AntiMonkey Series: Love X Monkey! [Part 4]

 

 

***

 

Aku mengerjap-ngerjap kedua mataku. Sinar cahaya lampu begitu menyilaukan.

“Kau sudah sadar?” Suara itu membuatku tersadar aku tidak sendirian.

“Di mana ini?” Aku berusaha duduk menyender di bangku taman ini. Kepalaku terasa sakit seperti habis terbentur sesuatu.

“Taman kota. Aku tidak berani membawamu dengan keadaaan seperti itu. Lagi pula aku tidak tahu di mana rumahmu,” jawab Pink Monkey.

 

Apa?

Pink Monkey?

“KAU?!” seruku terkejut. Membuat semua kesadaranku terbangun sempurna.

Sorot matanya bersinar dingin kertika menatapku.

 

“Kenapa? Tidak senang melihatku? Aku juga sangat tidak suka melihatmu,” katanya tajam.

“Aku tadinya ingin saja meninggalkanmu di gedung bioskop itu tapi Hanazono menyuruhku untuk mengurusmu sedangkan dia marah saat melihatmu pingsan. Lebih hebatnya lagi teman-teman anehmu menjerit terkejut saat melihatku memegangimu yang pingsan. Mereka langsung kabur membawa Hanazono,” jelasnya panjang lebar saat menangkap ekspresi heranku.

 

Benar-benar si Ryu, Rend an Kuga itu! Tega-teganya meninggalkanku sendirian dengan Pink Monkey!

 

“Kulihat kau sudah lebih baik dan bercak-bercak merahmu sudah tidak ada lagi. Aku pulang,” katanya kemudian sambil bangkit berdiri.

 

Cepat-cepat aku mencekal tangannya. “Tunggu!”

 

Dia menoleh menatapku dingin. Diam membisu menanti apa yang akan kulakukan.

“Terima kasih,” kataku akhirnya, memecah jeda kesunyian panjang. Aku berusaha menampilkan senyum terbaikku dan sepertinya berhasil membuatnya terpana. Walau hanya sedetik. Wajahnya kembali menatapku dingin.

 

“Kau sengaja ingin membuat alergimu kambuh?”

 

Aku sadar apa yang dia ucapkan benar. Tanganku mulai gatal-gatal dan menjalar ke semua tubuhku. Aku yakin tubuhku mulai memerah seperti kepiting rebus.

 

“Lepaskan aku!” perintahnya tapi aku malah mencekal kuat tangannya.

“Tidak!” aku bersikeras tidak melepaskannya.

“Kau ini gila ya?! Keadaanmu benar-benar mirip kepiting rebus berbintik-bintik!” Sekali lagi dia mencoba menarik tangannya. Namun aku tetap tidak mau membiarkannya pergi begitu saja.

“Ya! Aku gila karenamu,” sahutku lantang. Menatap wajahnya serius.

Sebenarnya aku sama sekali tidak ingin mengatakan itu tetapi entah apa yang membuatku berani mengatakan hal itu. Tidak mungkin aku menarik perkataanku. Tetapi aku tidak menyesal. Dia diam bergeming. Perlawanannya berganti menatap dalam-dalam mataku.

 

Malam ini bintang-bintang memantulkan sinarnya dengan semangat. Angin dingin berhembus pelan. Sedikit membuat tubuhku kedinginan dibalik kaos dan mantel tebal ini. Namun kehadiran Momono membuatku lebih hangat.

 

“Kau ini kebanyakan nonton drama dan komik percintaan ya?” komentarnya sinis.

 

Wajahnya tetap dingin dan datar tapi aku berani bersumpah melihat sepasang mata hijaunya bersinar melembut walau hanya sesaat.

 

“Kalau benar memang kenapa?” tantangku. “Aku benar-benar mengungkapkan apa yang kurasakan akhir-akhir ini! Aku bahkan ke psikiater!” ungkapku jujur. Mataku tak lepas menatap ke dalam matanya. Keningnya berkerut bingung tidak percaya.

 

Serius, waktu itu aku sempat pergi ke psikiater yang disarankan Ryu padaku.

 

“Tiga hari lalu aku diam-diam ke psikiater dan mengungkapkan semua permasalahanku. Psikiater itu pun bilang aku benar-benar tidak waras. Katanya aku terkena penyakitkan mematikan…” Aku menarik napas menunggu reaksinya tapi dia hanya diam menatapku sedikit penasaran. Aku tersenyum simpul.

 

“Aku didiagnosis terkena serangan cinta dan kebodohan stadium tiga,” lanjutku murung. Merasa begitu payah, aku melempar pandanganku pada tanah yang kupijak.

 

Tiba-tiba kurasakan tangan yang kupegang bergetar. Apa dia menangis karena nasib tragisku?

 

“Aku tahu kau pasti juga sedih. Tapi kumohon jangan menangi-“ aku terdiam dan tersenyum masam saat dia mati-matian menahan tawa. Menyebalkan memang. Tapi kuakui aku senang melihatnya.

 

“Bwahahahaha! Kau ini benar-benar lucu ya!” Dia tergelak tak kuasa menahan tawanya.

“Jangan menertawaiku!” seruku menahan malu. Tapi dia tetap tertawa, malah semakin keras. Rasanya aneh mendengar dia tertawa. Sepertinya aku pernah mendengar tawanya. Tapi kapan? Di sekolah dia tidak pernah terlihat tertawa ataupun tersenyum. Wajahnya selalu datar dan tatapannya tajam.

 

“Kau ini benar-benar bodoh.” Dia terus tertawa. Aku melotot tajam, tidak senang.

“… benar-benar tidak berubah..”

Eh?

Samar-samar aku mendengar dia menggumamkan sesuatu.

 

“Apa katamu tadi?” tanyaku spontan.

 

“Aku pulang,” jawabnya ketus sembari mengangkat tas selempang pinknya dan berbalik cepat.

 

“Eh? Apa? Bukan itu! Tunggu!” Aku panik saat melihatnya berlari menjauh dariku. Kucoba menggerakkan kakiku untuk mengejarnya, sial, gatal-gatal merambah sekujur tubuhku. Semakin lama tubuhku terasa panas dan kepalaku mulai pusing.

 

“Kei!” seseorang menyerukan namaku dengan penuh kecemasan.

Kuharap itu Momono, tapi tetap saja itu tidak mungkin. Suara itu berat dan dalam.

 

Sial.

Kepalaku terasa berat dan sakit.

 

“Kau benar-benar harus diantar pulang.” Sepasang tangan menahan tubuhku yang sedikit kehilangan keseimbangan.

“Benar-benar terlihat menyedihkan,” komentar seseorang.

 

Aku memaksakan kepalaku menengadah, melihat siapa yang ada di dekatku. 

 

-tbc-

Read previous post:  
35
points
(595 words) posted by cyber_nana 10 years 17 weeks ago
70
Tags: Cerita | Cerita Pendek | komedi | gaje | jayus | manga
Read next post:  
Be the first person to continue this post
90

penyakitkan mematikan --> penyakit mematikan
.
akhirnya dilanjut... hu~ udah keburu lupa nih ama ceritanya >.<

typo... huhu.. T_T
Iya, Nana sendiri jg sampai lupa pokok ceritanya apa aja.. hehe.. :D>
Makasih kak Kure XD XD XD

So glad to have you come back, Nana <3<3<3

100

So glad to have you come back, Nana <3<3<3

Makasiiiiiiiih banyaaaaaaaaaak dansou XD XD XD