Anak Nakal dan Rencananya

Aku anak nakal.

semua orang berkata seperti itu. katanya, aku sangat jorok, kotor, sering mengganggu anak-anak mereka. tapi yah, itu memang benar, aku sering merusak kesenangan anak perempuan---seperti Eva yang kulempari dengan lumpur saat ia sedang bermain rumah-rumahan---atau membuat kesal anak laki-laki---contohnya saja Malik yang kuberi pelajaran saat jam makan siang---oh benar. pak Subarjo juga pernah memanggilku ke kantornya dan menceramahiku banyak hal. dia adalah kepala sekolahku. dan aku pernah berhadapan dengannya, juga dua guru BP yang duduk rapi dikanan-kiriku. saat itu, aku merasa seperti tahanan.

tidak hanya disekolah, dirumah pun aku merasa buruk. tapi lebih parah dari yang seharusnya. Ibuku bawel, ayahku kasar. kalau membantah mereka, aku akan dikurung di kamar spesial dan duduk termenung sendirian. anehnya, aku tak pernah merasa kapok dan selalu saja membuat mereka marah. entahlah, mungkin ada yang salah dengan sistem syarafku.

uang jajanku pernah dipotong oleh ayah karena dia bilang aku sudah membuat malu keluarganya. ayahku tak pernah suka dengan tingkah binalku di sekolah. ia bahkan bercita-cita ingin memasukkanku ke sekolah tinggi dan membuatku menjadi seorang dokter. padahal aku ingin menjadi seorang pemain sepakbola.

saat aku mengatakan hal yang sejujurnya, dia malah memukulku dengan ujung sapu dan meneriakiku 'bodoh' berulang-ulang. rasa sakitnya belum seberapa saat ia melarangku untuk makan siang. sikapku yang semakin kurang ajar pada mereka, ia balas dengan cara demikian. lantas, karena kelaparan, aku pun termpaksa keluar rumah dan mencuri dijalanan. sialnya, aku ketahuan dan beberapa orang memukuliku seperti yang ayah lakukan saat dirumah.

para polisi datang dan menyeretku untuk pergi kekantornya. mereka menanyakan beberapa hal, termasuk nomor teleponku. saat itu, ayah datang dengan wajah sinisnya. ia membayar banyak uang untuk mengganti denda dan kerugian yang disebabkan oleh ulahku. tapi hei, jangan salahkan aku! aku kan menjadi lapar karena ulahnya juga!

ibu terus memarahiku disepanjang perjalanan pulang. ocehannya bisa membentuk untaian kertas yang memanjang memutari dunia. kepalaku pening, mendengar suara ibu sementara pukulan keras ayah dipipiku membuatku sadar dari lamunan.

"Sadarlah Fadli! kamu itu sudah besar! kenapa kamu tidak pernah mau berubah?!"

itu adalah kalimat terakhir---teriakan terakhir juga---yang kudengar dari ayahku.

keesokkan paginya, aku sanggup bangun tanpa harus diceramahi ibu. bahkan aku juga merapikan kasurku sebelum beranjak mandi. hari itu, aku juga menghabiskan sarapanku tanpa banyak ngeluh. dan kemudian, aku pamit dengan mencium tangan kedua orangtuaku. mereka terlihat heran dengan perilaku ku yang baru dan sangat tidak biasa. tapi, kulihat wajah mereka yang tersenyum bahagia saat aku mengucapkan salam sebelum pergi.

"Hati-hati dijalan, Fadli,"

yang aku percayai saat itu adalah, ucapan mereka merasuki jantungku seperti doa.

disekolah aku bertingkah normal. seharian penuh aku menjauhi kumpulan temanku agar tidak membuat kekacauan. aku sengaja mengucilkan diriku sendiri agar tidak ada orang lain yang bisa ku recoki. aku mendengar ucapan ayahku kemarin, dan sekarang, aku melakukannya.

aku menurutinya.

bahkan tidak hanya mereka, para guru pun terlihat takjub dengan perubahan pola tingkahku saat itu. biasanya dalam sehari, mereka akan melaporkan perilaku ku disekolah kepada orangtuaku dan saat aku pulang, ibu akan mengoceh panjang lebar soal sikap dan tata krama. tapi sekarang, telepon itu tersambung dengan nada yang ceria. aku bisa rasakan bahwa ibu Medina, membicarakan kejanggalan sikap baikku hari ini. dan aku hanya melengos pergi setelahnya.

saat waktu pulang sekolah tiba, aku memberi hormat dan mencium tangan guru-guruku sebelum kembali kerumah. pak Bagas bahkan memberiku sebuah permen dan mengatakan padaku 'jadilah anak yang baik seperti ini' sambil tersenyum bangga. aku hanya terdiam melihat cara wajahnya yang berubah asri. sebelumnya, pak Bagas adalah orang nomor satu yang sering mengerjaiku dan mempermalukanku di depan kelas---tentu saja karena aku sering mengerjainya juga di depan murid-murid---setelah puas mendengarkan petuah-petuah darinya tentang 'cara menjadi anak baik, aku pun berjalan pulang ke rumah.

di depan pintu, aku bisa rasakan sambutan yang positif dari ibu dan ayahku. mereka membawaku ke meja makan dan mengambilkan sebuah piring untukku. hari itu lauk makan soreku adalah sayur kangkung, dan ayam. dua-duanya adalah makanan kesukaanku. diluar dugaan, aku boleh makan sebanyak yang kumau karena sudah menjadi anak baik. aku tidak tahu, reaksi mereka begitu besar saat mengetahui aku berubah menjadi sosok yang mereka inginkan.

tahu begitu aku akan menjadi baik sejak awal deh.

tapi rupanya, hal ini tak membiarkan niat kecilku padam.

setelah selesai makan, aku pun beranjak dari kursi dan memeluk ibu dan ayahku. mereka balas menciumi keningku. ah, seperti keluarga sungguhan. aku juga mengatakan pada mereka bahwa aku sebenernya tidak membenci mereka. aku justru menyukai mereka.

"Kami juga menyukaimu, Fadli," setelah itu, aku pun pamit untuk pergi ke kamar dan istirahat.

samar-samar kudengar bisikkan ayah dan ibu yang menganggap bahwa punya anak dengan masa depan yang bagus kini bukan lagi impian. aku hanya mendengus malas sambil melangkah pendek menyusuri anak tangga. setelah tiba didepan kamar, aku langsung mencari sebuah benda yang sudah lama kusimpan untuk saat-saat seperti ini. aku mencarinya di lemari pakaianku, dan mengambilnya dengan hati-hati. aku mencuri benda itu dari dapur.

ah, kau menangkapku.

aku meletakkan benda itu sejenak di meja belajarku. kemudian aku berjalan mendekati kipas angin berdiri yang ada disudut kamar. aku menariknya hingga mendekati meja belajarku, kemudian kulepaskan helm---tidak tahu namanya apa---yang melindungi baling-baling kipas angin itu. setelahnya, kuambil benda 'itu' dan mengikatnya pada salah satu baling-baling.

jadi, pada saat baling-baling itu berputar. winggg, benda itu pun ikut berputar, mengikuti gerakan kipas anginku. semakin lama, putarannya semakin kencang. aku melihatnya dengan wajah yang kegirangan. tepat dibelakang kipas angin itu, aku memegangi batangnya. dan, saat kipas angin itu kuangkat dan kutidurkan ...

CRASHHH

aku bisa memotong leherku sendiri.

rasanya tidak terlalu sakit, karena kepalaku langsung terpisah secara instant.

beberapa detik kemudian, ibu datang menggedor-gedor pintuku saat ia mendengar suara janggal dari kamarku. ia tak perlu menunggu lama, karena saat tahu bahwa pintu kamarku tak ku kunci, akhirnya ia masuk tanpa permisi. dan ah, sial.

ia melihat sosokku, yang sudah terkoyak seperti daging mati.

ibu menjerit disana. keras sekali. kalau aku masih hidup, suaranya mungkin akan merusak gendang telingaku. ia memanggill-manggil nama ayah, dan membuatnya datang untuk melihatku. lagi, disana kulihat mata yang menatap ngeri. ayah terpaku seperti disiram air es yang beku sementara ibu terlihat gaduh untuk sekedar memencet nomor rumah sakit.

disinilah letak kemenanganku.

aku sudah merencanakan ini sejak jauh-jauh hari. aku ingin membuat kesan yang baik sebelum bunuh diri. supaya ibu dan ayah bisa merasakan kepedihan yang amat sangat. aku senang bisa membalaskan dendamku selama ini. akhirnya aku bisa membuat mereka merasakan apa itu yang dinamakan sakit hati.

PIPPPPP

aku tersadar dari tidurku. mataku mengerjap pelan, dan butuh beberapa detik bagiku untuk mengamati sekitar. kubuka gorden jendela dikamarku, langitnya masih gelap. aku memutar badan dan menuju kasurku. kurapikan kasur itu, dan kemudian, aku pun berjalan kecil menuju kamar mandi.

oke, mulai dari sini, rencana bunuh diriku akan dimulai.

Fin

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer someonefromthesky
someonefromthesky at Anak Nakal dan Rencananya (9 years 34 weeks ago)
70

Kenapa awal kalimat pakai huruf kecil? Apa disengaja?

Ide ceritanya lumayan menarik. Anak kecil itu terkesan naif, tapi pemberani juga ya. Mungkin ada masalah kejiwaan, karena kalau orang normal pasti nggak akan berani melakukan hal semacam itu. Saya pikir akan lebih menarik kalau diceritakan lebih detail lagi mengenai kebimbangan sang anak saat akan bunuh diri karena merasakan kasih sayang orang tuanya. Sepertinya itu akan lebih menegangkan. :)

Writer Bloodberry Lime
Bloodberry Lime at Anak Nakal dan Rencananya (9 years 34 weeks ago)

wakakaakk! hayo kan bingung namanya apa? XD
kayaknya situ baca di note FB deh XD makasih ya udah mampir meninggalkan jejak bukti (?)

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Anak Nakal dan Rencananya (9 years 34 weeks ago)
80

suka konten ceritanya

Writer Bloodberry Lime
Bloodberry Lime at Anak Nakal dan Rencananya (9 years 34 weeks ago)

Makasih XD

Writer Bloodberry Lime
Bloodberry Lime at Anak Nakal dan Rencananya (9 years 34 weeks ago)

anak-anak kan kadang unpredictable U.U

Writer amfoang timur
amfoang timur at Anak Nakal dan Rencananya (10 years 4 weeks ago)
70

bagus,bagus baguusss

Writer Bloodberry Lime
Bloodberry Lime at Anak Nakal dan Rencananya (10 years 3 weeks ago)

Sankyu~ :D

Writer stilldaydreaming
stilldaydreaming at Anak Nakal dan Rencananya (10 years 21 weeks ago)
80

Halo, saya coba komentar ya, hehe.
Untuk narasi menurut saya sudah mengalir, dan saya pun ikut larut dalam cerita. Untuk sebuah ending yang seperti ini, sy rasa pola-nya sudah pas. :D.
Untuk penulisan saya rasa sudah dibahas oleh yang lain. Hmmm, yang jelas cerita ini dark ya....>.<

Writer Bloodberry Lime
Bloodberry Lime at Anak Nakal dan Rencananya (10 years 21 weeks ago)

haha ... efek galau *PLAK*
Makasih ya udah mampir XDD salam kenal! :)

Writer Shinichi
Shinichi at Anak Nakal dan Rencananya (10 years 21 weeks ago)
90

great~!

ini termasuk cerpen yang saia suka. tanpa terasa penulis menggiring pembaca ke dalam imajinasinya. keren! saia gak sadar hingga akhirnya tiba di penutup. hihihi. berasa aneh karena cerita ini minim komentar. ckckckck. semoga ini hanya masalah selera saja.

bdw, preposisi "di" ditulis terpisah dengan kata setelahnya, lho. ehehehe. cuma itu yang bisa saia sampaikan sebagai saran. dan, mungkin penggunaan kapital di awal kalimat. namun, jika melihat cerpen ini yang konsisten dengan "pelanggaran" itu, saia pikir ada alasan-alasan lain yg mungkin bisa diterima. overall cerita ini sangat bagus malah.

kip nulis

ahak hak hak

Writer Bloodberry Lime
Bloodberry Lime at Anak Nakal dan Rencananya (10 years 21 weeks ago)

yang aku tahu soal preposisi 'di', ada yang terpisah, ada yang enggak. nih aku copas ya dari temenku yang pernah ngekritik :

Soal awalan di- itu disambung dengan kata selanjutnya jika kata tersebut dapat diberi imbuhan me-

Contoh:

1. 'Atas', kata tersebut diberi awalan di- menjadi 'di atas'. Gak digabung, soalnya gak bisa diberi imbuhan me- jadi 'mengatas'.

2. 'Makan', kata tersebut diberi awalan di- menjadi 'dimakan'. Digabung, soalnya bisa diberi imbuhan me- jadi 'memakan'.

Sementara di fic ini banyak kesalah seperti: dibawah, diruang, disini, disana, de el el yang harusnya dipisah.

apa peraturan tulis-menulis ada yang beda ya? :O

Oh iya, apa ini masuk ke pelanggaran? *penasaran liat tulisan pelanggaran diatas*

sebelumnya, Makasih ya udah mampir XD salam kenal XDD

Writer Shinichi
Shinichi at Anak Nakal dan Rencananya (10 years 20 weeks ago)

:)

ada yg saia pikir perlu dilurusin. preposisi berarti kata depan atau kata tunjuk. makanya, saat "di" berfungsi sebagai kata depan atau untuk menunjukkan sesuatu, maka ia ditulis terpisah dengan kata setelahnya: di atas (menunjukkan atas), di dalam (menunjukkan di dalam). nah, kalo yg kamu bilang "di" sebagai imbuhan, itu baru digabung. karena selain digunakan sebagai preposisi, "di" juga merupakan imbuhan (awalan) untuk membentuk kata kerja pasif. jadi, mungkin kamu keliru. preposisi "di" memang dipisah dengan kata setelahnya dan ketika "di" berfungsi sebagai awalan, maka ia disambung.

dan soal pelanggaran, saia membuatnya dalam tanda petik. karena saia pikir awalnya, "di" sebagai preposisi (Dalam cerita ini) hampir disambung semua. saia mengira penulis punya motif lain kenapa penulisan preposisi tersebut dilanggar tata aturannya. beberapa penulis punya alasan2 tersendiri, seperti membuat prosa dengan tanpa menggunakan kapital di setiap awal kalimat, penggunaan kutip tunggal untuk mengapit kalimat langsung (dialog), alasan2 seperti.

bdw, peraturan tulis-menulis atau lebih enaknya disebut kaidah penulisan disusun dalam EyD. KBBI memuatnya. dan itu bukan beda2. tapi beberapa memang ada kesimpangsiuran. sekali lagi, preposisi bermaksud kata tunjuk. saia katakan pada komentar sebelumnya preposisi "di".
kip nulis

Writer Bloodberry Lime
Bloodberry Lime at Anak Nakal dan Rencananya (10 years 20 weeks ago)

Oh, kalo begitu saya yang salah karena typo (lol) XD

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Anak Nakal dan Rencananya (10 years 21 weeks ago)
80

ugh...
cabe dikit, untuk awal kalimat jangan lupa pake huruf besar ya

Writer Bloodberry Lime
Bloodberry Lime at Anak Nakal dan Rencananya (10 years 21 weeks ago)

awal kalimat? Okeeh XD

Writer me.awp
me.awp at Anak Nakal dan Rencananya (10 years 21 weeks ago)
70

ups.. ironi..

Writer Bloodberry Lime
Bloodberry Lime at Anak Nakal dan Rencananya (10 years 21 weeks ago)

iya nih xDD haha

Writer Sadur
Sadur at Anak Nakal dan Rencananya (10 years 21 weeks ago)
80

Not to bad.
Keep writing.

Writer Bloodberry Lime
Bloodberry Lime at Anak Nakal dan Rencananya (10 years 21 weeks ago)

Sankyu Sadur XD