The Reunion (Part 3)

“Wah, udah banyak berubah ya…” Dhira tercengang melihat banyak perubahan pada tempat nongkrong favoritnya.

Dulu, hampir setiap pulang sekolah, Dhira bersama Tika, Nyitnyit dan Uci, menghabiskan waktu mereka di mall ini sepanjang hari. Dari mulai makan, nonton, main DDR, hunting baju sampai memborong komik-komik baru.

Mall ini memang terkenal paling lengkap di daerah tempat tinggal Dhira. Pada jam-jam pulang sekolah, mall ini selalu dipenuhi oleh anak-anak sekolah yang biasanya datang bergerombol dengan teman-teman mereka. Dan bukan hal baru, jika Dhira dan teman-temannya tanpa sengaja bertemu dengan teman-teman satu sekolah yang lain.

Maka, tidak mengherankan, jika hari ini, ketika hampir putus asa menemukan tempat duduk kosong di food court, mereka bertemu dengan beberapa orang teman sekolah mereka lagi. Di sana sudah ada Dika, Puput, Rani, Sakti dan Ucup.

“Yah…ketemu lo-lo lagi,” celetuk Dika.

“Reuni kita berlanjut lagi nih…hahaha,” seru yang lain.

Suasana kembali menjadi hangat dengan berbagai obrolan yang sempat tertunda. Berbagai canda dan celaan menghiasi salah satu sudut food court siang ini.

“Dhir, lo mau pesen apa?” tanya Lani tiba-tiba.

“Umm…kita pesen Hokben aja, yuk. Mau ngga?”

“Eh, gue ikutan juga dong,” ternyata Dika ikut mendengar pembicaraan mereka.

Akhirnya, beberapa orang bangkit meninggalkan kursi mereka dan berjalan mengikuti Dhira dan Lani. Sebagian menuju arah yang berbeda. Sementara, masih ada beberapa anak yang menjaga tempat duduk mereka bergantian.

Ketika Dhira kembali, ternyata sudah bertambah lagi teman mereka yang datang. Sekarang, kira-kira, sudah ada lima meja yang disusun berjajar agar semua anak mendapat tempat duduk.

“Mau ke mana, Mel?” tiba-tiba Mela, yang duduk tepat di sebelah Dhira, beranjak dari tempat duduknya.

Disertai dengan cengiran lebar, Mela menjawab,

“Mau ngerokok sebentar. Tuh, di sana. Ngga enak sama yang lain kalau ngerokok di sini.”

Mata Dhira bergerak mengikuti arah Mela berjalan. Ternyata, di sana sudah ada Puput, Sakti dan Ucup yang sedang mengobrol ditemani beberapa batang rokok di tangan mereka masing-masing.

Dhira hanya mengedikkan bahu seakan memaklumi teman-temannya yang senang mengisi paru-parunya dengan asap rokok.

“Lo ngga ikutan, Mel?” seloroh Dhira pada Meli yang sedang sibuk dengan kentang goreng di hadapannya.

“Hah, gue? Ogah ah. Bisa sesak nafas gue,” jawab Meli sekenanya.

Lalu, mereka akhirnya larut obrolan dan makanan mereka hingga waktu telah menunjukkan pukul 3 sore. Beberapa teman Dhira berpamitan pulang. Lani pun sudah tampak lelah. Meli yang sedari tadi sibuk dengan kentang gorengnya sekarang sedang berusaha menopang kepalanya yang lunglai karena mengantuk.

Semua berpencar menjadi kelompok-kelompok kecil sesuai dengan tujuannya masing-masing. Dhira, Lani dan si kembar menuju tempat di mana mobil Lani tadi diparkirkan.

Saking lelahnya, semua berjalan dalam diam, sampai tiba-tiba Mela membuka pembicaraan,

“Eh, temen-temen, tahun baru besok udah punya acara belum?”

“Emang kenapa, Mel?” Meli menanggapi setengah mengantuk.

“Tadi waktu gue ngobrol bareng sama Sakti dan yang lainnya, tiba-tiba dia bilang mau jalan-jalan ke Anyer. Terus, dia ngajakin gue, Puput sama Ucup.”

Mendengar kata Anyer, Dhira, Meli dan Lani menjadi tertarik mendengarkan cerita Mela. Lalu, Mela kembali melanjutkan ceritanya,

“Nah, karena Ucup sama Puput ternyata udah punya acara sendiri waktu tahun baru. Jadi…baru gue yang ikut,”

“Cuma lo sama Sakti yang ikut? Wah…” Dhira memotong dengan muka penuh arti.

“Ya ngga lah…Bisa heboh nyokap gue,” Mela langsung menyanggah dengan sebal. Dhira tertawa geli melihatnya.

“Sebenernya Sakti sama Cepi yang ngerencanain ini. Sampai sekarang, baru Sakti, Cepi, Vino, Bara sama Fakih yang udah pasti ikut. Ditambah gue, berarti udah ada enam orang. Tapi…masa gue cewek sendirian. Makanya, gue ngajak kalian”.

“Mau ya…?” bujuk Mela dengan muka memelas.

Dalam hati, Dhira tertarik untuk menerima ajakan Mela. Dhira sangat menyukai traveling terutama jalan-jalan di alam bebas. Lagipula, tahun baru tinggal tiga hari lagi dan hingga hari ini Dhira belum punya rencana apapun untuk melewatkan malam tahun baru nanti.

“Tapi Mel, gue kan ngga terlalu kenal sama Sakti dan kawan-kawan. Emangnya dia mau ngajak gue?” Dhira sedikit pesimis karena selama ini ia hanya tahu sedikit tentang Sakti. Kecuali Cepi dan Fakih, Dhira hanya sekedar mengenal nama dan orangnya saja. Begitu juga sebaliknya.

“Sakti bilang, terserah gue mau ngajak siapa aja. Soalnya, rencana ini emang mendadak banget jadi sebagian temen-temen yang dia ajak udah punya acara semua.”

“Kata dia, yang penting rame,” Mela menjelaskan berusaha meyakinkan teman-temannya untuk ikut.

“Kalau ngga ada lagi cewek yang mau ikut, gue ngga mungkin dibolehin ikut sama nyokap,” Mela menatap teman-temannya satu per satu dengan tatapan penuh harap.

“Emm…gue ikut deh. Demi lo nih. Baik kan gue,” kata Meli tiba-tiba. Mela cuma mencibir menanggapi saudaranya.

Haha…dasar ngga pernah akur. Pikir Dhira dalam hati.

“Umm…lo gimana, Dhir? Gue ikut kalo lo ikut deh,” sahut Lani seenaknya.

“Lho? Kok gue?”, Dhira bingung.

“Iya…ikut aja, Dhir. Kan jadi makin rame tuh,” Mela dan Meli kompak mendesak Dhira.

“Ih…kalian curang. Main keroyokan. Iya, deh. Gue ikut. Tapi gue bilang nyokap dulu ya,” akhirnya Dhira menyerah dengan rayuan teman-temannya.

“Asyiiikk…kalau gitu gue langsung bilang ke Sakti ya,” dengan semangat Mela mencari ponselnya.

“Eh, tunggu dulu…Gue kan belum pasti bisa ikut,” sergah Dhira menghentikan Mela yang sudah siap mengirimkan pesan singkatnya.

“Pokoknya lo ikut, Dhir. Kalo perlu kita semua jemput lo ke rumah,” ancam Mela.

“Hah?? Kok gitu? Pemaksaan nih namanya. Melanggar HAM tau,” Dhira berusaha membela diri.

“Pokoknya lo harus ikut…!!” sahut Mela, Meli dan Lani bersamaan.

Dhira langsung berpura-pura memasang muka memelas. Semua tertawa melihat tingkah Dhira. Tetapi dalam hati, Dhira berdoa semoga mamanya mengijinkan dia merayakan tahun baru bersama-sama teman-temannya ini. Karena, jika tidak, Dhira tidak bisa membayangkan apa yang akan mereka lakukan terhadapnya. Hiiyy…

Read previous post:  
13
points
(1180 words) posted by andiensesaria 9 years 41 weeks ago
43.3333
Tags: Cerita | Novel | teenlit | high school
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Shinichi
Shinichi at The Reunion (Part 3) (9 years 40 weeks ago)
60

hmmm...

ini jugak nggak terlalu menarik. porsi dialognya kurang meskipun itu diposisikan pengganti narasi bagaimana kejadian selanjutnya diceritakan. kan dialog juga bisa menceritakan. tapi ini saia rasa terlalu boros jika dibuat dalam satu part.
dan lagi, tokohnya terlalu banyak, nggak spesifik. jadi, bagi saia yg oon ini rada susah membagi2 mereka dalam ingatan.

kip nulis deh

Writer andiensesaria
andiensesaria at The Reunion (Part 3) (9 years 40 weeks ago)

hahaha kebanyakan pemain ya...soalnya ini real story sih...
makasih buat masukannya... :)

Writer Shinichi
Shinichi at The Reunion (Part 3) (9 years 38 weeks ago)

iyap :D
gpp
ehehehe
nggak masalah kok kalo banyak tokohna. cuman, kurang spesifik diceritain di dalam. ehehehe. jadi sukak nggak kenal dulu sama tokoh yg ini itu
kip nulis
:D

Writer diorisnotgucci
diorisnotgucci at The Reunion (Part 3) (9 years 40 weeks ago)
20

Pas baca bagian ini, kok akunya ngerasa sebenarnya kamu bisa nge-skip ini deh karena nggak ada yang penting dan buat scene ini wajib dipertahankan. Dicoba deh, Beb.

Writer andiensesaria
andiensesaria at The Reunion (Part 3) (9 years 40 weeks ago)

emm...sebenernya di sini aku mau nyeritain saat di mana dia diajak temen satu sma yg selama sekolah dlu ga pernah kenal...yah mungkin kurang fokus sama intinya ya...
thanks for the comment :)