pulanglah, aku kangen.

sampaikanlah pesanku!

sesore ini rautnya masih tak berbentuk, matanya masih saja mengutuk langit langit kamar. ada setampah daging dan sayur untuk santap nanti malam. tapi siapa yang akan datang? bangkainya makin lama makin membusuk seperti sajak-sajak kering dalam lacinya. seperti sisa pejuh di kasur penghabisan.

sampaikanlah pesanku!

malam ini ia tak ingin lekas mati. sarung dan tembakau, pelor dan semua kegelisahan. bukan teras dan kursi yang menjelma mimpi. tapi kau, kau.

sampaikanlah pesanku!

ia tak tahu harus berujar kearah mana, pulanglah!

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer samalona
samalona at pulanglah, aku kangen. (9 years 31 weeks ago)
80

Kekuatan ekspresinya terasa.
Saya sedikit kebingungan. kalimat seru atau kalimat perintah logikanya diucapkan kepada 'kau'. Kalau aku-lirik berkata, "sampaikanlah pesanku", saya membayangkan aku-lirik sedang berkata kepada 'kau', agar pesan aku-lirik disampaikan kepada'nya'. Sementara itu, yang menjadi 'ia' di sini adalah si sakit. Sampai pada baris sebelum terakhir, masih bisa terlihat hubungan logisnya. Tetapi kemudian pesan itu ternyata menyuruh 'ia' pulang (baris terakhir).
Saya menemukan jawabannya pada penjelasan di balasan komen di bawah. Rupanya setiap kalimat "sampaikanlah pesanku!" adalah seruan si sakit sendiri. Makanya selalu berdiri pada baris sendiri.
Mungkin bisa dibuat pembedaan tambahan, misalnya kalimat seru itu dicetak miring. Atau sebaliknya; paragraf yang bukan kalimat seru yang dicetak miring. Dan kata terakhir, "pulanglah!" (hanya kata itu saja pada baris itu) juga mengikuti format font yang sama dengan format font pada kalimat seru "sampaikanlah pesanku!". Kemungkinan cara lain, yang mungkin langsung tepat sasaran, adalah menggunakan tanda kutip untuk setiap kalimat seru dan pada kata seru terakhir. Dan kata terakhir, yang juga adalah ucapan si sakit, ditempatkan pada bait sendiri, sama seperti kalimat seru lainnya.
Salam, dan mari terus menulis.

Writer tanpasajak
tanpasajak at pulanglah, aku kangen. (9 years 31 weeks ago)

waduh, terima kasih banyak sudah repot mampir, hehe.
saya membayangkan tulisan macam ini gak akan laku di sini, tapi sampean mungkin bisa mengubah persepsi saya. semua komennya nyaris perfect. ya, mungkin karena blunder saya menjelaskan di komen bawah, hehe. karena terlanjur basah, ya sudah. kata "pulanglah!", adalah feedback penulis sebagai penyampai pesan. juga kenapa saya sengaja tidak memberi pembeda yang terlalu jelas karena : bingung, nanti kalau terlalu jelas jadi seperti cerpen tau sinetron malah, hehe, bcanda. terima kasih banyak.

Writer wacau
wacau at pulanglah, aku kangen. (9 years 33 weeks ago)
70

pesan disampaikan dari dan kepada siapanya belum jelas nih :D
(salaman)

Writer as44
as44 at pulanglah, aku kangen. (9 years 33 weeks ago)

setuju banget sama risang...

Writer as44
as44 at pulanglah, aku kangen. (9 years 33 weeks ago)
50

setuju banget sama risang...

Writer Risang
Risang at pulanglah, aku kangen. (9 years 33 weeks ago)

kurang jelas siapa tokoh yang dimaksud kalo menurut saya lohh

Writer tanpasajak
tanpasajak at pulanglah, aku kangen. (9 years 33 weeks ago)

makasih kunjungan dan komennya. waktu itu saya mendapat kabar dari seorang teman lama yang bapaknya lagi sakit keras. bapaknya sudah sangat tua, dengan anak- dan cucu yang gak "ngopeni." saya mencoba membahasakannya seruan bapak tersebut lewat puisi ini.

Writer intanjihane
intanjihane at pulanglah, aku kangen. (9 years 33 weeks ago)

aduh seharusnya nggak usah dijelaskan maksud puisinya :)

bagus, kok. keep writing ya! ^^