Accandia: Chapter 2

 

Fajar sudah terbit sejak tadi, sekarang sinar matahari yang condong ke barat menyinari sosokku  yang sedang berjalan terseok-seok menyusuri jalan kecil ini hingga sampai di atas sebuah bukit. Sebuah kota yang nampak kumuh nampak dengan jelas dari puncak bukit. Dari sini, nampak ada dermaga dengan puluhan kapal, baik besar maupun kecil, yang terdiam menunggu digerakkan di laut yang nampak tenang. Suara burung camar, debur ombak, dan lagu dari bar terdekat terbawa angin kemari. Cerobong-cerobong asap mengeluarkan asap hitam. Aku dengan cepat berlari menuruni bukit, sialnya, aku tersandung dan jatuh terguling-guling ke jalan di bawah. Untungnya tubuhku taka pa, hanya bertambah kotor saja. Aku menyusuri jalan ke kota. Di samping kanan jalan, aku melihat sungai bersih mengalir dengan tenang. Cepat-cepat aku berlari dan segera menyeburkan diriku ke dalam sungai. Rasanya segar sekali. Aku membasuh mukaku dengan air dan meminum beberapa teguk air yang kusendok dengan tanganku. Sesaat aku terdiam melihat air tenang, yang memantulkan seorang yang nampak kotor dan dekil, nampak seperti gelandangan atau pengemis. Bukan seorang pangeran tampan yang digilai banyak wanita, pandai menggunakan sihir dan ahli berpedang. Aku mengusap mataku, aku baru saja merasa mataku kelilipan debu, tapi aku sadar inilah emosi yang dinamai manusia menangis. Penghuni Langit tak pernah merasakan emosi semacam ini. Itu karena kami selalu berpesta dan bersenag-senang bersama setiap harinya. Tak pernah ada yang tewas dalam perperangan atau penyakit. Inilah Surga, atau setidaknya itulah istilah yang diberikan manusia.

Aku kembali ke tepian dan duduk bersantai sementara. Aku mengeluarkan pecahan segel yang kucuri dari Frances. Jika aku menemukan semua pecahannya dan berhasil menemukan jalan naik ke Langit, aku bisa kembali ke Altar dan memperbaiki segelnya. Jika memang benar aku satu-satunya yang dilahirkan untuk dapat membuka atau menutupnya, bukankah itu berarti aku juga bisa memperbaikinya? Dengan pikiran seperti  itu dalam hati, aku mengembalikan pecahan segel ini dalam kantung dan menyembunyikannya baik-baik. Aku mendengar suara di semak-semak, aku langsung melompat berdiri menegang, tanganku di gagang pedangku. Apakah itu Frances dan kawan-kawannya? Jadi mereka sudah berhasil mengejarku? Aku hampir saja berteriak ketika melihat seekor kelinci putih melompat keluar dari semak-semak. Kelinci itu memandangiku sebentar sebelum melompat-lompat. Aku menarik nafas lega. Sungguh aneh, kenapa Frances belum sampai ke sini? Bukankah jarak kota ini dengan desa tadi setidak-tidaknya sekitar seribu tapak kaki? Biarlah, yang penting aku aman. Tiba-tiba terdengar suara aneh, hampir sama seperti suara Naga atau binatang buas lainnya, seperti GRAUUUKKKKKKK. Aku melompat kaget sambil menghunus pedangku, kelinci itu berlari bersembunyi di semak melihat gerakan tiba-tibaku. Suara itu terdengar lagi, tapi tidak terdengar suara tapak langkah atau kepakan sayap di udara. Aku baru sadar bahwa itu adalah suara perutku. Rupanya ini yang disebut manusia kelaparan atau terlalu lapar. Aku memutuskan untuk segera pergi ke kota dan mencari kedai, tapi aku mengurungkan niatku itu. Lebih baik aku menggunakan uangku ini di saat yang perlu saja. Dengan cepat aku mengedarkan pandanganku mencari-cari si kelinci.

Singkat cerita, aku memburu kelinci dan berhasil menangkapnya. Dengan ngeri aku hedak membunuh kelinci itu, tapi aku tidak tega. Jadi aku mencemplungkannya ke sungai dengan ke adaan kakinya aku pegangi, kelinci itu mati karena tenggelam. Degan cepat aku mengiris-iris daging kelinci menjadi potongan kecil-kecil. Aku memunguti batang-batang kayu di dekat situ dan mulai membuat tusukan daging kelinci. Aku menyusun ranting-ranting itu dan dengan cepat merampal mantera api. Sebuah rune merah api kecil muncul di atas ranting dan jatuh menjadi api. Dengan cepat api unggun terbuat. Aku dengan sabar menanti makananku matang. Matahari mulai menurun, dan aku sudah berjalan memasuki gerbang kota. Tak pantas di sebut gerbang, mungkin lebih tepat jika di sebut jalan saja, karena gerbang ini hanya berupa tanda dari batu dan kayu saja. Nampaknya warga di sini tidak takut dengan adanya kemungkinan bandit menyerang atau apa. Jalanan kota ramai sekali meski hari sudah mulai gelap. Para pedagang di pasar sibuk membereskan kios mereka sementara para penduduk berjalan kembali ke rumahnya atau melakukan urusan lainnya. Aku merasa di awasi. Benar, aku benar-benar merasa di awasi. Berkali-kali aku menengok ke sana kemari, tapi rupanya siapapun yang mengawasi aku ini lihai sekali bersembunyi. Ah, sebetulnya tak bersembunyi pun juga tak apa. Toh aku saja mengalami kesulitan melihat sekelilingku di tengah kerumunan orang ini. Mungkin ini efek terlalu lama di hormati. Aku dahulu jika berjalan-jalan ke jalanan seramai ini, orang-orang pasti akan berbaris di pinggir jalan sambil menghormat. Aku memutuskan untuk berbelok ke sebuah gang kecil yang gelap, yang ternyata merupakan kesalahan besar. Beberapa lelaki berotot dengan muka garang dan bekas luka di sana-sini memandangku. Salah satu di antara mereka yang berjanggut hitam terbal terkekeh melihatku.

“Hei, pengemis!” seru seseorang yang botak. “Pergi, kami sedang mendiskusikan sesuatu.”

Diberi kesempatan, aku cepat-cepat berbalik hendak pergi. Tapi kemudian seseorang berteriak lagi.

“Tunggu!” seru salah seorang lagi, yang matanya juling. “Biar aku melihat pedangmu, pengemis!”

Orang ini dengan kasar menyibakkan jubahku dan langsung menarik pedangku. Diamatinya selama beberapa saat. “Sarungnya indah sekali, buatan ahli! Harganya selangit! Kau dapat dari mana, pengemis?!”

Aku terdiam ngeri. Mati aku, mereka pasti akan merampasnya! Si Brewok tak sabar lagi, ia mulai melangkah mendekat. Entah kapan, yang pasti sebelum aku sadar aku sudah berlari kembali ke jalan utama. Si Brewok berteriak marah dan ia segera mengejar diikuti kelompoknya. Aku panik, jadi aku terus berlari. Kerumunan orang untungnya memperlambat kelompok pengejarku itu. Puluhan orang yang tadi mereka dorong jatuh atau rusak dagangannya mereka jatuhkan marah-marah dan mengejar mereka. Cepat-cepat aku berbelok ke sebuah gang kecil lainnya dan bersembunyi di bayangan bagunan sementara kelompok pengejarku dkejar-kejar sekelompok warga yang marah. Ini adalah kota yang ganas, rupanya. Aku dengan cepat menyururi lorong gelap ini dengan harapan dapat menemukan penginapan, dengan kondisi aman dari siapa saja yang hendak mencuri pedangku ini. Aku terlalu sering melihat ke belakang untuk memeriksa apakah ada orang yang membuntuti aku atau tidak sehingga aku tak terlalu memperhatikan arah kemana aku pergi. Aku hanya berhenti berlari ketika aku menabrak sesuatu, atau seseorang, yang sudah berdiri di depanku. Menghadangku, lebih tepatnya. Si Botak terkekeh, Si Brewok dan Si Juling berdiri di belakangnya dan tak lama kemudian mereka sudah mengepungku.

“Kau membuat kami repot tadi nak,” kata si Juling. “Untung saja teman-teman kami berhasil mengecoh warga.”

“Sekarang berikan pedangmu, pengemis.” Seru si Brewok kasar. “Atau kami terpaksa memakai cara kasar.”

Dengan cepat tangan ketiga orang itu sudah memegang pedang. Belum sempat aku sendiri menjawab atau menghunus pedangku untuk mempertahankan diriku. Tiba-tiba saja seseorang berayun dengan tali dan menendang Si Juling jatuh menghantam tanah. Seorang wanita. Tali yang tadi ia gunakan untuk berayun masih menggantung di tali jemuran yang tergantung di atas kami. Wanita itu berambut coklat kehitaman yang dikuncir ekor kuda. Zirahnya hanya melindungi beberapa bagian tubuh saja, mungkin maksudnya untuk mempercepat gerakannya. Mata hitam keunguannya berkilat memandang si Botak dan si Brewok, yang masih berdiri kaget, dengan marah.

“Pergi.” Katanya singkat. “Ini daerahku.”

“Sejak kapan daerah ini memiliki penguasa, heh?!” ejek Si Brewok. Detik selanjutnya sebuah pisau lempar sudah meninggalkan goresan luka di pipinya, sementara pisau lempar itu sendiri menancap di dinding. Si Botak dengan waspada mengangkat Si Juling yang masih tak sadarkan diri dengan bekas tapak sepatu yang memerah di mukanya. Si Brewok mengumpat-umpat sambil memegangi pipinya kesakitan. Mereka pergi tanpa menoleh ke belakang.

“Maka―” aku berbalik, hendak mengucapkan terima kasih pada wanita misterius itu. Tapi belum sempat aku melakukannya, wanita itu sudah menerjangku dan menjatuhiku. Mukaku mencium tanah berlumpur yang baunya tak enak.

“Oi oi!” seruku marah. “Apa yang kau lakukan?!”

Wanita itu tak menjawab. Dengan cekatan di ambilnya sabuk pedangku tanpa merusaknya. Dia mencabut pedangku dari sarungnya, suara dengung besi yang membelah udara terdengar jelas. Dia lalu melihatnya berkilau di timpa cahaya.

“Pedang yang bagus, Pengemis.” Katanya. “Dari mana kau mencurinya?”

“Aku tak mencurinya!” seruku. “Itu pedang…. Pedang leluhurku!”

“Tak mungkin gelandangan sepertimu memiliki leluhur seorang raja sebuah negara besar,” kata wanita itu mencemooh. “Semua material yang digunakan untuk membuat pedang ini… Aku tak pernah melihatnya. Kau pastinya tahu berapa harga pedang ini, bukan?”

“Bandit!” seruku. “Tolong! Ada bandit! Aku diram―”

Wanita itu dengan cepat mendorong kepalaku ke tanah. Nyaris saja aku memakan tanah.

“Diam, bodoh.” Kata wanita itu. “Jika kau berteriak sekali lagi, aku akan membunuhmu. Aku tak mau berebut dengan seluruh kota, tahu.”

“Apa maksudmu?” tanyaku. Aku dapat merasakan tubuhku gemetar. Rupanya ini yang bernama takut atau ketakutan. Aku tak pernah merasa setakut atau secemas ini. “Berebut dengan seluruh kota?”

“Rupanya kau ini benar-benar seorang pengelana sial ya?” sindir wanita itu. “Kau datang kemari dengan barang sebagus ini tanpa mengetahui bahwa kota ini merupakan kota bandit. Yah, memang tidak sebesar Port Forte, tapi cukup membuat kewalahan Armada Laut Liberum.”

Aku menggerakkan tanganku pelan-pelan, berusaha meraih belati yang ada di ikatan baju zirahku sekaligus memastikan bahwa pecahan segel itu tak dapat ditemukan, tersembunyi di balik lipatankain baju. Sementara tanganku sibuk bekerja, aku mengalihkan perhatiannya.

“Tolong kembalikan pedang itu padaku,” pintaku dengan memelas. “Aku tak punya apa-apa lagi. Hanya itu yang kupunya.”

“Maafkan aku, kawan.” Wanita itu tertawa geli. “Tapi ini pajakmu datang ke kota ini.”

Setelah mendorong pecahan segel masuk ke lipatan kain bajuku, aku segera meraih gagang belatiku. Dengan mengumpulkan seluruh tenaga yang kubisa, aku menghentak ke samping. Wanita bandit itu tak menyangka aku dapat melakukan hal itu. Dalam sekejap mata, keadaan sudah berbalik. Aku merebut pedangku dan segera mengikatkannya ke pinggangku.

“Aku akan membayar pajakku kapan-kapan, toh aku hanya numpang lewat.” Balasku ketus. “Aku hanya ingin pergi dari kota ini. Siapa namamu?”

Wanita itu membuang muka karena kesal dan marah, tapi ia menjawab, “Nera.”

“Baiklah, Nera, aku hanya akan minta tolong satu hal padamu,” kataku. “Apakah akan ada kapal yang berangkat ke daratang utama?”

“Ada. Bebek Pelaut akan berangkat besok, ketika matahari berada di posisi puncak,” jawabnya, dengan padangan menantang. “Sudah puas?”

“Terima kasih,” aku berdiri, lalu menawarkan tangan untuk menolongnya berdiri, tapi tak di acuhkannya. “Maaf aku menindihmu tadi.”

“Tak apa,” Nera menepuk-nepuk bajunya yang kotor kena tanah. “Sekarang biar kubalas.”

Dengan cepat Nera mengambil sebilah belati, lebih tepatnya disebut pedang kecil, dan menyerangku. Dengan cepat aku menahannya dengan belatiku, yang untungnya tadi belum kusarungkan kembali. Dengan cepat satu tangan Nera yang masih bebas mengambil belati dan menusukkannya ke aku. Aku mengelak dan memukul tangannya keras, membuatnya menjatuhkan belati ke tanah. Ia bergerak hendak mengambilnya, tapi aku dengan segera menginjak belati itu. Nera dengan cepat melayangkan pukulan ke perutku. Tapi aku dengan cepat menahannya dengan tanganku. Melihat kesempatan, pedang ia tarik dan layangkan, aku menunduk dan mengajukan belatiku hendak menusuknya. Ia mengelak ke samping dan kami berhadap-hadapan, saling memberi ruang bernafas. Aku dapat merasakan hatiku berdebar kencang, emosi ketegangan. Selama di Langit, meski aku sering berduel, aku tak pernah kalah. Mungkin karena itu aku tak pernah merasakan emosi ini. Nera bergerak cepat sekali, ia melemparkan dua atau tiga pisau lempar sementara dirinya sendiri menerjang. Tanganku dengan cepat menyambar pedangku dan menepis ketiga pisau lempar dengan cepat sebelum menahan pedang kecil Nera yang pasti merobek leherku jika aku terlambat merespon. Kaki Nera melayang ke perutku, aku tak bisa menghindar. Aku mengaduh dan Nera menghentakkan pedangnya ke atas, gerakan itu melambungkan pedangku ke atas. Aku segera menyerang dengan belati, Nera menghindar dengan gerakan salto kebelakang yang menakjubkan, tapi gerakan mundur itu membuatku dengan mudah mengambil kembali pedangku yang sedang terjun ke bawah, tepat di gagangnya. Nera bersiul kagum.

“Kau rupanya bukan gelandangan biasa,” katanya. “Siapa kau sebenarnya? Aku sudah memberi tahu namaku, setidaknya kau memberi tahu namamu.”

“Leonnidus. Tapi kau dapat memanggilku Leon,” jawabku tenang. “Sekarang tinggalkan aku. Aku tak mau mencari keributan dengan seorang wanita.”

“Sayangnya, Leon, aku bukan wanita biasa.” Jawab Nera. “Aku ini bandit.”

Satu-satunya cara untuk mengehentikannya adalah mengalahkannya, meskipun aku tak suka melukai wanita. Tapi mungkin khusus kali ini aku buat pengecualian, dari pada aku dirampok habis-habisan atau mungkin mati. Aku juga tak mau melanjutkan pertarungan sampai subuh, mengingat tanpa sadar kami bertarung terus hingga malam tiba. Tapi mungkin aku masih punya cara lain.

“Dengar, apa yang kau mau?” tanyaku. “Apa ada barang yang sangat ingin kau curi tapi tak bisa?”

“Aku hanya menginginkan pedangmu, dan belatimu, kalau bisa.” Jawab Nera. Ia lalu berpikir sesaat. “Sebetulnya ada satu. Ada satu barang yang kuinginkan, tapi tak bisa kucuri.”

“Itu karena kau bekerja sendirian,” kataku. “Biarkan aku menolongmu. Dengan syarat kau takkan mengambil pedangku dan belatiku. Juga nyawaku.”

Nera berpikir sejenak sebelum tersenyum tipis, senyum licik. Seolah ia baru saja mendapat ide untuk mendapat barang ini dan barang-barangku sekaligus. Dia menyarungkan pedang kecilnya dan memasukkan kembali dua buah bola logam yang nampaknya akan membuatku terluka parah, entah kapan ia mengambil kedua bola itu. Aku juga menyarungkan belatiku dan pedangku.

“Baiklah, adil juga.” Jawabnya.  “Ikut aku.”

Aku membiarkan Nera berjalan melewatiku, lalu berjalan mengikutinya dari belakang. Aku menyiagakan pedangku dan belatiku di posisi yang mudah di ambil kalau-kalau situasi berubah drastis. Nera berbelok ke sebuah gang buntu, tapi penuh dengan kotak-kotak kayu muatan. Dia memanjatnya dengan lincah, seolah ia melakukan kegiatan ini setiap harinya. Aku dengan cepat mengikutinya. Meski agak sedikit kesulitan saat melompat naik dari kotak teratas ke atap sebuah rumah. Nera ternyata sudah sampai di atap rumah paling ujung, melewati kurang lebih enam rumah dan dua gang. Rupanya Nera benar-benar sudah terbiasa melakukan hal ini, apalagi di tengah cahaya dari bulan dan bintang yang remang-remang. Aku tak berani menatap ke bawah. Yang jelas aku tak mau jatuh dan mematahkan tulangku, lalu menemui ayahku sebagai roh. Aku mengambil ancang-ancang dan melompat. Setelah aku mendarat aku segera berlari dan melompat, gaya tolakannya membuatku dapat memanjat keatap rumah yang lebih tinggi. Aku lalu mengambil ancang-ancang dan melompat lagi. Sisanya hanya melompati pinggiran atap saja. Aku bersimbah keringat dan kepanasan karena zirahku, lidahku menjulur keluar seperti anjing. Nera tersenyum saja melihatku.

“Tak buruk juga, gelandangan.” Kata Nera singkat. Dia lalu mengintip ke depan, sebuah gedung besar dengan atap terbuka. Banyak orang-orang berwajah galak dan dingin yang berjaga di depan. Semuanya membawa senjata. Keributan dan suara-suara musik terdengar dari dalam. Nera berlari tanpa suara dan melompat turun dari atap rumah. Aku mengintip dari atas. Kukira kakinya patah atau semacamnya, tapi sebenarnya ada tumpukan kotak-kotak kayu lainnya di sini. Nera menungguku di bawah. Aku perlahan-lahan turun. Nera lalu dengan cepat menyelinap masuk menuju ke sebuah lokasi konstruksi yang terletak di sebelah rumah ini. Nampaknya gedung yang akan dibangun lebih besar dan sedikit lebih tinggi dari rumah yang tadi ditunjuk Nera, itu karena tiang-tiang penyangga konstruksinya lebih tinggi dari rumah itu. Kami masuk ke dalam dan Nera segera melesat menaiki undakan-undakan konstruksi tempat para petugas bangunan berlalu lalang. Sebuah celah kecil membuka jalan naik dari undakan dua langsung ke undakan tiga. Celah kecil ini terletak di sebuah ruang kosong, di mana sama sekali tidak ada  undakan untuk berpijak, di tengah undakan kedua dan ketiga. Dia dengan cepat dan cekatan melompat ke undakan ketiga konstruksi ini, sementara aku dengan ragu melompat. Aku jatuh, tapi aku dengan cepat memegang lantai kayu undakan ketiga itu. Aku lalu berayun jatuh untuk mendarat di undakan kedua, aku segera menyusul Nera melalui tangga kayu antar undakan dan mengikutinya ke undakan keenam, dimana di sini terdapat banyak papan kayu yang panjang-panjang dan lebar-lebar yang disusun. Mungkin untuk membuat undakan lainnya ke atas. Nera memberi isyarat untuk membantunya mengangkat satu papan. Aku mengangkat bagian belakang sementara Nera bagian depan. Nera lalu mengarahkan kami ke sebuah lokasi yang menghadap atap belakang gedung tersebut. Nera lalu mengisyaratkan supaya papan itu diletakkan di tanah dan di dorong maju, menjadikannya jembatan atar lokasi konstuksi ini dengan gedung itu. Nampaknya rencana ini sudah direncanakan sejak lama, hanya saja Nera takut melakukannya sendiri atau tidak yakin dapat berhasil sendiri. Nera memintaku menarik papan kayu itu ke atas atap, takut ketahuan salah satu penjaga yang menjaga di bawah. Lalu kami mengamati keadaan dari atap.Ada puluhan orang di bawah, semuanya sedang berpesta. Penari sibuk menghibur penonton di panggung yang terletak di tengah gedung sementara pemusik sibuk memainkan musik mengitari panggung. Nera menunjuk ke arah tempat khusus untuk orang-orang penting, di mana di depan mereka terdapat sebuah kotak kaca berisikan barang yang terlalu kecil untuk kulihat. Intan, mungkin.

“Itu yang kuincar.” Jawab Nera. “Berlian yang akhir-akhir ini dikabarkan jatuh dari langit. Harganya luar biasa mahalnya!”

Sarafku menegang. Itu berarti salah satu pecahan segel. Tapi kenapa bisa sampai di sini?

“Nera,” bisikku pelan. “Sebetulnya ini pesta apa?”

“Pesta perayaan penjarahan,” jelas Nera. “Para perompak merompak dan mengaramkan kapal Liberum yang hendak mengirim berlian ini ke sekutunya, Ebilzabir, sebagai tanda hadiah. Ketika mereka mengetahui di dalam kapal ini terdapat barang yang luar biasa langkanya dan banyak emas dan pehiasan, tentu saja mereka segera mengadakan pesta kemenangan dengan ajudan-ajudannya. Mereka yang duduk di depan berlian itu para pemimpin perompak. Pemimpin kota ini. Namun tetap saja, di hadapan para bandit Port Forte, mereka bukan apa-apa.”

Entah apa Port Forte itu, aku tak perduli. Yang pasti aku tak mau kesana jika di sana terdapat bandit dan perompak yang lebih kejam di banding kota yang sudah aku anggap kejam sekali ini.

“Lalu apa rencanamu?” tanyaku. “Tak mungkin kau mau menyerang terang-terangan, bukan?”

“Tentu saja, bodoh.” Kata Nera. “Ikuti aku.”

 

 

Meski aku benci menjalaninya, tapi aku boleh bilang rencana Nera brilian. Terbuka sedikit peluang hidup, bukan, terbuka celah peluang bertahan hidup di tengah tempat yang mirip kandang penuh singa kelaparan ini. Jika kami gagal sekali saja, habis sudah. Aku akan menemui ayahku, setidaknya bersama seorang teman. Nera mencuri dua pakaian, pakaian penari dan pelayan. Aku dengan senang mengambil pakaian pelayan. Tapi dengan gilanya Nera…

Aku menari-nari sebisaku di antara penari lainnya. Buah jeruk yang diikatkan dengan perban ke dadaku terasa aneh. Aku menari-nari dengan meriah. Aku sesekali mengedipkan mata yang sudah dipasangi bulu mata palsu ini ke para petinggi. Sementara itu jika aku sedang berputar atau bertukar posisi dengan penari lainnya dan kebetulan melihat Nera, yang menyamar menjadi laki-laki pelayan yang menawarkan minum-minuman pada para ajudan dan tersenyum kecil melihatku, padanganku langsung berubah mejadi pandangan membunuh. Untung saja tak ada koreografi khusus dalam tarian yang di adakan di pesta ini. Para penari diperbolehkan menarikan tarian apa saja, asal tariannya menarik perhatian para penonton dan sesuai dengan musiknya. Meski begitu, bukan berarti aku harus menari terus…  Aku sesekali melirik ke dua buah bola logam yang tadi dilemparkan Nera ke pot raksaksa di langit-langit. Aku menawarkan diri untuk meledakkan bola logam itu dengan sihirku, daripada Nera mengambil resiko melemparkan anak panah untuk menjatuhkannya. Entah apa yang nantinya akan dihasilkan bola logam yang sensitif terhadap benturan, guncangan, dan api itu. Tapi yang pasti pengamannya sudah Nera hilangkan. Sialnya, aku melihat si Brewok, si Botak, dan si Juling berdiri di dekat para petinggi. Rupanya mereka anggota para kawanan perompak ini.  Aku terus menanti tanda dari Nera, sementara itu aku melihat si Brewok mendekat ke panggung, rupanya para penjagapun masih diperbolehkan untuk bersenang-senang. Ia menatapku dengan pandangan romantis dan kedipan mata genit yang membuatku ingin muntah. Aku menyunggingkan senyum di bibirku, menahan kekesalan di hati dan membalas kedipannya. Memang, rupanya Nera sudah menyiapkan rambut palsu bewarna hitam panjang untuk merubah penampilan patnernya jika saja patnernya seorang lelaki. Aku berbalik kembali ke arah Nera. Ia mengangguk kecil. Aku memfokuskan pikiranku ke pot itu sambil terus menari. Tak lama kemudian lingkaran merah kecil muncul, dan ledakan api kecil memutuskan tali dan menjatuhkan pot ke bawah. Para ajudan dan pelayan lainnya kontan segera berlari menghindar, pot menghantam tanah dan dengan cepat asap tebal menutupi ruangan.

“Sekarang!” seru Nera. “Cepat!”

Berlian itu terletak di belakangku, aku yang harus mengambilnya. Aku segera berbalik melompat seorang pemain genderang yang bersembunyi di bawah panggung sementara aku sendiri secara tidak sengaja menjatuhi si Brewok, yang rupanya masih berdiri mengamatiku dari belakang. Aku tak mau repot-repot minta maaf. Aku meraih sebuah suling logam milik salah seorang pemusik, yang sudah lari entah kemana, dan menggunakannya untuk memecahkan kotak kaca. Aku dengan cepat merampas berlian itu, salah satu pecahan segel itu. Aku juga sempat meraih harta lainnya yang tergeletak di dekat situ, sebuah kalung dengan berlian sebesar jempolku. Untuk ganti rugi Nera.

“Aku mendapatkannya!” seruku. “Ke dermaga!”

Aku segera berlari keluar melalui pintu belakang dan mengambil barang-barang yang kami tinggal di sini sebelum masuk tadi. Aku lalu menanggalkan wigku dan berlari kabur mengenakan baju penari. Aku malu melihat tatapan penduduk yang melihatku berlari di jalan utama menuju ke dermaga. Tapi aku tak perduli. Aku menemukannya, sebuah kapal kayu besar. Bebek Pelaut. Aku segera menumpang naik. Tak lama kemudian, seorang pelayan berlari masuk ke kapal, tepat pada saat jembatan dan jangkar ditarik. Disaat kapal sudah jauh dari pelabuhan, nampak para perompak mengumpat-umpat.

“Mereka tak mengejar kita dengan kapalnya?” tanyaku heran. “Seharusnya mereka punya, bukan?”

“Yah, rupanya, ada seseorang yang meledakkan beberapa tong peledak di sana.” Nera tersenyum senang sambil menunjuk ke sebuah arah. Aku berbalik dan tertawa melihat kapal-kapal yang terbakar dan mulai tenggelam. “Oh, di mana berlian itu?”

“Maaf,” kataku. “Tapi aku tak dapat memberikannya padamu.”

Aku menahan tangan Nera yang hendak menghunus pedang kecil tepat pada waktunya, lalu aku mengeluarkan kalung berlian itu padanya.

“Aku ada keperluan dengan berlian-berlian ini. Kau boleh katakan aku datang untuk mengambil semuanya kembali.” Jelasku. “Ambillah kalung ini sebagai gantinya.”

Nera merebutnya dengan muka masam, tapi nampaknya ia senang juga.

“Kalau begitu,biarkan aku ikut denganmu,” kata Nera. “Aku tak bisa kembali lagi ke sana. Lagipula, kurasa kau memperluukan seorang pemandu.”

“Tentu,” jawabku. “Sekarang, bolehkah aku berganti baju? Baju ini membuatku gatal.”

Read previous post:  
41
points
(2014 words) posted by too much idea 8 years 31 weeks ago
58.5714
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | lain - lain | arcandia | dibutuhkancabe | fantasi | insom | lanjutan
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Sylphermizt
Sylphermizt at Accandia: Chapter 2 (8 years 10 weeks ago)
100

kakoi nee xDDD

Writer man Atek
man Atek at Accandia: Chapter 2 (8 years 30 weeks ago)
100

weelwh weleh, idenya makin yahuuut! sipsiup.

Writer too much idea
too much idea at Accandia: Chapter 2 (8 years 30 weeks ago)

makasih :D

Writer zenocta
zenocta at Accandia: Chapter 2 (8 years 31 weeks ago)
60

pertama saya mohon maaf karena membacanya tidak teratur dan lompat2,, membaca cepat dengan gaya menyeret,, kilat ala superman,, itu semua karena.... paragrafnya panjaaaaaang panjaaaaaang bangettttt... :( 

jadi lebih banyak membaca bagian dialog saja :D tapi meski begitu gw tetep dapet ceritanya kok... cuma untuk selanjutnya tolong lah paragrafnya jangan terlalu panjang,, melihatnya aja udah males duluan... 

Writer too much idea
too much idea at Accandia: Chapter 2 (8 years 30 weeks ago)

saya juga minta maaf karena paragrafnya kepanjangan DX
saya akan perbaiki semuanya supaya paragrafnya nggak penajangan :)