Printo Merekayasa Mimpi

Semenjak kecil Printo selalu memiliki impian aneh yang tak pernah ia bagi dengan orang lain. Pernah sekali ia ceritakan pada seorang temannya. Sebuah tindakan yang selalu ia sesali seumur hidup.

Ia selalu ingin untuk dapat membagikan mimpi kepada orang-orang. Siapa sangka mimpi sedemikan indah itu ternyata terasa asing di tengah desa yang semua warganya hanya dapat berpikir makan apa untuk sore ini dan esok pagi.

Printo tak habis berpikir dengan impian. Ia mencintai mimpi. Dalam hati ia berharap mimpi juga mencintainya. Lapangan rumput hijau yang luas tak pernah cukup untuk dunianya. Dalam mimpinya, seluruh dunia adalah panggung sandiwaranya. Dia adalah pemain tunggal, Sutradara, sekaligus penonton satu-satunya. Ia cinta dunianya.

Suatu kali saat ibunya mati, Printo kecil hanya diam saja saat mendengar kabar itu dari bibinya. Ia ingin bersedih namun tak habis pikir ia harus sedih tentang apa. Ia kemudian menanyakan sebuah pertanyaan kepada bibinya:

"Haruskah aku bersedih tentang Ibu yang mati di sini atau Ibu yang tak pernah kumiliki di dalam mimpi?"

Bibinya-bingung dan tak percaya dengan pertanyaan Printo- tanpa pikir panjang menempelengnya. Printo kecil diam. Ia menangis sebentar, kemudian ia tak pernah menangis lagi. Ia tak menangis saat pemakaman ibunya. Ia juga tak menangis saat Ayahnya -satu-satunya keluarga yang ia miliki- meninggal. Lalu kemudian begitu saja Printo kecil pergi dari desa itu.

Beberapa tahun berselang, Printo kembali ke desa itu. Bocah laki-laki kecil itu telah menjelma menjadi lelaki gagah yang kaya. Ia berhasil mewujudkan mimpinya dalam bentuk paling ironis yang pernah ia bayangkan. Betul ia berhasil membagikan mimpi pada orang-orang. Betul ia membuat orang bahagia. Tapi...

Printo ingat tempat-tempat yang biasa ia kunjungi saat ia kecil. Ia tak bisa tersenyum walaupun ingin. Warga desa yang berpapasan dengannya saat mondar-mandir menatapnya dengan tatapan kagum dan takut sekaligus. Mereka tak ada yang mengenal Printo lagi.

Printo merasa harus pergi. Desa ini sudah tak ada gunanya bagi ia lagi. Ia tak merindukan Orang Tuanya. Ia ingin sekali menampar balik bibinya, namun ia ternyata sudah meninggal beberapa bulan setelah ia meninggalkan desa. Sudah tak ada orang yang berarti baginya yang masih hidup di desa ini, Dirapikannya barangnya lalu dimasukkan ke kereta kuda.

Printo hendak pergi diam-diam saat tengah malam. Ia merasa tak perlu berpamitan dengan warga desa. Sudah malam saat ia hendak pergi dari rumahnya. Kemudian di depannya tampak berdiri sesosok orang familiar,

"Kau pergi Printo?" ujar gadis itu.

Printo hanya mengangguk. Ia menggigit bibir.

"Tak sempat kah kau mengucapkan selamat tinggal pada warga desa? Orang tuamu? Atau setidaknya padaku?"

Printo hanya menatap tanah. Ia tahu suara ini. Ia mencintai pemilik suara ini. Ia hanya menggigit bibir.

"Hey jawab, bodoh!"

Printo menegakkan wajahnya kemudian berkata pendek, "Anna..."

Gadis itu tersenyum. Rembulan seperti hinggap di pundaknya dan awan enggan menutupi wajahnya. Rambutnya yang panjang dikepang menjadi dua ke kanan dan ke kiri. Bentuk tubuhnya sudah jauh berbeda dengan Printo terakhir ingat. Ia semakin kurus. Tapi raut wajah itu, siapa yang dapat melupakan raut wajah seperti itu?

"Kau ingat waktu kita kecil Printo? Saat kita dan anak-anak warga desa lain semua saling bercerita tentang mimpi kita?" tanya Anna.

Printo diam kemudian mengangguk pelan. Mana bisa ia melupakannya?

"Aku ingat mimpimu. Kau bilang kau akan membagikan impian pada orang-orang di seluruh dunia. Dan lihatlah kau kini! Kau berhasil!"

Printo hanya diam. Ia tak berniat apa-apa, ia hanya mendengarkan. Setengah mati ia ingin mendengarkan suara gadis ini.

"...mengambil mimpi orang dan menjadikannya obat lalu menjualnya kepada orang kaya...Wow! Siapa yang dapat melakukan itu selain kau, Printo!"

Printo merasa ditempeleng keras. Sejak kecil ia bercita-cita ingin membagikan mimpi pada orang-orang. Siapa sangka kini ia menjadi penjual mimpi kepada orang-orang kaya? Ia membeli mimpi milik orang-orang miskin, mengekstraknya, menjadikannya kapsul lalu menjualnya kepada orang-orang kaya yang tak mampu tidur lagi.

"....a..." mulut Printo terbuka ingin berbicara tapi kemudian tertutup lagi. Ia tak ingin bicara apa-apa. Ia hanya ingin mendengar. Ia ingin mendengar suara gadis ini terus.

"Kenapa Printo? Aku memujimu!" ujar Anna riang.

Printo tak tahu harus bilang apa. Ia hanya diam membatu. Pikirannya tak pergi kemana-mana. Lampu jalan menyala di atas mereka. Awan diam-diam menelan pelan cahaya-cahaya lampu tersebut.

"Printo..." ujar Anna pelan. Nada suaranya berubah menjadi lembut. Teramat lembut.

"Anna..." ujar Printo pelan. Angin berhembus di sekitar mereka namun enggan untuk menyentuh mereka.

"Ah, kau memanggil namaku akhirnya..." Anna tersenyum.

Printo menginggit bibir. Lidahnya kelu. Ia ingin berkata-kata namun huruf-huruf sudah meledak di atas lidahnya dan hilang menjadi debu diudara.

"Kau ingat saat kau menceritakan mimpimu aku juga menceritakan mimpiku. Masih ingatkah kau Printo?"

Printo hanya diam. Ia menggigit bibir lebih kencang. Bola matanya semakin jernih. Bibirnya berdarah.

Anna tersenyum. Ia menatap Printo perlahan. Angin berhenti berhembus. Suara hewan berhenti. Malam hanya meninggalkan sunyi. Malam hanya ingin ada suara Anna saat ini Suara Anna terdengar jernih. Cahaya rembulan tampak sendu dibandingkan dengan wajah Anna saat ini.

"Aku ingin jadi istrimu. Dari dulu hingga sekarang...."

Pertahanan Printo habis sudah. Bibirnya robek dan berdarah tapi ia tak pedulu. Lututnya lemas dan seperti kehilangan tenaga ia terduduk di atas tanah. Kemudian ia menangis sekuat-kuatnya.

***
Printo kecil dan Anna kecil selalu bermain bersama-sama. Lapangan rumput dekat desa adalah tempat favorit mereka untuk bermain. Saat sedang berbaring diatas rumput mereka membicarakan tentang mimpi. Printo berkata bahwa ia akan menjadi seseorang yang membagikan mimpi pada orang lain. Kemudian ia bertanya kepada Anna, apa impiannya?

Anna berdiri dari tidurnya. Lalu dengan matahari mulai terbenam dibelakangnya, ia berkata pelan dan jernih,

"Aku ingin jadi istri Printo."

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Shinichi
Shinichi at Printo Merekayasa Mimpi (9 years 6 weeks ago)
90

sialan! *ngelirik koment lain*

kenapa member kemudian.com tercinta ini bisa-bisanya melewatkan cerita dengan alur dan narasi terbaik (selama beberapa minggu) ini? jarang banget saia nemu cerpen yg diceritakan dengan lembut begini. malah saia sempat merasa member kualitas tulisan2 di kemudian.com (cerpen) mengalami degradasi. atau monoton. semua pada ngekhayal. ahak hak hak. tapi ini hanya pendapat pribadi. semoga bukan sinisme. tapi, cerita ini secara keseluruhan sudah cukup baik. mungkin masih ada typo. namun, itu hanya masalah kecil.

saia sangat menyukai cerpen ini. tuturnya dan konsep dasar: bercerita. dan terlebih lagi dengan analogi mimpi, penjual mimpi, tema yang akrab. kaum marjinal. dan melepaskan kesan menggurui, cerpen ini memiliki pesan yang cukup tersirat.
kip nulis

saia akan menanti cerpen2 berikutnya :D

ahak hak hak

Writer devil_garuda
devil_garuda at Printo Merekayasa Mimpi (9 years 6 weeks ago)

hehe aduh terima kasih, jujur saya jadi tersipu dengan komentar semacam ini. Terima kasih :)

Writer me.awp
me.awp at Printo Merekayasa Mimpi (9 years 6 weeks ago)
90

Uhuy... mantap alurnya.

Writer devil_garuda
devil_garuda at Printo Merekayasa Mimpi (9 years 6 weeks ago)

hehe terima kasih :)

Writer Sadur
Sadur at Printo Merekayasa Mimpi (9 years 6 weeks ago)
80

Hmm....
Asyik juga.

Writer devil_garuda
devil_garuda at Printo Merekayasa Mimpi (9 years 6 weeks ago)
100

Tes