Cerita Terkenang dalam Penjara Suci "Cahaya Baru" alias Nurul Jadid

MEMPERSEMBAHKAN

 

SEBUAH CERITA YANG TERKENANG

DALAM PENJARA SUCI YANG BERNAMA….

“CAHAYA BARU”

(Nurul Jadid)

 

 

 

Ah! Aku sudah terlalu tua untuk mengenangnya! Itu 17 tahun lalu, aku pernah menempuh hidup di sana lebih dari 999 hari. Tanah luas yang terpencil. Perlu menempuh jarak hampir 17 km dari jalan angkutan umum untuk mencapai gerbangnya yang tua. Bukan berlapis beton atau tembok bata yang kokoh. Melainkan jejaring bambu yang jelas-jelas terlihat usang. Namun bukan berarti mudah untuk melalui pembatas penjara suci atas kalimat suci ‘bismillah’ yang terpampang di papan gerbang masuknya. Di balik itu, sudah pasti para pasukan, para pembela, dan para abdi, siap menyambutku sebagai jelata baru!

Ya, akulah seorang Bakal dari ratusan lain yang akan menghuni di dalamnya sebagai sang Jelata!

Nurul Jadid, Juni 1994. Sekitar bulan itu, aku dan 3 kerabatku yang lain menginjakkan kaki di balik gerbang keagungan yang belum tentu dibuka 3 kali dalam satu tahun. Kami diantar oleh dua pengurus Pesantren yang bermuka tenang. Sebuah pondok sarat penghuni, dan baru saja usai berlangsung acara diba’iyah. Di sanalah kami berhenti. Yang aku tahu sebelumnya dari pengurus pendaftaran santri baru, kamar yang kami datangi  terdapat sekitar 60 penghuni kamar. Kebetulan kami datang saat setengahnya sedang berada di sana. Dan mereka semua menoleh pada kami berempat. Semua mata mereka menyiratkan kalimat ‘selamat datang pada penderitaan dan harapan’.

Kami terdiam. Aku, sepupuku Herlina, dan kerabat bibiku Marwiya. Kami tidak cukup berlama-lamaan untuk memperhatikan mereka satu persatu. Ku lirik Lina di sebelahku, tampak dua kelopak matanya yang sembab dan agak bengkak. Jelas sekali karena aku tahu sudah 1 jam dia menangis, bahkan sampai detik itu belum usai ia mengusap airmatanya. Sedangkan Marwiya, wajah cantik dan sepasang matanya yang sipit pun mengatakan keengganan untuk segera memasuki area gladiatorium.

“Begini disebut kamar?” raut muka Lina makin masam. Kami memandangi tumpukan tas di sudut ruangan.

“Koper, tas, dan kardus di tumpuk di sana ya?” kata seorang pengurus yang mengantar kami sampai ke kamar. B1, demikianlah nama kamar itu seperti papan nama yang terpampang di bagian atas pintu masuk yang sempet aku lihat sebelumnya.

“Ditumpuk?!” Marwiya tampak enggan.

“Yang tidak dipakai ditumpuk di sana, tetapi kalau masih dipakai, lebih baik dijejerkan bersama tas yang lain,” begitu jawab seorang pengurus lain kepada kami.

“Tidak ada lemari, Kak?” Tanya aku setelah sesaat melihat sekeliling. Pengurus itu hanya tersenyum datar. Tidak perlu menjawab pun, aku sudah tahu kondisi dalam ruangan, nyaris tanpa celah jendela, tanpa meja, tanpa karpet, tanpa lemari. Sekeliling ruangan berjejer dan berhimpit beraneka macam koper, tas besar, bahkan kardus penyimpan baju. Sebut saja itu pengganti lemari. Tidak ada seinchi pun celah antara tas yang berjejer mengelilingi ruangan. Tiga besar koper kami semakin mendesak koper-koper itu.

“Kami memang terpaksa harus berbagi. 60 santriwati, 60 nama, 120 pasang mata, 1200 watak tak menentu, berbaur dalam ruangan yang berukuran sekitar 6 x 6 meter.

“Allahu Akbar!” seorang santriwati tersentak, terjaga dari tidurnya, menggeliat sebentar setelah menyadari kedatangan kami sebegai penghuni baru. Cepat-cepat ia terduduk dari posisinya terbaring lantai tanpa beralas apapun kecuali sarung kucel yang menyelimuti sbagian kakinya. Dalam hati, aku sama terpekik dengan dia. Tersadar betapa kamar ini semakin sesak dengan 64 penghuni.

“Para Ukhtiku sekalian, kita kedatangan santriwati baru. Yang ini, namanya Herlina, yang ini Marwiya, yang ini Erna, dan yang ini…Hidayanthi!” pengurus yang belum kutahu namanya, terakhir telunjukknya mengarah padaku. Aneh! Dia sudah tahu nama kami padahal kami belum tahu namanya. Bahkan ia juga tidak salah memperkenalkan nama kami dengan tepat.

“Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh!!!” hampir semua serentak.

“Semoga cepat betah dan sukses sampai akhir kelulusan!” sebagian menambahi.

“Semoga tidak bandel dan tidak nakal!” tambah yang lain juga.

“Tidak rewel dan tidak cengeng!” beberapa tidak mau kalah juga.

“Wa’alaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh…,” kami bertiga tertunduk, pun menjawab lirih, tidak sepadan dengan suara sejumlah pelantun salam berikut celotehan yang ramai. Sebagian santriwati langsung mengajak kami berbaur. Kebetulan saat itu hari jum’at, dimana jadwal kegiatan libur dan sehabis sholat dhuhur akan terasa nikmat untuk dihabiskan dengan santai dan tidur-tiduran. Tampak beberapa santriwati hilir mudik, rupanya mereka mengantri untuk memasak mie instan. Puluhan dari mereka memasang giliran masak dalam mangkuk masing-masing, menunggu satu panci dengan kompor minyak yang sama. Sekitar 13 orang yang berhasil masakannya matang, 5 orang terakhir tidak dapat kebagian masak karena minyak tanah alam kompor sudah kering. Terpaksa mereka mencari kompor lain dari kamar lain, tentu saja dengan membayar uang ganti 200 rupiah.

“MasyaAllah…,” aku sedikit melenguh.

“Kenapa, Dik?” seorang pengurus memperhatikan tingkahku yang gelisah.

“Dua teman kamu masih menangis. Kamu tidak, hebat ya…. Jarang sekali santriwati baru yang datang pertama kali di sini tanpa airmata.” Lanjutnya.

“Oo…, begitu ya Kak?” aku tersenyum sembari melihat sebentar pada Herlina, Erna, dan Marwiya yang duduk meringkuk di sudut tumputan bantal guling. Punggung mereka agak terguncang. Isakan terdengar dari cara mereka meringkuk.

“Aku haus, Kak…” kataku lirih. Terakhir kali kuteguk air mineralku kira-kira satu jam yang lalu.

“Ini air, minumlah!” kata pengurus itu menyodorkan sebotol besar berisi 1500ml. Entah darimana dia menyodorkan itu, langsung saja aku menyambarnya dan meneguk sebanyak mungkin, tidak terasa hanya tersisa setengah.

“Segar, Kak! Dingin airnya…,” kataku lega dan puas. Pengurus itu tersenyum.

“Namaku Siti Fathonah. Panggil saja Kak Fath,” katanya.

“Oo, iya Kak Fath,” tanggapku.

“Kalau airnya masih kurang, nanti ambil saja di sana ya,” kata Kak Fath sembil tangannya menunjuk ke satu tandon besar area wudhu,”

“Yang tembok poreselin merah itu?!” tanyaku.

“Iya, ayo ikut aku! Sekalian kita mengambil air buat teman-teman kamu,” kata Kak Fath sambil mengajakku dan membawa 2 botol yang sama besar. Kami menuju area wudhu. Tandon air setinggi meter dan kira-kira berdiameter 5 meter, di sekeliling nya terpasang kran-kran. Aku mengikuti Kak Fath yang berdiri di salah satu kran dan menadahi air yang mengalir ke 2 botol.

“Itu air mentah Kak?!” aku bergidik.

“Iya! Sejuk, dingin, dan nikmat!” lanjutnya manatap dengan senyum lebar.

“Apa tidak menyebabkan sakit perut atau diare nantinya?” rasa khawatirku makin menjadi. Sementara perhatianku sesekali beralih pada santriwati yang hilir mudik ke area wudhu. Bukan hanya berwudhu, tetapi mereka juga kembali dari area wudhu dengan membawa sebotol air. Rata-rata mereka begitu. Sementara suara pemompa air bertenaga generator sangat hingar binger terdengar.

“Mumpung airnya sedang penuh, biasanya pompa dihidupkan hanya 2 kali dalam seminggu!” kata Ka Fath. Aku belum berhenti merasa heran berada di tempat baruku sekarang.

“Yuk, Kita kembali ke kamar!” ajak Kak Fath.

Sekembalinya ke kamar B1, aku menghampiri Herlina, Erna, dan Marwiya yang mulai agak tenang. Aku menyodorkan dua botol air pada mereka. Mereka langsung meneguknya. Beberapa kali tegukan, botol-botol berisi air penuh terisisa seperempat air saja.

Tiba-tiba terdengar suara menggema dari luar, berasal dari corong-corong pengeras suara yang di pasang ke ujung tiang-tiang setinggi 3 meter. Juga pengeras musholla yang makin memperjelas pengumuman mengudara.

“Para santri dimohon berkumpul di musholla untuk acara dzikir bersama!!!”

Sebagian besar santriwati penghuni kamar menggumam kurang senang saat mendengar pengumuman yang baru saja disuarkan.

“Kok tumben Kak, ini kan hari libur. Biasanya jam istirahat nih! Baru ada kegiatan nanti jam 5 sore, tapi ini masih jam 2!” beberapa santriwati melempar suara pada Kak Fath sebelum keluar. Mereka hanya memandangi kami dan Kak Fath dari ambang pintu. Kak Fath hanya mengangguk sambil menjawab,

“Ikuti saja, mungkin ada pengarahan ajaran baru dari Pengasuh Nyi Masruroh! Udah sana!”

Aku melihat suasana ruangan sepi seketika. Hanya ada aku, Herlina, Marwiya dan Kak Fath. Seorang pengurus kamar B1 yang lain dating dari arah pintu.

“Fath, ayo kita juga segera menyusul ke musholla!” ajaknya.

“Terus mereka ditinggal?” Tanya Kak Fath pada seorang pengurus itu.

“O ya, kita belum berkenalan ya. Namaku Dina, pengurus juga di kamar B1. Kalau perlu bantuan, panggil aku atau Kak Fath ya. Tidak usah sungkan. Karena kalian santriwati baru, jadi boleh untuk tidak menghadiri acara dzikir dan pengarahan dari Pengasuh Pesantren. Lebih baik kalian beres-beres barang saja dulu. Kami tinggal ya,” katanya sebelum pergi bersama Kak Fath.

Kami terbengong dalam kebisuan. Herlina tampak sudah tidak menangis lagi. Namun matanya yang memerah bengkak masih terlihat jelas. Sedangkan Marwiya dan Erna menelan tegukan terakhir dari botol yang kuberi tadi.

“Panas sekali! Gerah!” kata Marwiya, “Aku bisa hitam nih satu bulan tinggal di sini!” lanjutnya sambil berkipas dengan jilbab yang dibukanya segera.

“Ho oh! Haus banget nih!” tanggap Erna, mengusap wajah dengan tisu berkali-kali.

Aku ingat, Nurul Jadid yang berarti Cahaya Baru, terletak di kawasan Terdekat Pantai Glinting Paiton Probolinggo. Tentu saja sangat terik dan sering terjai hujan petir. Itu yang pernah aku dengar dari orang-orang tentang Pesantren yang saat ini kami berada.

Tanah ini, berumput. Banyak dibangun pondok-pondok sederhana yang berpenghuni sekitar 50-70 orang masing-masing di dalamnya. Sebagian bangunan yang bergaya tembok dan porselin, tampak dari pintu aku melongok keluar. Mungkin di sana hanya untuk para santriwati yang mampu membayar dengan kategori menengah.

“Kok kita tidak tinggal di sana ya?” tanyaku sendiri tapi Erna menanggapi serius.

“Kamar ini reyot, lantai-lntai bamboo dan kayu tua. Lihat dari sini, katak dan ular bisa terlihat!” celotehku asal setelah mengintip dari celah-celat lantai bamboo. Banyak sampah-sampah kecil tenggelam dalam rerumputan. Bungkus permen, bolpoin bekas, tisu basah, bahkan bungkus mie instan.

“Mana ada Ular?!!” Herlina terkejut dan bergeser ke arahku.

“He he, becanda! Gak ada ular kok, Cuma sampahnya banyak!”

“Jorok!!!”

Kami berempat menungging, mengamati di balik celah-celah lantai bambu tempat kami berpijak di atasnya.

“Aku masih haus nih! Ambil air lagi, yuk!” pinta Herlina.

Aku terdiam saja.

“Yakin mau ambil air?”

“Kenapa memangnya?” Tanya Herlina heran padaku. Aku tatap balik Erna dan Marwiya, sama herannya.

“Sejuk, dingin, segar!” kataku mengulang kata-kata mereka sbelumnya saat meneguk air-air di botol itu.

“Emang airnya segar kok!” timpal Marwiya.

“Ya benar segarlah, itu kan air mentah dari sumur. Dipompa, ditampung tendon, terus ditadahi melalui kran! Segar kan?!” kataku melotot.

“Hah?!!” Herlina, Marwiya dan Erna terkejut bukan main. Memandangi botol-botol kosong di tangan mereka masing-masing.

“Ngerjain aku?! Pantes kamu gak berani minum!” Marwiya sewot. Sementara Herlina nedadak mual-mual. Bukan karena alergi, tapi karena terkejut kalau ternyata airnya yang barusaja diminum adalah air mentah dari kran.

“Aku juga minum tadi, setengah botol!” aku juga menunjukkan ukuran yang sama sebanyak yang diminum Erna.

“Sakit perut gak nantinya?!” heran Herlina belum usai.

“Ya..kita lihat aja nanti!” kataku asal.

“Mau kemana, Hidayanthi?” Marwiya mengekor di belakangku.

“Yaa…ke Tandon! Katanya mau mengambil air lagi?!” ujarku seraya menoleh pada Marwiya dan Erna yang tiba-tiba semangat.

“Aku juga ikut!” Herlina buru-buru mengejar.

Hari itu juga, kami berempat langsung ‘doyan’ air tendon meski mentah. 3 tahun kami konsumsi air tendon yang sama. Tidak Pernah berakbat sakit karenanya mungkin itulah berkah!

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

nggak kebayang dalam satu kamar sebanyak itu.
.
Err, menurut saya, ada sesuatu yang kurang. Ini PoV 1, tetapi pikiran si tokoh utama kurang tergali. tapi hanya pendapat saya loh, kak. XD
.
EYD-nya diperbaiki lagi, ya kak. Olalala~!

Assalamu'alaikum.