Progress Report - Faris (3)

Faris tak ingat sejak kapan persisnya semua berjalan seperti ini.

Menendang lepas selimut yang mengikat kakinya, mengenakan sandalnya, lalu membuka pintu kamarnya hingga terbuka dan mengikuti derap langkah kaki dari ujung lorong, Faris sepenuhnya memahami bahwa pasti lagi-lagi ada sesuatu yang telah terjadi. Lagi-lagi sesuatu telah menyulut kemurkaan ibunya. Lagi-lagi ia sendiri yang harus turun tangan sendiri untuk menyelesaikan persoalannya, sebab ia tahu selama ini para pelayan di rumah itu terlalu dungu untuk memperjuangkan apa yang terbaik bagi diri mereka.

Ini bukan pertama kalinya kejadian semacam ini ia hadapi, dan selama ini Faris sudah berulangkali memaksakan diri untuk bersabar.

Tapi tidak untuk kali ini.

Faris sudah muak. Faris sudah cukup dengan segala kegilaan ini. Bila malam ini Faris tak bisa menghentikan semua… semua itu, untuk sekali dan selamanya, dengan suatu kebencian yang tiba-tiba saja begitu menggelegak, Faris bersumpah akan minggat dari rumah ini.

Dalam hati ia berharap Anton, teman sekelasnya yang sejauh ini paling akrab dengannya, akan bersedia menampung dirinya untuk beberapa lama sampai ia bisa menemukan tempat tinggal sendiri. Mungkin Faris akan harus cari kerja—semacam kerja sambilan yang bisa ia lakukan seusai jam sekolah agar bisa menghidupi dirinya, sekalipun itu beresiko mengungkapkan pada semua orang di sekolah dari keluarga macam apa dirinya berasal.

Tak apa. Mungkin beberapa hari tanpa dirinya akan membuat ibunya sedikit waras kembali. Faris tersenyum pahit.

Tapi segera saja Faris menyesal telah berpikir demikian. Itu pikiran kejam. Sebab Faris tahu benar bahwa wanita itu ibu kandungnya dan Faris juga tahu betapa wanita mengerikan itu sebenarnya sepenuhnya menyayanginya. Wanita itu, meski kini sedikit ‘terganggu,’ adalah wanita yang melahirkannya. Wanita yang menyapihnya sejak kecil. Wanita yang dulu menyusuinya.

Seberapa sakitkah hatinya bila Faris tiba-tiba saja menolak keberadaannya? Apabila ia tiba-tiba menghilang begitu saja? Apabila ia menganggapnya sebagai gangguan dalam hidupnya yang belum pernah dianggapnya tenteram?

Faris tahu benar sebagus apapun alasan yang dia punya, sikap yang seperti itu akan bisa membuatnya disebut anak durhaka.

Sial.

Kepalanya kembali terasa pening.

Faris tak bisa menjabarkan perasaannya yang campur-aduk saat itu. Mungkin karena ia separuh diingatkan akan besarnya jasa seorang ibu. Mungkin karena tiba-tiba saja ia jadi ingin mendengar suara dalam mimpinya itu lagi. Atau mungkin juga karena ia kesal karena teriakan-teriakan penuh murka ibunya meyakinkannya bahwa suara surgawi itu hanya berasal dari mimpi belaka.

Sebenarnya, suara tadi itu apaan sih?

Menyingkirkan pertanyaan retoris itu dari kepalanya, Faris mempercepat langkahnya dalam menyusuri lorong-lorong rumahnya yang gelap. Ia bisa mendengar derik kayu berpelitur yang melapisi permukaan dinding-dinding lorong. Kembali ia merasakan pula sensasi misterius dari beberapa lukisan potret wajah yang terpajang di dinding yang seakan mengawasi kepergiannya.

Menilai dari arah mana suara kegaduhan dan teriakan ibunya berasal, nampaknya ibunya dan para pelayan lain telah dikumpulkan di ruangan depan. Mengandalkan nalurinya yang telah terasah karena dibesarkan di rumah itu semenjak kecil, Faris mengambil belokan-belokan yang ia perlukan dan tak lama kemudian melihat salah satu ujung lorong yang diterangi cahaya.

Separuh berlari, Faris akhirnya berhasil menyusul sekelompok pelayan yang tengah berlari tergopoh-gopoh di depannya.

“Tuan Muda, apakah… apakah ada sesuatu terjadi?”

Pelayan yang menanyai Faris adalah salah satu pelayan wanita yang Faris ingat telah bekerja di rumahnya selama belasan tahun. Nada suaranya terdengar gugup dan Faris, sebagaimana para pelayan yang lain, sudah cukup mengenal sang Nyonya Rumah untuk memahami ekspresi ketakutan yang tersirat di wajahnya.

Toh ini bukan pertama kalinya hal seperti ini terjadi.

“Ah, saya… saya juga kurang tahu.” Faris menjawab sebisanya, menahan diri untuk tetap bersikap sesopan dan setenang mungkin.

Faris mencoba memberi wanita itu pandangan mata yang menyakinkan bahwa segala sesuatunya baik-baik saja dan tak ada hal besar atau buruk yang benar-benar terjadi. Seandainya sesuatu yang besar atau buruk dan tak baik-baik saja ternyata sedang terjadi pun, maka seperti biasa, dirinya tetap akan mengusahakan agar semuanya berakhir dengan baik-baik saja.

Benar-benar baik saja. Tanpa resiko luka atau pertumpahan darah.

Walau selama ini keadaan jarang berakhir tanpa sedikit pecahan kaca dan beling.

Yang pasti—menanggapi pertanyaan pelayan tersebut—sesuatu benar-benar telah terjadi. Entah apakah itu hal besar, atau hal buruk, dan entah pula apakah semuanya akan bisa berakhir dengan baik-baik saja, tapi apa lagi yang bisa membuat ibunya yang kolot itu berteriak-teriak di tengah malam buta begini?!

“Franco!”

Suara Nyonya Rumah yang mulai parau ternyata masih terdengar jelas bagi mereka yang baru datang.

Faris beserta para pelayan yang menjadi rombongannya tiba di ambang ruangan depan—ruangan pertama yang akan menyambut pengunjung begitu mereka memasuki pintu utama rumah. Lantai mengkilapnya terbuat dari marmer. Ada tangga kayu elok berwarna gelap di tengah ruangan yang secara langsung terhubung ke lantai atas.

Mereka tak bisa melihat jelas sosok sang Nyonya Rumah, meski Faris bisa membayangkan ibunya berada di atas sana; berdiri di balik birai di puncak tangga sambil berkacak pinggang, masih dengan gaun pesta hijau kesukaannya dan riasan wajah tebal di bawah tatanan rambut bergelung seakan saat itu masih jam minum teh pukul empat sore.

Di sana, lampu gantung mewah warisan dari lima generasi lampau masih memancarkan cahayanya yang temaram. Faris dan para pelayan tak berani melangkah keluar dulu dari bayang-bayang di lorong.

Tapi mereka bisa melihat dengan jelas sosok renta Franco, si kepala pelayan, yang telah tiba persis di tengah-tengah ruangan depan sebelum mereka. Kepala lelaki tua itu menengadah dengan tegang ke arah suatu sosok yang Faris dan rombongannya tak bisa lihat. Untuk suatu alasan, nafas lelaki itu terengah-engah.

Pria tua itu memiliki mata yang senantiasa memicing tajam, membuatnya terkesan culas, dengan rambut putih beruban serta suara yang keras. Faris agak terkejut mendapati dirinya masih mengenakan seragam kerjanya sebagai kepala pelayan, meski celana panjang dan jas hitam serta kemeja putih yang dikenakannya tak terlihat serapih biasanya. Padahal para pelayan lainnya yang pada saat itu, tak jauh berbeda seperti Faris, mengenakan pakaian santai yang mereka kenakan untuk tidur.

Di ambang lorong di seberang ruangan yang mengarah ke sayap rumah yang satunya, Faris samar-samar melihat serombongan pelayan lain yang juga terpaku menyaksikan apa yang akan terjadi. Paman Tukang Kebun yang akrab dengan Faris juga ada di antara mereka.

Ada detik penuh ketegangan yang berlalu. Saat itu, pintu masuk utama—sepasang pintu ganda berat, setinggi dua setengah meter, dan terbuat dari batang-batang kayu pilihan—tiba-tiba berderit dan membuka sedikit tanpa sebab yang jelas.

Faris seketika bertanya-tanya; apa pintu itu membuka karena sebelumnya tak tertutup rapat?

Apa sebelumnya Franco sedang berada di luar rumah dan baru saja kembali saat kegaduhan terjadi?

Faris mencoba memperhatikan jejak kaki lelaki tua itu. Memang ada sedikit bercak lumpur yang entah bagaimana hampir terhapus dengan baik di permukaan lantai.

Dengan deritan, pintu itu kembali bergoyang perlahan, seakan mengundang masuk udara malam dari luar. Angin dingin sedikit tersapu ke tangga lebar di hadapan pintu masuk utama, dan ke sepasang koridor pada kedua lantai yang bermula dari sisi-sisi ruangan tersebut.

Faris menggigil. Entah karena dinginnya angin kencang yang berhembus dari luar itu, atau karena janggalnya situasi yang berlangsung di hadapannya.

“Francoooo!” Terdengar Nyonya Rumah menjerit sekali lagi begitu sosok yang semenjak tadi ia pastikan telah muncul di hadapannya.

“I, iya, Nyonyaku?” jawab Franco dengan gugup.

Nyonya Rumah tampaknya baru saja memandangi sosok Franco secara sekilas. Persisnya, saat ujung jas Franco secara dramatis berkibar-kibar karena tertiup angin. Ekspresi wajah yang Franco tampilkan saat itu seakan menegaskan betapa tatapan mata wanita itu tak terlalu berbeda seperti saat memandang seonggok kain pel kotor yang menjijikan.

“Kau dipecat.”

Suara sang Nyonya Rumah menyentak tiba-tiba, dan seketika seluruh penghuni rumah yang lain menarik nafas. Segera timbul keributan teredam saat semua pelayan yang menyaksikan dari bayang-bayang kedua koridor saling melontarkan reaksinya masing-masing.

Mata Faris berkelebat liar.

Apa? Apa lagi yang terjadi?

Secara naluriah, kepala Faris mulai berpikir keras. Ini bukan pertama kalinya kejadian seperti ini terjadi dalam rumahnya. Franco dan Nyo-, ibunya, sudah sering sekali beradu pendapat sebelumnya, dengan ibunya yang sampai sejauh ini selalu berhasil mendapatkan apa yang beliau inginkan. Jadi apa yang terjadi? Jika ini benar-benar pemecatan, rasanya kejadian kali ini sudah agak sedikit keterlaluan bila sampai harus dilakukan di waktu dini hari seperti ini.

Franco mungkin memang mencurigakan.

Faris sendiri, terbawa suatu kenangan di masa kecil, kerap kali gentar bila melihatnya. Tapi ia memiliki alasan-alasan pribadinya sendiri untuk menghargai lelaki tua menyebalkan yang berdiri di hadapannya itu.

Franco memang telah lama mengabdi pada keluarganya. Begitu lamanya, sampai-sampai Faris merasa sosoknya telah ada di rumah itu semenjak dirinya lahir. Walaupun pada kesehariannya ia dikenal sebagai seorang pria tua licik yang gemar memanfaatkan kelengahan orang lain oleh orang-orang yang tahu tentangnya, ia memang selalu menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik. Rasanya, hampir tak ada hal yang tak dapat pria tua itu kerjakan.

Franco sendiri saat itu masih berdiri mematung di tempatnya. Jelas-jelas tampak tak dapat mempercayai apa yang baru saja ia dengar.

“Ma, maaf.” Tanpa sadar suaranya telah memelas. “Nyonya bilang a…?”

“KAU DIPECAT!” Nyonya Rumah meraung untuk yang terakhir kalinya. Suaranya menggema di sepanjang semua lorong. Ekspresi di wajahnya pasti bagai siap untuk membunuh.

Blam.

Mendadak, kedua pintu depan yang berderit-derit itu terbanting tertutup. Bersama hilangnya suara angin yang menderu-deru dari luar, selama sejenak, keheningan merayapi ruangan itu. Bahkan bunyi-bunyi binatang malam, yang sebelumnya masih terdengar dari pelataran luar, kini telah menghilang tanpa sisa.

Hening sejenak.

“Ta, tetapi Nyonya, kesalahan apa yang telah saya perbuat?” Franco merintih.

“Tidak ada.” jawab Nyonya Rumah.

“Eh?”

“Kali ini, sama sekali tidak ada kesalahan yang telah kau perbuat.”

“La… lalu?”

“Kau dipecat karena memang sudah waktunya.”

Memang sudah waktunya?

Sama seperti para pelayan lainnya yang kini bersembunyi bersamanya, Faris tak dapat memahami perkembangan kejadian yang begitu tiba-tiba ini.

Dilihatnya Franco kini bergerak-gerak gelisah. Keringat dingin bercucuran di dagunya. Amat berbeda dengan wajah ibu Faris, sang Nyonya Rumah, yang entah mengapa, setelah Faris dengan nekat mencoba mengintipnya dari celah-celah pegangan tangga, seakan nampak menikmati saat-saat ini.

Tak mungkin Ibu memecat orang begitu saja. Apa Franco diam-diam telah melakukan kesalahan yang tak bisa disebutkan terang-terangan?

Saat Faris terdiam memikirkannya sejenak, rasanya bila memang seperti itu yang terjadi, kenyataannya akan benar-benar sesuai dengan sifat kepala pelayan itu.

Tapi… bukannya sejak dulu juga, Franco memang sudah sering melakukan kegiatan-kegiatan yang mencurigakan?

“Memang, seharusnya kau kupecat sejak bertahun-tahun lalu. Tapi sayang sekali, setelah menanti bertahun-tahun, baru beberapa menit lalu sajalah aku berhasil mendapatkan penggantimu yang tepat.” Tiba-tiba saja Nyonya Rumah menjelaskan dengan suara yang lebih lembut, meski tetap bernada tegas, dengan tatapan matanya yang begitu keras dan dingin.

Beberapa menit yang lalu?

Pengganti yang tepat?

Faris merasakan gerakan teredam dari pelayan-pelayan yang ada di dekatnya.

Tentu saja.

Ucapan ibunya ini berkaitan dengan nasib mereka.

Tapi Franco nampak seakan tak mendengar kalimat terakhir ibunya ini.

“Ma, maksud Nyonya. Apakah Nyonya bermaksud mengatakan, sudah tiba waktunya bagi saya untuk…” Nada suaranya bergetar. “…untuk pensiun?”

Pensiun?” Nyonya Rumah mengulang kata itu dengan keras, kemudian tiba-tiba saja tergelak. “Ohohohoho! Tentu saja, ya, ‘pensiun’ adalah kata yang lebih baik, bukan? Ohohohoho!”

Seluruh penghuni rumah itu, selain mereka yang terkena cahaya lampu gantung di ruangan depan, terpaku. Setiap kali sang Nyonya Rumah tertawa, mereka selalu terpaku. Karena wanita itu, sejauh yang telah mereka ketahui darinya, hanya akan tertawa jika tak ada orang lain yang akan tertawa bersamanya.

Tawanya membuat orang-orang merinding. Tawanya terdengar ganjil serta tak nyaman didengar. Biasanya tawa seperti itu akan langsung dihentikan bila dilepas oleh orang kebanyakan, tetapi tawa sang Nyonya Rumah biasanya untuk beberapa lama akan terus berlanjut. Bahkan Faris pun sampai saat ini masih belum terbiasa dengan suara tawa yang menyebalkan itu.

Tapi tak seorangpun mau membantah sang Nyonya Rumah.

“Ya, ya. Franco, menurutku, sudah waktunya bagimu untuk ‘pensiun.’ ” ucap sang Nyonya Rumah lagi, matanya sepertinya kini menyiratkan pengertian.

Franco ternganga, tak tahu harus berkata apa.

“Ta… tetapi Nyonya…”

“Tak ada ‘tetapi!’ ” potong sang Nyonya Rumah. “Inilah penggantimu yang akan menjadi kepala pelayan di rumah ini selanjutnya!”

Faris bersama seluruh pelayan lainnya meregangkan leher dan mencondongkan kepala. Banyak di antara para pelayan yang kaget karena kepala pelayan yang baru itu tak dipilih dari antara mereka.

Di sana, berdiri di puncak tangga hanya beberapa langkah di belakang ibu Faris (yang rupanya berdandan persis seperti bayangan Faris), berdiri seorang gadis yang saat itu mengenakan seragam pelayan perempuan biasa.

Gadis?

Ia memiliki wajah penuh kesungguhan yang selazimnya dimiliki seorang pendiam, dengan rambut hitam pendek yang tertata rapih oleh tali penahan rambutnya. Ia mengenakan blus hitam dan celemek putih serta rok hitam panjang seperti halnya yang biasa dikenakan pelayan-pelayan perempuan yang lain. Tanpa adanya seorangpun di antara mereka yang pernah melihatnya sebelumnya, terlepas dari usia mudanya, ia benar-benar terlihat seperti pegawai baru yang siap untuk bekerja.

Faris saat itu, mungkin karena pengaruh cahaya yang temaram, tak yakin telah melihat wajahnya secara jelas. Ia sempat berniat mendongak lebih jauh, tapi perhatiannya segera teralih saat pikirannya mendadak dihujani pemikiran-pemikiran yang mempertanyakan alasan semua kejadian di tengah malam ini terjadi.

“Namanya Nedya, dan ia jauh lebih handal dibandingkan dirimu dikali lima sekalipun.” ucap Nyonya Rumah dengan bangga.

Nedya.

Mata Franco terbelalak. Wajahnya yang telah memucat untuk beberapa lama perlahan berubah memerah.

Apapun yang kini terjadi sepertinya sudah jauh di luar pemahaman Faris lagi.

Apa segala hal di rumah ini sudah gila?

Franco terlihat seperti tak bisa menerima perlakuan ini. Kata ‘pensiun’ sepertinya merupakan kata yang berarti penghinaan baginya.

Meski demikian, Faris tahu benar siapapun akan patut marah bila dipensiunkan tanpa pesangon. Terlintas di kepala bahwa dirinya tak yakin apakah ibunya masih mengetahui perbedaan antara ‘dipecat,’ ‘di-PHK’ dan ‘dipensiunkan’ terletak pada nilai pesangonnya.

Dari mana keberanian baru itu Franco kemudian dapatkan, tak ada yang tahu. Tapi ketika kerut-kerut di wajahnya mendadak tampak lebih jelas dari sebelumnya dan matanya kembali memicing tajam, bahkan lebih tajam dari biasanya, dengan nada dingin ia berkata, “Saya tak terima, Nyonya! Saya menolak untuk berhenti!”

“Oh? Jadi kau menyatakan ingin terus bekerja tanpa digaji?”

Mata sang Nyonya Rumah membelalak lebar.

“Bukan!” sergah Franco.

Kemudian untuk sesaat, ia terdiam kembali, berusaha keras untuk menemukan kata-katanya.

“Nyonyaku yang terhormat, apa benar Anda telah melihat sepenuhnya kemampuan…” Sejenak ia memandang Nedya dengan tatapan antara meragukan dan merendahkan, dan berkata. “…gadis ini? Apa benar Anda melihat seluruh potensinya? Tak adakah kelemahan pada dirinya yang tak Anda lewatkan?”

Kau meragukan penilaianku, Franco? Kau meragukan pengamatanku?” Nada suara sang Nyonya Rumah mulai naik lagi.

Franco bergidik.

“Ten… tentu tidak, Nyonya. Hanya saja….”

“Hanya saja?” Seketika, kedua alis sang Nyonya kembali bergerak naik.

Faris dan beberapa pelayan lain tak bersusah payah untuk bersembunyi kembali ke dalam bayang-bayang.

“Bukan, bukan apa-apa.” jawab Franco cepat. “Hanya saja, saya sudah mengabdi bertahun-tahun pada keluarga Nyonya. Bila masalahnya tentang kesetiaan, tentunya saya tak diragukan lagi. Karena hal tersebut, maka dengan senang hati saya…”

Kesetiaan?” potong sang Nyonya ketus dan Franco dengan tergagap berhenti berbicara.

Namun, entah mengapa, sang Nyonya kemudian tersenyum. Senyum yang tampak bagi Faris seperti senyum seseorang yang pengharapannya terkabul.

“Aah, saya mulai memahami apa yang kau maksud, Franco. Aku tarik kembali perkataanku. Untuk saat ini, tetaplah kau menjabat sebagai kepala pelayan di rumah ini.”

“Eeeh?!”

Ucapan itu terlontar begitu tiba-tiba. Spontan, Faris dan seluruh pelayan, baik yang masih bersembunyi ataupun tidak, saling berpandangan, sama-sama tak yakin dengan apa yang baru mereka dengar. Mereka semua kurang menyukai Franco, dan sebenarnya bisa dikatakan sedikit ‘gembira’ saat mendengar bahwa dirinya dipecat (walau tidak dengan alasan yang jelas).

Bahkan Franco sendiri, yang mungkin seharusnya mengharapkan kata-kata ini, nampak terkejut.

“Ma, maaf, Nyonya?”

“Kubilang kutarik kembali perkataanku. Kau tetap menjadi kepala pelayan di rumah ini. Itu yang kauharapkan, bukan?”

Sang Nyonya melirik ke arahnya. Rongga hidungnya senantiasa melebar.

“Be… benar sekali, Nyonya! Franco yang rendah ini teramat berterima kasih!”

Franco, walau untuk sesaat kehilangan penguasaan dirinya, segera membungkuk dalam-dalam untuk memberi hormat. Namun Faris tahu bahwa, meski di bawah cahaya remang sekalipun, diiringi rasa penasaran, sorot mata Franco tengah menyala dengan penuh rasa amarah.

“Sebagai gantinya,” lanjut sang Nyonya, kini ganti melirik dengan senyuman puas ke arah Nedya. “Faris! Faris, anakku, kemarilah sebentar!”

Faris, terlonjak karena namanya tiba-tiba dipanggil, dibantu para pelayan yang ada bersamanya, secepat kilat memperbaiki sikapnya agar terlihat seperti baru bangun tidur.

“I, iya! Ada apa, Ibu?” ujar Faris, keluar kembali dari bayang-bayang koridor sekitar lima detik kemudian.

“Ah, kemarilah Faris. Perkenalkan, inilah pelayan pribadimu yang baru. Namanya Nedya. Berilah hormat pada Tuan Muda-mu, Nedya.”

Pelayan… pribadi?

“Salam kenal, Tuan Muda.”

Sedetik penuh keheningan berlalu sebelum salam itu terucap.

Suara yang dimilikinya begitu halus, terdengar pelan, namun kata-katanya jernih dan tersampaikan dengan jelas. Faris mendapati ada sesuatu pada suara gadis ini yang seketika mengganggu pikirannya.

Gadis itu memberi hormat secara anggun dengan menundukkan kepala, seakan sedikit malu, mengangkat sedikit tepian roknya untuk menampakkan kakinya yang disilangkan.

Faris terkesima, karena kini sesudah melihatnya lebih jelas, ia menyadari bahwa Nedya tak mungkin sampai setahun lebih tua daripadanya. Ada sesuatu menyerupai kecantikan rembulan yang bersinar terang di padanya, dan entah bagaimana Faris sampai bisa tak menyadarinya sebelumnya.

Kedua matanya yang dalam seakan menyiratkan berbagai makna. Kulit wajahnya putih bersih, sedikitpun tanpa noda. Namun, menilai dari buku-buku jarinya yang menonjol dan ekspresinya yang keras, Faris bisa mengetahui tak ada sedikitpun rasa manja yang ditampakkan gadis itu.

Faris menelan ludah ketika tatapan gadis itu jatuh kepadanya. Ada suatu perasaan rumit dan aneh yang seketika ia rasakan. Semacam keterpukauan. Semacam ketidakberdayaan. Semacam dorongan yang membuat Faris bertanya: apa ada yang gadis ini tak dapat lakukan?

Pandangan mata mereka bertemu, dan itulah pertama kalinya mereka berjumpa.

Saat itu Faris masih belum mengetahui bagaimana kejadian itu menandai awal dari segala yang terjadi selanjutnya.

Read previous post:  
35
points
(792 words) posted by Alfare 8 years 5 weeks ago
70
Tags: Cerita | Novel | drama | misteri | scifi
Read next post:  
Writer Door_Knocker
Door_Knocker at Progress Report - Faris (3) (8 years 5 weeks ago)
80

Aku kurang sreg dengan keputusan Ibu Faris yang berubah dalam hitungan menit. Kurang masuk akal, bagiku, kalau ada orang seperti itu yang bisa menjalankan perusahaan karena pemimpin itu bukan cuma ditakuti namun juga dimengerti dan keputusannya bisa dijadikan pegangan.

Writer Alfare
Alfare at Progress Report - Faris (3) (8 years 5 weeks ago)

Wow. Komenmu yang ini bener-bener bikin aku seneng.
.
Ini agak spoiler sih. Tapi inti segala adegan yang berlangsung di sini sebenernya sama sekali enggak ada hubungannya dengan keputusan soal status kerja Franco. Hahaha. Lebih lengkapnya kalo kujelasin enggak asik. Tapi makasih banget udah ngingetin soal ini.

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at Progress Report - Faris (3) (8 years 5 weeks ago)
80

Saya sempet kasian banget pas si Franco mau dikeluarin.. Hebat bos, bisa membuat kita jadi simpati ke karakter
.
Btw, kenapa kadang-kadang ada 'aku' dan 'saya' yang diucapkan oleh satu orang yang sama dalam dialog?
.
And I've seen it coming.. A personal maid...

Writer Alfare
Alfare at Progress Report - Faris (3) (8 years 5 weeks ago)

Soal 'aku' dan 'saya' itu emang jadinya aneh ya? Sebenernya, aku berusaha bikin itu kontekstual, dengan saat-saat yang bersangkutan berusaha merendah dan saat-saat lain pas dia mencoba nunjukin derajatnya. Sori kalo masih belum mulus.

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at Progress Report - Faris (3) (8 years 5 weeks ago)

Hooo~
Atau mungkin emang sayanya aja yang ga nangkep

Writer Claraa_greyson
Claraa_greyson at Progress Report - Faris (3) (8 years 5 weeks ago)
70

asikkk

Writer Alfare
Alfare at Progress Report - Faris (3) (8 years 5 weeks ago)

Hoo.