambing cengo’ di tengah-tengah kerumunan orang sebanyak ini sendirian,” Meli tidak kalah ketus. Untung saja tidak berlanjut dengan keributan seperti biasanya.

“Nyitnyit sama Uci juga ngga dateng, Dhir?” tanya Mela lagi.

“Tau tuh. Nyitnyit sih masih di Jogja. Uci lagi ada acara di kampus katanya,” jawab Dhira setengah menggerutu.

“Eh, tuh mereka di sana. Yuk!” tiba-tiba Lani menarik tangan Dhira sehingga membuat Dhira tersentak kaget. Sekarang, mereka tengah menerobos kerumunan bapak-bapak dan ibu-ibu menuju suatu sudut yang ditunjuk Lani.

Di sana sudah banyak berkumpul teman-teman seangkatan Dhira. Walaupun tidak mencapai setengah dari seluruh jumlah angkatan Dhira, tetapi itu cukup membuat Dhira tidak menyesal menghadiri acara reuni itu.

Tidak banyak perubahan yang Dhira tangkap dari teman-temannya. Tetapi, beberapa teman Dhira cukup membuat Dhira tercengang sesaat.

Wah, ternyata temen-temen gue udah jago make up-an ya…ck…ck…, desah Dhira dalam hati.

Bagi Dhira, selama kuliah setahun ini tidak pernah terpikir olehnya untuk belajar memoles wajahnya kecuali dengan bedak dan lipbalm. Di kampus, Dhira jarang melihat teman-teman ceweknya memakai make up. Hanya segelintir anak saja yang ber-make up. Itu pun tidak setegas make up yang Dhira lihat sekarang. Hal ini cukup membuat Dhira merenung betapa sekarang ia dan teman-temannya sudah bukan remaja seperti kemarin lagi.

“Hai, Dhira. Lo dateng juga. Gimana kabar lo?” tiba-tiba salah seorang teman Dhira datang dan langsung menempelkan pipinya di pipi Dhira, kiri dan kanan bergantian.

“Rensa?” setengah terkejut Dhira melepaskan diri.

“Lo dandan ya, Sa?” masih dengan pandangan heran, Dhira memerhatikan wajah temannya itu.

“Iya dong. Kan udah gede…Hehe…”. “Lo juga dong, Dhir. Pasti cantik deh kalau lo mau dandan, dikit aja,” sahut Rensa menanggapi keheranan temannya itu.

“Umm…tapi penampilan lo hari ini lucu juga lho. Nah, gitu dong, Dhir,” Rensa terus menggoda Dhira sambil berlagak layaknya desainer profesional.

Kata-kata Rensa membuat Dhira tersipu. Tetapi, tetap saja Dhira merasa sedikit aneh dipuji seperti itu. Selama ini, Dhira memang dikenal tomboy oleh teman-temannya. Namun, setelah menginjak perguruan tinggi, Dhira sedikit memerhatikan penampilannya. Dhira tidak secuek saat masih di bangku SMA yang selalu setia dengan kuncir asal-asalan lengkap dengan ikat rambut hitamnya. Sekarang ia lebih sering mengurai rambutnya atau mengikatnya setengah seperti yang ia lakukan saat ini.

Dengan blus yang ia pinjam dari Tante Laras, ditambah dengan tas dan sandal cantik yang juga milik sah Tante Laras, Dhira memang tampak lebih manis dari biasanya.

Hmph…ini kan gara-gara gue ngga sempet pulang ke rumah lagi.

Dhira makin tersipu karena ternyata tidak hanya Rensa yang memerhatikan perubahan Dhira saat itu.

Dhira berusaha menyelamatkan diri. Ia mencari-cari keberadaan Lani yang hilang di antara kerumunan teman-temannya. Setelah yakin telah menemukan Lani, Dhira segera melarikan diri dan menghampiri Lani.

“Lan, abis ini kita mau ke mana lagi?”

“Tadi sih, kata Bobi, ada acara foto-foto bareng seangkatan di halaman depan sebelum bubar.”

“Terus…makannya kapan?” tanya Dhira memelas.

“Hahaha…lo laper ya, Dhir?” Dhira mengangguk pasti.

“Mau makan di mana?”

“Terserah lo deh, Lan. Asal jangan di sini. Rame banget. Ya? Ya?” bujuk Dhira manja.

“Hmm…ya udah. Abis foto bareng, kita langsung cabut makan aja.”

“Okee…”

Tidak lama berselang, dari arah pintu masuk, Bobi melambai-lambaikan tangannya, tanda sesi foto bersama segera dimulai.

Akhirnya, acara reuni hari itu diakhiri dengan foto bersama teman-teman seangkatan yang hadir beserta para guru yang kebetulan berada tidak jauh dari lokasi foto.

Beberapa anak memutuskan untuk meninggalkan  tempat acara. Sedangkan sebagian lagi masih ingin mengikuti acara sampai selesai.

Dhira, Lani serta si kembar Mela dan Meli berencana meneruskan perjalanan menuju mall favorit mereka. Segera saja, mobil yang dikendarai Lani meluncur keluar meninggalkan area perparkiran.

Read previous post:  
26
points
(853 words) posted by andiensesaria 9 years 49 weeks ago
52
Tags: Cerita | Novel | teenlit | high school
Read next post:  
Writer Shinichi
Shinichi at The Reunion (Part 2) (9 years 48 weeks ago)
60

hmmm..

bdw, jins itu jenis bahan pakaian ya? saia pikir itu jenis pakaian lho #barunyadar.

dan lagi, setelah part kedua ini, saia belum nemu konflik. rasanya ini terlalu panjang jika dua part sebelumnya hanya membahas bagaimana nantinya konflik dimulai. atau saia yg nggak sabaran ya? ahak hak hak.

lanjut ah

Writer NiNa
NiNa at The Reunion (Part 2) (9 years 48 weeks ago)
70

masih ada lagikah?...:)

Writer andiensesaria
andiensesaria at The Reunion (Part 2) (9 years 48 weeks ago)

masiihh...ditunggu ya lanjutannya...mohon kritiknyaa... :)