Vormund #1

Raymond memulai lagi aksinya ketika melihat Alta membaca novel dengan tenang di tangga. Ia mengendap-ngendap berusaha agar tidak ketahuan oleh kakaknya.

            “Apa-apaan kau, Ray?” ucap Alta tanpa mengalihkan sedikitpun pandangan dari lembaran novel itu. Raymond berdiri mematung. Mulutnya menganga dan benar-benar terlihat seperti orang bodoh.

“Sepertinya kakak punya mata di sini.” Ujar Raymond sambil menunjuk bagian belakang kepala Alta. Alta langsung menepis tangan Raymond.

“He?? Apa ini sungguh dirimu, kakak? Kau tampak aneh belakangan ini.” Ray segera duduk di sisi Alta sambil menopang dagu dengan tangan kirinya dan melirik halaman novel yang dibaca Alta saat itu.

“Aku tak apa, Ray.” Jawab Alta malas.

Raymond hanya diam memandangi kakaknya. Sesaat kemudian iapun menghela napas dan hendak beranjak dari tempatnya namun Alta langsung mencegahnya.

“Ray, oke oke! Kemarilah!” bujuk Alta.

Sesaat Raymond tetap berdiri di tempatnya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menatap curiga kakaknya.

“Ayolah, Ray! Hum?” kali ini Alta mengeluarkan tatapan memelasnya. Takut kalau adiknya benar-benar marah padanya.

Raymond pun mendesah lalu mengeluarkan sebuah buku bersampul hijau dari dalam tas ransel hitamnya kemudian kembali duduk di sebelah kakaknya.

“Kimia lagi?” tebak Alta. Ray hanya membalasnya dengan senyuman. Kakak beradik itupun mulai bergelut dengan materi kimia. Alta memang sering mengajari adiknya itu mengenai apapun yang berhubungan dengan kimia dan memberi pengertian pada adiknya betapa menyenangkan kimia itu.

Raymond sendiri sesungguhnya adalah sosok yang cuek dan cool.  Dan sering terlihat berkeliaran di sekitar sekolah tanpa pernah sekalipun terlepas dari ransel hitam kesayangannya. Dia tipe yang patuh, cerdas, dan … tentu saja pengecualian saat bersama kakaknya.

“Kakak, apa kakak tidak merasa terganggu di sini?” tanya Raymond. Wajahnya benar-benar menunjukkan bahwa ia tak nyaman berada di tempat itu.

“Kau kenapa, Ray?”

Raymond langsung menarik tangan kakaknya kemudian berjalan menuju sebuah ruangan kosong di lantai dua. Ruangan itu tidak terlalu gelap dan cocok sebagai tempat untuk berkonsentrasi penuh pada pelajaran.

Raymondpun bergegas menarik dua kursi di samping meja guru dan mempersilahkan kakaknya untuk duduk. Altapun kembali membuka halaman demi halaman buku kimia itu.

“Nah, Ray! Sampai mana tadi? Oh, iya! Jadi, jika asam sitrat direaksikan dengan …”

“Kakak,” potong Raymond. Kali ini nadanya terdengar serius. Alta memandang heran wajah adiknya yang tidak seperti biasanya. “Akhir-akhir ini kakak terlihat aneh. Ada apa sebenarnya?”

“Ray, sudah kukatakan …”

“Aku tahu pasti ada sesuatu!” potong Ray lagi. Alta terdiam.

“Kau yang aneh, Ray. Ada apa denganmu?” Tanya Alta menatap cemas adiknya.

“Itu bukan jawaban yang kuinginkan.” Kata Raymond tajam. Kali ini Alta benar-benar terdiam. Hening. Raymond menunggu jawaban kakaknya.

“Kau akan menganggap ini konyol!” desah Alta. Ray tetap diam menatap serius kakaknya.

“Okey, Ray! Aku tidak tahu kenapa kau begitu serius dengan masalah konyol ini. Itu … hanya mimpi, Ray …” ujar Alta seraya tersenyum masam.

“Mimpi?” Ray menaikkan sebelah alisnya tanda bahwa ia menuntut penjelasan lebih.

“Mimpi yang konyol.” Tambah Alta.

Alta pun mulai menceritakan mimpi aneh yang dialaminya beberapa hari yang lalu. Alta tak sadar raut wajah adiknya tiba-tiba berubah. Seperti melihat sesuatu yang mengerikan. Raymond langsung bangkit dari tempat duduknya dan berdiri membelakangi kakaknya.

“Ray, aku belum selesai!” gerutu Alta.

Alta terkejut melihat ekspresi Raymond. Menatap lurus ke dinding yang membentang di depan sana. Wajahnya benar-benar terlihat sangat serius.

“Ray, apa yang—“ tiba-tiba perasaan aneh itu muncul lagi dalam diri Alta. Ia merasa ada sesuatu yang lain dalam dirinya. Alta memejamkan mata berusaha menenangkan pikirannya namun gagal. Hanya bisikan-bisikan aneh dari seseorang yang didengarnya. Ada sensasi dingin yang menjalar di punggungnya menuju pundak. Lalu ia merasakan kaki kirinya mulai kesemutan dan sulit untuk digerakkan.

“Kakak …” suara Ray menyadarkan Alta kembali bahwa ia sedang bersama adiknya saat itu. Alta mencoba mengikuti arah pandang Raymond. Tak ada apa-apa di sana.

---

Ray memicingkan matanya. Tampak jelas warna warni yang biasanya ia lihat di sekitar kini benar-benar terlihat kacau. Ia tetap berdiri tegak membelakangi kakaknya. Di hadapannya, beberapa meter di depan sana, makhluk aneh mirip bayangan itu terlihat semakin jelas. Wajahnya –jika bisa dibilang seperti itu- terlihat begitu marah dan siap menghancurkan apa saja.

Makhluk kegelapan itu mulai melangkah menuju Ray dan Alta. Ray hendak menarik lengan Alta ketika tiba-tiba kakaknya itu berdiri dari tempat duduknyalalu berjalan mantap menuju makhluk itu.

“Kakak, tunggu! Jangan ke sana!”

Seakan tak mendengar peringatan Ray, Alta terus berjalan mendekati makhluk kegelapan itu.

Ray terkejut menyadari ada yang aneh pada kakaknya. Warna biru agak keunguan yang biasanya mengelilingi kakaknya itu tidak nampak. Yang ada hanyalah warna jingga kemerahan seperti kobaran api mengelilingi tubuh Alta.

Alta terus berjalan menghampiri makhluk itu. Makhluk itu terlihat jelas tidak suka dengan kehadiran Alta. Ray segera berlari mencoba menjauhkan Alta dari amukan makhluk itu. Saat ia berhasil menggapai tangan kakaknya itu, tiba-tiba saja kaki makhluk itu terlihat seperti terbakar. Perlahan mulai naik membakar seluruh tubuhnya. Terlihat jelas di mata Ray ekspresi kesakitan dari makhluk itu. Sebuah lolongan panjang yang menyedihkan dari makhluk itu akhirnya terhenti ketika api itu telah membungkus seluruh tubuh makhluk itu. Semakin lama api itu mengecil membentuk bola api kecil yang melayang di udara sampai akhirnya menghilang beserta keberadaan makhluk itu.

Ray mulai merasakan rasa panas yang menjalar di tangannya yang masih menggenggam tangan Alta. Ia terkejut saat melihat tangannya mulai memerah sampai ke siku disertai rasa panas yang semakin membakar. Iapun refleks menarik tangannya.

“Ka … Kak Alta?” Ray berusaha menenangkan dirinya. Masih shock dengan rasa panas pada tangannya.

“Frezia.” Ucap Alta dingin.

“Apa …?”

“Aku Frezia. Bukan Alta.” Jawab Alta sekali lagi sambil menatap Ray tanpa ekspresi. Ray hanya terdiam memandang tak percaya pada kakaknya. Dia ingin meledeknya seperti biasa. Itu benar-benar lelucon yang tak lucu sama sekali. Tapi … sepertinya ini serius.

“Frezia?” akhirnya Ray berucap. Ray melihat perbedaan lain pada kakaknya. Matanya yang biasanya coklat terang dan memancarkan kehangatan kini jadi hitam gelap dan kosong bahkan terkesan dingin.

“Kau Raymond, kan?” Tanya Alta yang menyebut dirinya sebagai Frezia.

“I … iya …”

“Mulai sekarang kau harus waspada.” Kata Frezia mengingatkan.

“Waspada? Kenapa—“ tepat saat Ray ingin bertanya lebih lanjut, tubuh Alta langsung melemas dan limbung. Ray segera menahan tubuh kakaknya sesaat sebelum tubuh kakaknya itu menghantam lantai.

Read previous post:  
38
points
(412 kata) dikirim Canak 8 years 44 weeks yg lalu
63.3333
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | kehidupan | auldrey_chan | fantasi | kolab | yuu_chan
Read next post:  
makkie at Vormund #1 (8 years 40 weeks ago)
80

weh,,baru sadar setelah baca komen xeno..kalo ini kolab..
hmmm,,cuman saia bingung...posisi ray yang liat makhluk bayangan itu ada dimana?

|hantu kastil sedang patroli|

Penulis odes
odes at Vormund #1 (8 years 43 weeks ago)
70

Alurnya lumayan bagus, cuma mungkin ngungkapinnya yang rada kurang tepat. beberapa ada kalimat yang rasanya nggak perlu ditulis. mungkin perlu dipadetin lagi. itu menurutku. but, good job :)

Penulis Canak
Canak at Vormund #1 (8 years 43 weeks ago)

Makasih makasih. X3
.
Perlu dipadetin lagi. /catet/

Penulis qinziro
qinziro at Vormund #1 (8 years 43 weeks ago)

Great

Penulis xenosapien
xenosapien at Vormund #1 (8 years 44 weeks ago)
70

Quote:
“Kau Raymond, kan?” Tanya Alta yang menyebut dirinya sebagai Alta.

Itu maksudnya, Tanya Alta yang menyebut dirinya sebagai Frezia, 'kan?
.
Ah, ceritanya masih misteri di dua bagian ini. Agak kaget tahu-tahu Ray bisa melihat warna2 gaib di sekitarnya, terutama di tubuh Alta. :)
.
Ini cerita kolab, tho. Pantes aja gaya tulisannya tiba2 berubah. XD

Penulis Canak
Canak at Vormund #1 (8 years 44 weeks ago)

Makasih koreksinya bang. udah diedit. (_ _)
.
Iya, ini cerita kolab tapi pake akun gabungan. :3
Beda banget gaya tulisannya ya? hihihi

Penulis xenosapien
xenosapien at Vormund #1 (8 years 44 weeks ago)

Ya, gaya tulisannya lumayan bisa dibedain lah. :D