Cerpen EAT 2011 : Aina dan Kematian

Sesungguhnya tidak perlu juga ia menyalakan lilin. Loteng rumah itu telah dilengkapi dengan lampu neon yang akan berpendar dengan sekali tekan. Pun malam belum sepenuhnya menggelap; cahaya bulan masih leluasa memasuki celah-celah papan dan jendela buram. Penggunaan nyala api hanya menambah risiko akan terjadinya kebakaran dan terbentuk bekas gosong pada kayu pohon tanjung.

Akan tetapi perempuan itu tetap merasa perlu melakukannya. Semerasa perlu juga untuk menggambar heksagram dan salib-salib terbalik di setiap sudut bintangnya―ia sendiri tidak mengerti artinya―pada dasar di mana lilin itu tertancap. Untunglah ia hanya menggunakan kapur putih untuk menggambarnya sehingga air dapat mengembalikan kilap kayu berpelitur.

Malam ini ia akan menjadi tuan rumah, pikir Aina berulang-ulang. Tuan rumah yang baik akan menyediakan singgahan sempurna bagi tamunya. Dan karena tidak ada orang normal yang akan berkunjung pada malam buta dan masuk lewat jendela loteng, tentu tidak diperlukan segelas teh hangat dan kudapan manis untuk menyambutnya. Dalam kegelapan malam ini, ia akan mengundang Kematian.

Itu bodoh, tentu saja. Logikanya mengatakan Kematian sebagai keji, entitas yang patut untuk ditakuti dan dibenci, tak ubahnya iblis yang banyak ditulis dalam Kitab Suci. Maka, pikirnya, ia harus menemukan suasana yang tepat agar Kematian mau bertandang. Lilin dipilihnya sebagai simbol resmi dalam upacara pemakaman. Sedangkan heksagram dan simbol salib terbalik dipilihnya semata-mata karena pencarian terdepan di internet dengan kata kunci ‘simbol setan’. Mengingat usianya yang akan beranjak tujuh belas, tindakannya ini memang benar tergolong bodoh.

Aina jelas bukan penganut ajaran musyrik. Tidak pernah sekalipun didengarkannya lagu-lagu Satan ataupun menggunakan barang-barang Gothic. Saat teman-teman sebayanya membuat tato pada kulit, ia hanya menjauh pergi. Perempuan ini tidak juga pernah merasakan tindikan pada lidah dan orgasme.

Mungkin karena itulah ia tidak mempunyai teman.

Ahh... tidak juga sebenarnya. Banyak orang mengaitkan konsep teman dengan umur yang sebaya, padahal teman juga berarti orang yang lebih tua. Gadis perempuan itu selalu punya neneknya sebagai teman.

Neneknya itu berbeda dibandingkan orang tua biasa. Ia tidak menghabiskan waktu merajut pakaian ataupun menonton sinetron televisi. Jarang sekali ia terduduk-duduk di kursi goyang sambil mengamati orang lalu lalang. Pudarnya rambut tidak pernah memudarkan kekuatannya. Seolah tidak pernah diserap waktu, raganya masih bugar dan semangatnya masih menggelegar.

Perempuan tua itu meskipun dua puluh empat jam selalu diawasi perawat tidak pernah terkena penyakit. Tulangnya kokoh, berlari pun tampaknya tak masalah. Detak jantungnya yang masih normal dan kuat membuat dokter yang memeriksanya takjub, sekaligus khawatir stetoskopnya telah rusak. Nenek Aina bukan orang tua lemah.

Pernah suatu kali, ketika hubungan keduanya belum sedekat sekarang, Aina bertanya pada ayahnya perihal kesehatan neneknya yang begitu baik.

“Nenekmu dilindungi setan!” teriak ayahnya keras. Memang saat itu Aina tidak memperhitungkan kondisi ayahnya yang baru kehilangan pendamping hidup.

Aina yang ketika itu berusia dua belas tahun langsung ketakutan. Mencari-cari alasan untuk tidak berkunjung ke rumah neneknya setiap libur lebaran, berpura-pura sakit dan mengurung diri di kamar ketika neneknya berkunjung. Telah berubah sama sekali gambaran keibuan dan sejuk di pigura foto, tergantikan dajal berkedok kulit keriput dan mulut peyot.

Tetapi, sepertinya memang benar bahwa orang tua itu punya kekuatan magis. Sekejap saja ia tahu cucu satu-satunya telah ketakutan pada dirinya. Tidak ingin kehilangan senyum gingsul anak perempuan manis itu, neneknya menghampiri Aina pada suatu hari di musim kemarau. Dibawakannya es krim satu cup untuk melelehkan hatinya.

Aina menerima es itu ragu-ragu. Jiwa anak-anaknya tidak dapat menolak es krim di hari panas. Akan tetapi Aina tidak berucap sepatah kata pun. Mulutnya hanya membuka ketika stik kayu disuapkan, lalu buru-buru dikatupkan kembali.

“Aina ingin melihat sihir?” tanya neneknya ketika dirinya sedang asyik melahap susu beku.

Cepat saja tubuh Aina menggigil. Ia beringsut di kursinya, takut sekali jika perempuan tua itu memakannya seperti dalam dongeng Hansel dan Gretel.

Nenek Aina membuka tudung saji di meja makan. Di sana telah tersedia sebuah botol kecap yang telah kosong dan telur rebus yang telah dikupas. Nenek Aina meletakkan telur besar putih itu ke atas mulut botol. Tentu saja ukurannya tidak bisa pas untuk memasuki botol.

Kemudian sang nenek mengambil kembali telur itu. Dinyalakannya empat buah korek api; Aina sedikit tersentak. Empat korek dengan api merah menyala itu dijatuhkan ke dasar botol. Setelah itu dengan cepat, tangan nenek menaruh telur tadi ke mulut botol. Ajaibnya, telur yang tadi tidak pas itu melendung. Bulatan putih itu melonjong lalu jatuh ke dasar botol dengan suara ‘plop’.

Aina tertegun. Pikirannya belum mengerti bagaimana tekanan udara dalam botol meningkat seiring dengan kenaikan temperatur dalam botol. Ini menyebabkan telur terlonjak sedikit dan mengeluarkan udara yang ada di botol. Ketika udara dalam botol berkurang, tekanan dalam botol pun menurun kembali. Lalu setelah itu tugasnya gravitasi. Menyebabkannya melendung, melonjong, kemudian masuk ke dalam botol.

Bocah yang belum pernah bersentuhan dengan fisika itu hanya ternganga. Es krim meleleh dan dirinya tak peduli. Bila pun orang di hadapannya dilindungi kekuatan magis, itu bukanlah setan, melainkan malaikat.

“Bagaimana? Aina masih takut sama nenek?”

Rambut kepang dua Aina terkibas cepat-cepat. Dirinya tidak lagi melihat sosok perempuan tua dengan mantel panjang dan kuali panas seperti dalam dongeng-dongeng.

Sejak itupun kedua perempuan ini menjadi dekat. Tambah lagi ketika rumah neneknya sengaja dijual dan ia bersedia menggantikan tugas menjaga Aina. Sebelum berangkat sekolah, Aina akan menemukan neneknya sedang menyiapkan susu panas. Setelah pulang sekolah, Aina akan menemukan neneknya menyediakan sirup dingin. Ketika malam datang dan ayahnya masih terjebak kemacetan ibu kota, Aina akan makan bersama neneknya tanpa takut mengambil kerupuk banyak-banyak.

Akan tetapi, seperti yang telah menyatukan mereka, persahabatan mereka pun dipererat dengan hal-hal magis. Aina, meski bertambah ilmu dan rasionalitasnya, tetap menganggap neneknya seorang penyihir (istilah ‘dukun’ dianggap terlalu tidak sopan).

“Apa nenek bisa mengutuk seseorang?”

“Mengutuk? Semua orang bisa, Aina. Tinggal mengatakan sesuatu yang jelek saja tentang orang lain.”

“Bukan itu maksud Aina, Nek,” Aina mengkoreksi. “Maksudnya benar-benar menimpakan suatu kesialan pada orang lain.”

“Maksud Aina santet?”

“Iya.”

“Tidak tuh. Nenek tidak pernah belajar cara menyantet orang...”

Aina baru menghela napas kecewa ketika neneknya menyambung, “...tetapi nenek belajar cara berbicara dengan orang mati.”

“Jadi nenek dapat bicara sama orang yang sudah mati?” Mata Aina berbinar kecil.

Perempuan itu mengangguk serius tapi pancaran matanya masih lembut.

“Nenek bisa komunikasi sama mama?”

“Bisa. Malah nenek ngomong sama mama kamu setiap hari.”

Penasaran, Aina terus menggali, “Mama bilang apa?”

“Mamanya Aina lagi sedih,” ujar nenek mengeluarkan mimik muram. “Karena anaknya sekarang sudah bisa bohong sama papanya soal nilai jelek.”

Aina terkesiap. Betul ia baru saja sengaja menghilangkan kertas ujian matematikanya, berkata pada ayahnya bahwa nilai matematika itu hanya disebutkan di kelas tanpa diberikan hasilnya. Bagaimana bisa neneknya tahu? Ia yakin benar memberitahukan perihal itu ketika sedang berada berdua di kamar ayahnya. Kertas nilai yang telah menggumpal juga dibuangnya di perempatan gang komplek, jauh dari neneknya. Sebelum Aina memikirkan penjelasan lain, hatinya sudah mempercayai kemampuan si nenek.

“Erm... maaf ya, Nek. Aina cuma takut kalau ayah marah lagi,” aku bocah itu malu-malu.

Neneknya tersenyum, kembali tercurah kehangatan biasanya. “Nanti nenek sampaikan permintaan maafmu pada Mama Aina.”

Sekali lagi, Aina tidak menganggap neneknya sesat. Buktinya, ia tidak pernah terlihat kesurupan, seperti yang banyak diperlihatkan di televisi ketika arwah mengambil alih tubuh. Neneknya juga tidak pernah menggunakan jampi-jampi atau menghirup tuak untuk mengundang arwah memasuki raganya. Bagi Aina, apabila neneknya bukan peminjam raga untuk arwah, maka ia orang yang benar, bahkan sakti. Sebab percakapan antara neneknya dan arwah sejajar, tidak mengambil tubuh satu dengan yang lainnya. Tidak ada perjanjian, tidak ada kontrak darah. Sesajen tidak diperlukan, gong dan gamelan mistik tidak pernah teriringi. Neneknya sendiri yang menjelaskan bahwa cara ia berkomunikasi dengan arwah hanya lewat pejaman mata dan konsentrasi penuh. Kemudian dalam pikirannya ia akan duduk dalam sebuah kursi dengan sandaran tinggi dan arwah yang berbicara duduk di hadapannya, juga dengan kursi yang sama. Lalu mereka berbicara―salah, arwahlah yang berbicara sedangkan orang tua itu mendengarkan. Meski jasad telah bersatu dengan tanah, keinginan mereka tak berarti sirna, jelas neneknya.

“Aina ingin tahu darimana Nenek mendapat kekuatan gaib itu?” Akhirnya pertanyaan itu mengusik Aina di suatu waktu.

Keriput di sekitar bibir neneknya hanya bertambah panjang. Begitu juga pada sudut matanya.

“Meditasikah? Berpuasa tujuh hari tujuh malam?”

Lagi, sang nenek membisu. Kikik geli nyaris keluar mendengarkan alternatif Aina.

“Aina juga ingin bisa seperti itu. Biar bisa ketemu Mama.”

“Mamamu selalu hadir lho.” Neneknya memberi tahu, “Dia selalu hadir setiap malam ketika Aina membaca dongeng Moby Dick. Karena ia ingin mendengarkan Aina bercerita, seperti dahulu Aina ingin mendengarkannya bercerita.”

Lagi, Aina terkejut. Tapi terkejut gembira, karena ia sudah terbiasa dengan neneknya yang seolah mengetahui segala rahasianya. Benar bahwa Aina masih sering membaca dongeng anak-anak itu. Sebagai upaya untuk menghadirkan kembali ingatan akan ibunya yang dahulu menjadikan dongeng favorit itu untuk pengantar tidur.

Maka, bukan hanya sebagai teman, perempuan berusia pertengahan tujuh puluh itu juga menjadi orangtuanya. Pengganti ibunya yang meninggal ketika ia masih belajar mengeja. Kasih sayangnya sungguh teramat besar untuk ibu dari ayahnya itu sehingga tak pernah sekalipun adu mulut terjadi antara keduanya.

Sampai suatu hari. Hari ketika neneknya bertemu dengan Kematian.

Hari itu, daun-daun pohon ketapang di jalan depan rumah Aina berguguran. Buah-buahnya berjatuhan satu per satu dan bonyok ketika beradu dengan aspal. Padahal tidak ada angin. Guyuran air hujan juga sudah lama tidak menyiram pekarangan. Pohon itu keringlah, tiada bersisa apapun menggantung.

Tidak seperti biasanya juga, neneknya tidak duduk di kursi meja makan ketika Aina melepas kaus kakinya. Pembantu rumah berkata neneknya sudah dari jam sepuluh pagi berada di kamarnya tanpa membuka pintu. Penasaran, Aina memutar kenop pintu neneknya. Terkunci. Ketakutan, Aina menggedor sambil berteriak. Sunyi.

Barulah ketika Aina berlari menangis mengambil gagang telepon untuk menghubungi ayahnya, pintu itu terbuka sedikit. Cahaya masuk ke ruangan, bukannya keluar. Sepuluh detik neneknya belum juga muncul. Bukaan kecil pada kusen pintu itu adalah undangan agar Aina datang menghampiri neneknya sendiri.

Di dalam ruangan dengan gelap menguasai, Aina bisa menemukan sosok neneknya. Terduduk di atas kursi kayu kesayangannya sambil menerawang jauh. Gelagatnya seolah tidak sadar ada Aina di sana.

“Nenek tidak apa-apa?”

Ada sedikit aroma dupa ketika nenek membalikkan tubuhnya. “Aina. Nenek tidak apa-apa.”

Nenek Aina tersenyum. Lebar, hangat. Matanya pun memancarkan yang sama. Lebar, hangat. Akan tetapi, sejurus Aina tahu ada yang salah. Itu bukan nenek yang biasanya. Ada sesuatu yang berbeda yang tidak dapat diterima intuisi Aina. Maka diulanginya pertanyaan itu,

“Nenek tidak apa-apa?”

Juluran jarinya mengajak Aina mendekat, duduk di ranjang. “Nenek baru saja didatangi.”

“Oleh siapa?”

“Kematian.” Tidak ada canda di wajahnya.

“Mengapa Kematian mendatangi nenek?” Itu hanya pengalihan dari kebingungan remaja perempuan itu.

“Untuk memperingatkan, Aina.” Tangan lembek neneknya mengusap rambut Aina. “Bahwa waktu nenek di dunia hanya tinggal sebentar lagi.”

Tentu sebagai remaja normal dan rasional, ditambah aspek kecintaan pada neneknya, Aina tidak dapat menerima pernyataan itu sehingga ia mendesis, “Nenek berbohong.”

“Nenekmu ini akan meninggal, Aina.”

“Tidak mungkin Nenek bisa meninggal. Kalau Nenek meninggal siapa yang akan menemani Aina,” isak perempuan muda itu putus asa. Dirinya terombang-ambing antara ketidakpercayaan dengan kesedihan. Kesedihan menang. Bukankah selama ini ketidakpercayaan selalu kalah?

“Maaf, Aina.”

“Jangan bicara yang tidak-tidak, Nek. Aku akan bawa Nenek ke dokter sekarang,” perempuan itu menangis.

Neneknya tidak menjawab. Pandangannya yang mulai mengabur beralih kepada vas bunga yang diletakkan di ujung meja riasnya. Bunga anyelir yang baru dipetik pagi ini telah layu. Kelopaknya tidak lagi licin dan berwarna, melainkan kering dan kusam. Seperti sari pati kehidupan telah diambil daripadanya, dahan bunga itu lemas, menggantung pada vas bundar.

“Kematian bukan akhir, Aina. Ia adalah awal.”

Segera sesudah itu neneknya mengusir halus Aina, berkata ingin berbaring di atas kasurnya. Aina segera menghubungi ayahnya yang menganggap pubertas remaja itu telah meningkatkan rasa paranoidnya. Keesokan harinya, atas desakan dari Aina, nenek dibawa ke klinik dekat rumah dan dinyatakan sehat. Hanya sedikit ruam di kulit akibat penambahan usia. Tidak mengkhawatirkan, tapi Aina tidak bisa meyakininya.

Selama berhari-hari setelahnya, Aina dibuat cemas dengan keadaan neneknya. Orang tua itu tengah membuat persiapan akan kepergiannya. Barang-barang dirapikan, petuah singkat diberikan. Berlama-lama ia menemani Aina, seakan menyatakan bahwa beberapa hari ke depan hal itu sudah tidak mungkin dilakukan. Aina ketakutan. Dipikirakannya akan suatu cara untuk mencegah kemungkinan terburuk.

Maka berada di sinilah Aina. Di loteng gelap tanpa orang lain. Sendirian. Memanggil Kematian.

Orang-orang telah terlelap dan beringsut di dalam selimut kepunyaan masing-masing. Memimpikan sesuatu selagi mengumpulkan tenaga untuk esok hari. Tiada yang mendengar ketika gadis itu mengendap pelan-pelan keluar kamar dan berjingkat menaiki tangga. Tentu ini karena ia tidak menginginkan orang lain tahu apa yang hendak dilakukannya di sini, tidak juga oleh neneknya.

Sebab ia ingin berbicara kepada Kematian, memohon kepada mahluk itu untuk menyelamatkan nyawa neneknya. Pikirnya sebelum terlambat mungkin hal inilah yang satu-satunya dapat dilakukan. Aina berharap bahwa sekiranya ada secercah bakat yang tercurah dari garis keturunan neneknya.

Telah dilaluinya berbagai cara. Ia berusaha memusatkan fokus ketika kelopak matanya tertutup. Berusaha menulikan telinganya, sehingga yang didengarnya hanya dengung dirinya sendiri. Ia pun telah memanggil Kematian berulang-ulang dengan gerak bibir atau torehan jari. Hasilnya nihil.

Kematian tak kunjung bertandang. Tidak ada bebunyian menghujam, tidak ada bebauan anyir, tidak ada gelap merundung. Aina hanya sendiri malam itu.

Lelah tak kuasa ditampiknya. Perlahan, kelopak matanya memberat, disertai tempurungnya yang mulai melemas. Tubuhnya lunglai, tidak lagi peduli pada alas serat kayu untuk tempat pembaringannya. Tidak lupa sebelum itu ia meniup lilin, membiarkan angin sejuk melingkupinya.



***



Aina bermimpi. Dalam mimpinya itu tiada yang jelas. Tidak ada ruang. Tidak ada dinding pembatas ataupun langit-langit penghalang. Seolah ia sedang berada di tengah lapangan kosong yang membentang hingga tak terukur. Tapi segalanya putih. Penuh dengan cahaya.

Dikiranya ia sedang berdiri (dalam mimpi segala perbuatan hanyalah hasil pemikiran otak, tidak terjadi benar-benar). Mematung barangkali, tanpa pergerakan berarti. Lalu dirasakannya ia melihat sesuatu di tengah alam tanpa ruang dan tanpa waktu itu. Sesuatu. Seseorang.

Neneknya. Tapi ia tidak benar-benar melihat. Otaknya hanya mengingat rupa neneknya dan menaruhnya pada dekor mimpinya.

Memori rupa neneknya hadir di sana, juga berpakaian putih, penuh cahaya. Ia sedang duduk pada sebuah kursi. Kursi itu besar dan tinggi, tanpa lengan, dan memiliki sandaran yang menjulang hingga entah ke langit sana. Anehnya kursi ini belum pernah Aina temui seumur hidupnya. Mimpinya telah menghadirkan kreativitas tumbuh di sana.

Neneknya sedang duduk berhadapan. Dengan seseorang―bisa juga sesuatu. Juga sedang duduk di kursi yang sama. Dalam mimpi Aina tidak dapat melihat jelas rupa dan wajah orang di seberang nenek itu. Tapi sekejap pikirannya tahu, itu adalah Kematian. Satu lagi keajaiban mimpi.

Dikiranya neneknya berkata, “Aku menginginkanmu.”

“Untuk memberimu sebuah akhir kehidupan?” Aina hanya mendengar suara itu berdengung di kepalanya, tanpa mampu menangkap intonasi, ekspresi, ataupun berat suaranya.

“Betul. Aku ingin meninggal.”

“...”

“Aku ingin mati.”

“Tapi kau tahu ini belum waktunya.”

“Benar.”

“Dan kau tahu ada konsekuensi dari permintaan ini?”

“Tahu.”

Aina merasakan Kematian terdiam sejenak, barangkali mempertimbangkan.

“Baiklah,” kata Kematian.

“Terima kasih.”

“Kembali.”

“Kau tidak ingin bertanya mengapa?”

“Tidak perlu. Nantinya pun aku akan tahu.”

“Ya, tapi barangkali aku bisa menjelaskan pada cucuku yang mungkin menguping di sana.” Dirasakan Aina neneknya sedang tersenyum di sana.

“Sesungguhnya banyak orang tidak menyadari,” suara nenek itu terdengar semakin menjauh, “bahwa kematian hanyalah sebuah awalan. Mungkin awal bagi hidup kekal di alam sana, mungkin awal bagi para ibu yang telah melahirkan anaknya sampai meninggal. Sama seperti nenekmu, Aina. Aku pun demikian. Kematian akan memberikan sebuah awal. Mungkin bukan untukku melainkan untukmu. Ya, untukmu, Aina.”

Suara itu terdengar semakin menjauh. Dan memang demikian adanya karena Aina pun semakin menjauh dari dunia artifisal yang sedang dibangun dalam lelap dan pulasnya ini. Ia terbangun dengan cercah matahari yang menembus kaca. Juga oleh suara berisik di bawah sana. Derap langkah, gebrakan pintu, dan teriakan khawatir. Pikirnya semua orang sedang mencarinya di bawah sana.

Perlahan Aina bangkit, membereskan sisa kekacauan yang dibuat di lotengnya. Menyembunyikan lilin. Menghapus jejak kapur.

Pintu loteng terbuka, ayah Aina masuk mencari. Tampangnya masih berantakan, tak seperti biasanya. Ia seperti lega mendapati putrinya masih berada dalam kondisi baik. Heran ia kesampingkan karena sesenggukan mendahului wajahnya.

“Aina, nenek meninggal.”

Perempuan itu terkejut, jelas. Akan tetapi ia telah terbiasa akan suatu hal yang dinamakan kejut. Sama seperti ia melihat telur yang melesak memasuki botol, seperti arwah ibunya yang berkomunikasi dengan neneknya, seperti kebugaran neneknya yang terus bertahan. Seperti kematiannya.

Read previous post:  
Read next post:  
80

awalnya memang berasa mistik gitu tapi selanjutnya cara memahamkan kematian yang lembut :) cuman entah kenapa nuansa pembacaan agak terusik dg pilihan kata seperti "aspek", "kreativitas", dan semacam itu. seolah narator teralih sejenak dari dunia yang tengah disampaikannya untuk mengingat2 lagi konsepnya akan cerita (atau karakter) itu.

Writer akina
akina at Cerpen EAT 2011 : Aina dan Kematian (9 years 6 weeks ago)
80

Cantik Lind. ='] Beda deh sama macamnya ceritamu yang biasa.

Writer H.Lind
H.Lind at Cerpen EAT 2011 : Aina dan Kematian (9 years 6 weeks ago)

Benarkah? O_o
Thanks ya kak Akina :)

100

Setiap kali baca cerita ini, kesan suasananya makin mengental.
Salah satu kekuatan cerpen H.Lind adalah lingkungan yang bercrita, kenangan yang hidup dan jalinan kehidupan yang hangat.

TOBH!TOBH!TOBH!

Writer H.Lind
H.Lind at Cerpen EAT 2011 : Aina dan Kematian (9 years 6 weeks ago)

Setiap kali baca komen ini, pasti langsung mesem2 sendiri.
Salah satu kekuatanmu adalah memotivasi orang lain dan mendorong orang untuk menulis.
Thanks. Thanks. Terima kasih. Sangat :)

Writer smith61
smith61 at Cerpen EAT 2011 : Aina dan Kematian (9 years 7 weeks ago)
100

uwooooooow manteb, jadi teringat Aventus Arentino yang mencoba memanggil anggota dark brotherhood

"Sweet mother, sweet mother, send your child on to me for the sins of the unworthy must be baptized in blood and fear"
―The Black Sacrament ritual

"Someday I want to be an Assassin, then I can help lots of kids, Just like you!"

"Really, I mean, I knew the Dark Brotherhood was good... just not that good! You killed the old hag before I even asked!"

LOL, saya berharap horror sekalian hahahaha

Writer H.Lind
H.Lind at Cerpen EAT 2011 : Aina dan Kematian (9 years 7 weeks ago)

Thanks mit :D
Saya ga jago horror. T.T

Writer Ciel
Ciel at Cerpen EAT 2011 : Aina dan Kematian (9 years 7 weeks ago)
100

awalnya berasa horror, tapi lama2nya ilang horrornya. makin ke bawah makin..
.
.
.
.
.
*speechless...
oh iya ini sama dengan postingan ini bukan? http://www.kemudian.com/node/261911

Writer H.Lind
H.Lind at Cerpen EAT 2011 : Aina dan Kematian (9 years 7 weeks ago)

Iyap, sama. Makasih ya udah baca, Ciel. Lanjutannya barangkali akan dipost Elbintang beberapa saat lagi. :)

Writer Ciel
Ciel at Cerpen EAT 2011 : Aina dan Kematian (9 years 7 weeks ago)

ok.. menanti pos selanjutnya xD *lirik new post*