Cerpen EAT 2011 : Aina dan Kehidupan

Jika kau mengetahui nama Sang Kematian untukmu, maka terkutuklah namamu di atas namanya. Kau tetap tidak abadi, namun kematian akan menjalani hidupmu. Seperti dirimu menjalani hari-hari kematian. Tidak akan berakhir bahagia kecuali bagi orang-orang …(seekor kucing berlari di atas tumpukan buku dan berlembar-lembar kertas, ia menumpahkan botol tinta, tepat dia atas beberapa kalimat pembuka bukunya. Aina ingin melempar kucing berbulu emas itu ke luar jendela, namun kematian menghentikannya.)

“Bukankah lebih tambah menarik? Bagian yang ditutupi tinta menjadi perlambang kegigihan hidup itu sendiri,” saran Sang Kematian bijaksana (Namun ia tetap saja mengusir kucing berbulu emas dengan galak saat melihat buku daftar kematian orang-orang di hari kemudian, juga tertutup tumpahan tinta)

Aina menuliskan dalam bukunya tentang kematian yang jatuh cinta.
“Jangan menyebutkan namaku,”bisik kematian menyetujui.

 

“Akhirnya kamu datang.” Perempuan itu menegur tanpa sedikitpun  menolehkan kepalanya. Ia berjalan dengan langkah semirip dengan irama staccato. Walau begitu aku masih saja refleks menjawab dengan anggukan yang jelas-jelas tidak pernah sampai pada matanya.

“Kau tidak ada di pemakaman ayah,” suaranya terdengar sedatar yang ingin diperdengarkan. Ia tidak menggunakan kalimat tanya. Ia memang tidak pernah bertanya apapun. Padaku, ia selalu begitu. Jadi, seperti rutinitas yang biasa kami lakukan, ia bersuara dan aku cukup membiarkan lengang menjadi ujungnya.

“Ada kematian lain saat ayah dimakamkan,” ujarnya mematahkan senyap.

“Ada banyak kematian yang selalu membersamai ayah.”

“Memang.”

Senyap menjuarai. Aku memang tidak pandai membuatnya berbicara banyak. Namun, pilihan untuk membersamainya beberapa jenak dalam puluhan tahun, membuatku mampu melupakan hal-hal tak menarik dalam kehidupan. Ia dengan wajah sederhananya, kalimat-kalimatnya yang hampir tanpa emosi juga  tarikan napasnya yang ringan dan teratur. Selalu…

Hum? Mungkin tidak selalu.

Perempuan itu memperdengarkan desahannya yang memberati. Aku meliriknya sekilas. Dan lagi-lagi, rasa kejut itu menerpaku untuk kali yang terlalu cepat. Ia berjejeran dengan langkahku. Atau, lebih tepatnya, aku bisa menjejeri langkahnya yang serupa tarian tango itu. Dulu, itu tak pernah sekalipun ia ijikan terjadi.
 

“Ada apa?” Kata tanya itu tak bertahan lama dalam benakku.

Langkahnya terhenti. Sedetik menjadi dua, tiga dan pada hitungan ke empat ia kembali melangkahkan kakinya. Memulai dari nada awal.

“Kau terlambat,” jedanya, “Sepertinya tidak biasa.”

Ia memulai dengan kalimat yang benar-benar baru. Tak mengerti bagaimana harus menjawabnya, aku melemparkan tatapan ke arah seorang laki-laki yang baru saja ke luar dari kamar 2021. Mungkin perasaan gusar yang kurasakan pada perubahan ini terlukis pada wajahku, laki-laki kamar 2021 balas menatapku dengan kening berkerut. Ia  menengok cepat ke belakang bahunya dan kembali menatapku. Ia mendapati belakang kepalaku. Rasa penasarannya dapat kurasakan hampir-hampir menggodaku untuk berbalik dan melakukan hal-hal yang tidak ingin kulakukan saat ini.

“Ada kematian lagi setelah ayah dimakamkan.”

Perhatianku kembali pada perempuan yang menjadi tujuan kunjungan hari ini.

“Seorang perempuan muda…”
 

“Bukan. Seorang nenek tua,” jawabku cepat. Ah, aku tersadar terpancing untuk menjawab hal-hal yang tidak perlu.

Ia tersenyum. Napasku tercekat. Hanya beberapa detik saja. Untuk kedua kalinya aku harus memperhatikan pintu-pintu kamar yang kami lewati, sekedar untuk meredakan hal menyenangkan yang sedang terjadi. Hatiku mengembang dan hampir-hampir pecah. Betul-betul bukan kiasan. Sial bagiku. Rasa menyenangkan yang mematikan ini memang seharusnya kuhindari. Aku merasakan irama langkahnya menjadi tak beraturan dalam satu dua langkah dan terus.

Ia tidak peduli.

Aku hampir merasakan senyuman di lipatan bibirku.

“Kau masih memperhatikan pemakaman.”

Ia kembali memancingku.

Jauh di dalam sana, aku menyadari terlalu banyak pijakan hal yang tak seperti biasa terjadi. Terlalu banyak untuk tidak dicurigai. Terlalu banyak hingga menjelma bagaikan permohonan…

“Apa yang kau inginkan?”
Lancang sekali kedengarannya. Tapi apa lagi yang harus kubicarakan?

“Kau bukan Sang Pencipta.”

“Memang.”

“Tapi aku bisa mengabulkan permohonanmu.” Aku menatapnya dengan terang-terangan berharap.


Kau tau, kita tau, kau tidak bisa.

Di setiap kesempatan, setiap masa dan setiap tempat, ia selalu menolak dengan tegas dan menjadi penyangkal tetap kuasaku.

Kali ini, ia hanya diam dan tak menolak, juga tak mengiyakan.

“Kau sudah bertemu dengan ayah,” ujarnya tiba-tiba.

Tentu aku sudah bertemu dengan manusia yang dipanggilnya ayah. Memang apa susahnya?

Dan aku tidak perlu menjawab karena ia tidak bertanya.

“…”

Senyap


Seorang perempuan muda keluar dari kamar. 180312 tertera di atas pintunya. Aku mengerjapkan mata. Perempuan itu berdiri seolah menunggu seseorang.Tiba-tiba saja, jantungku berdetak keras.

“Teruslah berjalan melewatinya.”

Tidak mungkin, kan?

Jantungku berdentam semakin keras

Pemanggilan buatku?

“Ath!”

Seruan itu terdengar bersamaan dengan namaku diteriakkan oleh langit.
 

“Ayah!” Penuh kecemasan suara itu sampai di telinga Hesam.

“Ayah! Bangun, Yah. Ini, Aina.”

Aina! Hesam menggunakan seluruh energinya untuk membuka mata. Ia mengernyit.

Lalu tenggelam kembali.

 

“Kau memanggilku.”

Laki-laki itu melihatku dengan alis yang naik setengah. Kemudian menggelengkan kepalanya.

“Jangan takut.” Aku memperlihatkan senyum menenangkan.

“Tidak takut.” Ujar laki-laki itu dengan menyesal.

Aku tertawa melihat keberaniannya.

Setiap manusia takut pada diri sendiri.

“Tidak takut itu lebih baik, karena aku telah terkutuk pada namamu”

Hesam tidak memedulikanku. Laki-laki itu mungkin mengkhawatirkan Aina, anaknya satu-satunya.

“Anak yang membencimu, itu?” bisikku penuh hasrat.

Hesam mengacuhkanku lagi.

Namun sebelum ia dapat melakukan hal-hal yang lain, dinding gedungnya merekah,berguncang dan runtuh menjadi serpihan yang tak berbentuk. Lalu cahaya datang membutakan mata.

Makhluk itu menghilang.

 

Aina menyimpan semua kenangannya di dalam buku. Sejak neneknya pergi melakukan perjalanan bersama kematian, Aina bertekad ingin mengadakan perjalanannya sendiri.

Maka mulailah ia menuliskan banyak hal pada bukunya. Ia menjumput masa-masa kecilnya bersama sang ibu. Membuat cerita tentang ibu peri dan menamakannya mantra kebahagiaan.

Lalu ia merangkai kesehariannya bersama sang nenek,mengumpulkannya menjadi kisah yang hampir tak pernah ada habis-habisnya. Ia mengisahkan tentang tukang sihir, tentang kisah anak yang tersesat di puri, tentang kematian yang jatuh cinta.


Aina hanya tak sempat menuliskan cerita tentang dirinya. Ia yang berbulan-bulan sedih ditinggal oleh neneknya. Diam-diam mengutuk ayahnya untuk menghilang saja dan tak pernah lagi menemuinya. Ia menyesal pernah melakukannya. Ayahnya bukan orang jahat dan tak pernah sekalipun menjadi orang jahat bagi dirinya. Untuk ayahnya, Aina menciptakan cerita pangeran dari negeri salju. Juga cerita pahlawan penunggang naga. Juga tukang kayu yang baik hati. Juga ilmuwan yang penyayang.


Aina pernah tersesat di hutan para peri dan terselamatkan oleh Sang Kematian. Ia belajar banyak tentang bahagianya hidup dan menjadi  gadis remaja yang dapat berbicara dengan kematian. Ia pernah melakukan perjalanan jauh, hingga ke batas antara janji hidup dan mati.

Dan walaupun pada awalnya ia ditinggal seorang diri, ia mendapatkan ribuan teman dari seluruh negeri.

Read previous post:  
46
points
(2687 words) posted by H.Lind 9 years 7 weeks ago
76.6667
Tags: Cerita | Cerita Pendek | kehidupan | arwah | EAT2011 | elbintang | H.Lind
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer franci
franci at Cerpen EAT 2011 : Aina dan Kehidupan (9 years 5 weeks ago)
90

awalnya aku gk begitu jelas utk bbrp hal yg krusial, inti ceritanya. penyampaian perasaan itu masuk dengan baik walaupun dengan gaya biasamu, el. dan itu nikmat. serius.
.
aku bertanya2 ttg realitasnya, dan akhirnya memang terjawab. tp hati2lah dengan mode khasmu utk tdk keluar terlalu banyak? :P
.
kekuatan sewaktu2 akan berubah jd kelemahan. dalam hal ini aku katakan sbg kekuatan :)

100

terjadi ya

apanya Smith? *daku bertanya lho ya... :p

90

Wah, pas 1 Maret ^^
Sedikit mengganjal, "Bukankah lebih tambah menarik?" Menurut saya lebih enak kalau "Bukankah tambah lebih menarik?"
.
Menurut saya, loh. Tapi ini bagus kok, kak.

sebenarnya kalimat itu termasuk penekanan *takhtith* yang jarang lolos dari editor :p kerna lebay. Kalau editor pasti dipapas jadi :
Bukankah lebih menarik atau Bukankah tambah menarik

tengkiyuh Gita udah baca

Writer H.Lind
H.Lind at Cerpen EAT 2011 : Aina dan Kehidupan (9 years 7 weeks ago)
100

Ini ga gaje. Ini luar biasa. >.<
Dari pembukaannya aja udah mistik dan misterius, mengundang untuk baca. Saya suka sekali dengan Kematian di sini, bener-bener punya ciri khas dan karakteristik yang kuat sekaligus rapuh.
I think you have a magic to make words become so livable. :)
Thanks for this gift.
4 cerpen?? Challenge accepted. XD

hooooooo...
entah apa bacaanmu, say. Tapi ini memang gaje abis...

no. gw lagi nggak sedang merendah. Udah dikasi tau duluan kalo dengan kemampuan gw yang sekarang, keknya nyambung Aina dan Kematian itu...pekerjaan yang menantang *kerna, crita ini, di atas dari kemampuan gw.

yeay. pun begitu, gw enjoy dan menikmati setiap adegan gajenya. he.he.

tengkiyuh dear. 4 itu baru awalan ya...*mari kita serang dunia...#eh? :p