Cerpen EAT 2011 - Perimbangan Darma--Dia

 

Mamamu punya obsesi. Memanggil-manggil matahari dengan bernyanyi.  Warna nadanya yang cenderung berat, bergetar, dan menguat di akhir mengalun perkasa dari puncak gunung sampai ke kamar tidurmu. Ada rasa bangga pada dadamu, tapi ada juga rasa kecewa. Kenapa? Karena Mama tidak pernah sempat mengajarimu bernyanyi seperti itu.

 

Kakakmu lebih menyebalkan. Setiap hari ia melukis kulitnya menjadi aurora. Ia juga melukis orang lain. Tapi ia tidak pernah mau melukis dirimu. Dan ketika kamu ingin tahu cara melahirkan ungu, hijau, dan oranye dari tanduk Biri-Biri-Biri, ia hanya menjawabnya dengan satu kata. Rahasia.

 

Papamu yang paling brengsek. Oh para peboneka salju memang brengsek. Dia sering menancapkan pisau-pisaunya di tubuh Mamamu, Kakakmu, dan dirimu. Papamu bilang, semua darah itu diperlukan untuk menghidupi pertunjukkan boneka-boneka saljunya. Tapi. Papa dan para peboneka itu tidak pernah membuka pertunjukkan bonekanya untuk umum, bahkan untuk keluarga mereka! Padahal panggung tertutup mereka yang megah di tengah kota itu selalu terdengar sangat gaduh dan seru jika ada pertunjukkan.  

 

Rumahmu semakin besar. Perabot semakin banyak. Makanan semakin enak. Tapi kamu sudah membuang harapanmu pada tempat itu. Setelah lulus sekolah seni dasar, kamu putuskan untuk pergi. Bersama empat teman yang antusias, kamu nekad mendatangi pondok terpencil di mana sesorang yang menyebut-nyebut dirinya sebagai Juru Ayom Bahana tinggal.

 

Kamu belajar banyak dari Juru Ayom Bahana. Tapi ada sesuatu yang mengganjal. Perlakuannya pada dirimu terasa tidak wajar, sakit, dan … nikmat? Bertahun-tahun lamanya, cukup sampai kamu mulai mengerti bahwa kamu terjebak dalam perbudakan pelecehan. Bukannya tidak peduli, tapi kamu masih sangat ingin menyerap adalah ilmu pengetahuan darinya dan tetap tinggal bersamanya. Karena pengetahuan tentang Skala Semesta sangat menarik bagimu.

 

***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jadi, apa dulu alasan kamu mendekatinya? Menuntut ilmukan? Ilmu yang lebih mistis, ilmu yang lebih antik, supaya kamu bisa lebih menunjukkan siapa dirimu kepada dunia, bukan siapa papamu, siapa mamamu, atau siapa kakakmu. Kamu, Silehn Sovkhan, siap menuntut kebenaran berupa ilmu, dan ilmu berwujud kebenaran, dengan apapun bayarannya.

 

Lalu kenapa kamu membunuh gurumu Sang Juru Ayom Bahana itu? Kamu dengan yakin menjelaskan kepada dirimu sendiri, bahwa dia memang pantas mati. Dia tidak hanya melecehken kamu dan teman-temanmu selama bertahun-tahun, tapi dia tidak segan menghilangkan nyawa teman-temanmu yang mencoba melarikan diri. Oh itu bukan yang terburuk. Yang terburuk dan benar-benar membuatmu frustrasi sehingga membunuhnya adalah ketika dia mulai menjadi sangat-sangat pelit dalam mengajari ilmu-ilmunya, seakan-akan dia sengaja menjauhkannya darimu, dia bilang bahwa ilmu tahap lanjutan sudah berkaitan dengan bahasa Darma kuno yang berbahaya, HAH! Kamu tidak peduli! Maka terjadilah pada malam itu, ketika dia sedang melecehkanmu, kamu gigit putus benda yang melecehkanmu selama ini, kamu remas hancur bola-bolanya, kamu bakar rambutnya dengan menghasut api pada lilin-lilin, dan kemudian, uh selanjutnya, ah … kamu tidak mau lagi mengingat perbuatan kejimu malam itu, yang kamu ingat dengan begitu manis adalah ketika kamu sungguh tertawa terbahak-bahak sampai perutmu sakit, begitu girangnya menertawai sosok sakti mandraguna yang menjadi tidak berguna ketika nafsu mengaburkan ilmu di kepalanya!!!

 

Pagi itu, setelah puas menyiksanya sampai mati, kamu mencuri buku-buku berharganya dan segera meninggalkan kota, meninggalkan negeri, berkelana terus mencari ilmu. Kamu sungguh bangga akan pencapaian dan kekeraskepalaanmu sendiri, kamu merasa sangat siap menaklukan dunia.

 

***

 

Daratan warna-warni? Batu merah muda? Tanah hijau? Tumbuhan berbentuk ikan? Udara yang hangat tapi busuk hingga hidungmu terasa sangat gatal? Air? Tidak ada sumber air selama dua hari kamu tersesat di tempat gersang terkutuk ini! Hmm dua hari? Perhitungan itu sebenarnya juga kamu tidak yakin, karena tempat ini berkabut dan kamu tidak mampu tahu pasti posisi matahari di langit yang … terlihat retak itu? Tapi setidaknya kamu cukup bahagia akhirnya mampu mencapai tempat ini setelah melalui perjalanan penuh tipu muslihat dan telikung takdir! Oh, dan dalam perjalanan kemari, sudah puluhan dongeng, puisi, dan lagu kamu tulis! Jika sebentar lagi kamu belum juga mencapai Rimba Gaib itu di tengah daratan rusak ini maka, kamu ak—

 

Kamu tersandung sesuatu. Dan saat jatuh, kepalamu terasa seperti tenggelam, dan ketika kamu menarik nafas, air panas ramai-ramai menerjang lalu merebus isi tubuhmu. Panas. Darahmu seakan menguap habis. Lalu mati? Kamu mati? Oh! Tidak! Darahmu kembali masuk! Mengalir! Deras! Bersih dan bahagia! Ada air lagi, air yang lembut, sejuk!

 

Kamu merasa seperti terlahir kembali. Membuka kelopak mata yang basah, menarik nafas sekuat-kuatnya, mendengar kecipak-kecipak dunia, dan menghirup aroma Rimba Gaib yang akhirnya kamu temukan! Kamu bersyukur sejadi-jadinya kemudian keluar dari kolam itu. Segera memeriksa ransel berisi buku-buku berharga peninggalan gurumu. Yang ternyata masih utuh dan tidak basah sama sekali, entah karena air kolamnya yang ajaib, atau bukunya, atau keduanya. 

 

Rimba Gaib! Kenapa kamu mencari tempat ini? Karena kamu ingin melanjutkan  pencarian. Kisah dan ilmu. Demi seni dan pembuktian diri.

 

Dalam buku-buku peninggalan gurumu, ‘Balatentara Raksasa’ disebutkan berasal dari sini. Apa itu ‘Balatentara Raksasa’? Sebuah momok menakutkan. Keberadaan yang dirancang untuk menumpas Juru Ayom, bahkan terhadap mereka yang tidak berpihak kepada Pendurhaka Darma sekalipun. Gurumu sungguh beruntung dapat sempat mengungsi ke kampung halamanmu yang dilindungi oleh pegunungan es. Maka dari itu kamu berpikir bahwa tempat ini wajib diselidiki untuk lebih mengetahui tentang asal-usul Juru Ayom, Darma, dan hal-hal lain yang membawa ilmu-ilmu mistis sehingga kampung halamanmu menjadi begitu ramai oleh seni-seni aneh nan ajaib. Dan kekuatan yang membuat para Juru Ayom takut, pastinya memiliki ilmu dan kebenaran. Minimal kamu akan memiliki kisah-kisah petualangan untuk ditulis menjadi karya!

 

Setelah menarik nafas terlalu dalam sampai kamu batuk sendiri, kamu berseru bersemangat dan melangkah riang menuju pedalaman rimba. Namun baru sebentar dan belum sempat menikmati pemandangan rimba, tiba-tiba terdengar dengungan dari langit. Serombongan lebah dengan sengat hijau kebesaran menyerbumu!

 

Kamu yakin bahwa bukan karena larimu yang cepatlah yang menjadi alasan bahwa mereka belum juga menyusulmu. Mereka sering sengaja melambat, dan  sengaja bergerak untuk membuatmu berlari ke arah tertentu. Mereka menggiringmu ke daratan menanjak,  jarak antara pohon semakin jauh, dan OH ADA PEMUKIMAN! Pemukiman itu dipagari oleh tulang punggung manusia. Rumah-rumahnya mungil, dan banyak ornament berbentuk kecoak. Kecoak? Oh!!! Seandainya ini benar pemukiman suku Cica-Cica, maka saat ini kamu sedang berada di sebelah utara rimba dan untuk menuju pusat rimba berarti hanya perlu bergerak lurus ke selatan.

 

Dua pria dengan kepala yang menyambung jadi satu mendatangimu. Kamu mempersiapkan diri, mencoba untuk berkomunikasi dengan Darma Kuno. Oh dia mengucap sesuatu! Kamu tidak mampu menerjemahkannya! Hanya sepotong-sepotong. Dan itu adalah kalimat-kalimat tentang pengorbanan!

 

Kamu tidak bisa kabur, di belakang ada lebah-lebah itu dan satu kedipan kemudian, lengan sebesar batang pinus pria itu menghantammu. Segalanya nampak terang, nyaman, rasanya akan bisa nikmat jika bisa bermalas-malasan seperti ini selamanya … lupakan segalanya … nikmati ketenangan ini … ooooooh …

 

Kamu masih ingin bermalas-malasan di dunia terang itu, tapi sepertinya makhluk itu tidak mau tahu. Berisik sekali! Dasar kecoak raksasa! Oh bukan, itu dewa Cica! Dewa itu sedang makan? Tidak, ia sedang bermain-main dengan segunung tumpukkan mayat. Dan yep! Sesuai dugaan, kamu sedang menjadi suguhan untuk dewa itu. Tangan dan kakimu dipaku ke tiang setinggi dewa itu, tanpa busana, berlumur semen, mulut dan lubang lainmu disumpal bermacam sayuran.

 

Haha! Kamu merasa bangga, merasa gembira, merasa sangat dekat dengan … kebenaran? Tunggu, apa kamu gila? Jika kamu mati tentu saja itu percuma! Tunggu lagi, mati bukan akhir, justru mati itu lompatan terjauh dan tercepat menuju kebenaran? Tunggu! Tunggu! Tunggu! Kalau begitu, itu curang namanya! Main jalan pintas, tidak asyik! Tidak hanya kebenaran kan? Kamu juga ingin ilmu dan pencapaian seni?! O-ow, dewa Cica itu mengarahkan antena-antenanya ke arahmu.

 

Astaga!  Ternyata memang, ilmu tidak ada gunanya jika kamu tidak siap menggunakannya. Kenapa bisa-bisanya melupakan Skala Semesta?! Sepertinya kamu benar-benar harus belajar untuk berpikir dingin dan tidak mudah terbawa keadaan. Oh tidak, dewa Cica itu mencabut tubuhmu dari tiang, telapak tangan dan kakimu tertinggal pada tiang, putus. Kamu ditelan. Bagaimanapun keadaannya, sekarang kamu harus sangat-sangat berkonsentrasi untuk menerapkan ilmu Skala Semesta!

 

Tubuh manusia adalah instrumen terbaik. Terbaik dalam artian menerjemahkan dan menciptakan informasi semesta, dengan tujuan tertentu, dalam bentuk musik. Bagaimana? Pertama, biarkan fungsi selain penerimaan pada tubuhmu mati sesaat, dan dalam sesaat itu, tangkaplah petunjuk-petunjuk alami yang muncul dari tubuh dewa Cica. Petunjuk-petunjuk itu berupa getaran antena, kegelisahan lidah, kecepatan pencernaan, proses pernafasan, dan lain-lainnya, yang kemudian kamu terjemahkan menjadi bunyi-bunyi. Kemudian susunlah menjadi serangkaian nada-nada unik dalam suatu pola skala yang jika diulang berurutan akan menghasilkan identitas yang mampu dewa Cica itu kenali sebagai dirinya sendiri. Jika sudah, maka, tinggal mencelupkan pesan, tujuan, makna dalam susunan nada unik tersebut. Inilah masalah utamanya, hal yang akan dicelupkan itu semestinya sudah disiapkan sedemikian matang ditanamkan pada benak, karena mengubahnya menjadi informasi pada nada itu sangat sulit. Maka untuk mengatasi hal itu, kamu menggunakan salah satu dari puluhan lagu, puisi, dan cerita karyamu yang memang sengaja kau siapkan untuk momen-momen seperti ini. Kenapa? Karena suatu karya yang diciptakan sendiri akan sangat lekat pada benak!

 

Kali ini yang paling kamu ingat adalah sebuah lagu tentang kegelisahan dan kebingungan. Jika diulang-ulang permainan skala semestanya dengan sangat cepat, diharapkan akan menyebabkan dewa Cica memuntahkanmu, karena rasa mual dari kegelisahan berlebihan.

 

 Mainkan!

 

Bernafaslah. Yang kuat. Kamu harus mampu merasakan gesekan udara yang meliuk-liuk dari dada hingga hidungmu. Perhatikan di mana terasa geli. Di mana informasi-informasi itu mewujud. Rasakan ruangan dan susunan suara yang seluas alam semesta dalam tubuhmu. Gerakan udara dalam nafasmu perlahan, bantulah dengan gerakan-gerakan otot lain, tubuhmu adalah alat musik terbaik! Bermusiklah! Mainkan Skala Semestanya! Sampaikan pesannya! Yak begitu, Tepat! Lebih Cepat! Bakar tubuhmu dari dalam! Jadilah tungku lagu yang mesra untuk keindahan dunia! Karena dengan ini kamu akan hidup, selamat, dan menjadi juara!

 

Kamu merasakan getaran dan himpitan dari segala arah, lalu gemuruh mengerikan, aroma hangus bercampur kecut, udara menarikmu ke atas, terjepit-jepit daging lagi, lalu terlontar begitu kuat keluar dari mulut dewa Cica. Ketika kamu membuka kelopak mata, langit dan bumi berputar-putar kurang ajar dan akhirnya mendarat di sebuah kolam dengan bunga-bunga teratai.

 

Meski kehilangan telapak tangan dan kaki, kamu membersihkan diri di kolam itu masih dengan cekikikan bahagia akan pengalaman-pengalaman ini. Tawamu semakin jadi ketika memperhatikan dewa Cica itu dari jauh. Dewa ngamuk! Hihihihihi!!!

 

Setelah merasa cukup bersih, kamu membalut tubuhmu dengan rangkaian lumut, kemudian merangkak-rangkak diam-diam mencari di mana ransel dan pakaianmu berada. Beruntung sekali kamu segera menemukannya dan perhatian orang-orang suku ini sedang terfokus kepada dewa Cica. Namun setelah selesai memakai pakaian dan memeriksa keadaan buku, tubuhmu menjadi sangat kaku.

 

Apalagi kali ini?! Tubuhmu diangkat oleh sepasang lengan kurus. Ke atas pundak … seorang kakek tua? Ketuaan kakek ini terasa tidak wajar, bukan berasal dari keriputnya, tapi dari aroma dan warna tubuhnya, yang terlampau wangi dan abu-abu. Oh dan ternyata ada banyak sekali lukisan-lukisan tulisan berbentuk Darma Kuno di sekujur tubuhnya!!! Siapakah dia?

 

Dia mulai berlari. Kamu segera menyambar ranselmu, dan kakek ini cepat sekali! Bahkan pemandangan rimba menjadi seperti kabur dan … berwarna abu-abu? Uh, kamu melihat anggota-anggota tubuh beterbangan di angkasa? Wow!? Kemudian Kakek itu tiba-tiba berbicara dalam bahasa Darma Kuno, dan kebetulan kamu mengharapkan kata itu, sehingga mudah menerjemahkannya. Dia bilang, “Ini sebuah kewajiban. Sebuah Darma oleh Sang Maha Pencipta Keindahan.”

 

Warna-warni mulai kembali, anggota tubuh beterbangan itu sudah hilang, laju lari Kakek melambat, namun tetap sangat cepat. Bentuk pohon mulai berubah, batangnya meliuk-liuk seperti spiral dan daun-daunnya terlihat bergerak kembang-kempis seakan berusaha mengusir siapa saja yang berani mendekat. Bunga-bunga pohon itu sungguh besar! Bertaring!?! Woohoo!!! Kamu menjerit keasyikan ketika bunga-bunga itu mulai menyambar-nyambar liar.

 

Pada satu kesempatan, salah satu bunga galak itu berhasil menerkam kaki kiri Kakek hingga putus. Kakek tetap berusaha maju, bahkan semakin cepat, dengan satu kaki, melompat! Tapi karena jumlah bunga-bunga itu sangat banyak, pada akhirnya kaki kakek yang sisa satu itupun diterkam habis. Dia jatuh dan seharusnya kamu juga. Tapi dia sempat-sempatnya melemparmu sekencang-kencangnya. Kamu melesat lagi melalui dunia abu-abu dan anggota tubuh terbang. Woohoo!!!

 

Wow. Untuk yang ketiga kalinya hari ini kamu tercebur ke dalam kolam! Kali ini kolamnya benar-benar terasa mistis, dan indah. Sangat luas dan dindingnya merupakan uluran akar-akar  pohon dari berbagai penjuru. Airnya hitam namun berkilauan, suhunya hangat dan sangat nyaman, membuat dirimu merasa bertenaga dan bergairah. Oh dan kamu baru sadar bahwa tubuhmu sudah tidak kaku lagi!

 

Terdengar sesuatu yang samar-samar menggema di seluruh rimba. Langit menjadi gelap dan bergemuruh petir. Burung-burung beterbangan ke langit, saling bunuh, dan akhirnya jatuh seperti hujan, dan bumipun mulai gempa. Sepotong-sepotong awan-awan di langit turun! Berubah menjadi kabut yang menyebabkan suhu kini menjadi sangat-sangat dingin, bahkan lebih dingin daripada kampung halamanmu, sehingga kamu secara reflek langsung bergerak lebih dalam, lebih ke tengah kolam, yang terasa semakin hangat.

 

Suara samar-samar itu terdengar lagi. Lagi. Semakin merangkak ke tengah, suara itu terasa semakin dekat. Hah? Lututmu menyentuh sesuatu di dasar kolam yang hitam pekat itu. Dengan susah payah karena tanpa pergelangan, kamu meraih benda itu keluar dari air kolam. Dan benar, suara itu berasal darinya. Campuran tawa, tangis, dan sendawa?

 

Bayi. Kepalanya bengkak mengerikan. Seluruh matanya merah. Dan dari hidung dan mulutnya menetes cairan-cairan kuning. Tak hanya itu, seluruh tubuhnya seperti berwarna hijau, namun jika kamu melihat lebih jeli, dapat kamu temukan bahwa itu semua sebenarnya adalah tumpukan tulisan-tulisan darma yang sangat rumit. Hal yang paling membuatmu merasa simpati dan terasa memiliki kedekatan dengan bayi itu adalah, tangan dan kakinya yang cacat tanpa pergelangan.

 

Kamu memeluknya. Dia memelukmu, membuka pakaianmu, menyusup, dan menemukan putingmu. Dia menghisapmu dengan begitu kuat padahal kamu masih remaja dan tidak menghasilkan susu. Kamu tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikannya karena, meskipun sangat sakit, ada rasa puas yang menyelimuti, seakan dirimu telah menjadi penyelamat, sebuah pencapaian?

 

Bayi itu sesekali berhenti karena tersedak, tertawa, lantas tersenyum kepadamu, memamerkan bibir dan dagunya yang belepotan darahmu.

 

Senyum bayi itu begitu manis, sehingga terus terbayang-bayang dalam anganmu. Bahkan menjadi hiasan mimpi ketika kemudian kamu terjatuh ke dalam kolam, tenggelam, setengah tidur, setengah mati. Menikmati kenyamanan luar biasa. Bernafas dengan lebih leluasa dengan air kolam dari pada bernafas dengan udara. Begitu nyamannya tidur tanpa daya tarik bumi dan terlindung cairan yang terasa mengasihi dan membisikkan lagu-lagu indah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BYUR! BYUR! BYUR!

 

Daging-daging bergantian menampar membangunkanmu. Kebetulan kamu lapar, dan daging itu terlihat lezat, jadi sembari setengah tidur dan bermalas-malasan dalam kolam, kamu memakan daging-daging itu yang ternyata memang sangat lezat. Apa bumbunya? Ah, kamu kenyang, dan tidur lagi sepertinya pilihan yang sangat asyik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BYUR! BYUR! BYUR!

 

BYUR! BYUR!

 

BYUR!

 

Berisik!

 

Kamu bangkit dari kolam, mengambil sebongkah daging dengan kepalan tangan dan melemparnya ke arah suara berisik dengan murka! Oh! Kepalan tangan!? Sejak kapan? Apa segalanya hanya mimpi? Tidak mungkin, karena kamu masih berada di kolam hitam itu dan … Siapakah pria tampan tanpa busana yang sedang bertarung dengan makhluk-makhluk raksasa hutan itu? Oh mata merahnya! DIA BAYI ITU? BERAPA LAMA KAMU TIDUR?!

 

Daging berjatuhan dan darah bercipratan dari langit. Tanpa senjata, bermodalkan giginya yang terlihat berantakan, rontok, dan selalu tumbuh lagi.  Pria itu melompat-lompat menggelinding gila, menyambar, membantai makhluk-makhluk yang baru saja kau sadari adalah dewa-dewa rimba dari segala penjuru. Ada dewa Cica di sana, sekarat!

 

Ini sangat luar biasa!

 

Setelah menuntaskan pertarungannya. Pria itu menghampirimu, memelukmu hangat. Senyum manis bayi itu terlihat kembali, pada lesung pipitnya yang begitu mempesona meskipun bermandikan darah.

 

Dia berbicara sesuatu. Kamu tidak mengerti. Dia memelukmu semakin erat.

 

Dia menangis. Kamu Menangis. Kamu memeluknya semakin erat.

 

Dia memelukmu semakin erat. Kamu memeluknya semakin erat. Gairah tak terbantahkan. Darma di sekujur tubuhnya menyala berkelap-kelip seperti pelangi yang indah. Ia sudah keras. Ia masuk. Eranganmu ia tahan dengan bibir dan lilitan lidahnya. Kamu dan dia terjerembab, berguling-guling, tenggelam dalam kolam hitam.

 

Dia rupanya sangat ingin bercerita. Dan pertukaran nikmat ini adalah caranya menyampaikan.  

 

Eh aku mau cerita tentang sesuatu yang berhasil kutelusuri selama tidur di sini. Oke?

 

 Sebenarnya kisah ini nggak bisa dipercayai sepenuhnya, karena kebanyakan cuma rekaan-rekaan dari indera rimba yang kupinjam, tapi dengarkanlah!

 

Dahulu sekali tempat ini merupakan daerah yang subur, tapi bukan rimba, pokoknya subur dengan hutan-hutan kecil yang terpisah-pisah padang bunga pelangi, dan waktu itu menjadi pilihan para Juru Darma untuk membangun perkemahan perangnya. Iya, Juru Darma yang itu. Yang ngelawan Juru Ayom.

 

Juru Darma itu membuka pintu-pintu dunia, menarik, lalu mendarmakan makhluk-makhluk raksasa untuk berperang bersama mereka. Tapi, nggak semua Juru Darma itu berhasil, banyak yang gagal. Akibat dari kegagalan itu adalah rusaknya kesuburan daerah ini. Benar-benar rusak, semua jadi pasir!  Maka dari itu, mereka yang gagal kemudian dikutuk untuk tidak bisa tenang jiwanya sebelum mampu mengembalikan kesuburan tanah ini!

 

Lalu mereka mempelajari ilmu  darma lagi. Akhirnya mereka berhasil memanggil Arwah Rimba ke dunia ini dengan mengorbankan jiwa mereka. Arwah Rimba itu kemudian menjelma sehingga jadilah rimba ini, yang ukurannya waktu itu masih sangat kecil. Oh para Juru Darma itu nggak mati, mereka berubah jadi makhluk-makhluk raksasa yang barusan aku bunuh itu lho.

 

Setelah para Juru Darma itu berubah jadi makhluk raksasa, budak-budak manusia mereka yang bodoh itu menganggap mereka sebagai dewa. Karena makhluk-makhluk sebesar itu perlu makan banyak, maka budak-budak  itu membuat peraturan-peraturan ngeselin untuk hemat sumber daya rimba yang waktu itu masih sedikit banget. Salah satu peraturannya adalah tentang kelahiran, nggak tahu deh detail peraturannya gimana, pokoknya aku jadi korban.

 

Aku di masukkan dalam kurungan sempit bareng bayi lain. Lengan kami diikat pisau-pisau. Di suruh saling bunuh. Beruntung waktu itu aku berhasil melakukan mukjizat pertamaku.

 

Aku mengubah pisau pada lenganku menjadi daging, yang kemudian aku makan karena lapar. Hebatkan? Kemudian bayi-bayi lain dibunuh aku nggak. Aku malah diangkat jadi anak kepala budak waktu itu. Terus direbut adik kepala budak, diangkat anaknya juga. Terus direbut lagi. Diangkat anak lagi. Ya gitu deh, aku benar-benar berharga bagi mereka.  

 

Masa-masa itu bisa dibilang masa paling indah juga paling ngeselin. Soalnya aku ngerasa hebat banget bisa bikin orang tunduk. Waktu itu aku nyaris berhasil menyulut perang lho, sayangnya kemudian itu Arwah Rimba ngeselin muncul, dan dia menyegelku.

 

Hal ini ngeselin. Dia nggak pernah nyegel para makhluk raksasa itu, padahal mereka sering memakan manusia,  lalu kenapa aku disegel? Arwah Rimba pilih kasih!

 

Bagaimanapun ngeselinnya dia, aku berterima kasih kepada Arwah Rimba, karena dalam segel ini aku jadi bisa meminjam ingatan-ingatan indera rimba, sehingga akhirnya aku mengetahui siapa orang tuaku.

 

Ibu adalah satu budak bodoh, dan pemuja kecoak raksasa yang disebut Cica-Cica. Fisiknya cacat, dan lemah.

Sementara ayah adalah seorang pria asing yang cukup sakti. Ayah  senang sekali menulis di buku-bukunya. Aku curiga ayah adalah Juru Ayom. Karena dia sangat benci terhadap para makhluk raksasa dan mendarma benihnya untuk membunuh mereka.

 

Benih itu ya aku hehehe.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mau nggak melakukan sesuatu yang asik? Bakar rimba ini yuk!

 

 

 

Read previous post:  
44
points
(1798 kata) dikirim Riesling 9 years 7 weeks yg lalu
73.3333
Tags: Cerita | Cerita Pendek | kehidupan | EAT2011 | fantasi
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.

Cerita ini cukup bagus, tapi isinya belum cukup membuat bergidik, kegilaanmu belum terdeskripsi dengan kejam. Coba kamu baca novel Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan atau Lelaki Ikan karya Hudan Hidayat.

woooke makasih mas! novel itu kalo ketemu di toko buku saya beli deh!

100

UWOW!
Mantaaaaaab~~~ Saya ga bisa baca ini sampe habis saking saktina! >A<

70

(O__________O)
Kali ini saia speechless....karena bingung + kagum.
.
Keep on writing dan good luck~! (o____<)b

Waw,, membuat saya takjub ..

100

NOTE : Cerpen merupakan Origins dari karakter yang akan saya buat dalam kisah-kisah selanjutnya.

Mari bakar rimba ini!!!

100

HAIL CICA-CICA NAN GAJE!