Kalau Anda Perhatikan Baik-Baik Ada Dua Cerita dalam Puisi Ini

Said dicerai angin semalam. Siapa sangka. Maksudku memang, siapa sangka? Said, dicerai oleh angin? Laki-laki macam apa yang walau sudah menikah dengan angin namun pada akhirnya tetap dicerai juga.
Silet menatap nanar. Tidak dibayangkannya urat-urat halus yang merekat pada leher. Tidak dibayangkannya menunggu dengan sadar di atas meja. Tidak pernah dibayangkannya melompat liar memutus 27 gram yang selama ini begitu dipuja.
Diantara daun gugur angin lari dari Said. Oh Said, Said yang malang. Angin yang malang. Tak pernah dunia ini menjadi milik mereka berdua. Tak pernah dan takkan pernah.
Lalu silet resah. Ia ingin datang apa adanya tapi jeritan sakit menolaknya. Tak pernah ia minta lahir sebagai silet. Tak pernah ia minta lahir menjadi musuh. Tak pernah ia menyangka akan diburu waktu. Dan sekalinya ia, ia terlambat dan lahir sebagai memori baru.
Said mencintai angin. Angin mencintai Said. Silet mencintai Said. Said mencintai silet. Angin membeci silet.

Silet membenci angin.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

Kalau puisi ini harus dijelaskan, asyiknya dimana jadinya? Hehehe :)

kan tidak semua orang memahami. jalan piliranmu sobt.. dibalik suatu karya pasti ada latar belakangnya.

rasanya sayang sekali kalo puisi yang bagus tapi tidak tersampaikan maknanya secara total..
dan hanya menyisakan kebingungan saja.

hehe alasan nulis kan bisa macem-macem bro, mungkin cerita saya ini emang ga ada maknanya, mungkin juga ada, mungkin ingin disampaikan, mungkin ga pengen disampaikan, mungkin ada latar belakangnya, mungkin juga tidak. Hehehehe

70

hanya bisa mengucap,...hmmm

80

tiga kali saya baca puisi ini, tiga kali pula kebingungan saya berlipat.

70

seperti cinta segitiga bukan, sih?

50

pusyiaaaaaaww..
Hhaha..
BahasaNya mendewa., jadi yg newER kaya saya gak bisa paham..
Bagaimana alurnya, said mencintai angin, angin mencintai said..
Dan seterusnya..
:D

70

kok saya jdi bingung ya? *berusaha mencerna maksdu dari puisi ini*

60

kok paragrafnya gitu bang? jadi bingung. apalagi yang terakhir.. hehe