Kepanikan di Tengah Badai Sapu

“Cepaattt!!! Selamatkan Ratu dan anak-anak!!!”

Ruangan yang mirip gua itu dipenuhi oleh suara-suara kepanikan para penghuninya. Berlarian menyelamatkan diri. Sekaligus bahan makanannya.

Tangis pecah. Menggema. Menambah riuh suasana.

Para betina sibuk mengarahkan anak-anak yang ketakutan. Sementara itu. Para pejantan juga tengah sibuk menyelamatkan bola-bola putih yang berada di punggung mereka. Membawanya memasuki lorong tempat persembunyia. Tak ada satupun pejantan yang tinggal. Mereka kembali. Menggendong kembali bola-bola yang tertinggal. Tidak sedikit. Banyak. Terlalu banyak.

Aku masih melihat kesibukan itu. Jika bukan karena Ratu yang melarangku. Aku pasti tengah berkutat disana. Menggotong bola-bola kecil itu dengan lengan mungilku.

“Cepatlah!” Itu suara Sang Ratu. Suaranya masih terdengar merdu meski dilanda kepanikan. “Badai Sapu tinggal satu jam lagi. Jika waktunya tidak mencukupi, tinggalkan saja,” titah Sang Ratu kepada para pejantan, yang hanya dijawab dengan anggukan.

“Bagaimana Ratu bisa tahu kalau sebentar lagi akan ada Badai Sapu?” tanyaku. Nuraniku mencelos. Menatap nanar pada guratan kesedihan bercampur kepanikan mereka. Aku hanya berpikir, Ratu akan menyia-nyiakan tenaga mereka yang seharusnya tengah bekerja itu jika saja pernyataannya salah.

“Tradisi,” jawabnya singkat.

Aku langsung melemparkan tatapan tak mengerti ke arahnya.

Dia tersenyum. Senyuman Ratu dari Koloni Semut Merah ini memang yang paling memesona. “Ya. Selalu begitu. Bahkan sebelum kau lahir, Fredo.” Kali ini Ratu menatapku. “Hari ini adalah jadwalnya. Tepat pukul empat.”

Pukul empat? Kurang dari setengah jam lagi? Mereka tak akan bisa mengangkut semua telur itu tepat waktu. Akan berbahaya jika mereka masih disana bersama telur-telur itu. Aku harus membantu, tekadku. Tak peduli pada larangan Ratu.

Aku melangkah mendekati jalan keluar dari persembunyian ini. Aku sudah memantapkan hati.

Sesuatu menarikku. Bukan tangan Ratu tentunya. Ini lebih kecil. Aku memalingkan wajahku. Menengok ke belakang. Putri Vesha tengah menatapku dengan mata berairnya. “Jangan pergi!”

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
60

Ceritany Unik...

Di Tambah Donk...

Nanggung Klo Githu...

Endingnya Kagak Jelas :P

Hebat Juga Yaa, Semut Bisa "membaca" "Jam Manusia"

Mungkin Lebih Natural Jika Pakai "Jam Alam"

Atau "Jam Kebiasaan" kebiasaan yg biasa di lakukan manusia dlm cerita tersebut sebelum datangnnya "pukul empat"

Ini maksud kalimat yg aku komentari :
Dia tersenyum. Senyuman Ratu dari Koloni Semut Merah ini memang yang paling memesona. “Ya. Selalu begitu. Bahkan sebelum kau lahir, Fredo.” Kali ini Ratu menatapku. “Hari ini adalah jadwalnya. Tepat pukul empat.”

Pukul empat? Kurang dari setengah jam lagi? Mereka tak akan bisa mengangkut semua telur itu tepat waktu. Akan berbahaya jika mereka masih disana bersama telur-telur itu. Aku harus membantu, tekadku. Tak peduli pada larangan Ratu.

Jadi si semut yg aku baca disini, "seperti melihat & mengerti penunjuk waktu/jam yg ada di rumah manusia tersebut"

Writer ria
ria at Kepanikan di Tengah Badai Sapu (8 years 49 weeks ago)
70

meskipun sedikit, meliuk2nya ada :)

Writer lindsaylov
lindsaylov at Kepanikan di Tengah Badai Sapu (8 years 49 weeks ago)
80

Masih ada lanjutannya kah? Penasaran niyh badai sapu itu seperti apa...

Writer Shinichi
Shinichi at Kepanikan di Tengah Badai Sapu (8 years 49 weeks ago)
50

semut. oke.
:D
saia ngerasa semut yg bercerita pada cerita ini, kurang bisa memosisikan dirinya agar cerita tentang "dunianya" bisa lebih dinikmati makhluk lainnya, dalam hal ini kita manusia.

mungkin kesan petualangannya yg kurang.
kip nulis.
ahak hak hak.

Writer daff
daff at Kepanikan di Tengah Badai Sapu (8 years 49 weeks ago)
60

huh? cuma begitu aja? atau ada sambungannya?

Writer Sadur
Sadur at Kepanikan di Tengah Badai Sapu (8 years 49 weeks ago)
60

Dunia semut memang aneh?!?!

Writer Max_Orient
Max_Orient at Kepanikan di Tengah Badai Sapu (8 years 49 weeks ago)
30

Badai sapu, jadi pas pukul 4 bakal ada orang yang nyapu (sampah + semut2?).
Menurut gw sih kayaknya bukan hal yang perlu dipanikkan semut2, toh biasa gw nyapu semut juga masih sehat2 semutnya. Mungkin kalo badai baygon itu baru unik.

Writer Yafeth
Yafeth at Kepanikan di Tengah Badai Sapu (8 years 49 weeks ago)
70

THE Ants life. Sangat terasa sekali. Meski bagian jam sedikit mengganggu saya, karena entah mengapa bagi saya semut akan lebih baik menggunakan petunjuk waktunya sendiri. Arah dan letak matahari, mungkin?

Writer om3gakais3r
om3gakais3r at Kepanikan di Tengah Badai Sapu (8 years 49 weeks ago)
60

duh.. baru sebentar udah selesai.. bikin penasaran aja..
hem... ini fabel yang menggunakan karakter semut asli atau personifikasi semut? kalau semut asli, menurut saya lebih enak kalau anatomi semut seperti antena, rahang, kaki-kaki, dll..

Writer GoN95
GoN95 at Kepanikan di Tengah Badai Sapu (8 years 49 weeks ago)
40

Penasaran, lanjutkan!! XDXD

Writer kupretist
kupretist at Kepanikan di Tengah Badai Sapu (8 years 49 weeks ago)

tentang apa nih inti dan ide ceritanya, kok blum bisa nangkep yah

Writer yuu_sara
yuu_sara at Kepanikan di Tengah Badai Sapu (8 years 49 weeks ago)

belum dilanjutin.. ttg semut ini..

cabenya mana? ga dikasi ni?