Untuk Langit #part2

Adis berhasil berangkat sekolah tanpa harus bertemu dengan Ayah tirinya yang ternyata pergi entah ke mana sejak malam tadi. Begitu sampai kelas, ia melihat Langit sedang asik mengobrol dengan Fardhan. Adis menghampiri mereka berdua.

“Pagi..” sapa Adis ceria seperti pagi biasanya. Namun terbesit kebingungan Langit yang melihat kemarin Adis murung, dan pagi ini begitu ceria.

“Pagi juga Adis..” balas Fardhan sambil tersenyum.

“Dhan, sombong banget orang yang di sebelah lo. Gue sapa gak dibales.” protes Adis karena Langit hanya memandangnya tanpa berbicara.

“Haha, dia lagi sariwan Dis, jadi talk less aja.” Fardhan menjawab asal, karena ia tahu mengapa Langit seperti itu, barusan sebelum Adis datang, ia mendengar cerita Langit tentang Adis kemarin. Sama seperti Langit, Fardhan pun bingung dan menganggap hal itu tidak masuk akal.

“Apa sih gendut? Hahahahaha” tawa Langit meledak seketika, diikuti oleh Fardhan dan muka bingung Adis.

“Dasar cowok-cowok aneh, ganteng iya gila iya haha” kata hati Adis sambil memperhatikan mereka berdua.

 

Lagi-lagi Adis beruntung, setelah ia bisa bersahabat dengan Langit, ia juga menjadi akrab dengan Fardhan semenjak masuk SMA. Fardhan juga termasuk cowok berpengaruh dalam hati cewek-cewek di sekolah nya, namun Fardhan berbeda dengan Langit, Fardhan tidak dingin, dia friendly dan sama-sama ceria seperti Adis. Tubuh Fardhan lebih berisi daripada Langit, kulitnya sawo matang, wajahnya manis, bertambah manis dengan adanya lesung pipi di kedua pipinya. Namun mereka berdua memiliki dua kesamaan, sama-sama berkawat gigi dan sama sama tidak bisa cepat dekat dengan cewek. Fardhan sendiri lebih dulu mengenal Adis daripada Langit, mereka dekat saat waktu LDKS dan mereka satu kelompok. Pada waktu itu Langit berpisah kelompok dengan Adis. Di kelompok Adis, Fardhan lah yang menjadi ketuanya, sehingga Langit menitipkan Adis kepada Fardhan, dan meminta tolong kepada Fardhan untuk menjaga Adis. Sejak saat itu Adis dan Fardhan dekat hingga sekarang menjalin persahabatan dengan cowok manis ini ditambah Langit

 

Bel pulang sekolah berbunyi, Adis menemani Langit dan Fardhan yang sedang duel basket.

“Dis, dukung siapa, Dis?” tanya Fardhan dari tengah lapangan sambil mengusap dahinya yang berkeringat.

“Gue dukung... yang menang!! Hahaha. Pokoknya yang menang itu berarti idola gue, dan yang kalah idola gue juga tapi....yang kalah harus traktir makan gue sama yang menang. Deal? ” tanya Adis.

“DEAL!!” jawab Langit dan Fardhan bersamaan.

Lalu dimulailah duel mereka. Langit memimpin terlebih dahulu dengan memasukan bola lima kali, Fardhan sendiri baru tiga. Bola dikuasai oleh langit , Fardhan mengejar dan berusaha merebutnya. Saat bola berhasil direbut dan sekarang berada di tangan Fardhan, ia berlari menuju ring ingin segara menciptakan three point, tiba-tiba pandangan Fardhan memburam, bola basket terlepas dari pegangannya, lalu ia jatuh tersungkur di lapangan basket. Adis segera berlari menghampiri Langit yang terlebih dahulu menghampiri Fardhan.

“Fardhan!!” teriak Adis memanggil Fardhan. Adis membantu Langit membopong tubuh lemas itu ke pinggir lapangan. Terlihat garis kecemasan di raut muka Adis, ia menangis saat ia ingat kembali waktu almarhun ayahnya yang tiba-tiba jatuh dan seketika ayahnya tak tertolong lagi. Langit mengusap-usapkan kayu putih di hidung Fardhan. Lalu mata itu terbuka perlahan. Wajah Adis yang pertama kali terlihat.

“Fardhan lo kenapa?” tanya Adis panik masih sambil menangis.

“Lo kenapa, Dhan? Kaget gue tadi lo tiba-tiba jatuh.” tanya Langit.

“Gue juga gak tau, tadi mata gue tiba-tiba kabur ngeliat semuanya. Sakit banget rasanya, terus gelap, dan pas gue bangun kaget aja ada Adis lagi nangis hehe” jawab Fardhan sambil bercanda.

“Yeh orang ditanyain serius juga malah bercanda sih, Dhan.” muka Adis memerah menahan senyum karena malu. Langit melihat tidak suka ke arah Fardhan. Sebenarnya Langit tahu kalau Fardhan menyayangi Adis lebih dari seorang sahabat, Fardhan sendiri yang bercerita terus terang, namun Fardhan tidak ingin Adis mengetahuinya. Jadi hanya bisa menyimpan di dalam hati saja. Langit sendiri sayang sama Adis, tapi hanya sebagai sahabat. Namun, saat seperti tadi yang melihat Adis begitu panik, terbesit rasa cemburu di hati Langit, ia sadar itu hanya sebatas cemburu sebagai seorang sahabat yang usia persahabatannya cukup lama.

“Lo gak ke dokter aja?” tanya Langit

“Ah ngapain, paling cuma kecapean aja gue. Ya udah ah gue kalah nih basketnya, yuk gue traktir kalian makan ya. Adis dan Langit terdiam memandangi Fardhan dengan mata berbinar.

“Asik makan!!!” respon mereka kompak.

“Woo giliran makan aja muka lo pada seger banget gak kayak tadi kayak orang takut ketinggalan kereta hahaha. Ya udah bantuin gue berdiri dulu dong, masih lemes nih gue.” pinta Fardhan manja kepada kedua sahabatnya.

“WOO! MANJA BANGET!!” langsung saja Adis dan Langit menjitak kepala Fardhan bertubi-tubi.

“Aw! Woy sakit kepala gue, udah, udah!” Fardhan merasakan nyeri di kepalanya, ia baru ingat kemarin ia bertengkar dengan suami kakakanya. Saat pulang sekolah kemarin, ia tidak ikut ke rumah Adis karena di telfon oleh kakaknya. Sesampainya di rumah, ia melihat kakaknya ingin dipukul dengan guci, Fardhan cepat-cepat melindungi kakaknya sehingga guci itu tepat mengenai belakang kepala Fardhan. Ia langsung pingsan dan suami kakaknya melarikan diri. Fardhan tidak menceritakan hal ini kepada siapa pun, termasuk kepada dua sahabatnya yang tengah asik melahap potongan pizza. Baginya, ini hanya masalah pribadinya, tak perlu ada yang tahu kecuali dia dan Tuhan.

“Dhan, pizza nya gak dimakan? Nanti udah gak enak lagi loh.” suara Adis membawa Fardhan kembali ke dunianya.

“Haha gendut, bilang aja lo mau makan  jatahnya Fardhan kan?” ledek Langit kepada Adis.

“Yeee, enggak kok. Lagian dari tadi Fardhan diem aja bengong kayak ayam bangun kesiangan. Wooo apa lo Lang?!” Adis sewot, ia memang tidak menginginkan jatah pizza nya Fardhan tapi kalau dikasih ya tidak akan menolak.

“Apa lo ndut?! Hahaha dasar gendut.” ledek Langit sambil mencubit kedua pipi Adis.

“Heh! Udah udah , kenapa jadi pada berantem. Iya nih pizza nya gue makan, Dis.” Fardhan langsung melahap tiga kali untuk pizza ukuran jumbo. Adis dan Langit memandangnya takjub.

“Gila! Mulut kuda nil banget lo, Dhan hahahahaha.” tawa mereka pun meledak sejadi-jadinya. Apalagi saat banyak saus yang menempel di muka Fardhan. Adis menambahkan saus lagi dan mengoles-olesinya di wajah Fardhan, pelayan pizza yang memperhatikannya memasang muka galak, akhirnya mereka berhenti bermain-main dengan saus dan bersikap seperti anak TK yang duduk dengan rapi di bangkunya, lima belas menit kemudian mereka keluar dari restoran itu dan tertawa terbahak-bahak.

“Eh eh! Lo liat kan tadi pelayannya masang muka galak banget hahaha serem gue.” kata Fardhan sambil tertawa.

“Hahaha iya gue liat, eh Dis, itu kan tadi pelayannya galak ke lo doang tau. Kan lo yang dari tadi mainan saus di muak Fardhan, awas lo Dis pulang gak selamat hahahaha.” Langit menakutu-nakutin Adis. Muka Adis berubah dari yang tadinya ketawa geli, langsung diam.

“Ah! Masa sih, Lang?” tanya Adis takut.

“Iya ndut, beneran deh gak bohong. Kan udah ada ndut undang-undang tentang menghambur-hamburkan saus, nanti hukumannya suruh ngepel restoran selama satu minggu penuh.” Langit menerangkan dengan muka serius. Fardhan di belakang Adis yang tengah memanaskan mobil tertawa tanpa suara.

“Ah Langit!! Gue takut, gimana nih? Pokoknya gak mau tau kalo nanti gue kena, lo sama Fardhan harus temenin gue ngepel ya, please..”

“Lah, kok gue sama Fardhan diajak sih? Gak mau! Kan lo yang salah ndut.” Adis terdiam, lalu jongkok di pinggir jalan. Fardhan dan Langit langsung tertawa sejadi-jadinya.

“HAHAHAHAHA DASAR GENDUT.” Adis mendongkkan kepalanya melihat kedua sahabatnya tertawa sambil memegangi perut.

“Adis sayang, Langit cuma bercanda tadi hahaha kenapa dianggap serius sih? Hahahaha udah ah ayo berdiri, malu tau jongkok di jalanan udah kayak anak hilang haha.” kata Fardhan sambil membantu Adis kembali berdiri.

“Dasar Langit!!!! Huaaa!! Gue kira beneran, kan gue takut!!!” Adis langsung memukul-mukul dada Langit bertubi-tubi.

“Makanya, Dis, jangan lemot ah.” kata Fardhan sambil cengengesan mengacungkan dua jarinya meminta damai.

“Oh, Fardhan mau ikutan rese kayak Langit? Mau dipukul juga? Cubit aja ya biar bervariasi” langsung saja Adis mencubit perut Fardhan. Lalu mereka tertawa sambil masuk ke dalam mobil.

 

“Eh masuk dulu yuk, main. Bete gue di rumah sendirian.” ajak Langit begitu sampai di gerbang rumahnya.

“Ayok!” jawab Adis semangat. Lalu mereka segera masuk dan duduk di ruang tengah sambil menonton tv, Adis sendiri sibuk dengan kue kaleng yang di makan.

“Emang bokap nyokap lo masih di Makasar?” tanya Fardhan.

“Iya, gak tau deh baliknya kapan. Sepi banget rumah gue. Bibi datengnya kalo pagi aja buat nyiapin gue sarapan, habis itu pulang ke rumahnya, kembali lagi pas besok paginya. Gak ada temen main, sekeliling rumah pada di pager udah kayak penjara. Jadi serba males main sama tetangga kan gue. Eh eh tapi ada satu tetangga sebelah gue cewek namanya Laras, dia cantik, baik, waktu itu gue ketemu pas nyokap lagi arisan di rumahnya tiga hari yang lalu. Gue disuruh ikut, tadinya gue gak mau tapi karena nyokap maksa yaudah gue ikut. Gue duduk di taman belakang rumahnya, eh dia nyamperin gue.

“Hai, bete ya di sini.” Gue gak ngerti itu sebuah pertanyaan apa pernyataan. Gue diem aja, kan lo berdua tau gue gimana kalo sama cewek.

“Eh iya, gue Laras. Gue tinggal di sini.” Dari situ gue mikir, pasti nih cewek anaknya yang punya rumah.

“Langit.” Jawab gue singkat.

“Langit? Hem, mendung.” Kata dia sambil melihat langit. Gue senyum kecil.

“Nama gue Langit, bukan langit yang di atas yang sekarang lagi lo liatin terus.” Jawab gue sambil ketawa.

“Oh hahaha, maaf gue gak tau. Nama lo unik juga. Salam kenal Langit.” Ucap Laras.

“Lo gak ikut gabung arisan,Ras?”

“Enggak ah, gue males. Berisik sama ibu-ibu. Gue gak betah, gue pengennya pergi jalan-jalan keluar komplek, tapi gak ada temen.”

“Wah sama banget. Lo mau jalan keluar? Kalo mau ayo bareng sama gue hari minggu.” Ajak gue.

“Beneran? Gue mau banget!! Gue boleh keluar rumah kalo sama temen komplek doang, dan dari kemaren gue gak nemu temen gue yang asik d komplek. Beneran ya Lang, gue tunggu.” Jawabnya antusias.

“Nah, besok gue mau jalan sama dia berdua dan kayaknya gue jatuh cinta sama Laras.” Mata Fardhan melotot, Adis tiba-tiba tersedak lalu terbatuk-batuk.

“Dis, Dis, lo gak apa-apa? Kenapa bisa sampe keselek gini sih?” tanya Fardhan sambil memberikan segalas air putih.

“Pelan-pelan ndut makannya.” Kata Langit.

“Oke, balik lagi ke topik yang tadi. Lo serius Lang jatuh cinta sama Laras? Cool man! Seorang Langit akhirnya bisa jatuh cinta hahahaha.” Fardhan menepuk-nepuk dada tanda salut.

“Kayaknya, minggu nanti gue mau jujur sama Laras kalo gue sayang sama dia.” Peryantaan Langit kali ini benar-benar mengagetkan Fardhan, terlebih lagi Adis.

“HAH?!! Lo mau jujur? Serius? Lang, lo baru kenal dia sekali, itu juga gak lama. Kenapa lo bisa yakin gitu? Cepet banget Lang.” Sontak saja Fardhan terkaget-kaget. Memang gila Langit, susah untuk dekat dengan perempuan, tapi sekalinya dekat langsung ambil seribu langkah.

“Iya gue serius, gue nyaman sama dia sejak pertama kali gue ngobrol.” Langit dan Fardhan menyadari bahwa semenjak tersedak tadi, Adis tiba-tiba diam.

“Ndut, kenapa diem? Lo dengerin juga kan cerita gue?” tanya Langit.

“Hah? Eh, iya denger kok hehe.” Jawab Adis mencoba untuk sedikit tersenyum, di hatinya sangat sakit. Bayangkan kalau kita yang berada di posisi Adis yang sedang menerima kenyataan bahwa orang yang sangat ia sayangi ternyata sayang kepada wanita lain yang hanya sekali saja mereka bertemu, dibandingkan dengan pertemuan-pertemuannya bersama Adis selama dua belas tahun.

“Menurut lo gimana, ndut?” tanya Langit meminta saran.

“Ya kalo menurut gue, lo bilang aja sejujurnya gimana perasaan lo ke Laras, jangan terlambat. Jangan sampai orang yang kita cintai itu terlanjur diambil oleh orang lain, atau malah mencintai orang lain. Itu rasanya sakit banget, bener-bener sakit. Semangat Langit! Bilang sama Laras, gue dukung lo! Heheheh.” Sebuah gabungan kalimat yang sebenarnya berbeda antar mulut dan hati Adis. Namun, inilah arti persahabatan, tidak boleh egois memikirkan perasaan sendiri. Dukung sahabat untuk bisa menemukan belahan hatinya, walau pun nyatanya diri kita yang tersakiti.

“Tuh Fardhan, kalo sayang sama orang cepetan bilang, nanti keburu diambil orangnya. Hahaha semangat bro!” ledek Langit kepada Fardhan. Fardhan hanya tersenyum.

“Waaah gendut pinter banget. Makasih ya, Dis.” Langit memeluk Adis, tanda terimakasihnya, air mata Adis menetes dan saat itu juga Fardhan melihat air mata itu. Tanda tanya besar di pikiran, apa yang terjadi dengan Adis? Kenapa Adis terlihat sedih mendengar cerita Langit? Kenapa ada air mata yang menetes dari mata Adis?

bersambung

Read previous post:  
9
points
(1267 words) posted by destikhoirunnisa 9 years 41 weeks ago
45
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | kehidupan | cinta persahabatan pengorbanan
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer destikhoirunnisa
destikhoirunnisa at Untuk Langit #part2 (9 years 40 weeks ago)

hahahaha cinta limas segitiga (?) makasih udah baca ya . salam kenal zenocta :)

Writer zenocta
zenocta at Untuk Langit #part2 (9 years 40 weeks ago)
70

ih wow cinta segitiga... apa segi empat?? hehehe... ditunggu lanjutannya..