Leon, Sendirian itu tidak menyenangkan

Leon yang berusia enam tahun adalah anak yang manja karena dia anak satu-satunya dari Tuan dan Nyonya Willy. Apalagi ditambah dengan kasih sayang kedua Kakek, Nenek dan paman serta bibinya.

Setiap keinginannya harus dipenuhi. Dia selalu mengunakan tangisan dan teriakan sebagai senjata agar orang tua serta keluarganya memberikan pemintaannya. Dan saat dia marah, dia selalu mengusir orang tuanya. Berteriak dan berharap orang yang memarahinya lebih baik tidak ada.

Seperti halnya hari ini Leon menginginkan sebuah sepeda baru yang berbentuk seperti sepeda balap milik Jovan. Leon memaksa Ibunya untuk membelikan. Namun ibunya yang merasa Leon sudah memilik lebih dari satu sepeda dan tersimpan sia-sia di gudang tidak mau membelikannya lagi.

Ibunya dengan tegas menolak memenuhi permintaan Leon kali ini. Demikian juga dengan Ayahnya. Kedua orang tuanya sadar kalau kemanjaan Leon sudah tidak bisa ditolerir lagi. Mereka harus mulai merubah kelakuan Leon demi kebaikan Leon nantinya.

--

Ibu Leon terus berusaha mengajarkan Leon dengan sabar namun Leon tidak mau mengerti. Dia mengamuk dan memukul Ibunya. Saat permintaannya tidak dipenuhi Leon membanting pintu kamar dan mengusir Ibunya. "Leon, sayang. Buka pintunya. Leon tidak boleh makan es krim karena Leon sedang batuk. Kalau batuknya sudah sembuh, baru Ibu belikan," bujuk Ibu Leon.
"Tidak mau, uhuk ... uhuk ... uhuk," teriak Leon.
"Leon maunya sekarang!" Leon mengambil buku-bukunya dan melemparkan ke seluruh ruangan kamarnya.

"Ibu jahat, Leon tidak mau dekat-dekat dengan Ibu. Ibu pergi saja," bentak Leon kemudian mengunci pintunya kembali.
Ibu Leon hanya bisa mengurut dada dan berusaha sabar.

--

Di kamar Leon menangis sambil terus mengomel. "Ibu jahat, lebih baik Leon ikut Nenek. Nenek pasti akan memberikan semua yang Leon inginkan."

"Lebih baik Ibu tidak ada!" Leon menangis sesengukan sambil memeluk gulingnya.

Esok paginya Leon menemukan Ayahnya sedang membuat sarapan. Sepiring nasi dan telur mata sapi diletakkan dengan terburu-buru. Setelah itu Ayahnya membuka celemek dan menyiapkan air mandi untuk Leon.

"Leon, ayo cepat mandi. Nanti kita terlambat," ucap Ayahnya.
Ayah Leon menuntun Leon ke kamar mandi dan menyuruh Leon segera mandi.
"Leon belum mau mandi. Leon mau nonton film kartun dulu," seru Leon sambil berlalu ke ruang televisi.

"Leon, ini sudah jam enam lewat lima belas. Kalau kamu tidak segera bersiap kita akan terlambat ke sekolah," Ayah memakai kemeja dan membetulkan ikatan dasi sementara itu Leon masih asyik di depan televisi.
"Tidak! Leon, sudah bilang tidak mau!" bentak Leon kesal.

Akhirnya Leon terpaksa mandi sambil menangis setelah dimarahi dan dimatikan televisinya oleh Ayah. Leon tidak mau menyentuh sarapan yang dibuat oleh Ayah, dia sengaja berlama-lama menganti seragam.

Sepanjang perjalanan di dalam hati Leon terus kesal. 'Ayah juga sama seperti Ibu, cerewet. Tidak pernah mau mengerti apa yang Leon inginkan. Alangkah senangnya kalau Ayah juga tidak ada, jadi tidak ada yang mengomel sepanjang hari,' ucap Leon di dalam hati.

--

Sepulang sekolah Leon berlari keluar dari ruangan kelas menuju ruangan penjemputan siswa. Leon tidak melihat wajah Ibu di sana, tidak juga Ayah. 'Apakah mereka lupa menjemputku?' batin Leon.
"Mereka tidak sayang lagi denganku," gerutu Leon.

Wajah Leon berubah cerah ketika melihat Kakek dan Neneknya memasuki pintu ruang penjemputan. Dia segera menghambur dan memeluk keduanya. "Kakek, Nenek hari ini kenapa Ibu tidak menjemput?" Tanya Leon.
"Hari ini kamu ikut Kakek dan Nenek dulu yah," ucap Kakek.

Leon mengangguk dengan gembira. "Kita jalan-jalan ke mall dulu yah," pinta Leon yang langsung disetujui Kakek dan Nenek.

Setelah tiga jam bermain di mall, Nenek mengajak Leon pulang ke rumah. Tapi Leon yang sedang asyik bermain mobil balap di Playzone berpura-pura tidak mendengar.
Nenek terus berusaha mengajak Leon pulang, namun Leon berteriak dan menangis, "tidak! Leon masih belum puas bermain!"

Kakek membujuk Leon dengan mengiming-imingi mainan baru. Akhirnya Leon mau pulang. Di toko mainan Leon memilih sebuah mobil balap dengan remote control besar. Sebuah mainan yang belum bisa Leon mainkan dan harganya juga sangat mahal. Kakek menolak dan meminta Leon menukar dengan mobil-mobilan lain. "Kakek pembohong! Katanya Leon boleh memilih mainan yang Leon inginkan. Kakek jahat! Leon tidak mau sama Kakek dan Nenek lagi." Sekali lagi Leon berteriak dan menangis.
"Leon, tidak baik terus menerus seperti ini. Leon tidak setiap saat keinginanmu harus dipenuhi," ucap Nenek dengan sabar.
"Leon tidak mau tahu. Semuanya jahat sama Leon. Semua tidak sayang Leon lagi. Lebih baik Leon sendirian saja!" teriakan Leon membuat pengunjung toko memperhatikan Kakek, Nenek dan Leon. Beberapa orang bahkan terlihat mengelengkan kepala kepada Leon.

"Leon tidak baik setiap kali marah selalu mengusir dan berkata tidak memerlukan Kakek, Nenek, Ayah atau Ibu. Bagaimana bila suatu saat semua orang yang Leon sayangi benar-benar hilang?" tambah Kakek.
"Biarin, Leon capek dilarang ini itu terus. Lebih baik kalian semua tidak ada!" Leon menepis tangan Nenek dengan marah.

Kakek dan Nenek hanya bisa bersabar. Mereka mengejar Leon yang terus berlari menuruni eskalator.

--

Leon terus berlari. Dia akhirnya menyadari kalau Kakek dan Nenek tidak ada lagi di belakangnya. Leon awalnya senang. Dia berjalan ke sana ke mari sambil memperhatikan pengunjung mall yang lalu lalang. Leon singgah ke toko buku dan membaca buku cerita bergambar. Kemudian Leon berjalan ke toko mainan dan melihat satu persatu mainan yang dia inginkan, tapi Leon tidak bisa membeli apapun karena dia tidak membawa uang.

Setelah satu jam mengelilingi mall, Leon bosan dan kelaparan. Dia mulai cemas dan takut. Leon menatap ke kiri dan kanan, semua orang yang tidak dia kenal. Ruangan mall yang begitu besar serta hari yang terlihat mulai gelap disertai rintik hujan terlihat dari pintu depan mall membuat Leon mendekap erat tangannya.

"Kakek, Nenek!" teriak Leon cemas.
"Kalian ke mana?" Leon mulai merasakan air mata di pipinya.
"Leon mau pulang," isak Leon sendirian.

Dari seberang toko mainan terlihat Ibu dan Ayah Leon mengawasi tingkah Leon. Ibu sudah hendak mendekati Leon, namun Ayah menahan. "Dia harus tahu bagaimana rasanya sendirian," ucap Ayah.

Leon berjalan dan kembali melangkahkan kaki. "Leon janji tidak akan nakal lagi. Leon janji tidak akan teriak-teriak lagi. Leon janji tidak akan mengusir Ayah, Ibu, Kakek dan Nenek lagi. Leon mau pulang," isakan Leon membuat pengunjung mall memperhatikan Leon.

Beberapa pengunjung mall berhenti dan bertanya pada Leon. Namun Leon yang ketakutan malah berlari menjauh.

Akhirnya Ayah dan Ibu menghampiri Leon. Ketika Leon melihat Ayah dan Ibu, dia segera berlari dan memeluk mereka. "Leon rindu sama Ayah dan Ibu. Leon takut," ucap Leon kecil.
"Leon bukannya tidak butuh Ayah dan Ibu lagi?" Tanya Ayah.
"Maafkan Leon, Ayah. Leon janji tidak akan berkata seperti itu lagi," Leon terus menangis dalam pelukan Ibu.

"Leon tahu, karena mengejar Leon tadi, Kakek sampai jatuh dan kakiknya sakit," ucap Ibu sambil mengelus kepala Leon. Leon mendongakkan kepala dengan tak percaya.
"Kakek jatuh?" tanya Leon sedih.

"Maka dari itu Ayah dan Ibu yang datang mencari Leon. Sedangkan Kakek sekarang sedang diurut kakinya sama Nenek di rumah," jelas Ayah.
"Leon harus minta maaf sama Kakek dan Nenek nanti. Dan Leon harus berjanji tidak boleh mengusir Kakek, Nenek, Ayah dan Ibu lagi. Leon juga harus berjanji tidak boleh berteriak-teriak bila keinginannya tidak terpenuhi," Ibu memeluk Leon.
"Tidak setiap hal bisa kita dapatkan, Nak. Leon harus mensyukuri apa yang Leon miliki sekarang ini. Harus berhemat dan rajin menabung. Harus dengar dan patuh pada perkataan orang tua," kembali Leon merapatkan pelukannya pada Ibu.

"Leon, janji. Ibu dan Ayah, maafkan Leon. Leon sadar ternyata sendirian itu tidak menyenangkan," senyum cerah tergambar pada wajah Leon. Dan di dalam hati Leon berjanji akan mengubah sikapnya serta meminta maaf pada Kakek dan Nenek sesampainya di rumah. San satu lagi, Leon berjanji akan mengurut kaki Kakek hingga sembuh.

Wajah Leon bersinar cerah.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
90

narasi dan ide ceritanya mengingatkan saya dgn buku2 bergambar yg biasanya buat anak2
saya suka ^^

80

point aja lah nih

70

Kak Cat sepertinya saya merasakan cerpen ini ga seperti cerpen2 kak Cat biasanya. Menurut saya cerpen ini terlalu banyak narasi yang diulang-ulang dan cenderung bertele-tele. Lalu cerita ini terasa terlalu sering menampilkan hal-hal yang buruk seperti menangis, iri hati, dll.
.
Kembali menurut saya, cernak ini punya resolusi yang begitu singkat dan konflik yang terlalu panjang. Kalau saranku sih coba dicut aja permulaannya, lalu langsung ditampilin adegan di mall. Baru waktu si Leon kepisah dari kakek neneknya, ditampilan sedikit kilasan balik kehidupan Leon.
Menurut saya lhooo. Hehehe. Semangat kak Cat :)

Writer cat
cat at Leon, Sendirian itu tidak menyenangkan (8 years 33 weeks ago)

Jd langsung ke mall.

Heem gimana cut nya yah.

Baiklah terima kasih sarannya. Akan saya coba utak atik lagi.

80

Baguuuuuuus~~~
Hanya saja, sepertina settingna kurang sinkron, Bu. Alna jika dilihat dari nama, maka sepertina bersetting di luar negeri. Tapi kok kebiasaanna seperti di Indonesia? Terutama saat di mall, terasa sekali "Indonesia"-na :3
.
Ah, Cake saya belum kelar :'(

Writer cat
cat at Leon, Sendirian itu tidak menyenangkan (8 years 33 weeks ago)

Heeem alasan aku pake nama modern krn skrg byk org indo yg pake nama internasional.

Hanya saja salahnya pada panggilan ibu, ayah, kakek dan nenek yah.

Heem.

#setelah laptop dikembalikan haru segera edit.

‎​(✽ˆ⌣ˆ✽)

Ini ngetiknya di note bebe. Jadi jereng rasanya kalo mo edit.

80

banyak amanatnya~!
Sedikit typo, kak. *Salam afika

100

sukaa :)

100

komennya udah di fb ya mak
nitip poin aje :)