Cerpen EAT 2011 - Even After That

Selama ini Stern kecil tidak pernah benar-benar peduli. Pada anak perempuan itu.

Yang rambutnya pendek berombak sedikit.

Yang selalu menggendong sebuah boneka panda. Yang ukurannya bahkan hampir sama dengan pemiliknya.

Yang hampir tidak pernah berbicara. Pada siapapun.

Yang baru saja pindah ke sekolahnya minggu lalu.

Namun tidak kali ini. Ketika mereka berdua terpisah dari rombongan saat piknik kelas ke bukit kecil di kota kecil tempat Stern tinggal.

Ketika angkasa mulai menggelap namun belum ada tanda-tanda bahwa mereka akan segera bertemu atau ditemukan oleh pihak sekolah.

Maka Stern mencoba mengajaknya bicara. Lagi.

***

Hutan hijau.

Langit biru.

Awan putih.

Alam.

Ketika itu hari masih pagi. Angkasa cerah. Burung-burung beterbangan seolah merayakan datangnya musim semi. Udara menyejukkan, harum pepohonan memenuhi hidung. Segalanya membentang, hidup, setelah penantian sunyi sepanjang musim dingin.

Kelas 3-A memutuskan untuk pergi berpiknik ke bukit kecil di belakang sekolah. Yang sebelum mencapainya mereka harus berjalan melewati peternakan dan padang rumput tempat biasa para penggembala mengurus domba atau kerbaunya. Di mana para penggembala akan bergantian menyapa murid-murid sekolah dasar itu dengan senyum dan tawa, dengan suara keras dan dialek pedesaan mereka.

Kontur padang rumput itu menanjak-menurun. Membuat para murid tak sabar ingin adu balap: siapa yang paling cepat sampai ke pohon cemara itu; siapa yang bisa melompat-lompat sampai puncak sana; atau siapa bisa melempar ranting terjauh.

Bahkan tak jarang mereka begitu ingin mencoba berguling di rerumputan yang sesekali diselingi bunga rumput. Atau sekadar bertelentang, wajah menghadap angkasa, merasakan silaunya sinar mentari pagi hari musim semi.

Kadang pula terlihat kelinci, untuk dikejar sambil tertawa-tawa, tak bermaksud menyakiti. Namun lebih sering terlihat kupu-kupu atau lebah, melayang di antara bebungaan, berdengung-dengung berisik. Terkadang ada juga cacing tanah, menggeliat bagai baru bangun tidur.

Beragam.

Alam bagai menyatu dalam kehidupan di kota kecil penuh bukit kecil itu.

Dan Stern kecil sedari tadi tak henti-hentinya tertawa, tergelak. Ditantang dan menantang bocah lainnya untuk adu balap. Yang pada akhirnya tidak ada pemenang, karena tak ada yang bersedia menjadi juri. Semua ingin ikut serta, semua ingin bersenang-senang di hari itu.

‘Kapan lagi bisa main di luar saat seharusnya belajar di dalam kelas?’ pikir Stern. Meskipun kegiatan piknik ini lumayan sering dilakukan oleh sekolah kecil terpencil di kota Stern tinggal sejak lahir.

Hanya saja, anak pindahan itu tidak tampak senang.

Hanya ia.

Tidak tergelak.

Tersenyum pun tidak.

Hanya berjalan gontai di barisan paling belakang, barangkali enggan ikut rombongan itu. Dengan masih memeluk boneka panda raksasanya erat-erat.

Entah sudah berapa orang guru berusaha berbicara dengannya, mungkin membujuknya supaya ikut bermain bersama yang lain. Mungkin pula piknik hari ini bertujuan mengakrabkan anak perempuan itu dengan yang lain.

Namun perempuan mungil itu tetap bungkam. Malah mempererat pelukannya pada boneka pandanya yang juga sama-sama bungkam.

Stern mulai memerhatikan. Diam-diam pada awalnya.

Ia tidak habis pikir mengapa ada anak yang tidak menjerit-jerit kesenangan jika sekolah diliburkan dan diganti acara piknik ke bukit. Karena Stern sendiri selalu menanti-nanti kegiatan ini.

Anak perempuan itu bernama Luna. Baru pindah tepat seminggu yang lalu dari sebuah kota besar yang sangat jauh dari desa berbukit itu, juga jauh lebih modern. Entah apa yang membuatnya harus pindah dari tempat seperti itu ke pedesaan terpencil begini.

‘Mungkin dia bosan di sini?’ pikir Stern.

Lantas Stern mulai menghampiri, sekadar ingin menyapa. Selaik teman.

Sebenarnya sudah sejak hari pertama Stern dan kawan-kawan sekelasnya menyapa Luna. Namun anak perempuan itu terus diam, hanya memeluk boneka pandanya. Bersikap sangat sulit didekati.

Tapi barangkali akan bisa akrab setelah ini.

Barangkali akan jadi awal.

Awal.

“... Hei.”

Walau sudah berusaha keras mencari kata, akhirnya hanya itu yang keluar dari mulut Stern.

Pasti adalah sebuah awal.

Karena selanjutnya Luna mengangkat kepalanya―yang sedari tadi tertunduk, berpaling, tertutup. Kemudian memandang Stern, tanpa ekspresi. Tidak ada keramahan, tidak pula terkejut, atau pula marah.

Kontan Stern yang ditatap malah berpaling. Dan menggesek-gesekkan sepatu karetnya ke tanah berumput. Sekonyong-konyong tergagap.

Saat itu teman-teman lain sudah jauh di depan, memimpin. Sementara hanya seorang guru sengaja menunggu di belakang mereka yang berjalan sangat pelan, menjaga.

“Eeerr... Luna!” sebutnya sambil menyamakan langkah dengan anak perempuan yang masih bungkam di sampingnya. “Ya, namamu Luna, bukan? Hai, namaku Stern! Apa kau ingat, aku yang duduk di bangku deretan terdekat dari jendela! Eeerr...” menghitung dengan jari-jari pendeknya, “keempat dari belakang!”

Yang dijawab hanya dengan tatapan kosong dari si boneka panda. Karena si empunya malah memalingkan wajah.

Namun anak-anak tidak pernah betul-betul menyerah, maka Stern mengulangi, “Lihat kumpulan dandelion di sana? Mau lomba jalan mundur sampai sana melawanku?” diiringi cengiran terlebar yang ia punya.

Masih dibalas diam.

“Jalanannya menurun! Jadi pasti akan sangaaaaaaat susah berjalan mundur! Aku pernah terjatuh berguling-guling saat melawan Jeanne! Dia anak perempuan yang hebat berjalan mundur!”

Stern menunjuk-nunjuk kumpulan dandelion di bawah dengan antusias, lalu ke arah seorang anak perempuan berambut sangat pirang di depan. Dia bahkan sudah berbalik dan mulai berjalan mundur.

Yang dibalas gelengan. Singkat.

Dan anak-anak tidak pernah betul-betul menyerah, maka Stern bersikeras, “Kalau lomba melompat? Cari cacing? Mengumpulkan kerikil? Menciumi bunga? Kejar kelinci atau tupai?”

Yang malah membuat Luna berlari-lari kecil, menjauh. Masih sambil memeluk boneka panda yang ukurannya semestinya membuat benda itu hanya diletakkan di ranjang―bukan dibawa-bawa.

Tidak sampai beberapa meter Luna kehilangan keseimbangan. Lantaran bonekanya yang terlalu besar. Membuatnya terjatuh.

“Luna!!!”

Stern yang melihatnya segera berlari mendekat, bersama seorang guru. Namun belum sampai mereka, Luna sudah kembali berdiri, mengejar bonekanya yang bergulir menuruni bukit, memungutnya, menepuk-nepuknya sejenak, memeluknya erat-erat, dan kembali berjalan menjauh―walau kali ini tampak lebih hati-hati mengambil langkah.

***

Jika memang waktu berlalu lebih cepat saat seseorang merasa gembira, maka hari itu adalah hari penuh kegembiraan bagi Stern. Karena akhirnya sore menjelang, seolah tanpa disadari siapapun. Matahari pun semakin rendah. Saatnya kembali ke sekolah terus pulang ke rumah hangat masing-masing.

Stern ingat, terkadang para guru sengaja memilih rute yang melewati sungai. Kata mereka supaya tidak bosan dengan rute yang sama. Kebetulan terjadi di hari itu, ketika perjalanan pulang.

Kebetulan terjadi bencana.

Saat Luna kembali terjatuh di bantaran sungai dan tak sengaja boneka pandanya terlepas dari pelukan. Terlempar jauh.

Tercebur.

Terbawa arus.

Menghilang.

Tidak seorang pun menyadarinya karena Luna tetap bungkam. Apalagi selama ini keberadaan sosoknya bagai tidak terlihat.

Karena itulah, sewaktu Luna terus menyusuri sungai alih-alih berbelok ke arah padang rumput penggembala, tidak ada seorang pun yang memerhatikan.

Terkecuali Stern.

Yang memang sejak pagi hari di padang rumput terus memerhatikan anak pindahan itu.

“Luna! Oi, Luna! Kata Ibu Guru ke sini!” panggil bocah itu lagi.

Namun Luna malah berlari semakin kencang, menjauh, mengejar bonekanya yang terbawa arus. Tinggal Stern yang sejenak terpaku di tempat. Rombongan kelas memang masih terlihat, tapi sosok Luna hilang jauh lebih cepat.

‘Bagaimana ini?’ paniknya. Stern terpaku sesaat. Tidak tahu harus berbuat apa.

“Ibu Guru!!! Luna―”

Dan Luna sudah hilang.

Dan rombongan sudah hilang.

Hingga Stern harus memilih. Maka ia menyusuri sungai, mengejar sosok anak perempuan dan boneka pandanya yang terbawa arus.

 

***

‘Jadi, bagaimana awalnya tadi?’ ingat-ingat Stern.

Hanya karena sebuah boneka panda yang terbawa arus sungai, ia harus terjebak di entah hutan bukit sebelah mana. Dan langit hampir-hampir gelap. Sedang ia tidak berani mengambil langkah lagi karena takut tersesat semakin jauh.

Stern melirik anak perempuan yang jadi penyebab semua ini: Luna.

Anak perempuan itu masih tetap diam. Walau kini tampak sedikit gemetar. Luna duduk sedemikian rupa hingga sosoknya keseluruhan tertutup boneka panda yang diletakkan di hadapannya.

Stern menghela napas.

“Jangan peluk bonekanya terus. Dia basah kuyup karena tercebur, kau bisa ikut basah!” kali ini Stern memperingatkan.

Namun malah membuat Luna semakin terbenam di balik bonekanya.

Dan kembali sunyi. Hanya sesekali Stern melirik ke arah Luna.

Namun Stern tidak tahan sunyi. Maka ia kembali bersuara. “Kau benar-benar suka boneka itu, ya? Kulihat kau selalu membawanya ke mana-mana.”

Kali ini terlihat anggukan, kecil.

“Hadiah?” tebak Stern lagi.

Kali ini terlihat anggukan, jelas.

“Dari siapa?” pancing Stern lagi.

Kali ini wajah Luna muncul dari balik sosok panda. Berbalas pandang sesaat dengannya, “Mama.”

Yang membuat cengiran terlukis di wajah Stern. Spontan, “Kau bicara!!!”

Sebuah kekeliruan, karena pekik senang Stern malah membuat Luna kembali menyembunyikan wajahnya di punggung si panda.

Hening kembali. Membuat Stern semakin merasa bersalah. “Uh... itu... Luna...”

“Mama sakit. Jadi Luna harus pindah ke sini, tinggal sama Kakek dan Nenek.”

Suara lirih itu kembali. Stern berusaha menyimak, mengangguk-angguk, selaiknya bocah yang berupaya terlihat seperti orang dewasa.

“Terus, Mama Luna?” respon Stern, kini berbaring di atas rerumputan, memandangi langit yang memerah. Senja.

“Di sana, enggak ikut pindah. Cuma bisa diobati di kota, katanya.”

Stern berusaha mengintip Luna dari sudut matanya, masih sambil berbaring telentang. Sebelum akhirnya terdengar isak. Lirih. Terkaburkan dengan suara kukuk burung-burung malam di sekitar yang mulai beraktivitas.

“Kangen Mama?” tanya Stern, walau pertanyaannya terdengar tidak perlu lagi dijawab.

Hingga Luna semakin mempererat pelukannya, keras, membuat boneka pandanya melesak.

“... Kangen.”

Satu kata, yang sebenarnya sudah tertebak Stern. Yang mendorongnya bertindak: merebut boneka panda dari si bocah perempuan.

Lantas terdengar keterkejutan bercampur tangis, dari si anak perempuan.

“Kembalikan! Kembalikan! Kembalikan! Kembalikan! Kembalikan!”

“Enggak! Enggak! Enggak! Enggak! Enggak!”

Ketika Stern mendorong dirinya mundur menjauh, merentangkan tangan di depan boneka panda milik Luna bak ksatria melindungi putri.

Ketika Luna beringsut maju, dengan wajah basah dan air mata tidak berhenti mengalir. Tangannya menggapai-gapai, berusaha melewati rentangan tangan Stern. Menginginkan bonekanya.

“Jahat!”

“Biarin aku jahat!”

“Punya Luna!”

“Enggak akan kukembalikan!”

“Mama!”

“BONEKA BUKAN PENGGANTI MAMA!!!” bentak Stern.

Hingga membuat Luna terpaku. Dengan masih berlumur air mata, yang menetes sunyi ke blus garis-garisnya.

Lantas menetes pula ke jemari Stern yang tengah mengusap pipi Luna. Sekali. Keras. Dengan wajah cemberut, supaya terlihat sedang jengkel walau matanya semakin basah. Menyeka kesedihan.

Namun anak-anak cepat mengubah emosi. Maka begitu melihat Luna sudah lebih tenang, Stern kembali dengan cengirannya.

Seketika itu pula, di langit merah yang mulai menghitam, di atas puncak pepohonan: tampak bulan bulat. Transparan warnanya.

“Itu Luna!” tunjuk Stern, jauh ke bulan di angkasa.

Luna memandang dengan tatapan kosong, ke arah sang bulan. Sekilas saja, kemudian duduk kembali dengan wajahnya tanpa ekspresi.

“... Luna enggak suka bulan.”

Kali ini giliran Stern yang tak paham.

Maka Luna melanjutkan, dengan masih menatap sendu ke angkasa, “Soalnya bulan sendirian terus di langit. Enggak punya teman.”

Membuat Stern kembali menatap angkasa. Kali ini lebih lama dan berusaha lebih berkonsentrasi. Bocah itu bahkan sampai memicingkan mata, mencari-cari.

Mencari teman sang bulan.

“Enggak ada kan?! Teman bulan?!” desak Luna lagi. Kali ini terdengar sedikit jengkel. “Makanya Luna enggak suka nama Luna! Bikin Luna juga enggak punya teman!”

“Eeeeeeemmmmmm ....” Stern masih memicingkan mata, lama. Lama. Lama.

Hingga sekonyong-konyong bocah itu melompat, girang, “ADAAAA!!!”

Lantas meraih tangan Luna, memaksanya ikut berdiri di sampingnya.

“Ada! Ada! Adaaaaa!!!” jerit Stern berulang-ulang. “Di sana! Luna lihat? Satu bintang selalu ada di samping bulan! Keciiiiiil sih, tapi, lihat! Dia yang paling dekat sama bulan!” menunjuk-nunjuk, jauh. Melompat-lompat, tinggi.

Luna pun turut memicingkan mata. Memandang kejauhan, dituntun oleh jari Stern. Mencari.

Dan menemukannya, bintang kecil yang dimaksud Stern.

Sangat, sangat, sangat kecil.

“Lihaaaaaaat kaaaaaan???” cengir Stern, “itu lho, yang itu!!! Kayak aku sekarang kan?” tambahnya sambil menatap Luna.

Luna yang tidak paham hanya balas memandang.

Maka Stern kembali menjelaskan, masih dengan suara bernada tinggi ceria, “Iya, kayak aku yang sekarang berdiri paliiiiiiing dekat sama Luna!” diucapkannya penuh kebanggaan. Seolah ia baru menempati posisi terdepan dalam ajang lomba lari.

Memunculkan ekspresi kebahagiaan di wajah si gadis kecil.

Stern terus meyakinkan, “Bulan punya bintang kecil yang selalu di sampingnya! Luna juga punya aku yang terus menemani Luna!” disusul cengir dan gelak lepas, polos.

Lantas memunculkan senyuman di wajah Luna. Untuk pertama kali, hingga sempat membuat Stern terpaku. Lalu ikut tergelak, membawa Luna juga tergelak. Bersama. Entah mengapa rasanya tidak bisa berhenti.

Segalanya menguap, segalanya berembus.

“Eh, eh, Luna, daripada cuma bengong nunggu, gimana kalau main tebak-tebakan? Mungkin bisa ngurangin rasa takut,” ujar Stern, ekspresi jahil serta-merta muncul di wajahnya.

Dibalas anggukan sunyi beberapa kali dari Luna.

Sambil kembali berbaring di rerumputan, Stern memulai, “Menurut Luna, sekolah buat apa?”

Dibalas dengan tatapan pertanyaan-apa-itu oleh si anak perempuan.

Maka Stern mengibaskan tangannya sambil tertawa, “Aku kan cuman pengen tau! Ini kan termasuk tebak-tebakan juga!” paksanya.

Luna mau tak mau menurutinya. Rasanya ia sudah lebih terbiasa dengan karakter Stern yang selalu menyeretnya.

Luna terdiam, agak lama. Lantas meletakkan telunjuknya di bibir, tanda bahwa ia tengah berpikir serius.

“Tempat belajar. Supaya pintar,” akhirnya Luna menjawab, sangat serius. Masih dengan telunjuk menempel di bibir. Sambil memiringkan kepalanya sedikit, membuat rambut berombaknya sedikit menutupi pipinya yang basah.

Namun mendadak Stern berdiri, dengan langkah-langkah keras bak tentara ia berjalan tepat ke depan Luna, dan bertolak pinggang. “S-A-L-A-H! Salah!”

Luna mengernyitkan dahi.

Lanjut Stern, “Tempat main! Tempat mencari teman sebanyak-banyaknya!!!” disertai senyum kemenangan yang menyiratkan bahwa itulah jawaban yang benar. Tidak ada jawaban lain.

“Teman? Main?” lirih Luna. Ekspresinya seolah tidak percaya dengan perkataan Stern.

“Euh, iya. Aku kayaknya pernah dengar ucapan seperti itu. Entah dari siapa, aku sendiri enggak ingat,” balasnya ragu. Penuh ekspresi kebingungan.

Luna pun tergelak. Lagi.

Mengembuskan angin ceria, yang sejuk. Bahkan di malam musim semi.

Lantas anak laki-laki itu mengulurkan tangan, “Biar aku yang jadi pengganti panda Luna!” dengan cengiran terlebar, terbahagia, tercerah, termenenangkan bagi Luna.

Yang membuat kawannya tak lagi ragu menyambut uluran tangan Stern.

“Biar Luna main sama aku! Sama teman-teman yang lain!”

Kali ini disusul anggukan tegas dari Luna, tak lagi ragu bahwa kini dia telah memiliki kawan, teman, sahabat.

“Sip!” Stern mengacungkan ibu jarinya. Lantas mengambil panda yang tergeletak sedari tadi di rerumputan. Lantas menyerahkannya pada Luna. “Kalau gitu, aku kembaliin panda Luna!”

“Eh?” tidak mengerti mengapa dikembalikan.

“Buat nemenin Luna tidur,” cengirnya, “tapi! Jangan dibawa-bawa lagi! Pokoknya taruh aja di tempat tidur!” sambil bergaya laiknya guru tengah menceramahi muridnya.

Luna hanya mengangguk, lantas mengambil kembali bonekanya yang masih tetap basah. Memeluknya penuh sayang. Meski kali ini tidak lagi lantaran kesepian.

Lantaran kini ia punya Stern.

“SEMOGA MAMA LUNA CEPET SEMBUH!!!” sekonyong-konyong Stern berteriak. Entah kepada siapa, atau ke mana.

Berdenging di telinga Luna, bergema di pepohonan di sekitar mereka.

Lantas Stern menyikut pelan Luna, memaksa, mendesak, “Ayo, Luna juga ikut berteriak ke bulan dan bintang kecil di sampingnya! Supaya Mama Luna sembuh terus kau bisa sama-sama dengan mamamu lagi!”

Padahal Luna tidak percaya. Apa hubungannya bulan dan bintang kecil itu dengan kesembuhan mamanya?

Tapi ....

“Luna ingin Mama cepet sembuh!” akhirnya diteriakkan. Harapan. Keinginan. Impian. Asa.

Lantaran Stern seolah mampu membuat segalanya bisa terwujud.

“Kurang keras, Luna!” lantas kembali meneriakkan kalimat yang sama dengan sebelumnya.

Maka Luna menghela napas, “SEMOGA MAMA CEPET SEMBUH! DAN MASAK BUAT LUNA LAGIIIII!!!!” hingga suara hilang, terbawa angin.

Lantaran Stern masih terus meneriakkan apa yang ingin dikatakan oleh Luna. Yang selama ini dianggapnya hanya harapan kosong. Yang hanya angan belaka.

Maka ....

“Tolong bilang sama Mama, kalau Luna udah punya teman di sini!” sambil memeluk bonekanya erat-erat. Antara berharap dan malu.

Kontan Stern berhenti berteriak-teriak, sejenak.

Memandang Luna.

Kemudian tertawa. Lepas.

Barangkali bahagia karena sudah bukan hanya dia yang menganggap yang lain sebagai teman.

“Jadi, sekarang aku sudah resmi berteman dengan Luna!” girangnya.

Menjadi sebuah awal.

Kembali awal.

Hingga mendadak terdengar grasak-grusuk di sekitar. Dan langkah kaki. Dan sinar-sinar.

“Untung saja kalian berteriak-teriak seperti tadi! Kami jadi bisa tahu lokasi kalian!” wajah-wajah letih yang dikenal Stern dan Luna.

Akhir petualangan. Hari itu.

Menjadi awal cerita yang lebih panjang.

***

“Stern!!!” panggilnya. “Mama udah sembuh, katanya!” sudah tak lagi memeluk boneka raksasa yang belakangan lalu pernah menutupi sosoknya.

“Eeehhh? Bagus! Aku ikut senang, Luna!” riangnya. “Ah, tapi ... kalau begitu, kau bakal kembali ke kota, kan?” mendadak sedih melingkupi. "Aku enggak mau Luna pergi ...."

“Hm?” kembali menempelkan telunjuknya ke bibir, “tapi Luna masih mau main sama Stern. Sama teman-teman di sini.”

“... Jadi?” berharap. Disertai cengir, tahu jawaban kawannya.

“Tentu saja Luna bilang supaya Mama yang pindah ke sini!” lantas melompat, merentangkan tangan. “Mau ketemu panda di rumah Luna, Stern?”

Berlari lebih dulu, “Iya! Jangan lupa panekuk buatku~”

Awal.

Read previous post:  
50
points
(2320 words) posted by Sam_Riilme 9 years 7 weeks ago
83.3333
Tags: Cerita | Cerita Pendek | kehidupan | duniamimpigie | EAT2011 | killing time
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer cillazio
cillazio at Cerpen EAT 2011 - Even After That (9 years 6 weeks ago)
90

^^

90

cuteeeeeee, baru sadar d pertengahan klo itu boneka panda #pletak xD
kaget jg wkt baca Stern tiba2 blg Luna sambil nunjuk bulan, lbh alami klo dia blg pernah baca/dgr bhw Luna itu artinya bulan
tp keseluruhan smuanya manis kyk kak Gie :3

100

Ini... sebenerna saya sama Sammy enggak banyak mikir soal apakah ini "sebelum" atau "sesudah" cerpen Sammy.
Jadi, ini banyak kemungkinan.
Kalau saya sendiri, berpikiran ini semacam "dunia paralel" dari yang punya Sammy. Jadi, sementara Luna dan Stern di "dunia Sammy" berperang, di "dunia Gie" mereka anak biasa :3
.
Mungkin kalau pembaca yang lain berbeda penafsiranna? Silakan saja, kami (err.. saya) enggak mempermasalahkanna :)

Yang manapun itu....saia jatuh cinta sama karakter Luna disini (eh?)

70

Ini....khas Gie banget!
Kayaknya kamu berbakat bikin cerita anak...si Stern dan Luna disini terlihat benar2 kekanakan.
.
Jadi yang ini adalah awal sebelum Stern dan Luna jadi...well...apa itu di cerita si Sam....penyelamat dunia? Atau dimasukkan ke dunia matrix?
.
Yang jelas ini heartwarming dan kontras dengan cerita Sam yang terkesan...lebih gelap.
.
Keep on writing and good luck~! (o___<)b

Writer Shinichi
Shinichi at Cerpen EAT 2011 - Even After That (9 years 7 weeks ago)
70

hampir keseluruhan, saia setuju dengan komentar dari H.Lind
dan, menyayangkan juga dialog pada cerita ini kesannya terlalu banyak.
bdw, semoga menang!
ahak hak hak
kip nulis

Writer Riesling
Riesling at Cerpen EAT 2011 - Even After That (9 years 7 weeks ago)
80

*peluk stern n luna kecil*
Entah kenapa setelah baca dua-duanya, saya jadi naksir Stern *eh
EAT saya geje dan ancuuuuuur >.<
*kaburdanpundungdipojokanbersamasiondannoah*

Writer H.Lind
H.Lind at Cerpen EAT 2011 - Even After That (9 years 7 weeks ago)
80

Erm apa ya?? Saya kira cerita lanjutannya juga mengambil setting yang futuristik. Zaman dimana kondisi habis perang. Ngerasanya jadi pertentangan setting antara dua cerita, dan bukannya di cerita Sam sebelumnya Luna dan Stren tidak bersekolah, karena sekolah itu tidak lagi dibuat untuk anak-anak. Atau barangkali memang sayanya saja yg kurang menangkap maksud dari dua cerpen ini.
.
Percakapan Luna dan Stren waktu kesesat di hutan memang lugu sih, dan lucu. Tapi saya malah dapet kesan ga alamiah. Strennya agak terlalu filosofis untuk ukuran anak tiga SD. Lunanya juga waktu bilang 'Bulan ga punya teman' kesannya gimana gitu. Lugu-lugu-filosofis. :P
Semangat!! >.<

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Cerpen EAT 2011 - Even After That (9 years 7 weeks ago)
100

hiyaa~~
khas gie banget >.<
lucu, ceria, imut <3
ini pake karakternya sam ya?

100

Percakapannya lebih enak dari yang saya~
.
Hum, tapi endingnya, rada cepet...@_@
Well, tapi heartwarmingnya lumayan sampe sih
.
Terima kasih sudah mengikuti keegoisan saya, Gie~