Cerpen EAT 2011 - Even After This

 

Even After This

Hutan hijau.

Langit biru.

Awan putih.

Alam.

Seandainya saja mereka bisa menemukan pemandangan seperti itu dalam perjalanan ini, mungkin Stern akan merasa sedikit lebih terhibur.

"Berhenti memasang wajah bosan begitu, ah. Kita sudah sepakat menghabiskan sisa waktu kita berdua, dan kau tidak bisa menikmatinya sama sekali? Ini namanya melakukan hal yang sia-sia, Stern.”

Stern menoleh ke samping sambil tersenyum kecil.

Ah, ya. Setidaknya masih ada perempuan ini, yang selama nyaris tiga hari penuh telah dengan sabar duduk di sampingnya. Mengingat kondisi di mana ia dan sang perempuan akhirnya bisa menghabiskan waktu berdua seperti ini, mungkin Stern memang sudah seharusnya bersyukur.

“Kau lapar, Luna?” tanya Stern sambil meraih sekantung biskuit dan membukanya.

“....kadang aku heran denganmu. Cepat sekali kau berpindah dari satu topik ke topik lainnya.”

Perempuan bernama Luna itu menatap Stern dengan heran, kemudian mengambil biskuit dari kantung yang disodorkan oleh Stern.

“Kita masih punya beberapa jam sebelum sampai ke tujuan kita, jadi tidak ada salahnya kan merasa sedikit bosan setelah sekian lama? Duduk di dalam kendaraan selama tiga hari penuh itu sama saja dengan siksaan bagi orang yang terbiasa terbang leluasa dengan jetpack sepertiku. Harusnya kau tahu itu.”

Ah, salah.

Lagi-lagi Stern mengeluh. Mengeluh itu salah, apalagi di depan Luna!

Stern mengumpat dalam hati, mengutuki dirinya sendiri yang selalu menyalahkan apapun yang tidak ia senangi. Kenapa? Kenapa di hadapan perempuan yang merebut hatinya selama ini, yang mati-matian ia jaga selama perang dengan perusahaan Terra, yang menolak pernyataan cintanya seusai perang, ia jadi bersikap tidak tenang seperti ini sekarang?

Karena kecewa? Tidak, sama sekali tidak. Stern menyukai Luna apa adanya, dan tidak pernah kecewa dengan apapun yang dilakukan oleh Luna, termasuk penolakannya.

Karena marah? Bukan. Stern sudah sangat senang Luna mau menemaninya dalam perjalanan ini.

Jadi, karena apa?

“Haaaah... Perang sudah usai, dunia sudah damai, dan kau masih saja seperti ini. Aku jadi bingung, apakah dunia ini benar-benar perlu kita selamatkan...”

Mendengar perkataan Luna, Stern tertawa kecil. Perempuan ini benar-benar hebat. Baru saja ia merasa sedikit gundah, satu kalimat dari Luna sudah cukup untuk menghapus semua perasaan negatif itu. Apakah setiap kata yang keluar dari mulut Luna mengandung sihir?

Sambil terus menyantap biskuitnya, Stern mulai berbicara,

“Yah, aku juga tidak menyangka. Siapa kira di dunia ini masih ada pihak yang ingin mencoba menguasai dunia seperti perusahaan Terra? Kalau mereka menang saat perang itu, lalu akan jadi seperti apa dunia nantinya? Hmph, aku tidak bisa membayangkannya.”

“Stern, bicaramu seperti mengharapkan sejarah ditulis ulang saja,” ujar Luna sambil melihat ke arah Stern dengan wajah cemberut.

“Uh, maksudku bukan begitu... Kan tidak ada salahnya kalau kita membayangkan skenario alternatif dalam sebuah cerita yang sudah selesai. Dengan membayangkan berbagai kemungkinan, kita akan mendapati bagaimana perasaan sang penulis kisah saat menentukan mau dibawa ke mana arah cerita yang ia tulis.”

Luna mengernyitkan dahi, kemudian menaruh telunjuknya di depan bibir.

Kebiasaan lama. Luna selalu seperti itu kalau sedang bingung. Bagi Stern tidak masalah, karena Luna terlihat manis kalau kebingungan.

“Jadi maksudmu, kau ingin mencoba melihat dari sudut pandang Tuhan?”

Kan? Keluar lagi pernyataan yang tidak terduga dari mulut Luna. Stern tidak pernah berniat mengarahkan pembicaraan ke arah sana, tapi yang terjadi malah begini. Ia benar-benar kagum dengan jalan pikiran perempuan ini.

Stern menghabiskan sisa biskuitnya dan kembali berbicara,

“Bagaimanapun juga, manusia tidak akan pernah menjadi Tuhan. Kalau ibarat sebuah cerita, kita hanyalah tokoh, tak pernah menjadi penulis yang berada di luar cerita itu sendiri. Kita bermain di dalamnya, namun penulislah yang mengatur segalanya. Keberadaan kita di dunia ini sama saja dengan kata-kata yang tersusun dari huruf. Penulis bisa menghapusnya kapanpun ia mau.”

Seusai berbicara, Stern mengambil sekaleng jus buah naga, meminumnya sambil menikmati wajah Luna yang terlihat semakin kebingungan.

“Apa hubungannya dengan satu perusahaan yang ingin menguasai dunia? Rasanya tadi obrolan kita masih soal dunia setelah perang dengan perusahaan Terra usai. Kenapa jadi menyerempet soal Tuhan?”

Sekali lagi Stern tersenyum. Siapa tadi yang memunculkan kata ‘Tuhan’ duluan?

“Tidak ada hubungannya. Begitu pula kita. Kehidupan kita mungkin tidak ada hubungannya dengan kehidupan orang yang ada di belahan dunia sana, dan aksi menyelamatkan dunia yang kita lakukan mungkin cuma dipandang sebagai perang sipil oleh negara yang merasa tidak terlibat....,” Stern mengambil sekaleng jus dan menyodorkannya ke arah Luna. “Nih, minum jus buah naga dulu. Siapa tahu pikiranmu jadi segar lagi.”

Sambil membetulkan posisi duduknya, Stern menghela napas. Yah, tak lama lagi ia akan sampai di tempat tujuannya, jadi ia harus memanfaatkan sisa waktu dalam perjalanan ini dengan sebaik-baiknya.

“Nah, ngomong-ngomong soal dunia, aku baru saja berpikir soal hal lain.”

“Hmm? Hal apa itu?”

Stern meletakkan tangannya di samping jendela kendaraan tersebut seraya menopang dagu. Jendela itu tertutup rapat, namun itu karena Stern sendiri yang melakukannya. Ia tidak akan bisa menikmati waktu perjalanannya bersama Luna kalau jendela itu terbuka, dan tidak ada pemandangan alam yang bagus yang bisa dilihat dari jendela itu.

Masih lebih baik mendengar apa yang ingin Luna katakan saat ini.

“Kau tahu, nenekku dulu pernah bercerita padaku. Katanya, di zaman dahulu ketika teknologi belum maju seperti saat ini, anak-anak seumuran kita masih menghabiskan sebagian besar waktunya dalam setahun di sebuah tempat bernama sekolah.”

“Sekolah? Maksudmu tempat para ilmuwan mencari pengetahuan baru? Ugh, aku tidak bisa membayangkan kita menghabiskan waktu seminggu saja di tempat seperti itu. Kepalaku pasti akan meledak.”

“Ya. Di zaman kita saat ini, sekolah fungsinya memang terbatas hanya untuk para ilmuwan saja. Tapi nenekku bilang, dulu sekolah adalah tempat bagi anak seumuran kita untuk belajar, bermain, dan melakukan berbagai aktivitas yang tidak bisa kau temukan di manapun selain di sebuah sekolah.”

“...kedengarannya seperti taman bermain. Kenapa sekarang sekolah jadi tidak terdengar semenarik di zaman dulu?”

“Itu karena kita terus berubah. Coba kau bayangkan, beberapa abad yang lalu, orang-orang masih berusaha untuk menghafalkan rumus fisika dan kimia hanya untuk sekedar mendapatkan medali yang berakhir menjadi pajangan di ujung kamar, atau sedikit kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik bagi kehidupan seseorang. Tentunya, hal itu tidak berlaku lagi bagi generasi kita, di mana kita bisa mendapatkan informasi apapun dalam waktu singkat sejak kita kecil. Dengan kata lain, sistem edukasi bernama sekolah dihapus begitu saja seiring dengan berjalannya waktu, dan kini terbatas untuk orang yang memang tertarik meneliti lebih dalam ilmu yang sudah ada atau mencari pengetahuan baru.”

Stern menghela napas mendengar penjelasan Luna.

“Hmm, jadi begitu. Pantas dunia di zaman dahulu terdengar lebih santai dan damai. Kalau anak-anak seumuran kita dikekang dalam institusi seperti itu, memang orang dewasa akan mudah memonitor kita.”

“Buu~! Kau salah, Stern!”

“...?”

“Aku bicara tentang sekolah bukan untuk mendiskusikan soal perannya di masa lalu, tahu. Tidakkah kau merasa tempat bernama sekolah ini menarik? Mungkin kau bisa menyebutnya taman bermain, tapi yang jelas, di tempat itu kita bisa bertemu setiap hari dan menghabiskan waktu bersama. Bukankah itu berbeda jauh dengan kehidupan anak seumuran kita saat ini?”

Stern mengetuk pelan kepalanya saat mengerti apa sebenarnya yang Luna keluhkan.

“Haha, yah, mau bagaimana lagi? Situasinya memang berbeda, Luna. Orang di zaman itu tidak perlu berpikir soal senjata, krisis, penurunan angka kelahiran, kehancuran dunia, dan hal-hal global lainnya. Di zaman dulu juga kurasa tidak mungkin satu perusahaan bisa mengobarkan perang yang bisa mengancam seluruh dunia, dan tidak mungkin dunia bisa diselamatkan hanya oleh sekumpulan anak-anak seperti kita.”

Setidaknya, itu semua di ‘zaman dulu’.

Stern melirik jam yang ada di ujung kendaraan ini, Masih ada beberapa menit lagi, dan kelihatannya Luna tidak menyadarinya. Biarlah percakapan ini terus berlanjut, layaknya Stern dan Luna bercakap-cakap setiap hari.

Tapi, perkataan Luna ada benarnya juga.

Seandainya saja mereka berdua hidup di zaman yang damai, mereka tentu bisa menghabiskan hari-hari mereka tanpa perlu merasa diburu oleh apapun. Mungkin hari-hari itu akan terasa lebih membosankan daripada berada di dalam misi untuk menyelamatkan dunia, namun itu setimpal bila berarti mereka bisa menghabiskan waktu bersama tanpa kekhawatiran di kepala mereka.

Seperti saat ini.

Sayangnya, kendaraan ini hanya berhenti saat mencapai tujuannya nanti. Dan semua perjalanan pasti memiliki akhir, seperti halnya cerita. Kalau sesuatu tidak memiliki akhir, maka ia tidak akan memiliki awal. Itu logikanya.

“Stern? Kau melamun?”

Suara Luna menyadarkan Stern dari lamunannya.

“Eeh, topik pembicaraanku terlalu membosankan ya? Ya sudah, bagaimana kalau sekarang kita membicarakan hal-hal yang lebih menyenangkan? Waktu kita di perjalanan ini sudah mau habis lho, jadi sebaiknya kau tidak memasang wajah seperti itu saat turun nanti.”

Ah.

Jadi ternyata ia menyadarinya?

Stern kembali tersenyum. Kalau saja perempuan di sampingnya ini adalah perempuan lemah yang membuat laki-laki manapun merasa harus melindunginya, ia pasti sudah mengelus kepala Luna sekarang,

Tapi tidak.

Perempuan ini adalah perempuan yang bisa menghabisi banyak robot hanya dengan satu ayunan tangan, dan dia menolak pernyataan cinta Stern, jadi Stern tidak berada di dalam posisi di mana ia bisa seenaknya memegang Luna. Yah, walaupun saat perang ia selalu memeluknya dari belakang agar Luna bisa ikut terbang bersamanya, itu tidak masuk hitungan.

Stern sudah mengenal Luna sejak lama, dan tahu betul kalau Luna adalah perempuan yang kuat. Memikirkan hal ini, Stern mencoba menanyakan sesuatu pada Luna.

“Hei, Luna. Kalau seandainya waktu bisa diulang, apa yang kau inginkan?”

Luna bergidik. Ia menatap Stern dalam-dalam, menaruh jari telunjuknya di mulut, dan berpikir keras.

“Uh, entahlah... Sampai titik ini, aku merasa tidak ada yang perlu diulang dalam hidupku. Apa kau merasa sebaliknya Stern?”

“Tidak juga. Kita sudah saling mengenal sejak kecil, dan menghabiskan banyak waktu bersama meski tidak berada di tempat bernama ‘sekolah zaman dulu’ atau dalam situasi di mana ‘dunia damai’. Bagiku, itu sudah cukup. Toh berapa kalipun waktu diulang, perasaanku padamu juga tidak akan pernah berubah.”

Kini Stern membalas tatapan Luna, seraya membiarkan keheningan menyelimuti mereka berdua.

Luna mulai terlihat gugup. Ia segera menundukkan kepalanya agar Stern tidak bisa melihat wajahnya saat ini, namun dari telinganya saja, Stern tahu kalau wajah Luna saat ini pasti merah padam.

Stern juga pernah menjadi semerah itu saat menyatakan cintanya pada Luna, tapi itu masa lalu. Toh itu bukan berarti apa yang tengah terjadi saat ini juga bentuk balas dendamnya pada Luna.

“Ah...uh...ke-kenapa kau membawa-bawa soal itu lagi di saat-saat terakhir begini, sih?”

Kalau ini balas dendam atas penolakannya, Stern pasti laki-laki yang kejam karena sudah membuat Luna kini menitikkan air matanya.

Ya, Luna sedang menahan tangis.

Stern tahu itu, tapi ia membiarkannya. Ia tidak berusaha menenangkan Luna, dan membiarkan perempuan yang telah mewarnai hidupnya selama ini terlarut memikirkan dirinya untuk sementara waktu.

Ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Ia memang ingin Luna memikirkannya.

Memikirkan waktu yang telah mereka lalui bersama.

Memikirkan pembicaraan mereka selama dalam perjalanan ini.

Dan memikirkan betapa sulit bagi Stern untuk melepas Luna.

Namun, seperti yang telah ia camkan di dalam hatinya, semua perjalanan pasti akan berakhir.

Tak lama kemudian, kendaraan yang dinaiki Stern dan Luna akhirnya berhenti.

Pintu terbuka di depan, memancarkan seberkas cahaya ke bagian dalam kendaraan itu. Stern pun bangkit dari tempat duduknya dan menaruh kantung biskuit yang sedari tadi ada di genggamannya ke pangkuan Luna.

“Sudah sampai, nih. Sekarang bagaimana? Kau mau kembali, atau ikut turun bersamaku? Kalau sekarang, kau mungkin masih bisa kembali lagi.”

“....”

Hening.

Tidak ada jawaban. Luna hanya menunduk, menolak untuk sekedar memperlihatkan wajahnya pada Stern.

Entah kenapa, Stern sudah membayangkan hal ini sebelumnya, dan ia tidak keberatan. Malah, ia merasa begini mungkin lebih baik baginya, dan bagi Luna.

“Kalau begitu, aku permisi dulu.”

Baru saja Stern hendak melangkah untuk melewati tempat duduk Luna, ia merasakan sebuah cengkeraman kuat menahan tangannya.

Cengkeraman Luna, tentu saja. Stern tidak yakin harus senang atau tidak melihat Luna berusaha menghentikannya di saat-saat terakhir begini.

“Kenapa...,” ujar Luna menahan tangisnya. “Kenapa harus kau, Stern? Kenapa di saat kita akhirnya berhasil mewujudkan dunia yang kita mimpikan, kau harus pergi?”

Stern juga tidak tahu jawabannya.

Bagaimanapun juga, seperti analoginya tentang ‘kisah’, Stern yakin kalau apa yang terjadi pada dirinya adalah bagian dari skenario yang sudah ditulis secara sepihak oleh seseorang di luar sana. Setidaknya, karena itulah ia merasa sedikit ’tanpa beban’ dalam keadaan seperti ini. Haruskah ia sedih? Ia sudah cukup banyak menangis di awal perjalanan mereka, jadi ia merasa tidak perlu mengakhirinya dengan tangisan juga.

Stern tidak menghiraukan tangan Luna, dan kembali melanjutkan langkahnya.

Awalnya genggaman tangan Luna menahan gerakan Stern untuk beberapa saat, namun  pada akhirnya,  genggaman perempuan itu melemah. Luna membiarkan Stern berjalan ke arah pintu keluar tanpa berkata apa-apa lagi.

Sebelum keluar dari kendaraan yang telah membawa dirinya dan Luna dalam perjalanan selama tiga hari penuh, Stern berhenti sesaat, dan melirik kembali ke arah Luna.

“Hei,”

Satu kata. Dan itu cukup untuk membuat Stern dapat melihat kembali wajah merah Luna yang dibanjiri air mata menoleh ke arahnya.

“Jangan menangis lagi. Cepat atau lambat, kita memang akan berpisah. Kalaupun kau turun di sini, aku ragu kita akan berakhir di tempat yang sama. Jadi, kupikir sebaiknya kau kembali lagi, dan lanjutkan hidupmu di dunia yang telah kita berdua raih.”

Luna menggelengkan kepalanya.

“Mungkin kau beralasan, tidak ada gunanya hidup di dunia di mana aku tidak ada di dalamnya. Tapi pendapatku lain. Justru karena aku tidak ada di sana, kau-lah yang mengisi kekosonganku. Kau beruntung punya waktu yang lebih banyak daripada diriku, dan itu sesuatu yang harus kau syukuri. Bukankah hidup adalah nikmat yang paling besar bagi manusia?”

Tangisan Luna semakin menjadi-jadi, dan Stern hanya bisa tersenyum. Tidak, ia tidak boleh ikut menangis. Bukankah buruk kalau ia juga menampakkan wajah sedih pada perempuan yang mengantar kepergiannya ini?

Karena itulah, Stern tidak akan berhenti tersenyum.

Walau ia tahu ia tak akan bertemu Luna lagi, tapi ia yakin ini hanya untuk sementara waktu.

Bagaimanapun juga, bukankah kematian hanya awal dari epilog kisah bernama ‘kehidupan’?

.

.

.

“Selamat tinggal, Luna. Sampai ketemu lagi setelah kau mati...”

Stern menghilang dari pandangan Luna, dan pintu segera tertutup.

.

.

.

*****

“Pasien nomor 124 baru saja meninggal! Waktu kematian.....”

“Pasien nomor 123 terbangun dari koma! Setelah sadar, ia....”

“Pihak atas meminta pemakaman khusus untuk pasien nomor 124. Menurut mereka...”

“Atur program rehabilitasi untuk pasien nomor 123. Ia harus....”

“Sudah dengar? Kabarnya di saat yang sama...”

.

.

.

End

Read previous post:  
139
points
(2943 kata) dikirim Sam_Riilme 10 years 3 hari yg lalu
77.2222
Tags: Cerita | Cerita Pendek | drama | April | fantasy | Mimpi | school life | sci-fi
Read next post:  
100

Melakukan hal yang sama dengan Gie:

Yup, semua yang terjadi, apa hubungannya dengan cerita Gie, semuanya saya serahkan pada pembaca. Bisa dianggap dunia paralel, bisa dianggap reinkarnasi, bisa dianggap ilusi, silakan berimajinasi~

Penulis Riesling
Riesling at Cerpen EAT 2011 - Even After This (9 years 7 weeks ago)
80

Memang pace-nya datar, tapi ada feel yang malah menurut saya 'datar'-nya itu bikin cerpen ini spesial dan lebih kena di hati.

I can't describe it with words.

Pokoknya saya naksir Stern *kabur*

Saya naksir Luna *ditembak Stern*

Penulis Shinichi
Shinichi at Cerpen EAT 2011 - Even After This (9 years 7 weeks ago)
80

ikut membaca
meski, ya, datar tp tetap menarik :D
datarnya, mungkin pada, kenapa konflik itu dibangun melalui dialog, dan bukannya pada peristiwa yang terjadi secara aktual dalam narasi #halah
cuman sotoy
bdw, semoga menang
ahak hak hak
kip nulis

memang di situlah kami bereksperimen. kalau mau dibilang kisah saya dan Gie tanpa plot, mungkin ada benarnya. yang jelas, yang kami tekankan di cerpen EAT ini memang 'hubungan seorang anak laki-laki dan perempuan' alih-alih 'cerita narasi'
.
semoga berkenan

100

Sam, kalo saya ga suka dengan cerita yang kau kasi ini, saya ga bakalan mau lanjut :3
#elapingus
#kembalitepar

Gangerti, gangerti, gangerti, Saaaaaammy ...!
Saya baca ini lagi di Word pas ngedit, tapitapitapi, masa' saya nangis lagiiiiii!!! ;A;
#tendangSammy
#remesremesSammy
#elapingus(lagi)

cuma Gie yang terharu... (T___T) *sob*

60

Hmmm....saia harus setuju sama H.Lind.
Cerita ini...agak membosankan dan datar. Isinya hanya berupa dialog dan (menurut saia) minim plot development. Ada banyak yang sebenarnya bisa digali karena ada banyak misteri disana. Seperti sebenarya si Stern dan Luna itu siapa? Mereka sepertinya sudah 'menyelamatkan' dunia. Tapi itupun tidak dijelaskan sama sekali.
.
En bagian ending itu....membingungkan. Saia menangkap kesan kalau semua yang dialami Stern itu cuma mimpi atau semacamnya.
.
Anyway...menunggu entry dari Gie. Mungkin akan jelas di part-nya dia.
.
Ah...keep on writing~! (o___<)b

AAAAAAAAAAAH~!
Saya angkat tangan! Saya emang gagal kalau bikin cerpen~~!
.
Plot development? Di cerita ini plotnya hanya bagaimana Stern 'pergi' dari kehidupan Luna, dan harusnya tersirat banget apa yang sebenarnya terjadi lewat bagian ending (masa saya harus sebut terang-terangan?), jadi soal plot, saya lewat
.
Menggali misteri? Maksimal 3000 kata, dan kecuali ini cerita berseri (ups, memang) yang utuh, baru saya bisa menceritkan semua. namun karena tidak bisa, jadilah potongan informasi itu saya sampaikan lewat dialog yang membosankan
.
Akhir kata, saya berterimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca~

Penulis H.Lind
H.Lind at Cerpen EAT 2011 - Even After This (9 years 7 weeks ago)
80

Oke ini komen saya sebelum membaca cerita awal dari Stren dan Luna di cerpen mimpimu. Yang saya rasakan pertama adalah...well...perbincangan itu membosankan. Tentang Tuhan dan sekolah. Memang kurasa kamu sedang mencoba menjelaskan universe dalam cerita ini dengan dua percakapan itu, tapi menurut saya masih lebih enak kalau pakai deskripsi langsung. Pembicaraan mengenai Tuhan itu menurut saya terlalu abstrak. Baru pada pembicaraan "Apa yang ingin dikatakan kalau waktu bisa berulang?", saya menemukan lagi keseruan dalam membaca. Ehehehe, maaf.
.
Setelah membaca semuanya sampai ending saya juga masih kesulitan menebak universe macam apa yang ingin digambarkan. Percakapan terakhir itu mengingatkan saya pada film Matrix. Barangkali saya harus membaca cerpen mimpimu dulu untuk dapat menikmati cerpen ini secara keseluruhan. :)

Saya akui saya senang mendapat cabe sepedas ini, karena sejauh ingatan saya, sedikit sekali saya mendapat kesempatan dikritik langsung, dan itu selalu terjadi kalau saya berusaha membuat cerpen
.
Saya akui, saya ga bisa bikin cerpen
.
Tapi mengatakan itu artinya cuma beralasan. Saya takut menggunakan deskripsi alih-alih dialog akan menghancurkan jalannya cerita di awal, yang walaupun membosankan, tapi bertujuan untuk memperlihatkan hubungan Stern dan Luna tanpa pembaca perlu mengetahui latar belakang mereka (seperti harus membaca Cerpen Mimpi saya)
.
Dan yang terakhir, ya, ini emang settingnya futuristik di dunia nyata, tapi percakapan Luna dan Stern itu terjadi di...suatu tempat yang bisa anda simpulkan sendiri