[FANTASY FIESTA] Penjahat dan Pemberontak

*cerpen ini diikutkan dalam ajang cerpen fantasi Fantasy Fiesta.





Penjahat dan Pemberontak



oleh Rio S. Pambudi







“Sudahlah! Kalian berdua tidak sebaiknya berkelahi melulu. Lihat, Astami jadi takut bermain bersama kalian!”



“Tapi, Ayah, ini cara kami mengukur kelihaian kami!”



“Tapi kau harus mengenal waktu, Yuda. Tidak hendak kau mengubah cita-citamu itu?”



“Sedikitpun tidak! Aku tetap ingin menjadi prajurit, aku ingin menjadi tumenggung, tapi senapati tak apalah!”



“Itupun kalau kau mampu. Bagaimana denganmu, Kamandaka? Apa cita-citamu tetap sama dengan Yuda?”



“Pasti, Paman! Aku tidak mau disalip Yuda!”



“Astami, kemarilah! Bagaimana dengan cita-citamu?”



“Cita-citaku... Aku... Aku ingin menjadi kawula biasa saja. Aku benci peperangan, aku takut melihat orang dibunuh. Apalagi aku takut Kak Yuda dan Kak Daka terluka...”



“Tenanglah, Astami. Kami berdua tidak akan gampang dilukai musuh.”



Belasan tahun, memang waktu yang relatif lama. Tak kusangka hari ini aku sudah berdiri dalam barisan prajurit Majapahit. Dadaku berdebar-debar hebat. Sebagai seorang senapati yang membawahi ratusan prajurit, aku berkuda paling depan.



“Tidak semua prajurit adalah perampok,” gumamku.



Untuk sejenak kupejamkan mata, menyudahi benakku mengenang masa lalu. Ketika kelopak kuangkat lagi, yang ada bukanlah Yuda seorang bocah kecil yang bandel, tapi ialah Senapati Yuda yang berdiri di belakang Patih Daha.



Patih Daha memutar kudanya, memandang segenap pasukan Majapahit yang gagah tanpa bandingan. Meskipun sudah tidak menjabat sebagai pemimpin pasukan, namun sosok bertubuh tinggi besar itu tetap dikagumi karena kelihaiannya dalam olah perang sehingga Prabu Putri merestuinya mengatur penumpasan pemberontak.



“TUMPAS PEMBERONTAK!!!” Patih Daha berteriak lantang seraya mengacungkan pedangnya ke depan. “KEMBALIKAN KETA KE PANGKUAN MAJAPAHIT!!!”



Langit seakan bergetar mendengar ratusan prajurit turut berteriak lantang menyambut pemimpinnya; tombak, pedang, panah, bahkan sampai kepalan tangan diunjuk. Hanya sekejap, ganti pertiwi yang bergetar hebat karena derap kaki nan gesit menggelora.



Pasukan pancingan baru saja kembali dengan dikejar ratusan pasukan Keta. Saat itulah pasukan besar Majapahit baru menyeruak keluar dari balik rimba.



Mula-mula ratusan pemanah menyapu sebagian musuh, secara bersamaan mereka menarik gendewa lalu melepaskannya. Seusai pertunjukkan pertama, kuhunus tombakku lantas memimpin pasukan berkuda yang langsung disambut pasukan berkuda pula dari Keta; dua kekuatan saling berbenturan.



Inilah pertunjukkanku.



Tak perlu tenaga banyak untuk membuat tombakku menembus tiga sampai empat tubuh musuh. Darah terciprat sampai ke wajah, tapi tak ada waktu untuk mengusapnya. Lekas kutarik tombakku, lalu kubedal kuda ke depan menyongsong lawan yang sudah menyambutku. Tepat saat kucoba menusuk, ia mengayunkan tombaknya hingga membentur gagang tombakku; saat itu kami saling melewati, dan kesudahannya ia menjadi berada di belakangku. Aku tidak menunggu kudaku berhenti meringkik ketika tangan kiriku menarik tali kekang, malahan aku segera berbalik seraya mengayunkan tombak yang langsung disambuti lawan.



Musuh ini begitu tangguh, apakah semua prajurit Keta seperti ini?



Sejenak aku terkesiap, ingin sekali menoleh untuk melihat keadaan pasukanku. Tapi kesempatan itu tak ada karena musuh telah mengantarkan ujung tombaknya. Sembari meringkik, kudaku berhasil menggoyangkan tubuhnya hingga tombak hanya menyerempet pinggangku. Aku sadar lawanku cukup tangguh, tapi aku tak gampang dilukai. Hanya dengan merasakan sambaran anginnya, kuketahui di mana posisi musuh. Kesanalah kuayunkan tombak dan dalam kesempatan itu kembali dua senjata saling berbenturan. Kupikir tenagaku telah cukup kuat, tapi ternyata musuh sanggup mengimbangi; dua mata tombak patah. Sial!



Sekilas pandang pasukanku berada di atas angin. Akan tetapi, mengapa satu lawan ini begitu kuat?



Ah, peduli apa. Sekuat apapun dia harus kutaklukkan! Jika tidak dengan tombak, maka dengan pedang.



Segera kudesak sampai ia hanya bisa mundur dan berkelit; pasukan dari kedua belah pihak sama-sama menyibak demi memberi ruang kami bertarung—rupanya ia adalah salah seorang hulubalang pasukan. Namun hulubalang pasukan Keta tersebut tidak dapat menandangi sambaran pedangku yang susul menyusul, lebih-lebih senjatanya hanya tombak puntung, hingga dua kali kulit lengannya teriris.



“Orang Keta, sebaiknyalah kau menyerah pada kerajaan! Prabu Putri begitu menghargai orang gagah, sudah pasti ia akan mengampunimu.” Sembari menuding dengan pedang, aku sengaja memancing amarah lawan.



Di luar dugaan, sikapnya tetap tenang. “Siapakah sudi mengalah pada kawanan penjahat dan perampok? Sekalipun Prabumu yang kotor itu menenteng pasukan selaksa kali lebih banyak dari ini, aku tetap tidak akan gampang dilukai.”



Aku terkejut mendengar perkataannya, tapi bukan karena ia menghina Prabu Putri, melainkan karena kalimatnya yang terakhir. Terdiam sejenak di atas kuda yang napasnya naik-turun, di antara denting senjata dan gemuruh pertempuran sekitar, kucoba mengingat-ingat suaranya.



Wajah itu...



Sedari tadi bertarung, baru sekarang aku memperhatikan wajahnya. Apakah lelaki seumuranku itu adalah dia? Apakah kulitnya telah menjadi lebih gelap dan rambutnya kemerahan karena sering dijemur matahari sehingga aku tidak mengenalinya lagi?



Tidak mungkin.



“Orang Keta, kalau kau tetap tidak mau menyerah, hendaklah jangan kau sesalkan nasibmu nanti,” gertakku.



Hulubalang tersebut tersenyum sinis. “Dewa macam apa kau ini hingga kau merasa bisa menentukan nasibku?”



Kusapukan pedang ke sekeliling. “Lihatlah, pasukanmu telah kalah, tinggal kau dan segelintir orang. Pun, cepat atau lambat aku, Senapati Yuda, akan membinasakanmu!”



Tanpa menunggu jawaban lekas kumainkan tarian pedangku. Tak ayal, musuh pun terdesak hebat. Ia hanya bisa berkelit ke kiri dan ke kanan, itupun tidak lagi leluasa karena kudanya telah kelelahan. Tampaknya demi menyadari ini, raut wajahnya tidak lagi tenang.



Dia menatapku nanar. “Dia yang berperang tanpa mengenali siapa musuhnya, mempunyai lebih banyak kemungkinan kalah daripada menang.”



Seusai mengucapkan itu ia melemparkan bajunya; aku menunduk dan menebas. Tercipratlah darah segar. Pedangku telak menembus dadanya, tapi entah mengapa hulubalang itu tetap memandangiku aneh. Nyaris tidak ada tanda ia kesakitan. Dengan gesit ditariknya pedangku lalu ia sendiripun terbang ke arah langit.



Terbang...?



Ya, dia benar-benar terbang dengan sayap!



Saat itulah aku merasa degup jantungku terhenti. Darahku membeku seketika.



“Dia...dia...” gumamku, yang tak dapat kulanjutkan karena tiba-tiba kurasakan getaran hebat menjalar dari nadi ke seluruh tubuh.



Hulubalang Keta telah terbang dengan satu sayap berwarna hitam. Dialah Kamandaka.



Dia telah pergi meninggalkan kekalahan pasukannya.



Malam itu, seluruh orang berpesta pora kecuali aku yang termenung sendirian di sudut gelap. Kucoba menjawab pertanyaan, tapi tetap saja buntu. Mengapa Kamandaka menjadi pemberontak?



Pada hari keempat setelah penaklukkan Keta, tiga-perempat pasukan melanjutkan perjalanan ke selatan untuk menggempur kawan Keta, Sadeng. Pada hari keenam perjalanan di mana jarak ke Sadeng tinggal dua hari perjalanan lagi, suatu senja pasukan berhenti untuk singgah semalam di padang rumput berbukit.



Lamat-lamat kudengar pidato Patih Daha, “...tapi ternyata mereka tidak menyerah, malah menurut telik sandi mereka telah bergabung dengan pasukan Sadeng. Tapi tak perlu kita khawatirkan apabila pasukan Sadeng bertambah, pasukan kita pun turut bertambah. Nanti saat kita menggempur Sadeng dari darat, akan datang pula bantuan pasukan dari...”



Suara Patih Daha perlahan-lahan mulai tak terdengar, menghilang di belakangku. Aku tak peduli seandainya ada yang mencariku. Yang kupikirkan sekarang adalah meneliti jalan yang kulalui. Meskipun kondisi gelap, aku benar-benar yakin mengenal jalan ini. Kerikil-kerikilnya, belukarnya, desiran anginnya, seakan sudah menyatu dengan diriku.



Maka kulihatlah titik-titik pelita di sisi lain bukit.



Tanah airku, akhirnya aku kembali padamu.



Malam baru saja turun, oleh sebab itu hawa belum terlalu dingin sehingga aku berani rebah di atas rerumputan. Kuhirup napas dalam-dalam; begitu pun banyak tempat yang indah yang pernah kukunjungi, tak ada yang lebih nyaman daripada kampungku sendiri.



Terasa lama aku merebah, lalu aku hendak kembali pada pasukanku. Akan tetapi aku tak tahu sejak kapan seorang gadis desa sudah menyadari keberadaanku. Ia menyapa. Menanyakan kabar lalu bertanya,



“Kak Yuda, di mana Kak Daka?”



Mendengar pertanyaan itu membuatku teringat pada pertarungan di Keta tempo hari. Membuatku teringat pada Kamandaka. Mungkin ia masih bisa terbang dan pergi, tapi tebasanku yang cukup dalam pasti sekarang sudah menghabisi nyawanya.



“Kak Yuda?”



Beberapa jenak aku tidak menjawab. Malah kuperhatikan wajah Astami yang cantik alami.



“Daka sudah meninggalkan kita,” jawabku.



Astami terdiam sejenak. “Apa?”



“Kemarin hari aku bertemu dengannya di medan perang. Dialah hulubalang pasukan Keta yang tewas digempur pasukan kerajaan.”



“Kenapa Kak Daka dibunuh!? Memang apa salahnya?”



Kuhela napas, menyadari Astami yang tidak mengerti seluk-beluk dunia luar. “Daka itu pemberontak yang...”



“Kak, katakan sejujurnya, di mana Kak Daka?” Samar-samar kulihat titik berkilauan di mata Astami.



“Di alam baka.”



Seketika Astami jatuh terduduk. Kucoba menjelaskan kepadanya akan tetapi gadis itu seolah tidak mendengar apapun. Sejurus kemudian ia sudah berlari kacau ke sisi bukit yang terjal.



“Astami, apa yang akan kau lakukan!?” seruku, ketika kulihat Astami berdiri membeku di tepi jurang.



Astami menoleh, tatapannya dingin. “Kak Yuda, sekarang Kakaklah prajurit kerajaan. Bukankah Kakak yang membunuh Kak Daka?”



Yang ditanya hanya diam.



“Pada waktu musibah itu melanda kampung, Kak Daka telah menolongku. Kini ia pergi sebelum aku membalas kebaikannya. Kenapa seperti ini yang terjadi?” Gadis itu terisak.



Akupun ingin menolongmu. Sayang sekali waktu itu aku sudah dihajar babak belur lebih dulu.



“Aku ingin bertemu dengan orang yang kucintai,” kata Astami kemudian.



Sekejap setelah kata-kata Astami sampai di telingaku, tahu-tahu tubuh gadis itu sudah hilang di balik tepi jurang.



Tinggal tersisa aku yang sendirian memeluk malam.



Rasanya, ada yang hilang.



Ada rongga di dalam hati yang terus tak bisa kulesapkan sampai aku berhadapan dengan pasukan Sadeng.



Kemarahan aneh yang kurasakan ini segera kulampiaskan kepada prajurit-prajurit pemberontak yang menyongsongku. Segera tombakku patah setelah membabi buta hingga menewaskan puluhan prajurit. Kutarik pedang lalu kembali kuterobos kepungan, aku maju seorang diri membunuh siapapun yang ada di dekatku. Ketika pasukan pihak kerajaan sedikit-sedikit mundur karena tak mampu menghalau pasukan gajah dari Sadeng, justru saat itu aku melompat dari kuda. Dalam sekejap kubunuh penunggang gajah itu lalu merayap turun. Akan tetapi jumlah pasukan gajah terlampau banyak, sementara sekarang ini aku sudah sendirian di garis depan.



Persetan hidup atau mati, aku harus maju!



Anehnya, ketika aku hendak maju pasukan gajah sudah lebih dulu goncang tak beraturan. Rupanya mereka kalut oleh suara ledakan dari belasan kapal yang baru saja datang. Segera istana Sadeng yang terletak tak jauh dari laut itu diserang pasukan tambahan. Karena melihat itulah, nyali pasukan Majapahit kembali membubung. Ribuan dari mereka menyalipku lalu menerjang istana.



Saat itu aku belum bereaksi apa-apa ketika kulihat terlemparnya sejumlah prajurit. Terjangan besar-besaran itu kacau balau layaknya aliran deras sungai yang membentur batu.



Ketika aku melantas ke depan, kulihat sosok lelaki bertelanjang dada bersenjatakan pedang berdiri menghadang sendirian di muka gerbang.



“Kamandaka,” desisku.



Kami saling pandang selama beberapa saat.



Lalu secepat kilat dia telah berada di depan mukaku dengan pedang terayun. Meskipun terkejut dengan kecepatannya namun aku tidak lupa untuk menangkis. Serta merta tangan kananku terangkat, disusul dentingan memekakkan dari dua senjata yang saling beradu keras.



“Kita sahabat, aku tak ingin membunuhmu.” Kucoba mengatakan sesuatu selagi pedang kami masih saling menempel.



Kamandaka menarik pedangnya. “Sapa yang mau dikasihani oleh orang sepertimu!?”



Di saat Kamandaka mengangkat pedangnya, aku justru menurunkan pedangku. “Aku sudah mengakibatkan Astami mati dengan mengabarkan kau mati di Keta. Sekarang ingin sekali aku menebusnya, kau bunuhlah aku saja!”



Sambaran pedang Kamandaka berhenti tidak sampai sejengkal dari leherku. “Apa katamu!? Astami sudah mati?”



“Benar, ia bunuh diri.”



Mata Kamandaka seketika membelalak. “Kau... kau harus membayarnya!”



Setengah membungkuk, Kamandaka menarik pedangnya ke belakang lalu secepat kilat gerakannya berubah menjadi tusukan maut yang mengincar dadaku. Aku memang tidak berniat melawan, karena itu kuserahkan saja nyawaku padanya. Namun dalam pada itu, kudengar teriakan di belakangku,



“LINDUNGI SENAPATI! LINDUNGI SENAPATI!”



Terang saja tusukan Kamandaka tidak mengenai sasaran, malah membunuh tiga prajurit sekaligus yang berusaha melindungiku. Saat kurasakan punggungku ditarik ke belakang, saat itulah kulihat puluhan prajurit sudah merubung Yuda untuk mengantarkan nyawa. Hanya dengan satu sapuan pedang saja mereka sudah terlempar beberapa depa. Selain itu, Kamandaka tidak mempan dikepung ketika ia sudah merentangkan sayapnya.



Kamandaka menukik turun, mencoba menikamku dari atas.



Melihat prajurit yang berusaha melindungiku justru dibunuh, seketika pikiranku berubah.



Kau adalah sahabatku, jika kau mau membunuhku bunuhlah saja. Namun aku tidak mau mati sebelum kau sadar akan kekeliruanmu.



Seketika kurasakan kakiku tidak lagi menginjak tanah. Rupanya tadi aku tidak mendengar suara robekan di punggung bajuku. Tahu-tahu aku sudah terbang ke atas menyongsong musuh, mendentingkan pedang kami masing-masing hingga tertampak sekilas letupan api dari pertemuan kedua bilah.



Ia memandangku dari balik bilah pedangnya...



Tatapan mata yang dingin...



Tanpa terasa tulangku menggigil, akan tetapi tidak ada waktu untuk takut karena sekejap mata Kamandaka telah menarik pedangnya. Tak ingin ingin ikut-ikut tertarik, lekas kupentangkan sayapku dan mundur ke belakang seraya mengibaskan pedang menangkis tiga serangan beruntun dari Kamandaka. Aku tidak tahu kalau aku sudah didesak mundur sedemikian telak sebelum aku merasakan ujung sayapku menyinggung tanah. Saat itu juga kuayunkan pedang sekuat tenaga dan secepat mungkin untuk memaksa Kamandaka menjauh, dengan begitulah aku bisa selamat.



Akan tetapi tidak sampai sepuluh depa terbangku sudah disusul lawan. Terpaksa kuputar tubuh untuk menyambut sabetan melintang yang nyaris mengiris kulit leherku. Namun hulubalang Keta yang kini bergabung dengan Sadeng tersebut tidak mudah menyerah. Tepat saat pedangnya menyambar saat itu juga kukeluarkan tangkisan; dentingan memekakkan, nyeri tiba-tiba di tangan, lalu aku terlempar belasan depa hingga kurasakan tubuhku membentur sesuatu yang bergerak-gerak.



Badan gajah!



Baru saja aku menyadari tempat punggungku tertahan, tiba-tiba saja binatang besar itu sudah mengayunkan belalainya. Untunglah kegesitanku masih dapat dijadikan penyelamat; belalai lewat di atas kepalaku—terasa menyambar beberapa helai rambut. Kemudian dengan mengadu keberuntungan aku lewat di bawah perut gajah dan terus melesat meliuk-liuk di antara pasukan gajah yang kacau sampai aku kembali terbang ke atas. Hanya sayang sekali Kamandaka telah menanti. Sial, sial, sial!



Ingin sekali kuayun pedang, akan tetapi pedangku sudah tidak ada!



Terlebih mengenaskan, tubuhku terlanjur melesat cepat ke atas dan sulit sekali dihentikan.



Aku akan mati.



Kuingatlah semua wajah orang-orang yang kusayangi. Sekilas kulihat wajah ibu yang sulit kuingat, wajah ayah yang keriput, wajah Astami yang elok, wajah tetua desa yang penyabar...



...lalu wajah Kamandaka. Yang kini berhadapan denganku. Yang pasti sudah membunuhku seandainya penyelamat tidak datang pada saat yang tepat.



Aku belum mati.



Entah darimana datangnya tiba-tiba saja anak panah melesat susul-menyusul. Kulihat Kamandaka mau tak mau menggunakan pedangnya untuk menyapu anak panah yang haus darah. Sehingga menanggapi mendekatnya tubuhku, Kamandaka hanya bisa menggunakan siku kirinya. Telak dadaku terhantam, membuatku meluncur turun dengan sangat pesat, diakhiri dengan rasa sakit yang sangat hebat.



Ada cairan hangat meluap keluar dari mulutku.



Apakah ini darah?



Samar-samar, di antara kepulan debu, kulihat bumi dipenuhi pasukan Majapahit yang sebagian konsentrasinya terpecah ke arahku. Sejenak sebelum Kamandaka turun tangan, mereka masih sempat menyerang dengan panah untuk menolongku.



Sekejap kuhirup napas dengan sesak, namun toh terasa lega juga.



Barulah saat matahari dialingi, napasku terasa lebih sesak.



“Yuda, belasan tahun kita bersahabat, belasan tahun pula kita tidak bersua. Alangkah, ternyata jalan yang kita pilih jauh berbeda.” Berkatalah Kamandaka sembari menudingkan pedangnya ke dadaku. Sebatang anak panah menancap di pahanya.



“Kau ingat air kendi yang kita minum?” tanya lelaki yang terbang tersebut.



Tentu saja aku ingat pemberian tetua desa sewaktu kita hendak berangkat merantau dulu, yang semula kita pandang sebagai air biasa. Namun sedikitpun rasa nyeri tidak mengizinkanku menjawab.



Kamandaka melanjut, “Aku telah minum separuh, begitupun dirimu. Sampai kita sama-sama mendapatkan sayap ini.” Ia mengibaskan satu sayap di sebelah kiri punggungnya lalu menunjuk satu sayap di punggung kananku. “Hanya bedanya, kau sama sekali tidak pernah menggunakannya tetapi aku malah melatihnya agar suatu saat dapat membantuku melawan kawanan penjahat sepertimu!”



Aku terkesiap mendengar nada suara Kamandaka yang mencemooh. “Kau... kau salah, Daka!”



Ia tersenyum sinis. “Aku sudah menduga kau masih tetap pada cita-cita lamamu, kau masih menginginkan menjadi penjahat, karena itulah kupisahkan diri darimu di tengah perjalanan. Tak tahunya, bulat-bulat dugaanku benar! Komplotan pasukan ini hanyalah penjahat, kau penjahat!”



“Aku bukan—”



“Apa kau lupa bagaimana caranya kampung halaman kita bisa porak-poranda?” potong Kamandaka, cepat. “Apa kau lupa kalau semua itu buah tangan para prajurit kerajaan? Dan sekarang... kau justru bergabung dengan kawanan perampok, kawanan penjahat yang hina-dina!”



Seketika dalam benakku tergambar kobaran api dan pembantaian yang membuat kampungku serasa tak layak ditempati lagi setelah itu.



Dengan menahan sakit kucoba berdiri. “Daka, pasukan Rakryan Kuti-lah yang merusak kampung kita. Rakryan Kuti hanyalah pemberontak, pasukan yang dibawanya sama sekali bukan pasukan Majapahit yang sejati!”



Kamandaka menyengir.



“Menyerahlah, Daka. Tidak seharusnya kau menjadi pemberontak.”



Sontak sosok sahabat lamaku itu membentak, “Majapahit hanyalah negeri bobrok! Kenapa aku harus takluk padanya? Kerajaan sama sekali tidak peduli pada kami, apa salah apabila kami memberontak?”



Tanpa memberi kesempatan bicara padaku, Kamandaka berkata dengan suara keras, “Kalian sibuk memikirkan siapa raja yang baru, sama sekali tidak memikirkan bagaimana rakyat kalian menderita! Kemarau berlangsung demikian lama, sawah dan sungai kering, tapi kalian justru menarik upeti dengan ganas demi perut kalian, salahkah apabila kami memberontak?”



Ia berhasil membuatku lupa bagaimana caranya berkata. Sedang aku memikirkan upaya untuk menyadarkan Kamandaka, tiba-tiba lelaki tersebut sudah melontarkan pertanyaan yang membuatku semakin risau,



“Kau sahabatkau atau bukan?”



Jelas aku tak bisa menjawab.



Karena berpikir itulah, aku terlambat mendengar sambaran angin yang lewat di atas kepalaku. Sekonyong-konyong kurasakan darah membasahi wajahku, membuat kelopak mataku menutup dengan sendirinya. Tatkala aku membukanya kembali, di hadapanku telah nampak sesosok lelaki dengan belasan panah menancap di dadanya. Ia terbaring mati, dengan kelopak matanya masih membuka, menyorotkan kebencian yang dalam.



Tanpa sadar aku menggumam, “Kau tetap sahabatku, aku tidak rela melihatmu mati sebelum mendapatkan kesadaranmu. Kau hanya memperjuangkan apa yang menurutmu benar, tidak sepantasnya kau mati.”



Entah apa yang kurasakan saat itu, yang kutahu dadaku bergemuruh panas. Rasa panas ini sekejap saja sudah menyebar ke seluruh otot hingga serasa aku mendapatkan tambahan tenaga baru. Tangan dan kakiku ingin sekali bergerak.



Lambat-lambat aku mengingat, dan sadar siapa gerangan yang memerintahkan melepas panah.



Pikiranku berat. Apa yang harus kulakukan?



Negara atau sahabat?



Kampungku sudah rusak, orang tuaku sudah lama tiada, Astami telah mati, Kamandaka baru saja pergi. Kenapa aku masih tertinggal sendiri di dunia ini? Kenapa dulu aku ingin menjadi prajurit jika akhirnya seperti ini?



Dengan satu gerakan tangkas kuambil pedang Kamandaka. Sekilas, terpikir untuk membunuh diri.



Namun begitu kulihat mayat Kamandaka, seketika darahku bergejolak. Saat itu juga kupentangkan sayap dan melesat cepat di atas kepala-kepala prajurit yang tadinya menontonku. Pedang Kamandaka kupegang erat, terhunus mengincar satu orang. Ialah Patih Daha. Patih Daha yang bernama Gajah Mada.



--o0o--

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
50

YA INI SERU YA... :D

80

Perkenalan karakternya di awal bagiku agak kurang jelas. Aku bisa mengikuti dialognya, tapi pas narasi berubah jadi dari sudut pandang orang pertama, aku sempat kebingungan soal siapa yang ngomong. Ditambah lagi aku sempat mengira kalau Astami juga cowok.
.
Sisanya, narasi dan runutan adegan pertarungannya mengalir lancar. Latar Majapahit-nya menarik. Lalu aku setuju, kayaknya masih banyak yang bisa digali dari tema cerita ini.

50

wah....
jadi gak sabar kelanjutannya....
kutunggu !
^.^

70

Wah, ada yang mengangkat majapahit ke cerita fantasy. Cuma, kok bagian Gajah Mada lagi? Bukanx banyak bagian yg menarik di Majapahit?
.
Cerita Yudha ama Daka rada stereotipe, teman lalu pisah jadi musuh, eksekusi pertarungan bagus, jadi ingat Sephirot d FF7.
Sayang sekali Astimi kurang digali.