empat + satu

            “Selesai!” seorang cowok berkacamata merentangkan tangannya lalu duduk di kursi terdekat, tumpukan buku yang tadinya berantakan kini telah tertata rapi di rak buku. Bukan hanya cowok berkacamata itu, cowok lain dengan penampilan ala berandalan melonjak senang saat buku terakhir di masukkan ke tempatnya.

            Keduanya lalu duduk di kursinya masing-masing dan menikmati kopi yang di sediakan oleh gadis berambut panjang dengan senyuman paling ramah yang pernah mereka lihat.

            “Kau akan menepati janjimu, kan?” tanya si cowok berkacamata pada cewek itu, “Maya yang kukenal tak pernah mengingkari janji,”

            “tentu saja!” jawab si gadis berambut panjang –Maya- dengan jempol teracung.

            “kalau bukan karena traktiran yang kautawarkan, aku tak akan di sini sekarang!” katanya bangga.

            “Huh…aku tak akan ada di sini kalau saja....Gyah….kau akan memutuskan lenganku…lepaskan lepaskan!” si cowok berandal berteriak keras saat cewek setinggi 135 cm dengan rambut yang dikuncir mengunci tangannya ke belakang dan menariknya dengan sadis.

            “Jadi kalau tidak ada aku kau tak akan menjalani hukumanmu!” suara gadis kecil itu terdengar menyeramkan di suara si cowok berandal.

            “Ampun, Kinan! Aku nggak akan kabur dari hukuman lagi!” si cowok berandal berteriak memohon belas kasihan.

            “Tch… sejak kapan Dion yang kukenal jadi secengeng ini,” gadis kecil itu –Kinan- melepaskan tangan si cowok berandal –Dion- kemudian duduk di samping Maya dan meminum kopinya dengan sekali teguk, “terima kasih kopinya, maya!” kata Kinan kemudian.

            “Akulah yang harus berterima kasih,” kata Maya sambil menampilkan senyuman terindahnya, “pemindahan buku ini benar-benar merepotkan, dan mereka merubah ruangan ekstrakurikuler sastra jadi gudang buku. Harusnya ini pekerjaanku untuk menata ‘rumah’ku sendiri, tapi tentu saja aku tak akan bisa melakukannya sendiri,” Maya meminum kopinya sendiri.

            “seperti yang kubilang tadi, aku hanya akan bergerak kalau kau punya traktiran buatku,” si cowok berkacamata meletakkan kepalanya di atas meja, “Aku tunggu traktiranmu!”

            “Baiklah, Reza…aku ngerti kok,” jawab Maya.

            “Ah…masih jam segini!” Kinan mengeluarkan ponselnya da melihat jam, “masih males pulang nih,” ia merajuk.

            “aku sudah ingin pulang!” protes Dion.

            “Tch…pemalas sekali kau!” Kinan memukul Dion dengan tangan kecilnya.

            “Ah…kemarin aku menemukan buku ini,” tiba-tiba maya mengeluarkan buku bersampul lusuh dari kolong meja, “bagaimana kalau kita menghabiskan waktu dengan membaca ini keras-keras secara bergantian, siapa tahu cerita dalam buku ini bisa membuat kita terhibur.”

            “Buku apa itu?” tanya Kinan.

            “Entahlah, ini semacam Diary seseorang yang berisi tentang mister sekolah,” jawab Maya.

            “Sangat menghibur,” kata Kinan sambil tersenyum.

            “Hei! Bagian mana dari diary hantu yang membahas horor di sekolah yang menghibur buatmu!” protes Dion, tapi Kinan mengabaikannya.

            “Aku akan membacanya pertama kali, tak apa kan?” tanya Maya.

            Ketiganya mengangguk kompak.

            #1

           

            Hari ini adalah hari kelulusan siswa kelas tiga. Banyak kelas tiga yang mulai membuat foto bersama sebagai kenang-kenangan saat mereka mulai bekerja nanti. Dan salah satunya adalah kelas 12 IPA 3, yang semua siswanya berhasil lulus. Total 40 siswa.

            Sang ketua kelas, Amir adalah yang mendapatkan hasil cetak foto itu pertama kali. Ia mengamati foto itu dan bersiap mencetak ulang foto itu dengan printernya, tapi ia menemukan hal yang janggal.

            Seorang gadis berambut pendek duduk di sebelahnya. Siapa dia? Amir berusaha mengingat tapi gagal. Ia tak ingat gadis berambut pendek yang duduk di sebelahnya. Malah harusnya ia adalah yang paling kiri dalam deretnya.

            Amir menghitung jumlah siswa, 41 orang. Amir mulai mengingat lagi. Di awal semester dua, mereka mendapat siswa baru yang akhirnya menggenapkan jumlah 40 siswa dalam kelas itu.

            Amir kemudian memeriksa daftar namanya dan –seperti yang ia duga, 40 nama siswa kelas 12 IPA 3. Amir kemudian menelpon beberapa teman untuk menanyakan apakah mereka ingat adanya murid ke 41.

            Tak ada yang ingat.

            Keesokan harinya ia menemui wali kelasnya tapi karena sang wali kelas sibuk ia hanya mendapatkan daftar absen semester satu, sebelum murid pindahan itu menggenapi jumlah siswa dalam kelas mereka.

            Amir menyusuri nama demi nama, dan ia berhenti.

            13 | Cintya Purnamasari

            Siapa Cintya? Amir memperatikan foto itu lagi dan kemudian menatap nama dalam daftar absen yang ia pegang. Daftar absen semester satu berisi nama 40 siswa, bukan 39 seperti yang ia ingat.

            Penasaran membawanya ke sebuah penyelidikan kecil, ia tak ingin meninggalkan pertanyaan sebelum ia benar-benar meninggalkan sekolah ini. Ia bertanya pada banyak orang tentang nama Cintya Purnamasari tapi seperti yang ia duga, tak ada yang ingat.

            Akhirnya Amir menyerah, ia tak ingat siapapun yang bernama Cintya Purnamasari dan ia juga tak ingat siapa gadis di foto itu. Ia menuliskan semua rasa depresinya dalam sebuah buku dan kemudian menyimpannya diperpustakaan.

            Aku menemukan buku itu dan ikut penasaran. Tapi tentu saja penyelidikan akan sangat susah buatku jadi aku juga menyerah. Aku berharap seseorang akan menemukan petunjuk dalam cerita ini, jadi aku merangkum misteri dari kak Amir dalam buku ini.

            Ngomong-ngomong, aku dengar beberapa hari yang lalu kalau kak Amir meninggal dalam sebuah kecelakaan. Mungkin itulah yang di sebut ‘Mati Penasaran’

#

            “tch…tidak menghibur sama sekali,” protes Kinan, “aku bahkan curiga cerita itu sengaja dibuat.”

            “Eh…ada fotonya,” Maya mengeluarkan sebuah foto dalam buku itu, foto bewarna dan sepertinya diambil dengan kamera yang sangat bagus.

            “Photoshop!” kata Kinan, “dengan selection tools, ia memasukkan satu orang siswa lagi dalam foto itu, mungkin di tahun itu photoshop belum populer jadi dia dengan mudah membodohi kawan-kawannya.”

            “Aku tak tahu kau teliti,” sahut Dion, “Bukankah kau adalah….Gyah! Arg…Ampun, aduh duh duh….iya, jangan patahin lenganku!” Dion yang tangannya lagi-lagi ditarik kebelakang oleh si kecil Kinan berteriak keras memohon ampun.

            “Tch…jangan bicara macam-macam soal aku,” kata Kinan sebal, “Sini bukunya, aku mau baca juga.”

            Maya menyerahkan buku lusuh itu pada Kinan.

            “buku catatan klub misteri, 2010” kinan membaca judulnya kemudian membuka lembar demi lembar dan lalu berhenti.

            “Hm…judul yang menarik,” Maya tersenyum riang.

            “ini cerita saat ektra PMR mengadakan Diklat di sekolah,” Kinan mulai membaca, “saat itu jam malam, semua siswa putri sudah tidur di tempatnya. Seorang siswa bernama Nia keluar dari ruang istirahat dan kemudian tersesat dan akhirnya tak kembali sampai keesokan harinya, Beberapa temannya yang khawatir mulai mencari berkeliling sekolah, tapi tidak menemukannya.”

            “jadi kemana dia?” sela Dion, “sepertinya cerita menghilangnya murid saat …Gyah! Baik-baik, aku tak akan menyela!”

            Maya kembali ke tempatnya setelah menarik tangan Dion ke belakang dan hendak mematahkannya. Ia kemudian melanjutkan membaca.

            “keesokan harinya ia ditemukan tewas di depan gerbang sekolah,” Kinan menampilkan ekspresi heran, “cerita macam apa ini! Apakah semua di buku ini nonsense!” teriaknya marah.

            “bahkan Reza sampai tertidur,” kata Rina sambil menunjuk cowok berkacamata di sebelahnya.

            “ah…aku tak mau baca buku ini lagi!” kinan membanting buku itu di meja, “ada yang punya cerita horor yang beneran horor nggak?”

            “aku punya!” kata Dion senang, “aku punya, mau aku yang cerita?” tanya Dion.

            “kalau ceritamu tidak seram akan kupatahkan kau jadi dua,” kata Kinan sambil tersenyum.

            “Hei! Jangan bilang gitu sambil senyum! Itu menakutkan tahu!” protes Dion.

            “baik, kami mendengarkan!” Maya tersenyum.

            “Hei! Tunggu, bangunin dulu nih si Reza!” Rina menggoyang tubuh Reza sekuat tenaga tapi ia tak bangun juga.

            Maya kemudian mendekati Reza.

            “kalau kau tidak bangun dan ikut serta dalam berbagi cerita ini…” Maya membisikkan sesuatu pada Reza, “aku nggak jadi nraktir kamu.”

            “Baik! Aku bangun!” kata Reza spontan.

            “saat itu kami sedang duduk-duduk di atap seperti biasa,” Dion mulai bercerita, “kalau tidak salah kau juga ada di situ,” ia menunjuk Kinan, “Hei! Jangan menatapku seperti itu! Kau makin menakutkan tahu!” teriak Dion sebal.

            “abaikan aku!” kata Kinan tegas.

            Dion mengangguk.

            “saat itu tiba-tiba langit mendung dan angin berteriak kencang sekali, kami tak tahu apa yang terjadi. Dari total sepuluh orang anak buahku dan Kinan di sana, semuanya kabur. Hanya aku yang tertinggal.”

            “Kapan itu terjadi?” tanya Kinan, “aku tak mungkin lari dari mendung!” dan kemudian Kinan menarik tangan Dion ke belakang.

            “Gyah! Aku ralat aku ralat! Lepaskan tanganku!” teriak Dion kesakitan.

            Maya melepaskan cengkramannya.

            “Tiba-tiba kalian menghilang,” Dion menghembuskan nafas lega, “mungkin kalau yang cerita Kinan, kinan bakal bilang akulah yang menghilang,” Dion menatap Kinan sewaspada mungkin siapa tahu ia meloncat dan mencengkeram tangan Dion lagi, tapi kekhawatirannya tak terjadi, “yang kulihat di bawah langit mendung itu adalah sesosok gadis yang meminta tolong padaku, aku tak tahu siapa dia, dan dari seragamnya sepertinya di bukan dari generasi kita, bahkan aku tak melihat kakak atau adik kelas dengan seragam seperti itu, singkatnya dia bukan dari 3 tahun ini.”

            “jadi apakah seragam itu dari beberapa tahun yang lalu sebelum kita masuk?” tanya Rina penasaran.

            “mungkin,” jawab Dion, “kau bisa bayangkan tiba-tiba dia mendekatiku, separuh wajahnya terbakar dan tangan kanannya terpotong,” Dion mulai merinding sendiri, “kemudian aku sadar, aku sudah ada di kelas kosong di lantai dasar gedung lama, kau bisa lanjutkan Kinan!” Dion menatap Kinan.

            “Ya…bisa dibilang si idiot itu menghilang,” tiba-tiba suasana di sekitar mereka berubah, bahkan Reza yang tadinya mengantuk sekarang tidak berani menguap, Kinan melanjutkan, “aku dan anak buah idiot itu mencari ke seluruh sekolah, tapi kemudian menyerah dan mengira dia sudah pulang.”

            “tapi bukankah……” Maya langsung menutup mulutnya saat melihat ekspresi serius Kinan dan Dion yang kini sedang berbagi cerita.

            “kemudian aku melewati gedung lama dan mendengar teriakan si idiot itu, dia ketakutan,” kata Kinan, “apa yang kau lihat saat itu?”

            “Er…aku tak ingat, seseuatu tentang kebakaran,” jawab Dion.

            “dan saat aku membuka tempatnya terjebak, kami melihat jenazah.” Kinan menutup ceritanya.

            “jenazah itu sepertinya jenazah seorang gadis, tubuhnya terkubur di bawah lantai, dan mungkin aku tanpa sadar membuka lantai dan menemukannya,” Dion menyambung.

            “jadi itu kalian!” Reza tampak terganggu, “gara-gara ditemukannya mayat dan datangnya polisi, akhirnya aku juga yang kena imbasnya. Ruangan rahasiaku di gedung lama di segel. Lebih tepatnya seluruh gedung lama di segel.”

            “dari yang kudengar, gedung lama tidak akan dirobohkan,” sambung maya, “mereka takut roh di situ bakal marah dan menghantui gedung lain.”

            “apakah itu mungkin?” tanya Rina.

            “mungkin iya, mungkin tidak,” jawab Reza, “aku jadi teringat sebuah cerita, tapi aku malas menceritakannya.” Reza kembali meletakkan kepalanya.

            “Aku tak akan mentarktirmu!” tandas maya.

            “baik! akan aku ceritakan!” katanya cepat, “sebelum kejadian Dion dan Kinan, aku sering tidur di salah satu ruangan di gedung lama, seperti maya, aku membuat ruangan itu seperti rumahku.” Wajah Reza tampak sedih saat membicarakannya, “aku juga melihat gadis yang dilihat Dion, tapi dalam versi baik-baik saja, sekarang aku tak ingat wajahnya. Tapi kami sering berbagi cerita,” Reza tersenyum.

            “Wawawa….kau ngobrol sama hantu?” Dion menatap tak percaya, “ke…kenapa?”

            “aku tak mengira kalau dia hantu,” jawab Reza singkat, “sampai kemudian ia muncul dengan versi yang sama seperti yang kau lihat,” kata Reza, “aku langsung kabur saat itu, tapi saat aku memikirkannya lagi, aku pikir dia hanya ingin berteman.”

            “Dia hantu,” Rina menyela dengan wajah sedih, “dia sendirian sepanjang waktu, jadi jelas saja dia sedih!”

            “Aku sepertinya bisa mengerti perasaan si hantu,” kata Maya, “aku juga sendirian sepanjang waktu.” Ia meneteskan air mata.

            “Eh…Maya, kami janji kami bakal sering ke sini supaya kamu nggak kesepian,” kata Kinan sambil menepuk pundak Maya, “bagaimana?”

            “Apakah ini berarti kita berteman?” tanya Maya.

            “tentu saja!” jawab Kinan.

            “Aku juga akan sering di sini,” kata Rina.

            “Kalau kau bersedia membuatkan kopi setiap aku datang, aku mau,” Reza tersenyum, “akan aku jadikan ruangan ini rumahku.”

            “Hei!” Kinan melempar sebuah buku pada Dion yang dihindari dengan kecepatan yang keren.

            “Apa?” tanya Dion, saat Dion melihat wajah Kinan, ia langsung ketakutan, “ba…baik, aku juga!”  

            “Nah…… Rina, sekarang giliranmu!” Maya menunjuk gadis di sebelah Reza.

            “Hm…biasanya saat jam sekolah menunjukkan jam tiga,” Rina mulai bercerita, “seorang hantu akan masuk ke 4 orang yang berdikusi dan tanpa sadar ia akan bergabung dalam diskusi itu,” kata Rina, “apakah kalian tidak pulang, sekarang sudah jam empat lho,” Rina membereskan tasnya.

            “Ayo pulang,” Kinan menarik tangan Dion, “ayahmu bisa marah kalau kita tidak pulang!” lanjutnya.

            “Baik, hari ini kita bubar, aku harap bisa melihat kalian lagi besok,” Maya tersenyum ,”terima kasih sudah menemaniku,” Maya juga membereskan tasnya, begitu juga Reza.

            Keempatnya lalu berpisah di gerbang sekolah. Reza menguap dan meninggalkan gerbang pertama kali, Maya langsung menyusul Reza dan kemudian hanya tinggal Kinan dan Dion.

            “Tunggu, bukankah kita tadi berlima?” tanya Dion.

            “Hah? Berlima?” Kinan tampak kaget, “daritadi kita Cuma berempat, Reza dan kau yang kena hukuman, Maya yang punya kunci ruangang itu dan aku yang membawamu kesana, hanya empat, kan?”

            “aku yakin lima, Maya yang bacain buku itu, kita berdua yang cerita soal penemuan mayat itu, Reza yang soal ketemu si hantu dan ……satu lagi seorang gadis yang mengingatkan kita pulang,” Reza mengingat-ingat, “siapa ya gadis itu? Aku lupa.”

            “ah…mungkin itu hantu,” jawab Kinan asal, “bukankah hantu sangat senang kalau ia dibicarakan manusia.”

            Keduanya mulai berjalan meninggalkan sekolah dan matahari sore menyinari jalan mereka.

            “Hantu ya…”

            Di salah satu jendela sekolah, Rina menatap teman-teman barunya yang sudah lupa tentang keberadaannya. Ia memandang dua orang terakhir yang masih bisa dilihat dari lantai tiga gedung baru.

            “Mungkin aku memag hantu,” ia tersenyum dan tubuhnya perlahan mulai memudar.

            Tsuki, 12 mei 2012

            11.00

 

           

 
 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer riddigeuleuh
riddigeuleuh at empat + satu (8 years 6 weeks ago)
90

menarik...penuh percakapan jadi kaya aktif ceritanya...seruseruseru

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at empat + satu (8 years 7 weeks ago)
80

Komen udah di FB, saya kasih poin apresiasi aja
.
Saya juga ga ngerti gimana nentuin pemenangnya soalnya

Writer ndiku
ndiku at empat + satu (8 years 7 weeks ago)
50

terus lanjutkan ceritanya....
sukses yaw...............

Writer RAINBOW KENRYU
RAINBOW KENRYU at empat + satu (8 years 7 weeks ago)
90

Mantavv..alur ceritanya.