Shoha Nagato

            Bulan menggantung tinggi, mengintip di sela-sela pucuk rumpun bambu. Heningnya malam dihiasi oleh paduan kerik jangkrik dari gerombolan bunga serunai di sudut taman. Pertengahan jam kuda telah lewat, namun seperti biasa Nagato Shoha masih berlarian di bilik penerima tamu. Hari itu, rombongan pedagang Sutejiro tiba di benteng dan pesta besar-besaran diselenggarakan untuk menyambut mereka. Saat para tamu yang mabuk oleh ratusan mangkuk sake akhirnya terseok-seok ke ruang istirahat, para pelayan dan dayang kini sibuk memberesi sisa-sisanya. Tidak ada yang mengeluh, namun semuanya bergegas membersihkan tanpa suara, jelas ingin sekali cepat tidur. Ketika akhirnya lilin terakhir dipadamkan, Nagato merenggangkan tubuh dan menyelinap keluar. Yang lain tidak cukup peduli untuk bertanya dan segera terlelap.

            Nagato memutari danau di kebun belakang, menyusuri jembatan kecil, dan turun ke pavilion Bunga Emas. Ia menuju taman belakang, tempat ruang putri Myoko beristirahat dan duduk beralaskan rumput yang basah oleh embun. Bilik itu tertutup pintu geser dan tirai sewarna persik. Ia memejamkan mata dan sepenuh hati mendengarkan, tetapi tidak ada tanda-tanda suara sang putri. Dengan hati berat, Nagato berdiam di situ hingga semburat matahari muncul di timur, lalu menyelinap kembali ke pos-nya di utara benteng, meninggalkan sekuntum bunga violet di depan pintu kayu itu.

 

***

 

            Bukit Nangu bersebelahan dengan benteng Itami, tidak seberapa tinggi, namun cukup luas untuk latihan militer. Di siang terik itu, Nagato turut terjun habis-habisan dalam latihan strategi, yang dikhususkan untuk menyambut perang dengan marga Goto di selatan. Asai Hibayashi, kakak putri Myoko, sang penguasa Itami, tidak luput dari latihan, meski terik matahari membakar tengkuk. Ia melesat ke sana ke mari memacu kudanya, menebas dan berkelit. Nagato, yang hanya prajurit infanteri berpangkat rendah ada di garis depan, menerjang baris pertahanan kelompok lawan. Peluh tak hentinya bercucuran, membasahi seluruh tubuhnya yang kini seperti tertusuk-tusuk. Rambutnya kusut kotor terlapis debu. Ketika akhirnya latihan itu selesai, Nagato berjalan gontai dalam barisan kembali ke benteng Itami untuk beristirahat. Saat melewati kebun tengah, Nagato menangkap siluet putri Myoko di kejauhan, bersama dayang-dayangnya di tepi danau. Ia menatap pemandangan tak ternilai itu selama mungkin, sampai pandangannya terhalang. Lalu dengan sedikit kecewa, namun hati seringan bulu, Nagato berjalan lebih cepat untuk membersihkan diri.

 

***

 

            Pasukan Asai menyerbu hingga ke seberang sungai Oharano, mendesak mundur pasukan Goto di timur. Tanpa belas kasihan, pasukan yang melarikan diri itu dibantai dari belakang. Panji-panji mereka berjatuhan, namun tak tampak satupun jenderal-jenderal besar Goto. Asai Hibayashi memimpin pasukan, memacu kudanya secepat mungkin ke barisan depan.

            “Kejar! Jangan biarkan mereka kabur! Tangkap hidup-hidup Shojumaru Goto!”

            Nagato mendengar sayup-sayup seruan majikannya itu dan berlari sekuat mungkin, mencengkeram erat tombaknya. Mereka melintasi padang rumput terbuka dengan ilalang-ilalang tinggi yang menghalangi pandangan. Pasukan musuh telah menghilang di balik hutan lebat di hadapan. Asai ragu-ragu.

            Nagato memicing berusaha melihat jebakan dari balik barisan pohon lebat itu. Lengan kanannya mulai kebas dan pegal. Keringat membasahi kening sampai ke alis matanya, tapi dia tidak goyah, meskipun jantungnya berdebar tak karuan. Sekitar sepuluh menit Asai tak bergeming di atas kudanya, lalu sangkakala bergaung. Diiringi perintah menyerbu, Nagato berteriak hingga lehernya tercekik seraya berlari maju. Tombaknya terhunus mantap. Rekan-rekannya turut berlari di depannya, mengacungkan pedang dan lembing. Menyusup melalui pepohonan, mereka memasuki kawasan musuh. Nagato yakin akan ada jebakan di sini, sehingga ia mulai berjalan dengan hati-hati. Tapi belum sempat ia mencerna apa yang terjadi, bunyi-bunyi aneh terdengar di sekitar diiringi seruan kencang dari belakang.

            “Ada apa? Apa yang terjadi?”

            Semua menoleh ke belakang, sekaligus mencari pemimpin mereka, menunggu perintah. Tanpa menunggu yang lain, Nagato berlari kembali ke sisi Asai. Tetapi sang majikan tak terlihat dimanapun. Seketika langit berubah merah.

            “Musuh! Jebakan!”

            “Orang-orang Goto di belakang!”

            Kobaran api begitu saja telah memenuhi hutan, menyebar cepat dari pohon ke pohon. Asap pekat menghalangi pandangan dan membuat mata pedas. Nagato tertelan bulat-bulat dalam kesemerawutan itu. Menutupi hidung dan wajahnya, ia berlari tak tentu arah mencari jalan keluar. Namun sebuah desingan tertangkap telinganya. Lalu kakinya lemas, membuatnya terjerembab. Sebuah panah mencuat menembus pelat di dadanya. Pandangannya berputar dan semuanya berubah lambat. Ia memikirkan Myoko di benteng yang pasti dengan was-was menunggu kakaknya pulang membawa kemenangan. Ia memikirkan setiap tangkai bunga yang ditinggalkan di serambi kediaman sang putri. Ia memikirkan perasaannya yang tak diketahui, bertanya-tanya jika ia dilahirkan sebagai bangsawan, bisakah hidup bersama Myoko. Menang atau kalahkah mereka?

            Nagato berbaring mengejang, nafasnya kian putus-putus. Panas api dan jeritan-jeritan pertempuran tak lagi ia rasakan. Ia memejamkan mata, menunggu kematian menyambut. Sadar bahwa dirinya hanya prajurit jelata yang bahkan namanya tak mungkin diketahui Myoko, air matanya meleleh mengiringi doanya agar marga Hibayashi dapat bertahan.

            Demi kebahagiaan Myoko, sang terkasih.

            Lalu Shoha Nagato pergi.

           

***

       

*Jam Kuda = pukul sebelas - satu malam

*Sake = arak Jepang

(Diikutkan pada Kampung Fiksi, Tema Cinta di Bulan Februari)

          

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Kona
Kona at Shoha Nagato (9 years 34 weeks ago)
30

Historynya dapet, ceritanya keren! Kawaiii :3 Keep writing! Mampir ke postinganku juga yah ^o^b

Writer Shinichi
Shinichi at Shoha Nagato (9 years 35 weeks ago)
80

nah...

saia demen jika penulis fokus ke "bercerita" seperti dimari :D

apa kabar, Zhang? :D
ahak hak hak
kip nulis :p

Writer Zhang he
Zhang he at Shoha Nagato (9 years 35 weeks ago)

Alo bung Shinichi :D baik2 saya~ apa kabarmu? masih eksis terus ya, haha~
Thanks udah mampir!

Writer Shinichi
Shinichi at Shoha Nagato (9 years 35 weeks ago)

ahak hak hak
saia mah musti tetap eksis, zhang
kalok nggak, bisa dipecat
ahak hak hak
kabar baik
mana oleh2nya?
:D

Writer Imdra
Imdra at Shoha Nagato (9 years 35 weeks ago)
60

Zhang, walau aku tidak terlalu mendalami kebudayaan Jepang, tapi melihat siluet putri di tengah latihan perang itu hanya ada di film-film hollywood.

dan, untuk zaman yang masih pake jam kuda, naroh bunga di depan pintu kamar putri?hum...seems like fake
Let fake to reallife XD

Writer Zhang he
Zhang he at Shoha Nagato (9 years 35 weeks ago)

Hehe thanks udah mampir! XD
Baca baik2 yaa :D itu setelah latihan perang dan dia kembali di benteng~ Tuan putri itu ada di pelataran benteng.

Dan hmm.. fake? Suka2 tokohku dong maunya apa XD haha. Aku gak bilang ini sejarah asli, tapi menggambarkan nasib prajurit2 kecil yang biasanya di buku2 sejaraj tidak diceritakan, mereka cuma bidak yang biasanya di perang matinya paling pertama.

Again thanks!

Writer cat
cat at Shoha Nagato (9 years 35 weeks ago)
80

Saya tidak mengerti ttg perang jepang.

Tapi terus terang aku suka pengambaran yang bisa kutangkap di dalam cerita ini.

Dan entah mengapa kisah cinta masa perang sering kali (kebanyakan) berakhir sedih.

#hate sad ending#

Writer Zhang he
Zhang he at Shoha Nagato (9 years 35 weeks ago)

Nyan~ makasi mbak cat!

Writer Rendi
Rendi at Shoha Nagato (9 years 35 weeks ago)
80

woot! ini keren sebagai cerita sejarah!
.
dan ini GALAU JIKAN!! XD

Writer Chlochette
Chlochette at Shoha Nagato (9 years 35 weeks ago)
100

Suka (n_n)
Seru banget ceritanya.

Writer Zhang he
Zhang he at Shoha Nagato (9 years 35 weeks ago)

Makasi Chloe~

Writer Rendi
Rendi at Shoha Nagato (9 years 35 weeks ago)
80

Woot! ini bagus sebagai cerita sejarah! IMO cukup vivid!
.
dan ini GALAU JIKAN!! XD XD

Writer Zhang he
Zhang he at Shoha Nagato (9 years 35 weeks ago)

XD makaci!
Dan..galau jikan itu apa sih? Rasanya liat di kastil, tapi udah telat dan gak ngikutin juga XD Eniwei, thanks!

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Shoha Nagato (9 years 35 weeks ago)
80

pas baca ada penggunaan nama hewan buat menunjukkan waktu, jadi inget sama novel trilogi otori yang barusan saya baca >.<
hiks... one sided love, tragis pula...

Writer Zhang he
Zhang he at Shoha Nagato (9 years 35 weeks ago)

Yaap itu ukuran waktu di Jepang jaman dulu~ Thanks! <3

Writer Yafeth
Yafeth at Shoha Nagato (9 years 35 weeks ago)
80

Sejarahnya dapat! Kisahnya bagus! Cuma ada typo: menyembut, harusnya menyambut :3

Writer Zhang he
Zhang he at Shoha Nagato (9 years 35 weeks ago)

Thanks bos! Sudah diganti