Vormund #2

 

Sebuah sinar hitam melaju dengan cepat dan menghantam bebatuan besar yang dikelilingi rerindangan pepohonan. Beberapa bagian dari bati itu meleleh karena terkena hantaman sinar itu berkali-kali. Beberapa meter dari bebatuan itu berdiri seorang remaja laki-laki yang terlihat kelelahan. Ia membungkuk sambil memegangi kedua lututnya. Sesekali sebelah tangannya tampak mengusap keringat yang jatuh membasahi pelipisnya. Ia mengumpat kesal karena tak satupun jurusnya yang berhasil menghancurkan bebatuan itu, hanya mampu membuatnya sedikit meleleh.

“Ah, sial! Sial!” umpatnya kesal. “Padahal dulu aku bisa melakukannya dengan mudah.” Dengan marah ia kembali melancarkan jurus-jurusnya. Mengamuk menyerang bebatuan yang hanya bisa diam menerima serangan-serangannya.

Tak jauh di belakangnya, seorang gadis cantik berdiri mengamati. Dia terlihat kecewa melihat adiknya yang masih saja belum mampu mengendalikan amarahnya.

“Hentikan, Raf! Kamu mau menghancurkan semua pepohonan di hutan ini?”

Rafael menghentikan serangannya, terkejut melihat kerusakan yang dibuatnya. Pohon-pohon di sekelilingnya tampak meleleh terbakar, sementara bebatuan yang menjadi targetnya hanya sedikit terkena dampak dari serangannya.

“Semua seranganmu meleset, Raf.”

“Iya. Aku tahu, Claris. Aku bisa melihatnya sendiri. Sial! Padahal dulu aku bisa melakukannya dengan mudah.” Ucap Rafael tampak kesal.

“Dengan kekuatan hitam yang kau pelajari dulu? Kupikir kau sudah tidak ingin menggunakannya lagi.” Claris menatap dingin pada adiknya itu.

“Hentikan! Jangan menatapku seperti itu. Aku tahu aku yang salah sehingga kedua orang tua kita celaka.”

Claris tersenyum dingin. “Aku tidak pernah menyalahkanmu.” Claris mengambil batu kecil dari tanah, memainkannya di tangannya sesaat lalu melemparnya ke arah bebatuan di hadapannya. Batu kecil itu seketika memendarkan cahaya putih yang melesat dengan kecepatan tinggi dan menghantam bebatuan itu. Bebatuan itu tidak hancur, tapi sebuah lubang besar tercipta dari hantaman cahaya itu.

“Kekuatan yang tercipta dari amarah hanya akan menghilangkan fokus kita dan melukai sesuatu yang seharusnya kita jaga.”

Rafael menatap takjub dengan kekuatan kakaknya. Kekuatannya memang tidak memiliki daya penghancur yang besar, tapi ketajaman dan keakuratan serangannya tidak bisa dianggap remeh. Claris memang memiliki fokus dan konsentrasi yang tinggi yang bisa menutupi kekuatan serangannya yang tidak terlalu besar.

Rafael menundukkan kepalanya. Kata-kata kakaknya semakin membuatnya merasa bersalah. Gara-gara dia, gara-gara tidak bisa mengendalikan diri , dia telah mencelakai orangtuanya. Namun Claris tidak sedikitpun menunjukkan kemarahannya. Dia tetap tenang menghadapi Rafael. Itu yang kadang membuat Rafael semakin diliputi rasa bersalah.

“Tanpa ilmu hitam itu, kau akan bisa menguasai kekuatannmu. Kau akan kembali bisa menggunakan kekuatanmu dengan maksimal. Segera setelah kamu belajar untuk menerima dan memaafkan dirimu sendiri.” Ucap Claris berusaha bijak.

Rafael menundukkan kepalanya sambil mengepalkan kedua tangannya. Ia sadar kata-kata kakaknya memang ada benarnya. Selama ini dia belum mampu memaafkan dirinya atas apa yang menimpa kedua orangtuanya.

“Bukan saatnya untuk menyesali keadaan,” ucap Claris memecah kebisuan di antara mereka. “Aku merasakan kekuatan vormund yang besar di sekitar kita. Tapi kekuatannya tidak stabil dan sepertinya dia belum terkontaminasi dengan kekuatan hitam. Kita harus menemukannya sebelum didahului oleh black vormund.”

“Aku mengerti.” Rafael berubah menjadi bersemangat. Claris tersenyum melihat semangat dari adiknya itu. Dia menepuk pelan bahu adiknya lalu pergi tanpa mengatakan apapun.

---

Alta masih sibuk berkutat dengan soal-soal matematika di hadapannya. Ruang kelas begitu ramai, namun Alta sama sekali tidak merasa terganggu. Tiba-tiba suasana menjadi tenang saat kepala sekolah masuk diikuti oleh seorang perempuan cantik.

“Selamat pagi anak-anak. Hari ini bapak ingin memperkenalkan guru matematika kalian yang baru.” Ucap kepala sekolah sambil tersenyum ke arah perempuan muda yang mengikutinya sejak tadi. Usianya tampak masih muda, mungkin sekitar 26 tahun. Sulit dipercaya kalau dia seorang guru.

“Selamat pagi anak-anak. Perkenalkan, nama saya Ibu Claris.”

---

Read previous post:  
22
points
(1045 kata) dikirim Canak 9 years 32 weeks yg lalu
55
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | kehidupan | auldrey_chan | fantasi | kolab | yuu_chan
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
Penulis odes
odes at Vormund #2 (9 years 32 weeks ago)
70

Hmm, mungkin jangan terlalu banyak menyembunyikan sesuatu. memang sih jadi bikin orang penasaran. tapi kalo kebanyakan yang disembunyiin justru kadang bikin bingung pas dikasih solusinya. (cuma usulku) rada di kasih selingan aja :) semangat lanjutin ya!!! :)

Penulis Canak
Canak at Vormund #2 (9 years 32 weeks ago)

Jangan terlalu banyak menyembunyikan sesuatu. Beri sedikit selingan. /catet/
.
Makasih banyak atas kritik dan sarannya kak.

Penulis odes
odes at Vormund #2 (9 years 32 weeks ago)

Hmm, mungkin jangan terlalu banyak menyembunyikan sesuatu. memang sih jadi bikin orang penasaran. tapi kalo kebanyakan yang disembunyiin justru kadang bikin bingung pas dikasih solusinya. (cuma usulku) rada di kasih selingan aja :) semangat lanjutin ya!!! :)

Penulis xenosapien
xenosapien at Vormund #2 (9 years 32 weeks ago)
70

Ahahaha... Ceritanya mulai berasa anime/manga. Menarik. Tapi, perpindahan situasinya koq kerasa tiba2, ya? ^^a
.
Dan ada typo di bagian awal. :)

Penulis Canak
Canak at Vormund #2 (9 years 32 weeks ago)

Perpindahan situasi dan typo. Oke~ /catat/