Neera

Sabtu malam di kota Bojonegoro. Alun-alun kota tampak begitu semarak. Kelap-kelip lampu hias di sekeliling halaman tempat upacara kemerdekaan itu semakin menambah gemerlapnya malam. Bulan tanpa enggan menyinari penjuru bumi. Ditemani bintang-bintang yang selalu setia memenuhi langit. Sungguh malam yang cerah.

Neera mengintip dari jendela mobil ayahnya. Dia begitu gembira. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang menyiratkan kebahagiaan yang teramat. Sesekali bibirnya tertarik. Lesung pipitnya langsung mengikuti. Tampak sebuah bianglala besar yang sedang berputar di tengah alun-alun.

“Yah,” panggil Neera pada pria yang sedang mengemudi di depannya. Yang dipanggil hanya berdehem. “Neera pingin naik itu,” kata Neera sambil menunjuk bianglala yang ada di arah kanan mobil.

“Kapan-kapan aja ya sayang,” sahut suara wanita dari sebelah kemudi. “Liat saja tuh, Ayah kamu udah kecapekan. Lain kali aja ya,” bujuknya.

Neera hendak merengek. Tapi setelah dilihatnya, sang ayah benar-benar pucat. Dia urungkan niatnya untuk berdebat. Matanya kembali menatap bianglala yang semakin mengecil. Hingga akhirnya tertutup oleh pepohonan di tepi jalan.

Neera kembali menghadap ke depan. Memandang jalanan yang begitu membosankan. Dia merutuki dirinya yang lupa membawa teddy bear kesayangannya.

Lama kelamaan Neera pun terhanyut dalam buaian mimpi. Hingga tanpa dia sadari, mobil kijang biru yang ditumpangi telah sampai di halaman sebuah rumah joglo. Terukir tulisan 'AHLAN' yang menempel kuat di kusen pintu. Bukan 'ahlan wa sahlan' sebagai ucapan selamat datang, tapi nama pemilik rumahnya memang Ahlan, ayah Neera.

Neera terbangun saat pintu mobil disampingnya terbuka. Biasanya dia akan pura-pura tidur dan ayahnyalah yang akan menggendongnya sampai ke kamar. Tapi malam ini, Neera langsung membuka matanya dan turun sendiri dari mobil. Kedua orangtuanya memandang penuh heran pada anak semata wayangnya itu.

Mereka bertiga memasuki rumah adat khas jawa itu. Limabelas menit duduk berdiam di dalam mobil membuat mereka capek dan pegal disana-sini. Kaki mereka langsung melangkah ke dapur seakan tanpa perlu dikomando lagi. Ibu dengan segera menyalakan kompor untuk membuatkanku susu hangat. Sementara ayah. Entahlah. Dia hanya mengikuti kedua belahan jiwanya itu dan ikut masuk ke dapur.

Tak lama berselang, ayah pergi ke kamar mandi. Dari suara yang terdengar, sepertinya ayah sedang muntah. Apa ayah sakit? pikir Neera.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Aletheia_agatha
Aletheia_agatha at Neera (9 years 22 weeks ago)
80

Sakit apa sang Ayah?
hehe, lanjutin dong :)

Writer zenocta
zenocta at Neera (9 years 22 weeks ago)
80

baru lima belis menit sudah pegal, apa kabar yang satu jam? hehehehe..

ini baru awal kan? jadi boleh dunk kalo ditunggu lanjutannya.. :)

Writer yuu_sara
yuu_sara at Neera (9 years 22 weeks ago)

iya juga sih...
maklum ga pnah naek mob.b.b.bil.. naeknya angkot mulu.. sebentar desak2an udah cuapek bgt lo.. hehe
#aqkanikutansavèearth(boong bgt) makanya sring naek sepeda hoöntell.. bgtu

Writer Shinichi
Shinichi at Neera (9 years 22 weeks ago)
50

ada sesuatu (Syahrini mode ON) dimari niy

Mereka bertiga memasuki rumah adat khas jawa itu. Limabelas menit duduk berdiam di dalam mobil membuat mereka capek dan pegal disana-sini. Kaki mereka langsung melangkah ke dapur seakan tanpa perlu dikomando lagi. Ibu dengan segera menyalakan kompor untuk membuatkanku susu hangat. Sementara ayah. Entahlah. Dia hanya mengikuti kedua belahan jiwanya itu dan ikut masuk ke dapur.

dari awal, penulis menempatkan posisi sebagai orang ketiga, di luar cerita. tapi ia masuk (hanya sekali dalam paragraf ini). ia dibuatkan susu hangat oleh ibu. siapakah dia? :D kenapa ia tahu apa yang dipikirkan Neera?

Writer yuu_sara
yuu_sara at Neera (9 years 22 weeks ago)

yaa.. habis nulis uda q baca, mau ngedit males.. jdnya.. silakan di nikmati dulu kesalahannya.. gwekeke

Writer Shinichi
Shinichi at Neera (9 years 22 weeks ago)

hmmm...

Writer man Atek
man Atek at Neera (9 years 22 weeks ago)
100

iyya bener, apa sakit ya, ato sakit apa ya ?

Writer atiqulaira
atiqulaira at Neera (9 years 22 weeks ago)

Lanjutttin,, masih ngambang hehehe :D

Writer yuu_sara
yuu_sara at Neera (9 years 22 weeks ago)

asal ga tenggelam.. hwehe

Writer Atika Juliana
Atika Juliana at Neera (9 years 22 weeks ago)

Kurang panjang ni ceritanya. Hehe

Writer yuu_sara
yuu_sara at Neera (9 years 22 weeks ago)

di otak saya udah panjang bgt.. tp pas dituangin, baru segini.. thx dah m.a.m.p.i.r

Writer yuu_sara
yuu_sara at Neera (9 years 22 weeks ago)

yehe,. terimakasih.trimakasih.. udah mau mampir.. tp, adakah yg sekiranya salah dgn post saya?

Writer Putra Mahkota
Putra Mahkota at Neera (9 years 22 weeks ago)
70

hmmm masih penasaran lanjutannya. Kalau ga ada lanjutannya, saya bingung.hehe

Writer Gitta-chan
Gitta-chan at Neera (9 years 22 weeks ago)

wah, saya juga berpikiran sama dengan Kak PM. Kalau mau, di buat cerita bersambung aja, kak?

Writer yuu_sara
yuu_sara at Neera (9 years 22 weeks ago)

uokei... asal tetep dibaca ntar.. hwekekek.

Writer Chlochette
Chlochette at Neera (9 years 22 weeks ago)
70

Bersambung kah?
Belom jelas nih.
Saya ikut menyimak saja deh.