Baker's Tale

Madam Hilde adalah pembuat roti terbaik di kota Grescham. Suatu hari, dia menerima dua orang murid yang ingin belajar darinya; seorang berasal dari barat, seorang lagi berasal dari timur. Setelah sebelas tahun pendidikan yang panjang, kedua murid itu menyadari bahwa tak seorang pun dari mereka akan dapat melampaui kemampuan Madam Hilde.

Sambil mengaduk adonan dan membentuk plastik-plastik icing, sehari-harinya kedua murid itu menyimpan dongkol pada si perempuan legenda, namun hal itu tidaklah lama. Pada suatu musim panas, Madam Hilde meninggal karena penyakit tua. Si Timur kembali ke kampungnya, demikian pula si Barat. Di sana, mereka berniat mendirikan toko sendiri-sendiri. Tapi, kekejaman perang tidak mengizinkannya.

`Berikan suratmu! Tidak punya? Pergilah kemanapun kau berasal sebelum ini!` bentak penjaga di balik pagar kawat kampung halaman Si Timur. Penjaga itu adalah teman masa kecil yang tidak lagi mengenalinya, tidak peduli sebetapapun usaha Si Timur meyakinkannya. Si Barat, sebaliknya, tidak ditolak oleh pagar kawat maupun penjaga, namun tanah kelahirannya sudah berubah menjadi puing, luluh lantak sampai ke rumah semut yang paling kecil. Tidak ada orang maupun tanaman yang tersisa di sana. Dengan perasaan hancur, keduanya kembali ke kota Grescham.

`Aku akan mendirikan toko kue yang lebih hebat dari Madam Hilde!` kata Si Timur.
`Aku akan mendirikan toko kue yang lebih baik dari Madam Hilde!` kata Si Barat.

Keduanya mengatakan itu nyaris-nyaris bersamaan. Si Timur menyeringai, Si Barat tersenyum, lalu berpisah di tikungan itu. Sesuai muasal mereka, Si Timur mendirikan tokonya di sudut kanan Kota Grescham sedangkan Si Barat di sudut kiri. Hari berganti, menabungkan diri menjadi minggu, kemudian menjadi bulan, dan musim pun berubah. Sebelum Musim Buah Persimmon tiba, semua telah mengetahui kehebatan toko di timur kota tersebut.

Si Timur memang hebat. Tokonya dibuat megah dengan lisplang raksasa berwarna mencolok, etalase memajang kue-kue yang hiasannya sungguh membuat mata dan perut lapar. Sedaridulu dia memang tahu betul cara meracik gula dan plastik icing. Satu karyanya yang terbesar adalah hiasan malaikat bersayap yang tersenyum di atas panettone, seperti sihir, mata malaikat itu seolah berkedip mengajak siapapun masuk dan membeli. Kali lain dia membawa variasi buah-buah plum yang dibentuk menjadi kereta kencana, membuat gadis-gadis kecil menjerit minta dibelikan. Berapapun harganya, toko itu selalu laris. Bahkan, walikota Grescham menjadikannya toko resmi untuk keperluan pesta-pesta.

Kehebatan Si Timur dimuat di media-media, dan Si Barat membacanya dengan senyum dikulum. Irikah dia? Tidak. Di awal dia telah mengatakan bahwa dia ingin membuat toko kue yang baik, bukan hebat. Kalau kau tanya bagaimana kabar Si Barat, katakanlah ia orang yang bahagia. Sedaridulu, dia mementingkan kualitas dasar dari rotinya. Takaran ragi, tepung, gula, susu, bahkan jumlah buah juniper yang dimasukkan ke dalam kuenya selalu sama, selalu pas. Ia memiliki sedikit pembeli namun mereka semua setia dan berlangganan padanya. Bila ada roti yang tersisa, ia membagikannya pada tetangga, dan terkadang ini membuatnya memiliki langganan baru. Ketika toko sepi, dia membuat teh, duduk di teras, tersenyum pada pejalan kaki dan mengelus anak anjing atau kucing yang datang menyuruk di kakinya.

Sudah lama sekali Si Barat dan Si Timur tidak saling bicara. Sampai pada suatu hari ketika Si Barat hendak menutup lisplang toko menjadi ‘TUTUP’. Si Timur muncul di belakangnya. Mata yang cemerlang, seperti anak kucing, yang peka membaca keinginan pasar dan begitu kuat itu kini menatap Si Barat dengan kuyu. Tukang roti nan sederhana itu mempersilakannya masuk, membuatkannya teh herbal dan menghidangkan kue cincin kecil-kecil. Dipersilakannya Si Timur menceriterakan masalahnya.

`Tidak ada masalah yang berarti… kecuali aku sendiri merasa muak pada rasaku sendiri.` katanya disela asap teh herbal. `Mereka semua menyukai kepalsuan. Tidak ada yang datang membeli rotiku setelah dua atau satu kali coba, selebihnya adalah wajah-wajah baru. Mereka segera tahu bahwa di balik gula yang cantik, yang ada hanyalah roti dengan rasa yang—bagaimana aku mengatakannya? Datar.”

`Kalau begitu buat saja yang enak…?`

`…kenapa kau selalu begitu sederhana sekaligus begitu bodoh?` katanya dengan alis naik. `Aku bukan kau. Aku tidak tahu bagaimana caramu membuat semua ini. Aku mencoba membuat seperti milikmu pagi ini; donat, hanya donat, tanpa gula. Mereka melihatnya seolah ini bukan makanan, mereka membeli, lalu mencicipinya dan membuangnya seolah makanan anjing.`

`….` Si Barat terdiam, `Kurasa…`

`Ya?`

`Kurasa memang di situlah kelebihanmu.`

`Jelaskan.`

`Kau yang terlalu tinggi hati untuk kesederhanaan tidak akan bisa menerima penilaian yang biasa-biasa saja. Aku… aku sendiri justru malu, dan tak ingin sesuatu yang lebih dari biasa. Itu membuatku takut akan perasaan tamak. Dan lagi, aku memang tidak bisa membuat gula-gula.` dia menghela nafas, `Aku penakut.`

Si Timur berpikir sebentar, `Kalau kita berdua bergabung, hasilnya pasti bagus.`

Mereka terdiam sesaat oleh gagasan itu. Ada sesuatu yang menyala-nyala di mata keduanya. Kemudian, sesederhana itu, keduanya bertukar senyum. Esok harinya, Si Barat menutup toko dan menjual tempatnya pada saudagar bawang. Si Timur pun melakukan hal yang sama. Keduanya pindah ke tengah kota, rumah lama Madam Hilde, dan mendirikan toko roti baru di sana. Gabungan dari rasa roti Si Barat yang sarat, wangi, dan kaya dengan gula-gula cantik buatan Si Timur menghasilkan rasa yang luar biasa disukai. Toko itu tidak pernah sepi. Si Timur puas dan Si Barat pun demikian. Mereka, hidup bahagia selama-lamanya.




 




….bila bahagia sesederhana itu, tentu saja.

Siapa yang tahu apa yang akan terjadi beberapa tahun ke depan. Apakah Si Barat diam-diam menyimpan iri pada Si Timur lagi; seperti laiknya bagaimana hal biasanya terjadi apabila dua orang tinggal serumah? Atau sebaliknya? Atau pertikaian kecil berujung besar? Api kebakaran melalap seisi kota? Perang merambah? Siapa, siapa yang tahu. Tapi  satu hal yang paling pasti, toko roti itu berkembang, tumbuh besar menjadi tanpa tandingan. Semua toko roti lain di kota itu dan sekitarnya tutup karena tak laku. Mereka berdua yang kini gendut dan malas tak lagi menjual roti karena bosan, bosan, bosan, tak ada saingan membuat Si Timur menjadi tak bergairah lagi menjadi pembuat roti. Barangkali karena itu pulalah Madam Hilde tak pernah punya toko.

Lalu, pada suatu malam gelap, Si Timur menghunus pisaunya, mengetuk kamar Si Barat…. boredom could kill too, m’dear.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer celtic
celtic at Baker's Tale (8 years 51 weeks ago)

spasinya banyak juga, ya. hehehe tapi Si Timur favorit!

Writer neko-man
neko-man at Baker's Tale (10 years 12 weeks ago)
80

Cerita yang sederhana dan menarik, however ikatan dengan realitasnya kurang. Misal adalah toko si Timur yang hanya mengandalkan penampilan, toko semacam itu tidak mungkin bisa berjalan dengan baik jika rasanya tidak enak. Pasti akan jadi buah bibir dan akan bangkrut. Sebenarnya suatu kejadian sederhana saja bisa menyebabkan si Timur mengunjungi si Barat. Toko si barat yang enak sebaliknya walaupun sederhana pasti akan terkenal.
--
Endingnya menarik, malah seperti sebuah cerita baru yang tidak perlu dimasukkan.

Writer H.Lind
H.Lind at Baker's Tale (10 years 12 weeks ago)
70

Baiklah, cara penceritaannya enak dibaca, premisnya menjanjikan, penggunaan Si Timur dan Si Barat itu sesuatu yang unik.
Akan tetapi entah kenapa saya ga suka dengan endingnya. Ending sehabis spasi panjang terlalu maksa buat saya. Ending sebelum spasi panjang terlalu klise buat saya. Ehehehe. Mungkin kalau ditambahin 500 kata lagi terus dibuat suasana kelam setelah mereka join toko, ending yang kelam itu jadi bisa lebih kerasa. Ini pendapat dan selera pribadi aja sih.
Saya berharap ini memang benar-benar pemanasan, jadi ada cerpen2 lebih keren nantinya. :D

Writer musthaf9
musthaf9 at Baker's Tale (10 years 13 weeks ago)
80

keren, gaya bahasanya udah kayak dongeng-dongeng biasanya, meski kayaknya di beberapa bagian ada yg terlalu rumit.
ceritanya juga cukup simpel, dan amanahnya jelas.
.
saya agak bingung di bagian dimana para murid menyimpan dongkol pada madam hilde. alasan bahwa mereka ga bisa lebih hebat dari madam hilde, agak aneh, ga cukup gitu lah buat bikin dongkol (smacam sebel gitu kan?), toh si madam hilde kan guru mereka.
hal ini berlawanan dengan pas si murid akhirnya mbalik lagi ke grescham. bagian itu terasa over-descriptive
dua paragraf terakhir itu... uh, menurut saya itu mending dipisah dan dijadiin cerita yg berbeda, semacam lanjutannya ini gitu lah.
.
overall, saya cukup menikmati ceritanya. keep it up!

Writer kemalbarca
kemalbarca at Baker's Tale (10 years 13 weeks ago)
60

waah aku kecewa sama endingnya
walaupun kenyataan kadang seperti itu, kan gak papa sekali2 kita hidup di cerita yang menyenangkan
pendapatku sih

Writer arzlock19
arzlock19 at Baker's Tale (10 years 13 weeks ago)
80

good story ...

q suka kata - kata terakhirnya ' boredom could kill too, m’dear '

GOOD JOB .. Lam knal :D

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at Baker's Tale (10 years 13 weeks ago)
80

Plastik icing dan buah juniper itu apa ya? Terus, emang 'sedaritadi' itu disambung, ya?
.
Saya menikmati ini, setidaknya sampai 'mereka hidup bahagia'.
Pas scroll ke bawah, entah kenapa saya merasa rada maksa walau emang sikap si Timur sedikit masuk akal.
Entahlah.

Writer sastrasempoa
sastrasempoa at Baker's Tale (10 years 13 weeks ago)

Ah jadi sedari tadi itu dipisah ya... *manggut-manggut* makasih, saya kurang ngerti soal punktuasi sih, makanya ke sini kan dulu =)) all I know is to write, only write. Such a douchenugget I am, gee.
.
Plastik icing itu istilah di dunia per-kue-an yang fungsinya sama kayak chocolate modelling, aka, hiasan kue :]] Dan juniper itu buah dari semacam pohon cemara. Di Eropa banyak dipakai buat bahan makanan, kue, minuman, bahkan piranti ramalan.
.
Nah, that. The biggest hole. Makanya saya kasi spasi puanjaaaang itu kan =]] paling baiknya memang ceritanya diakhiri sampai sana. Bawah-bawah itu lebih ke 'isi kasar' kepala saya sih. Bagaimana kalau orang jadi terlalu terlena pada sesuatu dan berujung bosan? Padahal perasaan bosan itu sendiri cukup bahaya, lho. Ah well, kayaknya saya meracau.
.
Memang disarankan baca sampai sebelum spasi panjang itu aja. Lebih aman. Lebih enak. Tapi ga tahu deh, tadi jari gue ngetik sendiri nyantumin itu. Mungkin karena gue benci happy ending.
.
Lama ga nulis, kakagh .__. #apologetik

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at Baker's Tale (10 years 13 weeks ago)

Ya, saya juga lumayan kangen tulisanmu (hehe)
.
Ah... don't tell me, was it conifer? Itu terjemahan bahasa Indonya ya? *manggut-manggut*
.
Tahu ga? Daripada spasi, sepanjang baca saya kepikiran element of surprise-nya bakal lebih kerasa kalau buat itu di page 2 gitu.
Tapi ini preferensi sih

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Baker's Tale (10 years 13 weeks ago)
100

uuuh...
awal dan tengahnya manis kayak dongeng2 di majalah anak
tapi buntutnya itu.... aaa... kenyataan meamng pahit >.<
makanya setiap cerita dongeng selalu diakhiri sampai pada poin 'and they live happily ever after'
karena buntutnya kalo diterusin nggak selalu enak

Writer sastrasempoa
sastrasempoa at Baker's Tale (10 years 13 weeks ago)

Ih waw saya kangan banget deh ama Kurenai... :'''| #enggapenting
.
Lol yea, yang di bawah long space itu cuma perandaian kok. Udah ooc sebenernya. Makasih ya udah baca. Dan iya, saya lagi jatuh cinta sama gaya penceritaan kanak-kanak yang sederhana... tapi engga bisa-bisa. Kayaknya udah ngebrengsek ini lah susah di-purify #curcol

Writer Aletheia_agatha
Aletheia_agatha at Baker's Tale (10 years 13 weeks ago)
100

ini KEREEEN!!! >__<

Writer sastrasempoa
sastrasempoa at Baker's Tale (10 years 13 weeks ago)

WAAA MAKASIIIH *peluk-peluk* x'']