Vormund #prolog

 

Alta bingung mendapati dirinya tiba-tiba berada di tempat yang sangat asing baginya. Sebuah tempat –entah itu sebuah ruangan atau apa- luas nan megah dipenuhi oleh cahaya putih kemilau yang entah berasal dari mana. Di hadapannya tampak delapan singgasana megah yang tak kalah kemilaunya dari cahaya itu. Singgasana-singgasana itu tampaknya terbuat dari emas murni dan di tiap singgasana itu terdapat patung simbol hewan yang berbeda-beda. Harimau, elang, kura-kura, rusa, ular, naga, kalajengking, dan kera. Di belakang singgasana-singgasana itu terhampar dinding besar -yang entah sejak kapan berada di sana- dengan sebuah simbol phoenix besar terukir indah dengan sayapnya yang membentang lebar. Alta mengamati kesemua simbol itu dengan penuh rasa penasaran. Tiba-tiba simbol phoenix itu terbakar seakan api itu benar-benar berasal dari phoenix itu sendiri. Alta kaget dan mundur beberapa langkah . dalam satu hentakan ‘wuussss!’ api itu kini telah menampakkan wujud aslinya. Seekor borung phoenix yang anggun kini berdiri di hadapan Alta.

Aneh, Alta sama sekali tidak merasakan takut ataupun terancam. Ia malah dengan berani berjalan mendekati phoenix itu. Ketika perlahan ia melangkahkan kakinya menuju phoenix itu, disadarinya bahwa ada sesuatu yang lain yang mengikutinya di belakang. Ia menoleh. Didapatinya seekor naga merah yang besar yang nampak sedikit mengambang mengikuti langkahnya. Alta merasakan adanya sensasi aneh pada dirinya. Diulurkannya tangannya mencoba mengelus kulit naga itu perlahan. Terasa kasar dan sedikit lembab sisiknya itu. Alta kembali berjalan mendekati sang phoenix. Saat semakin dekat, ia mencoba mengulurkan tangannya hendak menjangkau sang burung api ….

“Kakak, ayo bangun!!” seseorang menggedor pintu dengan kasar. “Kakak mau tidur sampai kapan?” teriaknya lagi.

Alta mengerjapkan matanya. Ia memperhatikan sekelilingnya dan mengenali ruangan itu sebagai kamarnya.

“Cuma mimpi.” Pikirnya.

“Kakak … wooooiii!!!” Alta terlonjak kaget mendengar betapa keras teriakan adiknya itu. Ia berjalan dengan gontai dan membuka pintu kamarnya. Raymond tersenum melihat penampilan kakaknya yang acak-acakan. Sepertinya ia sangat menikmati mengganggu jam tidur kakaknya itu.

“Kakak ini kerjanya tidur mulu! Kakak mau terlambat ke sekolah, ya??” ucap Raymond sambil tertawa kecil.

“He? Sekolah?” Alta menguap cukup lebar, masih setengah sadar. Ia berjalan kembali masuk ke kamarnya, mengambil handuk saat kemudian ia menyadari sesuatu.

“Ray, ini kan hari minggu.”

“Hahaha. Makanya jangan tidur terus!”

Raymond tertawa puas karena berhasil menggoda kakaknya lagi.

Alta melemparkan handuk di tangannya pada Raymond yang tepat mengenai wajahnya membuatnya mengaduh kesakitan.

Alta tertawa namun kemudian tawanya terhenti saat menyadari ada sesuatu yang janggal. Tangannya masih merasakan dingin lembabnya sisik kulit naga.

Read previous post:  
Read next post:  
makkie at Vormund #prolog (9 years 1 week ago)
70

masih prolog,,,jadi belum bisa banyak komen..
masih bisa dieskplore lagi...
salam kenal...

Penulis smith61
smith61 at Vormund #prolog (9 years 3 weeks ago)
80

tangannya masih merasakan itu maksudnya terasa nempel? atau terasa basah?

Penulis Canak
Canak at Vormund #prolog (9 years 3 weeks ago)

Dingin lebih tepatnya pakde.

Penulis cheerfulpessimist
cheerfulpessimist at Vormund #prolog (9 years 4 weeks ago)
60

....itu tenaganya Si Alta ku-kuat =')) *ngasianin Raymond* Dan yah, ini tipikal sih, untuk selera gue belom menggigit. Tapi namanya prolog ya, gue lanjut dulu deh. =')

Penulis xenosapien
xenosapien at Vormund #prolog (9 years 4 weeks ago)
70

Ray ini sensitif amat, yak? Dilempar handuk aja sampai mengaduh. ^^a
.
.
.
Atau jangan2 di dalam handuknya ada batu bata. -_____-"

Penulis Canak
Canak at Vormund #prolog (9 years 4 weeks ago)

hehehe. emang Ray-nya aja yg sensitif. ^^a
.
.
makasih bang xeno udah berkunjung dimari. :3

Penulis nimrod
nimrod at Vormund #prolog (9 years 4 weeks ago)
100

masih prolog.