Accandia: Chapter 1

 

Aku baru sadar aku sudah terjun bebas dari langit menuju bumi tanpa dapat dihentikan oleh apapun. Dahulu sewaktu aku kecil, aku malah bisa dengan bebas berlari-lari di udara, tapi semua kemampuanku sebagai “dewa” sudah di ambil diriku. Sekarang aku tidaklah berbeda dari manusia-manusia yang rapuh itu, dan dalam hitungan menit aku akan remuk jatuh menghantam tanah. Namun rupanya Ayahku atau Bintang Biru masih belum ingin aku mati. Aku jatuh menembus sebuah pohon besar yang lebat. Dahan, ranting, dan daunnya memperlambat jatuhku. Aku jatuh punggung duluan ke tanah. Aku segera bangun dengan siaga. Aku pernah dengar di hutan manusia banyak sekali tanaman beracun, tanaman pemakan manusia, suku barbar, dan binatang buas. Meski hutan ini sunyi dan serangga dengan asik bernyanyi, aku masih yakin setidaknya ada seekor makhluk buas di sini. Aku memandang ke langit penuh bintang, rupanya sudah malam di dunia. Aku memandang bintang di langit, tempatku tinggal dahulu. Aku terpesona cahaya bintang-bintang yang indah. Penghuni Langit tak pernah melihat bintang, karena kami sendiri bintang itu!

Aku mengigil kedingingan. Di Langit, aku tak pernah kedingingan. Sensasi ini merupakan sesuatu yang baru bagiku. Baju kebesaranku yang tadi kupakai untuk menghadiri pengadilan itu sudah menghilang, digantikan baju zirah tipis namun nampak kuat dan jubah coklat yang kotor akibat tadi aku jatuh itu. Sebuah pedang tergantung di pinggangku. Pedang kesayanganku. Pedang yang katanya salah satu pusaka dari Tiga Roh. Pedang pusaka milik kerajaan. Aku sempat tak percaya ayahku memberiku ini, tapi toh dia akan mengambilnya lagi setelah aku mati di sini. Tapi aku tak berniat mengembalikannya secepat ini. Pedang itu sarungnya terbuat dari logam merah, penuh dengan ukiran bewarna keemasan yang sangat mirip emas. Pedangnya itu sendiri pipih dan ringan, namun berbahaya dan tajam. Terbuat dari bahan yang sama seperti sarungnya. Ganggangnya terbuat dari gading Olimpioth, semacam makhluk besar dengan belalai panjang dan memiliki dua  gading yang besar, berkepala dua dan memiliki ekor berbisa di dataran entah di mana. Bukan itu saja, belati dengan ukiran Bintang Biru, dewa utama kami, juga ada, tersimpan di antara ikatan baju zirahku.

Aku mengosok-gosokkan tanganku dengan cepat, berharap supaya kehangatan yang ditimbulkanna sementara cukup untuk menemaniku berpikir tentang harus apa dan kemana aku sekarang ini. Aku berjalan mengikuti arus angin, berharap anginpun mau berbaik hati menolongku dengan memanduku ke jalan raya atau kota terdekat. Dan terpujilah Bintang Biru, benar saja. Angin membawaku ke jalan raya terdekat, lengkap dengan penunjuk jalannya. Aku dengan cepat mngikuti arah panah tersebut ke kota terdekat. Aku merogoh-rogoh kantungku dan selipan zirahku, mencoba mencari sesuatu yang dapat membantuku bertahan hidup di sini. Benar saja, aku menepuk pinganggu dan menemukan sebuah kantung kulit berisi uang emas tergantung, dengan cepat aku membuka ikatannya dan memindahkannya ke dalam selipan zirahku, supaya aman dari pencopet. Pintu gerbang kota kecil itu nampak, aku dengan cepat menggedor gerbangnya tiga kali sebelum akhirnya seorang laki-laki muncul dari atas pintu gerbang.

“Siapa kau, pengembara?” Tanya laki-laki itu. “Sudah malam. Aku tak dapat melihatmu.”

Aku bingung mencari alasan, maka mulutku yang berbicara. “Saya seorang pengembara dari negeri yang jauh. Saya hendak beristirahat mala mini sebelum melanjutkan perjalanan saya esok hari.”

“Tunggu sebentar,” katanya. “Akan saya bukakan.”

Pintu gerbang terbuka sedikit. Penjaga itu mukanya merah, entah karena mabuk atau karena kedinginan. Namun yang pasi orangnya ramah dan baik. Aku mengucapkan terima kasih padanya dan langsung bertanya padanya di mana penginapan terdekat. Ia menunjuk sebuah bangunan kayu besar yang nampak hangat lalu berbalik kembali masuk ke pondoknya. Dengan cepat aku melangkah ke depan penginapan itu, Penginapan Empat Daun, dan langsung masuk tanpa mengetuk. Rupanya sedang ada pesta, meski pestanya biasa saja, namun itu sudah cukup untuk membuat suasana menjadi meriah. Ada orang yang sedang mempertunjukkan kebolehannya, membawa puluhan piring di kedua tangannya pada waktu yang bersamaan. Sang pemilik penginapan, seorang ibu-ibu gemuk dengan rambut yang sudah mulai memutih, mengamati pertunjukan itu dengan khawatir. Seorang pria yang mabuk tertawa melihatnya.

“Tenang bu, jika piring itu pecah, kami akan paksa dia untuk mengganti biaya semua piring yang pecah!” kata laki-laki itu, yang nampaknya orang yang mengadakan pesta ini. Dia lalu melihatku. “Oh, ada orang baru!”

Laki-laki mabuk ini rupanya masih cukup sadar untuk menyingkir dan membiarkanku mengurus penginapanku. Ibu itu memberi harga yang cukup murah untuk tidur lengkap dengan makanannya. Aku langsung meminta tolong dihidangkan makan malam, laki-laki mabuk itu datang menghampiriku, yang duduk sendirian di meja kayu.

“Jangan khawatir nak, mala mini makanlah sepuasmu, aku yang bayar!” serunya. Dia lalu memandang kea rah panggung tepat pada waktu kawannya itu menjatuhkan puluhan piring ke lantai. Semua temannya tertawa sementara orang itu sudah pucat membayangkan seberapa harga yang harus digantinya. Beberapa pelayan naik ke panggung untuk membersihkan sebelum para pemusik naik dan beberapa orang mabuk naik ke atas panggung untuk menyanyikan lagu yang rupanya mereka tahu itu dengan suara sumbang mereka. Laki-laki itu bertepuk tangan dengan gembira menonton pertunjukan konyol itu, sementara aku makan saja dengan diam.

“Kenapa kau di sini nak? Kau nampak kuat dan kau tampan. Kenapa kau pergi sementara di rumahmu saja kau dapat menikahi seorang gadis cantik dan berkerja sebagai seoran petani atau peternak yang sukses?” Tanya laki-laki itu. “Oh, namaku Frances. Panggil saja begitu.”

“Senang bertemu denganmu, Pak Frances,” kataku. “Aku hanya ingin berpetualang selagi masih sempat. Kurasa itu satu-satunya alasanku menginggalkan rumah.”

Pak Frances hanya mengangguk saja. Aku menyelesaikan makanku dan menegak minuman yang dikenal manusia dengan “Bir”. Di Langit, hanya ada air putih, air madu, air susu, atau air anggur. Tak ada yang bernama “Bir”. Ketika aku mencobanya, aku merasa mataku terbuka dengan segera, rasa pahit memenuhi mulutku, namun di susul suatu sensasi rasa yang baru. Perlahan, tubuhku terasa hangat.

“Bir yang enak sekali!” seruku senang, tak sadar bahwa suara itu cukup keras untuk di dengat mereka yang duduk di sekitarku, tapi tentu saja mereka tak memperhatikanku. Frances tertawa, dia bukan menertawaiku, tapi seseorang di belakangku. Salah seorang wanita pelayan. Rambutnya coklat bergelombang dan matanya coklat hazel, sangat cantik. Aku dapat merasakan pipiku panas, tapi aku harap itu hanya efek bir. Dia memberanikan untuk mendekat dan menambahkan bir ke gelasku dan gelas Frances.

“Oh, Frances,” panggilku. “Untuk apa pesta ini?”

“Oh, ini untuk sebuah keberutnungan besarku!” dia merogoh kantungnya dan mengeluarkan sebongkah batu pipih yang cukup runcing yang berpedar kebiruan. “Aku menemukan si cantik ini secara tidak sengaja! Batu ajaib ini jatuh langsung dari langit!”

Aku nyaris saja memuncratkan minumanku ke Frances. Itu salah satu dari bagian segel terkutuk yang hilang. Diperlukan untuk menutup kembali segel tersebut. Otakku langsung berputar cepat, mencari cara entah bagaimana nanti aku mengambilnya. Tanpa membunuh laki-laki baik ini, tentu saja. Aku tak mau menodai tanganku dengan darah mereka yang tak bersalah.

“Bolehkah aku melihatnya?” tanyaku. Frances dengan senang memberikannya kepadaku. Aku memeriksa tekstur dan memperhatikan warnanya. Aku pernah masuk ke Altar tempat segel ii berada sekali, ketika ayahku menegaskan bahwa tenpat ini tak boleh kudatangi. Warnanya sama, tapi sungguh sulit percaya bahwa segel ini hancur dan aku yang di salahkan! Frances tak sabar lagi, ia merebutnya dariku, mengelus-elusnya sebentar sebelum memasukkannya ke dalam sebuah kantung kulit mahal dan ia masukkan kembali ke kantung bajunya. Aku maklum saja. Tentunya ia sudah tahu benda ini berharga dan harus di jaga. Wanita pelayan itu baik sekali, ia menawarkan makanan lagi, tapi kutolak karena aku sudah kekenyangan. Aku pamit ke Frances dan masuk ke kamar tidurku. Kamar tidur di penginapan itu seluruhnya terbuat dari kayu. Tempat tidurnya keras dan berbau pesing. Sungguh berbeda dari tempat tidur beludruku dahulu. Aku mencoba untuk tidur, tapi ringkikan kuda di luar membuatku kesusahan tidur. Tiba-tiba terdengar suara tapak langkah yang sangat keras, pesta sudah selesai rupanya. Aku membuka pintu kecil dan mengintip sebentar. Satu-persatu orang segera masuk ke kamar mereka, aku melihat Frances masuk ke sebuah kamur di pojok, dekat pintu keluar menuju pintu halaman belakang. Aku dengan nekat melangkah perlahan di kayu yang terkadang berdecit. Aku taku-takut jika tiba-tiba saja ada yang keluar hendak mengambil minum atau semacamnya, tapi suara dengkuran mereka yang seperti babi sudah cukup menjadi bukti bahwa mereka benar-benar kelelahan dan tertidur pulas. Aku sampai di depan pintu kamar Frances, dapat kudengar dengkurannya. Aku membuka pintu kamar perlahan. Ia sudah ada di kasurnya, tertidur pulas dengan mulut terbuka. Air liur yang berubah menjadi sebuah air terjun alami membuat sebuah kolam kecil di bantal.

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh tempat, berusaha mencari kantung kulit tempat Frances menyimpan pecahan segel itu. Aku menemukannya, di genggam tidur olehnya, masih di tambah seuntai tali kuat yang di ikat ke tangannya. Aku dengan cepat mengambil sebilah pedang pembuka surat dan mencoba memotong tali itu perlahan-lahan. Setelah berusaha beberapa saat, aku berhasil melepas tali itu, sekarang tinggal mengambil kantungnya dan kabur dari sini. Aku perlahan-lahan menarik kantung itu, namun tiba-tibu Frances berbalik dengan manja. Tanganku nyaris saja menentuhnya. Aku segera mencoba lagi. Tepat sebelum kantung kulepas dari tangannya, aku mengambil tongkat penyangga jendela. Jendela, yang ternyata terbuka, menatap ke bingkai jendela dengan keras. Aku mengumpat dalam hati dan berharap tak ada seorangpun yang terbangun  karenanya. Aku dengan cepat menarik kantung kulit itu dan menggantinya dengan batang pohon. Tepat di saat aku hendak keluar dari kamar, terdengar suara pintu di ketuk. Pelayan wanita yang tadi itu.

“Pak?” Panggilnya. “Saya dengar suara  dari kamar anda. Apakah anda tak apa?”

Aku dengan panik bingung hendak melakukan apa. Aku tak menjawab wanita itu, supaya biar saja ia mengira Frances masih tidur dan tidak terganggu suara itu. Sialnya, Franes berguling jatuh dari kasur, menimbulkan suara bedebam tapi ia masih tertidur dengan lelap. Pintu di ketuk lagi, kali ini lebih panik dan keras.

“Pak?!” panggilnya. “Anda tak apa?”

Aku dengan cepat membuka kembali jendela dan keluar, aku duduk di atas atap kayu dan meutup jendela perlahan tepat pada saat wanita itu masuk. Aku bersembunyi di balik dinding. Aku dapat mendengar pelayan itu membangunkan Frances dan memintanya untuk membetulkan tidurnya. Tapi Frances malah marah-marah ketika mengetahui kantung yang berisi kekayaannya hilang di gantikan batang kayu pengganjal jendela. Tiba-tiba saja, Frances dengan kasar membuka jendela. Aku terdiam menahan nafas. Rupanya dari dalam gelap sekali, sehingga aku yang sudah duduk bersembunyi di baying-bayang dinding tak nampak. Untungnya bulan dan bintang tidak kelihatan. Frances mengumpat lalu menutup kembali jendela. Terdengar ia sudah membangunkan teman-temannya. Aku dapat mendengar mereka mengetuk kamarku, lalu aku mendengar kamar di dobrak. Lalu mereka ribut-ribut lagi di kamarku sebelum nampak dari atas mereka keluar sambil membawa obor dan berbagai macam senjata. Aku dengan ngeri memandangnya. Manusia memang barbar. Mereka hendak memanggangku kah? Aku tak pernah mendengar kabar tentang manusia yang mau-mau saja memakan daging sesamanya!

Aku dengan perlahan membuka kembali jendela dan kembali masuk ke kamar Frances untuk menemui pelayang wanita itu sedang membereskan tempat tidur Frances untuk mengurangi ketegangannya. Ia memandangku dengan ngeri. Kami terdiam sesaat sebelum wanita itu berteriak. Cepat-cepat aku memintanya untuk diam.

“Kau diamlah!” seruku sambil menyumpal mulutnya cepat-cepat dengan selimut. “Mereka belum jauh!”

Benar saja, pintu utama kembali di buka dengan kasar. Cepat-cepat aku berlari keluar lorong dan menatap Frances yang baru saja masuk ke lorong kamar-kamar. Dengan marah diacungkannya gapur talanya padaku, “KAU INI COCOKNYA KUJUAL JADI BUDAK SAJA!”

Aku tak menjawab. Dengan cepat aku sudah membuka pintu keluar ke halaman dan berlari kea rah hutan. Aku berlari tak karuan sementara gapur tala, tombak, dan bermacam barang lainnya dilempar ke arahku. Mereka masih mengejar dengan marah. Aku dengan cepat melompati pagar kayu pembatas antara hutan dan penginapan ini lalu berlari dalam hutan yang gelap, menabrak dan mengijak semua semak belukar lebat dan besar yang menghalangi. Aku terus belari hingga suara-suara teriakan mereka tak terdengar lagi. Aku keluar dari hutan di sentah sisi sebelah mana, dihadapkan ke sebuah jalan kecil. Ragu-ragu, aku melihat bintang di langit, bergantung sepenuhnya pada Bintang Biru. Padahal dahulu saja, di saat aku bahkan dapat duduk di hadapan Bintang Biru, aku tak pernah melakukannya. Bintang Biru muncul dari balik awan, di sebelah utara. Dengan cepat dan tanpa suara aku bergerak ke utara, berharap menemukan desa lain yang aman dari Frances dan kawan-kawannya.

Read previous post:  
45
points
(571 words) posted by too much idea 8 years 49 weeks ago
64.2857
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | lain - lain | fantasy | nanowrimo | project accandia
Read next post:  
Writer yuu_sara
yuu_sara at Accandia: Chapter 1 (8 years 31 weeks ago)
70

maap tanya ga pnting,.
itu accandia ato arcandia? di tagnya arcandia, tp judulnya accandia..

Writer too much idea
too much idea at Accandia: Chapter 1 (8 years 31 weeks ago)

Arcanida yang bener, tapi karena di prolog udah terlanjur Accanida,ditulis dulu Accandia *entar sya edit

Writer zenocta
zenocta at Accandia: Chapter 1 (8 years 31 weeks ago)
70

gw mau komen apa ya selain banyak typo n banyak kalimat yang susunannya kurang pas, dan juga pilihan kata yang kurang cucok. udah disebut semua kayaknya.. hahahaha... oiya gw belum baca prolognya.. anyway this story is interseting..

Writer too much idea
too much idea at Accandia: Chapter 1 (8 years 31 weeks ago)

XD hahahah :3 sankyu~
Jangan lupa baca prolognya :D

Writer Hikaru Xifos
Hikaru Xifos at Accandia: Chapter 1 (8 years 31 weeks ago)
60

Menarik.. ^^b Meskipun lumayan banyak typo atau kalimat yg bikin bingung.. Semangat! ^^v

Writer too much idea
too much idea at Accandia: Chapter 1 (8 years 31 weeks ago)

makasih :3, sedang diperbaiki kok xD

Writer Putri_Pratama
Putri_Pratama at Accandia: Chapter 1 (8 years 31 weeks ago)
90

Cerita fantasi yang menarik.

Writer too much idea
too much idea at Accandia: Chapter 1 (8 years 31 weeks ago)

sankyu :3

Writer Rendi
Rendi at Accandia: Chapter 1 (8 years 31 weeks ago)
60

Aku jatuh punggung duluan ke tanah. Aku segera bangun dengan siaga. << ga ada ngerasa sakit terlebih dahulu? ga ada lenguhan pendek? serasa cepet banget >.<
.
kalo jatuh dari langit, impactnya seharusnya bikin ledakan... kok bisa ada rem darurat gitu? *kepo*
.
Meski hutan ini sunyi dan serangga dengan asik bernyanyi << dengan asyik bernyanyi? maksudnya "yang" bukan?
.
kedingingan< typo: kedinginan?
.

Tapi aku tak berniat mengembalikannya secepat ini. << secepat ini-nya itu maksudnya apa? ato maksudnya 'Secepatnya'.
.
Pedang itu sarungnya terbuat dari logam merah, penuh dengan ukiran bewarna keemasan yang sangat mirip emas. Pedangnya itu sendiri pipih dan ringan, namun berbahaya dan tajam. Terbuat dari bahan yang sama seperti sarungnya. << redundant. di awal kalimat sudah ada pedangh dan sarungnya terbuat dari logam merah.
.
Ganggangnya << 'gagang' kan?
.
ditimbulkanna << 'ditimbulkannya' kan?
.
Aku berjalan mengikuti arus angin, berharap anginpun mau berbaik hati menolongku dengan memanduku << redundant. buang aja menolongku.
.
pelogikaan? darimana dia tahu bakal selamat kalau masuki jalan raya? selama ini dia kan hidup sebagai bintang?
.
"aman dari pencopet"? makin lama gw makin bertanya, apa kehidupan sebagai bintang sama dengan kehidupan dunia ini? sori makin kepo
.
mala mini < pasti typo dari auto correct MSword
.
“Tunggu sebentar,” katanya. “Akan saya bukakan.” << percaya amat si penjaga? argumentasi nanggung tuh. langsung aja kek orang mabuk makanya dikasih masuk. << IMO
.
Laki-laki mabuk ini rupanya masih cukup sadar untuk menyingkir dan membiarkanku mengurus penginapanku << penginapanku?
.
kea rah << typo dr MSWord
.
sebelum para pemusik naik dan beberapa orang mabuk << cut aja jadi "sebelum para pemusik dan pemabuk naik.
.
seoran << 'seorang' bukan?
.
“Bir yang enak sekali!” << bukannya seharusnya minuman? kalo kalimat itu kesannya dia udah tahu mana Bir yang enak dan yang ga.
.
"Oh, Frances,”<< ga pake Pak?
.
keberutnungan << 'keberuntungan' bukan?
.
ii << 'ini' bukan?
.
tenpat << 'tempat'
.
Frances tak sabar lagi, ia merebutnya dariku, mengelus-elusnya sebentar sebelum memasukkannya ke dalam sebuah kantung kulit mahal dan ia masukkan kembali ke kantung bajunya. << agak redundant sih... kalo bisa penggal aja kalimatnya (buang si 'dan').
.
sisanya gw skimming... capek bacanya. gomen Mich >.<

Writer Yafeth
Yafeth at Accandia: Chapter 1 (8 years 31 weeks ago)

Rem mendadak is Deus Ex Machina 3:)
Wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwk!

Writer too much idea
too much idea at Accandia: Chapter 1 (8 years 31 weeks ago)

gak pa pa om, udah banyak banget >O<
Gyaaaa ternyata masih banyak yang salah D:
Sankyu sankyu :3

Writer Yafeth
Yafeth at Accandia: Chapter 1 (8 years 31 weeks ago)
60

Mau cabe, kan? Berikut keanehan kalimat (+ typo) dari karya ini:
"Ganggangnya terbuat dari gading Olimpioth, semacam makhluk besar dengan belalai panjang dan memiliki dua gading yang besar, berkepala dua dan memiliki ekor berbisa di dataran entah di mana."
"Jendela, yang ternyata terbuka, menatap ke bingkai jendela dengan keras."
"Aku keluar dari hutan di sentah sisi sebelah mana, dihadapkan ke sebuah jalan kecil"
===
Kalimat pertama, typo gagang jadi ganggang. Bagian kalimat, "...dan memiliki ekor berbisa di dataran entah di mana." saya rasa sedikit rancu.
===
Kalimat kedua, bagian kalimat"...menatap ke bingkai jendela dengan keras." juga bikin bingung. Menatap dengan keras? Itu membingungkan.
===
Kalimat ketiga, selain typo yang banyak, kalimatnya juga tidak tersusun baik (untuk saya). Terasa seperti dua kata yang digabungkan dengan tidak sempurna. Sebaiknya bukan digunakan koma di situ, tetapi cukup kata "dan" saja.
===
Permisiiii ~~~~ :3

Writer too much idea
too much idea at Accandia: Chapter 1 (8 years 31 weeks ago)

hiya~ cabe~ *mungutin cabe satu-satu*
:3 oh iya yak, sankyu kak~